Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Di Bawah Kubah Nabawi

Di Bawah Kubah Nabawi

Diposting pada 18 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 576 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cahaya fajar menari-nari di atas bukit hijau yang perlahan menyembulkan wajahnya dari selimut malam. Udara segar, belum ternoda oleh riuhnya dunia. Di sanubari Adam, seorang pengelana ruhani dari tanah Sunda, bergetar-getar hatinya─hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang haus akan makna. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna, seolah kanvas Tuhan sedang dilukis ulang setiap detik. Hari itu bukan sembarang hari; langkah yang akan membawanya ke pelukan Nabawi, ke rumah Nabi yang dirindukan seluruh semesta.

Perjalanan ini bukan sekadar wisata ibadah, bukan pula hanya ritual ziarah yang berakhir di papan nama dan jepretan kamera. Ini adalah perjalanan ke dalam diri, menembus kabut masa lalu, membongkar lemari-lemari luka, dan membuka jendela harapan baru.

“Bismillah,” bisiknya lirih. Seperti perahu yang melepas tali di dermaga, hatinya pun berlayar. Adam menjejakkan kaki di bumi Madinah seperti seorang anak yang kembali ke pelukan ibunya setelah tersesat di hutan waktu. Embusan angin kota suci itu terasa seperti belaian langit yang lembut, menyusup ke pori-pori jiwanya yang selama ini kering oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Aroma kurma dan pasir, campur baur dengan wangi mukena yang basah oleh air mata, menjelma menjadi harum kerinduan.

Masjid Nabawi dari kejauhan, tampak seperti permata raksasa yang memantulkan cahaya ketenangan. Kubah hijaunya menjulang, bukan hanya ke langit, tetapi juga ke relung kalbu. Menyaksikan bangunan itu, Adam merasa seperti seorang pengembara yang akhirnya menemukan oasis di tengah Padang Sahara ujian hidup.

Di dalam hatinya, bergemuruh kisah para sahabat yang mengayun langkah ribuan mil demi sebuah temu. Seperti Bilal yang suaranya menggema di langit Madinah, seperti Abu Bakar yang setia menemani hijrah, seperti Umar yang tegas namun lembut hati. Adam merasa berjalan di antara bayangan mereka.

Ia bersujud di halaman Nabawi. Hatinya meleleh seperti lilin yang menemukan api cinta. Di antara ribuan manusia, ia merasa sendiri namun tak kesepian. Seperti embun yang jatuh di kelopak mawar. Ia pun luruh dalam doa-doa yang mengalir bagai anak sungai yang kembali ke muara.

***

Malam di Nabawi bukan sekadar waktu antara dua adzan. Malam di sini adalah negeri mimpi bagi jiwa-jiwa yang gelisah. Ketika manusia berbaring dan dunia meredup, ruh-ruh para pencinta bangkit. Mereka bukan hanya shalat, tetapi bermalam dalam pelukan Sang Kekasih.

Adam duduk di saf belakang. Di sekitarnya, orang-orang membaca Al-Qur’an dengan suara seperti nyanyian langit. Tapi Adam memilih diam. Ia berbicara dengan keheningan. Dalam diam itu, ia melihat bayangan masa lalunya kesalahan, kegagalan, dosa-dosa kecil yang menumpuk menjadi gunung beban. Air matanya mengalir, tidak deras, tapi cukup untuk membasuh kerak hitam di hatinya.

“Ya Rasul, maafkan aku. Aku datang bukan sebagai kekasih, tapi sebagai pecundang yang rindu cahaya.”

Tiba-tiba, angin menyapu wajahnya, lembut sekali. Ia merasa seperti dipeluk. Apakah ini yang disebut ‘kehadiran’? Dalam tasbih dan zikir yang berputar di tangannya, Adam merasa ada yang menjawab dalam keheningan. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah jatuh cinta pada yang Maha Gaib.

***

Hari-hari di Nabawi berlalu seperti kelopak yang mekar satu per satu. Adam berjalan di lorong-lorong masjid, mengamati manusia dari segala penjuru dunia. Mereka datang dengan wajah berbeda, bahasa berbeda, bahkan sejarah luka yang berbeda. Namun semua menyatu dalam satu gerakan: sujud.

Adam menyadari bahwa Nabawi bukan sekadar bangunan. Ia adalah cermin raksasa. Di sana, setiap orang bisa melihat dirinya sendiri dengan jujur, tanpa topeng. Seorang pria tua dari Yaman mengajaknya berbicara, meskipun lidah mereka tak selaras. Tapi mata mereka bertemu, dan di situlah bahasa sejati bicara.

Anak-anak kecil berlari di halaman masjid, seperti bintang-bintang kecil yang tak sabar turun ke bumi. Di antara mereka, Adam melihat versi kecil dirinya lincah, polos, dan belum tercemar. Ia tersenyum. Sebuah senyum yang telah lama hilang di antara tumpukan tagihan dan deadline pekerjaan.

Dan di satu sore yang syahdu, saat matahari perlahan menunduk ke barat, Adam duduk di pelataran masjid, menulis dalam buku catatannya:

“Ziarah ini bukan hanya kunjungan, tapi temu jiwa dengan Nabi. Di sini aku tidak hanya menemukan Rasul, tapi juga diriku sendiri yang selama ini menghilang.”

***

Hari terakhir di Nabawi datang seperti detik terakhir detak jantung sebelum tidur. Adam berdiri di hadapan Raudhah taman surga yang dititipkan di bumi. Aroma surga seperti merambat dari karpet hijau dan tiang-tiang putih gading. Doa-doa melambung seperti burung-burung yang ingin hinggap di tangan Rasulullah.

Dengan langkah hati-hati, Adam mendekat ke makam Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Air matanya mengalir deras, kali ini tak terbendung. Ia tak berkata apa-apa, hanya hatinya yang bicara.

“Wahai Rasul, engkau tidak mengenalku. Tapi aku datang padamu, membawa cinta yang mungkin tak seberapa. Tapi inilah yang kupunya.”

Di hadapan makam itu, waktu seolah membeku. Seperti bayi dalam pelukan ibunya, Adam merasa aman. Semua kegelisahan, rasa bersalah, rasa tidak layak larut dalam pancaran cinta yang tak bertubuh namun nyata.

Langkahnya berat meninggalkan pelataran masjid. Tapi ia tahu, Nabawi bukan tempat tinggal tubuh, melainkan tempat singgah ruh. Dan ruh itu telah menyala dalam dirinya.

***

Dalam perjalanan pulang, Adam menatap jendela pesawat. Awan-awan berarak seperti bait-bait puisi yang menari di langit. Di tangannya, sebuah buku catatan penuh dengan goresan makna. Tapi yang lebih penting, di hatinya, tertulis sebuah bab baru—ditulis dengan tinta air mata dan kertas ketulusan.

Di tanah air, ia bukan lagi Adam yang dulu. Ia adalah Adam yang telah disentuh Nabawi. Setiap sujudnya kini mengandung aroma Madinah, setiap senyumnya mengandung hikmah yang dulu tersembunyi. Dan setiap kali ia merasa lelah, ia hanya perlu memejamkan mata, dan dalam keheningan, mendengar kembali suara adzan dari menara hijau itu:

“Allahu Akbar…”

Panggilan abadi yang membawanya pulang, bukan ke rumah, tapi ke hakikat dirinya.

 

Penulis: Husni A. Mubarak

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

Bagikan ke

Di Bawah Kubah Nabawi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Cara Mendapatkan Pahala Haji dan Umrah Tanpa Berkunjung ke Makkah
6 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak orang-orang muslim berbondong-bondong pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semua itu... selengkapnya

Kisah Nabi Zakariya dan Rumus Terkabulnya Doa
25 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya saat menjelaskan tafsir surah Maryam ayat satu sampai dengan ayat tujuh menyampaikan rumus terkabulnya... selengkapnya

PSTS dan PSAJ SMAIQu Al-Bahjah Pusat Telah Usai: Meskipun Bernuansa Akademik, Kedua Seperti Episode Sinetron
19 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pembaca yang dermawan, dalam ekosistem pendidikan yang terus berevolusi, para peserta didik SMAIQu Al-Bahjah kini berhadapan dengan... selengkapnya

Memaknai Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum untuk Hijrah
26 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejarah penetapan kalender Hijriah dilakukan dengan proses musyawarah dan pemufakatan yang serius. Setidaknya ada empat hal yang menjadi... selengkapnya

Penyakit Hati Paling Berbahaya: Refleksi Filosofis atas Pesan Buya Yahya
11 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan... selengkapnya

Shalat Tarawih Namun Tidak Ba’diyah Isya? Anda Merugi!
9 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya

Buya Yahya Rilis Buku Fiqih Haji dan Umrah: Rahasia Kesuksesan di Tanah Suci
5 Oktober 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada hari Ahad, tanggal 3 Rabi’ul Akhir 1446 H/6 Oktober 2024 M, Buya Yahya secara resmiakan meluncurkan... selengkapnya

Ilmu-Ilmu Pengetahuan Ini Terinspirasi dari Peristiwa Isra’ Mi’raj
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam memiliki banyak peristiwa penting yang berperan dalam perkembangan agama, salah satunya peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada malam... selengkapnya

Memang Boleh Sedekah dengan Harta Haram?
29 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Melakukan kebaikan dengan cara yang tidak baik tidak akan menjadikan orang tersebut dianggap telah melakukan kebaikan. Berniat... selengkapnya

Agar Tidak Merugi di Sepuluh Hari Awal Bulan Haji
20 Juni 2023

Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.... selengkapnya

Di Bawah Kubah Nabawi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: