Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!

Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!

Diposting pada 10 Desember 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 2.438 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejak kecil, kita telah diperingatkan untuk selalu menghabiskan makanan yang kita santap dan tidak menyisakannya barang sebutir nasi pun. Peringatan orang tua yang paling familier adalah, “Nanti nasinya nangis”. Waktu kecil kita benar-benar percaya dan tidak mempertanyakan bagaimana kemudian nasi bisa menangis, apakah air matanya sama dengan air mata manusia, dan lain sebagainya.

Setelah beranjak dewasa dan mampu berpikir rasional, kita menyadari bahwa hal itu hanya sebatas mitos. Akhirnya, “Nanti nasinya nangis” itu merupakan sebuah metafora agar kita dapat mengimplementasikan bentuk kebersyukuran dengan tidak membuang-buang rezeki. Metafora tersebut juga erat kaitannya dengan konsep larangan yang terdapat di dalam Islam, yakni mubazir (baca: menjadi sia-sia atau tidak berguna; terbuang-buang karena berlebihan). Kemampuan berpikir rasional itulah yang kemudian semakin mengukuhkan kita agar tidak menyisakan nasi walau sebutir nasi. Meskipun demikian, masih banyak juga yang melalaikan nasi atau makanan. Bahkan perilaku tersebut dengan sengaja dan dilakukan tanpa merasa bersalah sama sekali.

Memberikan peringatan atau larangan harusnya diikuti dengan contoh dan teladan. Begitu juga dalam memberikan adagium, “Makan harus dihabiskan, kalau tidak dihabiskan nanti nasinya nangis” harus diikuti dengan contoh dan teladan. Oleh karenanya, makan yang masih bersisa atau perilaku membuang-buang makanan dapat terjadi karena kesalahan memberikan teladan. Seharusnya, selain memberikan peringatan mesti diikuti dengan pemberian contoh yang baik.

Pada salah satu uraian hikmah yang disampaikan Buya Yahya, beliau mengatakan apabila makan maka habiskanlah makanan tersebut. Apabila bersisa bukan juga kemudian membuangnya. Sebab, tindakan tersebut sama dengan berbuat mubazir seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Perkara mubazir dapat diuraikan dengan luas, salah satunya mubazir dalam konteks urusan makanan seperti pada tulisan ini.

Makanan dapat dikatakan mubazir jika seseorang membuang suatu bagian dari makanannya, sekecil apa pun bagian itu. Oleh karena itu, kita dianjurkan menghabiskan makanan sampai tak bersisa. Agar makanan tidak bersisa, hendaknya ketika mengambil makanan itu dengan takaran yang cukup, tidak terlalu banyak. Sebab makan tidak bersisa bukan berarti ketika mengambil banyak makanan kemudian menyantap sepenuhnya. Akan tetapi, makan diatur secukupnya dan diperkirakan untuk habis.

Perbuatan berlebih-lebihan yang dikatakan juga sebagai perilaku mubazir itu tidak disukai oleh Allah Swt. Disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa,

اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-An’am: 141)

Baginda Nabi Muhammad Saw panutan kita semua sudah mengatur cara makan yang benar. Cara makan yang indah dari Nabi Saw adalah tidak makan kecuali terasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, agar senantiasa terasa nikmat dan tentu tak meninggalkan sisa.

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi)

Janganlah terbiasa meninggalkan sebutir nasi. Mengikuti cara makan Nabi Saw ini akan menjadikan seseorang begitu menjaga nikmat Allah Swt melalui sepiring makanannya. Pandangan orang yang mengatakan menyisakan atau meninggalkan sebagian makanan adalah cara makannya orang yang berkecukupan dan makan sampai bersih dari sisa makanan adalah perbuatan yang menunjukkan bentuk kekurangan adalah pandangan-pandangan yang keliru. Justru, gemar menyisakan makanan semacam itu sama dengan membuang rezeki di samping banyak orang di luar sana yang kelaparan.

Kebolehan makan dengan bersisa itu hanya karena darurat saja, di mana ketika seseorang merasa sudah kenyang sekali dan benar-benar tidak mampu untuk menghabiskan makanannya. Pada kondisi tertentu, misal makanan tersebut terasa sudah basi atau jika dimakan akan membahayakan dirinya maka tidak memakannya itu diperbolehkan. Tentu makanan tersebut mesti diolah dan memiliki nilai yang bermanfaat. Seperti dijadikan pakan ternak sehingga menjadi rezeki bagi ternak tersebut. Bahkan terdapat makanan yang terbuat dari olahan nasi sisa yang masih layak makan, seperti rengginang, arem-arem, atau yang lainnya.

Kemudian yang jarang diperhatikan dari sebutir nasi yaitu keberkahannya. Ya, kita tidak akan pernah tahu pada butir nasi yang mana keberkahan makanan berada. Di saat seseorang menyisakan sebutir nasi di piring makannya lalu membuangnya, bisa saja keberkahannya terdapat pada sisa nasi yang di buang itu sehingga hilanglah berkah baginya. Selain itu, bisa jadi sebutir nasi yang dilalaikan tersebut menjadikan kita sebagai orang yang kufur nikmat.

Kufur nikmat atau perbuatan tidak menghargai karunia Allah Swt dapat menjadi sebab suatu rezeki dicabut oleh Allah Swt, karena orang yang melakukannya menjadi tidak layak Allah Swt beri. Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya:

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”. (Q.S. Ibrahim Ayat 7)

Teladan dan panutan kita Baginda Nabi Saw selalu menyelesaikan makan tanpa bersisa. Bahkan bagian-bagian makanan pada tangannya pun dibersihkan dengan mulut suci beliau. Hal tersebut yang kemudian menjadi kesunahan bagi umatnya. Keteladanan dari Nabi Saw ini begitu jelas dan contoh yang terbaik. Maka sambung dengan Nabi Saw dengan mengikutinya adalah sebab dihantarkannya kebaikan yang banyak di dunia dan di akhirat, termasuk untuk tidak menyisakan nasi ketika makan meski hanya sebutir.

Uraian di atas mestinya menjadi perhatian bagi siapa pun agar bersikap sederhana dalam urusan makanan. Semoga Allah Swt memberikan pemahaman akan batasan-batasan, sehingga tidak terjadi perbuatan melampaui batas-batas Allah Swt.

Wallahu A’lam Bishawab

 

Sumber: Al-Bahjah TV

Penulis: Asti Dwi Sripamuji

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , ,

Bagikan ke

Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti
13 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa,... selengkapnya

Kunci Keberkahan Umur
28 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Umur manusia menjadi rahasia yang tidak ada seorang pun tahu berapa panjang usia yang dijatahkan kepadanya.... selengkapnya

Teks Khutbah Idulfitri 1446 H
22 Maret 2025

“Bersama hari raya Idulfitri ini mari kita wujudkan nuansa kasih sayang dan cinta di dalam keluarga untuk menjadikan rumah kita... selengkapnya

Sterilisasi Kucing, Bolehkah dalam Islam?
4 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa yang tidak mengenal kucing? Hewan yang satu ini terkenal menggemaskan dan menjadi salah satu hewan favorit... selengkapnya

Hukum Wudhu dengan Air Asin
6 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di beberapa daerah pesisir yang dekat dengan laut, masyarakat kerap menghadapi kenyataan bahwa sumber air yang tersedia terasa... selengkapnya

Hukum Memasang Kanopi Rumah yang Menjorok ke Tanah Milik Fasilitas Umum
16 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sekitaran kompleks perumahan, sering kita jumpai rumah yang di beberapa bagiannya berbatasan langsung dengan selokan kecil atau... selengkapnya

Puisi-Puisi Faizatulatifah (2): Hijrah yang Hijrah
12 Juli 2025

  Hijrah Cahaya   Tahun Baru Hijriah terbit seperti fajar keemasan, Menghadirkan harapan dalam tiap getar jiwa yang lapang. Hijrah... selengkapnya

Medan Juang Islam
11 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini, kita tengah berada di bulan Agustus. Bulan yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia, karena pada bulan... selengkapnya

Nikmat Sehat
17 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Benar kata orang, sehat itu mahal harganya. Sehat tak bisa dinilai dengan rupiah. Berapa pun banyaknya kekayaan... selengkapnya

Meski Macet dan Sedang di Perjalanan, Shalat Bisa Dilakukan di dalam Mobil
2 Maret 2026

Identitas Buku Judul               : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis             : Buya Yahya Penerbit           :... selengkapnya

Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: