● online
- Motivasi Dakwah "Membawa kepada Kemuliaan dengan H....
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami....
- المعين المبين في تعلم العرب....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- AQIDAH 50 KARYA BUYA YAHYA....
- FIQIH SHOLAT KARYA BUYA YAHYA....
- Silsilah Fiqih Praktis Jenazah....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejak kecil, kita telah diperingatkan untuk selalu menghabiskan makanan yang kita santap dan tidak menyisakannya barang sebutir nasi pun. Peringatan orang tua yang paling familier adalah, “Nanti nasinya nangis”. Waktu kecil kita benar-benar percaya dan tidak mempertanyakan bagaimana kemudian nasi bisa menangis, apakah air matanya sama dengan air mata manusia, dan lain sebagainya.
Setelah beranjak dewasa dan mampu berpikir rasional, kita menyadari bahwa hal itu hanya sebatas mitos. Akhirnya, “Nanti nasinya nangis” itu merupakan sebuah metafora agar kita dapat mengimplementasikan bentuk kebersyukuran dengan tidak membuang-buang rezeki. Metafora tersebut juga erat kaitannya dengan konsep larangan yang terdapat di dalam Islam, yakni mubazir (baca: menjadi sia-sia atau tidak berguna; terbuang-buang karena berlebihan). Kemampuan berpikir rasional itulah yang kemudian semakin mengukuhkan kita agar tidak menyisakan nasi walau sebutir nasi. Meskipun demikian, masih banyak juga yang melalaikan nasi atau makanan. Bahkan perilaku tersebut dengan sengaja dan dilakukan tanpa merasa bersalah sama sekali.
Memberikan peringatan atau larangan harusnya diikuti dengan contoh dan teladan. Begitu juga dalam memberikan adagium, “Makan harus dihabiskan, kalau tidak dihabiskan nanti nasinya nangis” harus diikuti dengan contoh dan teladan. Oleh karenanya, makan yang masih bersisa atau perilaku membuang-buang makanan dapat terjadi karena kesalahan memberikan teladan. Seharusnya, selain memberikan peringatan mesti diikuti dengan pemberian contoh yang baik.
Pada salah satu uraian hikmah yang disampaikan Buya Yahya, beliau mengatakan apabila makan maka habiskanlah makanan tersebut. Apabila bersisa bukan juga kemudian membuangnya. Sebab, tindakan tersebut sama dengan berbuat mubazir seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Perkara mubazir dapat diuraikan dengan luas, salah satunya mubazir dalam konteks urusan makanan seperti pada tulisan ini.
Makanan dapat dikatakan mubazir jika seseorang membuang suatu bagian dari makanannya, sekecil apa pun bagian itu. Oleh karena itu, kita dianjurkan menghabiskan makanan sampai tak bersisa. Agar makanan tidak bersisa, hendaknya ketika mengambil makanan itu dengan takaran yang cukup, tidak terlalu banyak. Sebab makan tidak bersisa bukan berarti ketika mengambil banyak makanan kemudian menyantap sepenuhnya. Akan tetapi, makan diatur secukupnya dan diperkirakan untuk habis.
Perbuatan berlebih-lebihan yang dikatakan juga sebagai perilaku mubazir itu tidak disukai oleh Allah Swt. Disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa,
اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-An’am: 141)
Baginda Nabi Muhammad Saw panutan kita semua sudah mengatur cara makan yang benar. Cara makan yang indah dari Nabi Saw adalah tidak makan kecuali terasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, agar senantiasa terasa nikmat dan tentu tak meninggalkan sisa.
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi)
Janganlah terbiasa meninggalkan sebutir nasi. Mengikuti cara makan Nabi Saw ini akan menjadikan seseorang begitu menjaga nikmat Allah Swt melalui sepiring makanannya. Pandangan orang yang mengatakan menyisakan atau meninggalkan sebagian makanan adalah cara makannya orang yang berkecukupan dan makan sampai bersih dari sisa makanan adalah perbuatan yang menunjukkan bentuk kekurangan adalah pandangan-pandangan yang keliru. Justru, gemar menyisakan makanan semacam itu sama dengan membuang rezeki di samping banyak orang di luar sana yang kelaparan.
Kebolehan makan dengan bersisa itu hanya karena darurat saja, di mana ketika seseorang merasa sudah kenyang sekali dan benar-benar tidak mampu untuk menghabiskan makanannya. Pada kondisi tertentu, misal makanan tersebut terasa sudah basi atau jika dimakan akan membahayakan dirinya maka tidak memakannya itu diperbolehkan. Tentu makanan tersebut mesti diolah dan memiliki nilai yang bermanfaat. Seperti dijadikan pakan ternak sehingga menjadi rezeki bagi ternak tersebut. Bahkan terdapat makanan yang terbuat dari olahan nasi sisa yang masih layak makan, seperti rengginang, arem-arem, atau yang lainnya.
Kemudian yang jarang diperhatikan dari sebutir nasi yaitu keberkahannya. Ya, kita tidak akan pernah tahu pada butir nasi yang mana keberkahan makanan berada. Di saat seseorang menyisakan sebutir nasi di piring makannya lalu membuangnya, bisa saja keberkahannya terdapat pada sisa nasi yang di buang itu sehingga hilanglah berkah baginya. Selain itu, bisa jadi sebutir nasi yang dilalaikan tersebut menjadikan kita sebagai orang yang kufur nikmat.
Kufur nikmat atau perbuatan tidak menghargai karunia Allah Swt dapat menjadi sebab suatu rezeki dicabut oleh Allah Swt, karena orang yang melakukannya menjadi tidak layak Allah Swt beri. Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”. (Q.S. Ibrahim Ayat 7)
Teladan dan panutan kita Baginda Nabi Saw selalu menyelesaikan makan tanpa bersisa. Bahkan bagian-bagian makanan pada tangannya pun dibersihkan dengan mulut suci beliau. Hal tersebut yang kemudian menjadi kesunahan bagi umatnya. Keteladanan dari Nabi Saw ini begitu jelas dan contoh yang terbaik. Maka sambung dengan Nabi Saw dengan mengikutinya adalah sebab dihantarkannya kebaikan yang banyak di dunia dan di akhirat, termasuk untuk tidak menyisakan nasi ketika makan meski hanya sebutir.
Uraian di atas mestinya menjadi perhatian bagi siapa pun agar bersikap sederhana dalam urusan makanan. Semoga Allah Swt memberikan pemahaman akan batasan-batasan, sehingga tidak terjadi perbuatan melampaui batas-batas Allah Swt.
Wallahu A’lam Bishawab
Sumber: Al-Bahjah TV
Penulis: Asti Dwi Sripamuji
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Tags: berkah, nasi, sebutir nasi
Keberkahan dalam Sebutir Nasi, Jangan Dilalaikan Nanti Nasinya Nangis!
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjelang hari raya, sering kita jumpai praktik penukaran uang baru di tempat-tempat tertentu. Banyak orang menukarkan uang dengan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan Anda memiliki keinginan untuk menulis tetapi terhambat dengan pengetahuan Anda yang terbatas? Ya, hambatan tersebut salah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan kejadian seorang muslimah yang melepas cadarnya di awak media. Sontak kejadian... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah – Cirebon, Betapa banyak kita temukan titel akademik dimiliki seseorang, tetapi moral mereka tidak mewakili orang-orang berpendidikan. Banyak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam dimana amal kita diangkat kelangit. Pada malam ini satu hal yang... selengkapnya
Sumber gambar: https://minanews.net/jenis-juru-dakwah/ Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tanda ketulusan hati seorang Muslim adalah ketika merindukan saudara-saudaranya yang belum melakukan kebaikan, agar... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tabligh Akbar dalam rangkaian Safari Dakwah Buya Yahya di Aceh, Selasa 20 Jumadil Ula 1444 H/13... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren adalah lembaga pendidikan yang menaungi para santri untuk belajar agama secara langsung kepada Kyainya. Dalam agama Islam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat Islam adalah shalat. Untuk mengerjakan shalat secara sempurna seorang... selengkapnya
Aku tak menyangka jika kegemaranku bermain di perpustakaan umum dekat tempat tinggalku dapat mengantarkanku ke menara gading. Sungguh itu di... selengkapnya
Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000
Saat ini belum tersedia komentar.