Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan

Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan

Diposting pada 20 Mei 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 1.315 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, baik nikmat yang telah diberikan, sedang dirasakan, atau yang akan datang. Tidak ada manusia yang sanggup menghitung nikmat yang Allah limpahkan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya sebagai orang yang beriman, kita harus pandai mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Namun di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan ujian kepada hamba-Nya, ujian tersebut tidak lain adalah sebagai tanda kasih dan sayang-Nya.

Saat ujian datang, rasa nikmat hilang dan mungkin sekali terasa menyakitkan. Riwayat menyebutkan bahwa ujian adalah segala sesuatu yang dirasakan tidak enak oleh orang beriman. Tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa nikmat benar-benar Allah cabut selamanya. Sebab ketika Allah mengambil sesuatu dari hamba-Nya, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.

Ujian dan nikmat yang didapatkannya adalah jembatan untuk mendatangkan nikmat lainnya di dunia dan akhirat. Lalu bagaimanakah cara agar ujian dan nikmat mendatangkan nikmat lainnya, bahkan kenikmatan yang kekal atau kita sebut saja dengan keberlimpahan?

Ujian Adalah Seleksi Amal-Amal Terbaik Seorang Hamba

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

…الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢

“…yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa ayyukum ahsanu amala ialah siapa yang amalnya lebih baik atau paling baik, bukan paling banyak. Sementara itu dalam tafsir Ar-Razi disebutkan bahwa ahsanu amala yaitu amalan paling tulus dan paling benar. Tulus maksudnya ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar maksudnya sesuai dengan ajaran syariat.

Artinya yang menjadi prioritas utama adalah baik, tulus, dan benarnya amal, baru setelah itu banyaknya amal. Ini tidak serta merta mengartikan bahwa kita tidak perlu memperbanyak amal kalau tidak benar, cukup sedikit amal tapi dilakukan dengan benar. Tidaklah seperti itu. Sebaliknya, justru berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki dan memperbanyak amal kebaikan.

Hidup itu sendiri adalah ujian, apakah kita beramal dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan ini. Mereka yang lulus dengan amal-amal baik mendapatkan anugerah agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keridhaan-Nya.

Ujian Sebagai Surat Cinta dari-Nya

Jangan sampai salah paham, ujian adalah bahasa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ujian itu tanda Allah cinta kepada hamba-Nya. Yakinlah bahwa orang yang diuji tidak akan merugi. Sebab Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تعالى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنَ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ).  رواه الترمذي وابن ماجه(

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka: siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dari hadis ini kita mengerti bahwa hamba yang diuji tidak akan rugi karena besarnya kadar ujian Allah ganti dengan pahala yang harganya tidak ternilai dengan nilai dunia.

Ujian juga adalah jalan yang Allah berikan kepada hamba-Nya agar selalu dekat dengan-Nya. Agar hati seorang hamba tidak berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau berharap lebih besar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagai contoh dan teladan, Nabi Adam Alaihissalam ketika berada di surga, saat hatinya mulai terpikat oleh surga, Allah berikan ujian sampai dikeluarkan dari surga. Hingga akhirnya Nabi Adam kembali lebih banyak mengingat Allah. Nabi Ya’qub Alaihissalam tatkala sangat menyayangi anaknya yaitu Nabi Yusuf Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala pisahkan mereka dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya Nabi Ya’qub kembali lebih banyak mengingat Allah. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam ketika hatinya penuh harap akan dukungan penduduk Makkah dan berharap mereka menolongnya, justru mereka menjadi orang-orang yang paling keras dalam menentang Nabi Muhammad sampai-sampai Nabi bersabda, “tidak ada satu pun Nabi yang diuji seperti aku”.

Ini tidak berarti para Nabi lalai dari mengingat Allah atau hilang kecintaan kepada Allah, karena para Nabi dijaga dari dosa dan lalai. Akan tetapi, Allah mengingatkan mereka agar tidak terlena akan nikmat yang diberikan dan agar semakin dekat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sama sekali tidak menyia-nyiakan kesabaran dan keteguhan mereka. Mereka mendapatkan keutamaan dan nikmat yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan demikian perlu kita pahami bahwa ujian Allah datang bukan untuk menghinakan hamba-Nya, melainkan sarana untuk meningkatkan derajat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka yang diuji dan bersabar pada hakikatnya adalah orang-orang mulia yang sedang mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ujian Sebagai Sarana Mengekalkan Nikmat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧

“Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ciri orang-orang yang mendapat kabar gembira adalah sabar, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan ‘innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’.  Dalam tafsir Ar-Razi, pengakuan seorang hamba dalam ucapan inna lillahi menandakan keridhaan sepenuhnya terhadap apa pun ujian dan cobaan yang menimpa mereka. Dan pengakuan dalam ucapan inna ilaihi raji’un menandakan penyerahan urusan kepada Allah ketika diuji dan keridhaan terhadap apa pun balasannya nanti, yaitu pahala yang besar di akhirat kelak.

Adapun kabar gembira yang dimaksud ialah orang yang sabar itu mendapatkan berkah, ampunan, rahmat, dan pujian dari Allah. Dijelaskan juga bahwa shalawatun min rabbihim yaitu pujian dan pengagungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Adapun rahmah yaitu pemberian nikmat-nikmat yang Allah berikan di dunia dan di akhirat. Nikmat Allah di dunia ini sebagai mukadimah nikmat di akhirat yang kekal.

Nikmat Adalah Ujian Syukur dan Kufur

Mungkin saja kita tidak mengira, nyatanya nikmat adalah ujian juga: apakah kita termasuk hamba yang mensyukurinya ataukah hamba yang kufur akan nikmat Allah? Keduanya membawa konsekuensi yang amat besar. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”

Mensyukuri nikmat Allah membawa hal besar, yaitu mendatangkan nikmat lainnya. Begitu juga kufur nikmat atau tidak mensyukuri nikmat menjadikan Allah murka.

Syukur akan nikmat setidaknya dapat dilakukan dengan cara

  1. mengucapan syukur dan terima kasih setulus hati;
  2. diiringi dengan perbuatan memanfaatkan nikmat dengan benar, yaitu menggunakan rahmat/nikmat tersebut untuk tujuan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak Ada Nikmat yang Benar-benar Allah Cabut dari Hamba-Nya

Dalam sebuah hadis, Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Syukur ketika mendapatkan nikmat menjadikan seorang mukmin semakin baik. Sabar ketika mendapatkan ujian juga menjadikannya semakin baik. Ini adalah keuntungan yang besar sekaligus senjata seorang mukmin. Syukur atas nikmat untuk mendatangkan nikmat lainnya dan sabar atas ujian untuk mendapatkan pahala dan derajat setinggi-tingginya. Ini berarti tidak ada nikmat yang benar-benar hilang bagi orang beriman. Ketika diuji lalu bersabar, Allah ganti dengan kebaikan. Ketika diberi nikmat lalu bersyukur, Allah beri lagi tambahan nikmat.

Buya Yahya menyebutkan dalam buku Oase Iman,

“Tidak ada nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dicabut secara sesungguhnya dari seorang hamba yang beriman. Jika karunia harus diambil oleh Sang Pemberi, sesuai janji-Nya, tentu Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi”.

Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang pandai bersyukur dan bersabar. Amin.

 

Referensi:

Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim karya Ibnu Katsir

Tafsir Mafatihul Ghaib karya Fakhruddin Ar-Razi

Buku Oase Iman karya Buya Yahya

 

Penulis: Iim Ainunnaim Muhammad

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

Bagikan ke

Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan
20 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, baik nikmat yang telah diberikan, sedang dirasakan,... selengkapnya

Agama dalam Bahasa Petani
25 Juli 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah memberi perumpamaan kalimah thoyyibah (Laa ilaha illallah) yang merupakan pangkal dan puncak agama sebagai pohon/tanaman yang baik.... selengkapnya

Kontroversi Amalan di Hari ‘Asyura
5 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita dianjurkan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan di sebagian waktu dengan melakukan amalan kebaikan di waktu tersebut.... selengkapnya

Petugas Keamanan Al-Bahjah Cirebon Menutup Jalan di Area Masjid Oemar untuk Sementara Waktu
16 Maret 2021

Cirebon, Pustaka Al-Bahjah News-Petugas Keamanan LPD AL-Bahjah Cirebon Menutup Jalan untuk Sementara Waktu pada Saat Shalat Berjamaah Sedang Berlangsung di... selengkapnya

Mengurai Hadits Parenting: Memukul Anak yang Enggan Shalat
13 Agustus 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam pengasuhan Islami, salah satu riwayat yang paling sering memicu perdebatan adalah perintah shalat bagi anak. Bagi sebagian... selengkapnya

Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain
5 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak ia dilahirkan hingga kembali kepada tanah, hidupnya selalu berada dalam jaringan relasi... selengkapnya

Kekuatan Mukjizat Al-Qur’an: Kalam Ilahi yang Tidak Tertandingi
4 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mukjizat dalam tradisi agama Islam telah diwakili dengan penuh keagungan oleh Al-Qur’an Al-Karim. Al-Qur’an tidak hanya dipandang... selengkapnya

Kecerdasan Hati sebagai Dasar Kebangkitan Generasi Islam
24 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyaksikan sebuah gebyar yang menjunjung tinggi kepintaran? Saat masih anak-anak, kita mungkin pernah mendengar dengan... selengkapnya

Banyak yang Belum Tahu, Istinja Cukup Pakai Tisu
15 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tahukah kamu bahwa dalam Islam terdapat istilah istinja. Secara sederhana pengertian istinja adalah aktivitas bersuci setelah berhadas dari... selengkapnya

Ketika Sisa Air Kencing Terasa Menetes saat Shalat
8 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam fiqih, air kencing adalah najis menurut ijma’ ulama. Penentuan najis dapat dilihat dari tiga tanda menurut jumhur... selengkapnya

Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: