Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Di Bawah Kubah Nabawi

Di Bawah Kubah Nabawi

Diposting pada 18 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 629 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cahaya fajar menari-nari di atas bukit hijau yang perlahan menyembulkan wajahnya dari selimut malam. Udara segar, belum ternoda oleh riuhnya dunia. Di sanubari Adam, seorang pengelana ruhani dari tanah Sunda, bergetar-getar hatinya─hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang haus akan makna. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna, seolah kanvas Tuhan sedang dilukis ulang setiap detik. Hari itu bukan sembarang hari; langkah yang akan membawanya ke pelukan Nabawi, ke rumah Nabi yang dirindukan seluruh semesta.

Perjalanan ini bukan sekadar wisata ibadah, bukan pula hanya ritual ziarah yang berakhir di papan nama dan jepretan kamera. Ini adalah perjalanan ke dalam diri, menembus kabut masa lalu, membongkar lemari-lemari luka, dan membuka jendela harapan baru.

“Bismillah,” bisiknya lirih. Seperti perahu yang melepas tali di dermaga, hatinya pun berlayar. Adam menjejakkan kaki di bumi Madinah seperti seorang anak yang kembali ke pelukan ibunya setelah tersesat di hutan waktu. Embusan angin kota suci itu terasa seperti belaian langit yang lembut, menyusup ke pori-pori jiwanya yang selama ini kering oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Aroma kurma dan pasir, campur baur dengan wangi mukena yang basah oleh air mata, menjelma menjadi harum kerinduan.

Masjid Nabawi dari kejauhan, tampak seperti permata raksasa yang memantulkan cahaya ketenangan. Kubah hijaunya menjulang, bukan hanya ke langit, tetapi juga ke relung kalbu. Menyaksikan bangunan itu, Adam merasa seperti seorang pengembara yang akhirnya menemukan oasis di tengah Padang Sahara ujian hidup.

Di dalam hatinya, bergemuruh kisah para sahabat yang mengayun langkah ribuan mil demi sebuah temu. Seperti Bilal yang suaranya menggema di langit Madinah, seperti Abu Bakar yang setia menemani hijrah, seperti Umar yang tegas namun lembut hati. Adam merasa berjalan di antara bayangan mereka.

Ia bersujud di halaman Nabawi. Hatinya meleleh seperti lilin yang menemukan api cinta. Di antara ribuan manusia, ia merasa sendiri namun tak kesepian. Seperti embun yang jatuh di kelopak mawar. Ia pun luruh dalam doa-doa yang mengalir bagai anak sungai yang kembali ke muara.

***

Malam di Nabawi bukan sekadar waktu antara dua adzan. Malam di sini adalah negeri mimpi bagi jiwa-jiwa yang gelisah. Ketika manusia berbaring dan dunia meredup, ruh-ruh para pencinta bangkit. Mereka bukan hanya shalat, tetapi bermalam dalam pelukan Sang Kekasih.

Adam duduk di saf belakang. Di sekitarnya, orang-orang membaca Al-Qur’an dengan suara seperti nyanyian langit. Tapi Adam memilih diam. Ia berbicara dengan keheningan. Dalam diam itu, ia melihat bayangan masa lalunya kesalahan, kegagalan, dosa-dosa kecil yang menumpuk menjadi gunung beban. Air matanya mengalir, tidak deras, tapi cukup untuk membasuh kerak hitam di hatinya.

“Ya Rasul, maafkan aku. Aku datang bukan sebagai kekasih, tapi sebagai pecundang yang rindu cahaya.”

Tiba-tiba, angin menyapu wajahnya, lembut sekali. Ia merasa seperti dipeluk. Apakah ini yang disebut ‘kehadiran’? Dalam tasbih dan zikir yang berputar di tangannya, Adam merasa ada yang menjawab dalam keheningan. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah jatuh cinta pada yang Maha Gaib.

***

Hari-hari di Nabawi berlalu seperti kelopak yang mekar satu per satu. Adam berjalan di lorong-lorong masjid, mengamati manusia dari segala penjuru dunia. Mereka datang dengan wajah berbeda, bahasa berbeda, bahkan sejarah luka yang berbeda. Namun semua menyatu dalam satu gerakan: sujud.

Adam menyadari bahwa Nabawi bukan sekadar bangunan. Ia adalah cermin raksasa. Di sana, setiap orang bisa melihat dirinya sendiri dengan jujur, tanpa topeng. Seorang pria tua dari Yaman mengajaknya berbicara, meskipun lidah mereka tak selaras. Tapi mata mereka bertemu, dan di situlah bahasa sejati bicara.

Anak-anak kecil berlari di halaman masjid, seperti bintang-bintang kecil yang tak sabar turun ke bumi. Di antara mereka, Adam melihat versi kecil dirinya lincah, polos, dan belum tercemar. Ia tersenyum. Sebuah senyum yang telah lama hilang di antara tumpukan tagihan dan deadline pekerjaan.

Dan di satu sore yang syahdu, saat matahari perlahan menunduk ke barat, Adam duduk di pelataran masjid, menulis dalam buku catatannya:

“Ziarah ini bukan hanya kunjungan, tapi temu jiwa dengan Nabi. Di sini aku tidak hanya menemukan Rasul, tapi juga diriku sendiri yang selama ini menghilang.”

***

Hari terakhir di Nabawi datang seperti detik terakhir detak jantung sebelum tidur. Adam berdiri di hadapan Raudhah taman surga yang dititipkan di bumi. Aroma surga seperti merambat dari karpet hijau dan tiang-tiang putih gading. Doa-doa melambung seperti burung-burung yang ingin hinggap di tangan Rasulullah.

Dengan langkah hati-hati, Adam mendekat ke makam Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Air matanya mengalir deras, kali ini tak terbendung. Ia tak berkata apa-apa, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai Rasul, engkau tidak mengenalku. Tapi aku datang padamu, membawa cinta yang mungkin tak seberapa. Tapi inilah yang kupunya.”

Di hadapan makam itu, waktu seolah membeku. Seperti bayi dalam pelukan ibunya, Adam merasa aman. Semua kegelisahan, rasa bersalah, rasa tidak layak larut dalam pancaran cinta yang tak bertubuh namun nyata.

Langkahnya berat meninggalkan pelataran masjid. Tapi ia tahu, Nabawi bukan tempat tinggal tubuh, melainkan tempat singgah ruh. Dan ruh itu telah menyala dalam dirinya.

***

Dalam perjalanan pulang, Adam menatap jendela pesawat. Awan-awan berarak seperti bait-bait puisi yang menari di langit. Di tangannya, sebuah buku catatan penuh dengan goresan makna. Tapi yang lebih penting, di hatinya, tertulis sebuah bab baru—ditulis dengan tinta air mata dan kertas ketulusan.

Di tanah air, ia bukan lagi Adam yang dulu. Ia adalah Adam yang telah disentuh Nabawi. Setiap sujudnya kini mengandung aroma Madinah, setiap senyumnya mengandung hikmah yang dulu tersembunyi. Dan setiap kali ia merasa lelah, ia hanya perlu memejamkan mata, dan dalam keheningan, mendengar kembali suara adzan dari menara hijau itu:

“Allahu Akbar…”

Panggilan abadi yang membawanya pulang, bukan ke rumah, tapi ke hakikat dirinya.

 

Penulis: Husni A. Mubarak

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

Bagikan ke

Di Bawah Kubah Nabawi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Bijak Memilih Lingkungan: Menjauhi Majelis yang Tidak Bermanfaat
2 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita melihat berbagai macam perkumpulan yang terjadi di dalam masjid. Beberapa di... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
22 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya

Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya (Oleh: Buya Yahya)
5 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah (4)
24 November 2024

  Sujud Saat tangis tak lagi bersuara Saat tangan tak lagi mampu menyeka air mata Saat lisan tak lagi dapat... selengkapnya

Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar
19 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang... selengkapnya

Musyawarah Kerja Divisi Dakwah dan Media LPD Al-Bahjah Cirebon Tahun Buku 2021
29 Desember 2021

Musyawarah Kerja Divisi Dakwah dan Media LPD Al-Bahjah Cirebon Tahun Buku 2021 Media komunikasi dan informasi dewasa ini mengalami perkembangan... selengkapnya

Shalat Anda Tidak Khusyu, Apakah Sia-Sia?
17 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim apapun keadaannya. Siapapun yang... selengkapnya

Bolehkah Mahasiswa Muslim Mengunjungi Gereja untuk Tugas Kuliah? Begini Penjelasan Buya Yahya
25 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seorang mahasiswa muslim menghadapi dilema ketika harus mengunjungi gereja untuk keperluan tugas kuliah. Dalam sebuah kesempatan, ia... selengkapnya

Remaja Hebat, Jangan Insecure
28 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Kamu pernah merasa tidak cukup baik, tidak cukup cantik dan tampan, atau tidak cukup pintar? Jangan khawatir,... selengkapnya

Bebas Utang dengan TENANG: Kombinasi Konsep Ilmiah dan Ilahiah
25 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Seiring kilatnya perkembangan zaman, maka semakin banyak pula kemudahan-kemudahan yang didapat akibat evolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).... selengkapnya

Di Bawah Kubah Nabawi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: