Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Diposting pada 20 Februari 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 1.044 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyadari bahwa yang bisa asing itu bukanlah semata persahabatan, keakraban, atau perkenalan, melainkan diri kita sendiri terhadap ajaran-ajaran yang ada dalam agama Islam, termasuk asing dengan masjid dan mushola. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai melupakan tujuan utama hidup di dunia ini. Kita lebih senang menghabiskan waktu untuk nongkrong daripada belajar, lebih senang menghadiri acara yang tidak berfaedah daripada menghadiri majelis ilmu, lebih banyak menghabiskan waktu scroll sosial media daripada membaca Al-Qur’an.

Jauh dari ajaran-ajaran agama Islam bukan hanya disebabkan oleh faktor internal, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal, seperti lingkungan. Hal ini diperparah dengan kurangnya pemahaman agama yang mendalam di kalangan pemuda, membuat mereka terlena dan tenggelam dengan gaya hidup yang jauh dari ajaran Islam.

Dahulu kala, kita masih bisa melihat anak-anak berbondong-bondong pergi mengaji ke mushola untuk belajar Iqro’, Juz Amma, menembangkan sholawat/pupujian (bahasa Sunda) di kala menunggu azan Magrib, atau membaca Al-Qur’an dengan ustaz/ustazah. Banyak kegiatan yang sering kita habiskan di masjid atau mushola kampung. Saat datangnya bulan Ramadan yang identik dengan pesantren kilat, meramaikan kegiatan-kegiatan Hari Besar Islam, dan lain sebagianya.

Pada masa itu, masjid dan mushola benar-benar menjadi tempat yang sangat menggembirakan bagi semua kalangan terutama anak-anak dan remaja. Mereka berkumpul bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bermain bersama. Suasana yang indah ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Namun, lihatlah realitas zaman sekarang. Pemandangan itu mulai jarang terlihat. Masjid dan mushola yang dulu ramai kini tampak sepi. Tak banyak lagi pemuda yang lalu lalang menghidupkan rumah Allah, tak terdengar suara anak-anak mengaji, yang tersisa hanyalah beberapa orang tua yang khusyuk melaksanakan shalat. Ke manakah perginya para pemuda Islam?

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Rasulullah Salallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).

Terdapat banyak arti “asing” pada hadis tersebut. Salah satunya dari riwayat Sahl bin Sa’d al-Sa’idi. Berdasarkan riwayat tersebut, ada penambahan kalimat tanya yang berbunyi, “Siapakah mereka yang asing itu?” Rasul menjawab, “orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan.” Yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam menjawab, “Mereka (orang asing) adalah orang-orang saleh di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang saleh, lebih banyak dari yang menaatinya”.

Perkembangan zaman menjadi penyebab mengapa agama mulai ditinggalkan. Orang-orang yang meninggalkan nilai-nilai agama ini, salah satunya sering menganggap bahwa berpakaian sesuai syariat sudah ketinggalan zaman. Membaca Al-Qur’an dan Kitab Maulid sebagai sesuatu yang kuno. Segala hal yang berhubungan dengan agama dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman. Akibatnya, terjadi kemunduran dalam gaya hidup. Yang dulunya rajin ke mushola, kini mulai jarang terlihat. Yang semula berhijab syar’i, perlahan beralih ke jilbab pendek, lalu mulai menampakkan lekuk tubuh, hingga akhirnya melepaskan hijabnya.

Hal ini menunjukkan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang mulai menjauh dari agamanya, baik disadari maupun tidak. Hanya segelintir orang yang tetap berpegang teguh pada agama, dan mereka sering dianggap aneh di lingkungannya—di rumah, di kampung, maupun di tempat kerja.

Orang yang taat beragama seakan menjadi sosok yang terasing. Bahkan, karena semakin jarangnya pemuda yang menjalankan ajaran Islam, seseorang yang sekadar shalat pun sering dianggap sebagai ustaz. Padahal, shalat adalah kewajiban setiap Muslim dan seharusnya menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh para ustaz.

Tak hanya itu, ketika seseorang memberi contoh yang baik atau memberi nasihat, mereka sering dicibir dengan sebutan “sok alim” oleh sebagian orang. Padahal, mengingatkan dalam kebaikan adalah kewajiban setiap orang. Cibiran seperti ini sering kali membuat semangat orang yang berusaha mengajak kepada kebaikan menjadi surut. Namun, ketika menghadapi celaan semacam itu, janganlah gelisah. Seperti yang pernah dinasihatkan oleh Buya Yahya,

“Kalau kamu berhenti berbuat baik karena dibilang sok alim, itu berarti memang niatmu bukan karena Allah. Cobalah tetap melakukan kebaikan meskipun ada yang mencibir. Jika niatmu karena Allah, maka cibiran itu tidak akan memengaruhi dirimu,”.

Pada akhir zaman, berpegang teguh pada agama menjadi ujian yang berat. Mereka yang melakukan sunah Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam sering dianggap aneh, dikucilkan, bahkan Rasulullah menggambarkan betapa sulitnya kondisi ini dengan mengibaratkannya seperti orang yang memegang bara api terasa panas dan ingin dilepaskan. Namun, beruntunglah mereka yang tetap istiqamah dalam berpegang teguh pada agama di tengah umat yang lalai. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam membanggakan mereka karena keteguhan iman mereka. Sayangnya, banyak yang merasa minder karena dianggap aneh, padahal itu terjadi karena kurangnya kebanggaan dan keseriusan dalam berislam.

Seharusnya, kita bangga dengan keislaman kita. Jika seseorang tidak bangga dengan agamanya, maka ada yang perlu diperbaiki dalam keimanannya. Kita harus yakin bahwa segala ajaran Islam adalah yang terbaik untuk kita. Dengan kepercayaan diri terhadap agama, kita akan mampu bertahan dalam menghadapi gempuran perubahan zaman.

 

Penulis: Moh. Minanur Rohman

Penyunting: Assyifa

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , , , ,

Bagikan ke

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Mahar Hasil Utang, Boleh Sih Tapi….. 
30 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mahar merupakan sesuatu yang harus dipenuhi oleh calon pengantin laki-laki ketika hendak menikah. Namun bagaimana jika... selengkapnya

Silaturahmi Open House Bersama Buya Yahya
20 April 2024

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dengan rahmat dan ridha Allah Swt, mari bergabung dalam silaturahmi istimewa di Al-Bahjah Blitar.... selengkapnya

Yang Membuat Kita Masih Bertahan Bukan Karena Kita Kuat, Tapi Karena Allah
20 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernahkah kita merenung, tentang seberapa jauh perjalanan ini yang akhirnya mampu membawa kita sampai titik sekarang? Tentang berapa... selengkapnya

Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok
28 Agustus 2021

Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok PUSTAKA AL-BAHJAH-SERBA-SERBI SANTRI-Tandzif atau dalam bahasa Indonesia berarti bersih-bersih merupakan kegiatan yang rutin... selengkapnya

(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma
17 Januari 2026

HUJAN turun pelan sejak sore, seperti sengaja menunda reda. Tidak deras, tidak pula berhenti. Butirannya jatuh satu-satu di atas atap... selengkapnya

Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman
27 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren sering dipandang sebagai sarana pendidikan yang hanya membekali santrinya dengan ilmu keagamaan namun tidak menjadikan ia siap... selengkapnya

Remaja Hebat, Jangan Insecure
28 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Kamu pernah merasa tidak cukup baik, tidak cukup cantik dan tampan, atau tidak cukup pintar? Jangan khawatir,... selengkapnya

Mengakhiri Derita Jomblo; Insan yang Hidupnya dalam Kesendirian di Setiap Keheningan Malam
13 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Fase menuju pernikahan menjadi momok mengerikan bagi para pemuda yang khawatir akan masa depannya. Akhir dari masa... selengkapnya

Shalat Tarawih Namun Tidak Ba’diyah Isya? Anda Merugi!
9 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya

PSTS dan PSAJ SMAIQu Al-Bahjah Pusat Telah Usai: Meskipun Bernuansa Akademik, Kedua Seperti Episode Sinetron
19 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pembaca yang dermawan, dalam ekosistem pendidikan yang terus berevolusi, para peserta didik SMAIQu Al-Bahjah kini berhadapan dengan... selengkapnya

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: