● online
Di Bawah Kubah Nabawi

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cahaya fajar menari-nari di atas bukit hijau yang perlahan menyembulkan wajahnya dari selimut malam. Udara segar, belum ternoda oleh riuhnya dunia. Di sanubari Adam, seorang pengelana ruhani dari tanah Sunda, bergetar-getar hatinya─hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang haus akan makna. Ia menatap langit yang perlahan berubah warna, seolah kanvas Tuhan sedang dilukis ulang setiap detik. Hari itu bukan sembarang hari; langkah yang akan membawanya ke pelukan Nabawi, ke rumah Nabi yang dirindukan seluruh semesta.
Perjalanan ini bukan sekadar wisata ibadah, bukan pula hanya ritual ziarah yang berakhir di papan nama dan jepretan kamera. Ini adalah perjalanan ke dalam diri, menembus kabut masa lalu, membongkar lemari-lemari luka, dan membuka jendela harapan baru.
“Bismillah,” bisiknya lirih. Seperti perahu yang melepas tali di dermaga, hatinya pun berlayar. Adam menjejakkan kaki di bumi Madinah seperti seorang anak yang kembali ke pelukan ibunya setelah tersesat di hutan waktu. Embusan angin kota suci itu terasa seperti belaian langit yang lembut, menyusup ke pori-pori jiwanya yang selama ini kering oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Aroma kurma dan pasir, campur baur dengan wangi mukena yang basah oleh air mata, menjelma menjadi harum kerinduan.
Masjid Nabawi dari kejauhan, tampak seperti permata raksasa yang memantulkan cahaya ketenangan. Kubah hijaunya menjulang, bukan hanya ke langit, tetapi juga ke relung kalbu. Menyaksikan bangunan itu, Adam merasa seperti seorang pengembara yang akhirnya menemukan oasis di tengah Padang Sahara ujian hidup.
Di dalam hatinya, bergemuruh kisah para sahabat yang mengayun langkah ribuan mil demi sebuah temu. Seperti Bilal yang suaranya menggema di langit Madinah, seperti Abu Bakar yang setia menemani hijrah, seperti Umar yang tegas namun lembut hati. Adam merasa berjalan di antara bayangan mereka.
Ia bersujud di halaman Nabawi. Hatinya meleleh seperti lilin yang menemukan api cinta. Di antara ribuan manusia, ia merasa sendiri namun tak kesepian. Seperti embun yang jatuh di kelopak mawar. Ia pun luruh dalam doa-doa yang mengalir bagai anak sungai yang kembali ke muara.
***
Malam di Nabawi bukan sekadar waktu antara dua adzan. Malam di sini adalah negeri mimpi bagi jiwa-jiwa yang gelisah. Ketika manusia berbaring dan dunia meredup, ruh-ruh para pencinta bangkit. Mereka bukan hanya shalat, tetapi bermalam dalam pelukan Sang Kekasih.
Adam duduk di saf belakang. Di sekitarnya, orang-orang membaca Al-Qur’an dengan suara seperti nyanyian langit. Tapi Adam memilih diam. Ia berbicara dengan keheningan. Dalam diam itu, ia melihat bayangan masa lalunya kesalahan, kegagalan, dosa-dosa kecil yang menumpuk menjadi gunung beban. Air matanya mengalir, tidak deras, tapi cukup untuk membasuh kerak hitam di hatinya.
“Ya Rasul, maafkan aku. Aku datang bukan sebagai kekasih, tapi sebagai pecundang yang rindu cahaya.”
Tiba-tiba, angin menyapu wajahnya, lembut sekali. Ia merasa seperti dipeluk. Apakah ini yang disebut ‘kehadiran’? Dalam tasbih dan zikir yang berputar di tangannya, Adam merasa ada yang menjawab dalam keheningan. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah jatuh cinta pada yang Maha Gaib.
***
Hari-hari di Nabawi berlalu seperti kelopak yang mekar satu per satu. Adam berjalan di lorong-lorong masjid, mengamati manusia dari segala penjuru dunia. Mereka datang dengan wajah berbeda, bahasa berbeda, bahkan sejarah luka yang berbeda. Namun semua menyatu dalam satu gerakan: sujud.
Adam menyadari bahwa Nabawi bukan sekadar bangunan. Ia adalah cermin raksasa. Di sana, setiap orang bisa melihat dirinya sendiri dengan jujur, tanpa topeng. Seorang pria tua dari Yaman mengajaknya berbicara, meskipun lidah mereka tak selaras. Tapi mata mereka bertemu, dan di situlah bahasa sejati bicara.
Anak-anak kecil berlari di halaman masjid, seperti bintang-bintang kecil yang tak sabar turun ke bumi. Di antara mereka, Adam melihat versi kecil dirinya lincah, polos, dan belum tercemar. Ia tersenyum. Sebuah senyum yang telah lama hilang di antara tumpukan tagihan dan deadline pekerjaan.
Dan di satu sore yang syahdu, saat matahari perlahan menunduk ke barat, Adam duduk di pelataran masjid, menulis dalam buku catatannya:
“Ziarah ini bukan hanya kunjungan, tapi temu jiwa dengan Nabi. Di sini aku tidak hanya menemukan Rasul, tapi juga diriku sendiri yang selama ini menghilang.”
***
Hari terakhir di Nabawi datang seperti detik terakhir detak jantung sebelum tidur. Adam berdiri di hadapan Raudhah taman surga yang dititipkan di bumi. Aroma surga seperti merambat dari karpet hijau dan tiang-tiang putih gading. Doa-doa melambung seperti burung-burung yang ingin hinggap di tangan Rasulullah.
Dengan langkah hati-hati, Adam mendekat ke makam Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Air matanya mengalir deras, kali ini tak terbendung. Ia tak berkata apa-apa, hanya hatinya yang bicara.
“Wahai Rasul, engkau tidak mengenalku. Tapi aku datang padamu, membawa cinta yang mungkin tak seberapa. Tapi inilah yang kupunya.”
Di hadapan makam itu, waktu seolah membeku. Seperti bayi dalam pelukan ibunya, Adam merasa aman. Semua kegelisahan, rasa bersalah, rasa tidak layak larut dalam pancaran cinta yang tak bertubuh namun nyata.
Langkahnya berat meninggalkan pelataran masjid. Tapi ia tahu, Nabawi bukan tempat tinggal tubuh, melainkan tempat singgah ruh. Dan ruh itu telah menyala dalam dirinya.
***
Dalam perjalanan pulang, Adam menatap jendela pesawat. Awan-awan berarak seperti bait-bait puisi yang menari di langit. Di tangannya, sebuah buku catatan penuh dengan goresan makna. Tapi yang lebih penting, di hatinya, tertulis sebuah bab baru—ditulis dengan tinta air mata dan kertas ketulusan.
Di tanah air, ia bukan lagi Adam yang dulu. Ia adalah Adam yang telah disentuh Nabawi. Setiap sujudnya kini mengandung aroma Madinah, setiap senyumnya mengandung hikmah yang dulu tersembunyi. Dan setiap kali ia merasa lelah, ia hanya perlu memejamkan mata, dan dalam keheningan, mendengar kembali suara adzan dari menara hijau itu:
“Allahu Akbar…”
Panggilan abadi yang membawanya pulang, bukan ke rumah, tapi ke hakikat dirinya.
Penulis: Husni A. Mubarak
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Di Bawah Kubah Nabawi
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tidakkah kita menyadari bahwa hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terus berlalu. Bergantinya waktu... selengkapnya
Pelaksanaan hari raya Idulfitri di Indonesia identik dengan halal bihalal bersama keluarga besar, tetangga dan orang-orang yang dihormati di lingkungan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Jumat, 02 Rabiul Akhir 1444 H atau bertepatan dengan Tanggal 28 Oktober 2022 telah diresmikan Pondok... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sesungguhnya setiap bergulirnya waktu adalah saat yang tepat untuk bersanding dengan Rasulullah Saw. Setiap orang hendaknya... selengkapnya
Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra/Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H Visi: “Mendahulukan Akhlaq & Mengembangkan Dakwah Rasulallah SAW.”... selengkapnya
Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sebagaimana umat nasrani yang mempunyai penanggalan atau... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini kita semua tengah memasuki bulan Rajab. Ketika beberapa saat sebelum memasuki bulan Rajab ini,... selengkapnya
Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000
Saat ini belum tersedia komentar.