Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Diposting pada 20 Februari 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 1.148 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyadari bahwa yang bisa asing itu bukanlah semata persahabatan, keakraban, atau perkenalan, melainkan diri kita sendiri terhadap ajaran-ajaran yang ada dalam agama Islam, termasuk asing dengan masjid dan mushola. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai melupakan tujuan utama hidup di dunia ini. Kita lebih senang menghabiskan waktu untuk nongkrong daripada belajar, lebih senang menghadiri acara yang tidak berfaedah daripada menghadiri majelis ilmu, lebih banyak menghabiskan waktu scroll sosial media daripada membaca Al-Qur’an.

Jauh dari ajaran-ajaran agama Islam bukan hanya disebabkan oleh faktor internal, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal, seperti lingkungan. Hal ini diperparah dengan kurangnya pemahaman agama yang mendalam di kalangan pemuda, membuat mereka terlena dan tenggelam dengan gaya hidup yang jauh dari ajaran Islam.

Dahulu kala, kita masih bisa melihat anak-anak berbondong-bondong pergi mengaji ke mushola untuk belajar Iqro’, Juz Amma, menembangkan sholawat/pupujian (bahasa Sunda) di kala menunggu azan Magrib, atau membaca Al-Qur’an dengan ustaz/ustazah. Banyak kegiatan yang sering kita habiskan di masjid atau mushola kampung. Saat datangnya bulan Ramadan yang identik dengan pesantren kilat, meramaikan kegiatan-kegiatan Hari Besar Islam, dan lain sebagianya.

Pada masa itu, masjid dan mushola benar-benar menjadi tempat yang sangat menggembirakan bagi semua kalangan terutama anak-anak dan remaja. Mereka berkumpul bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bermain bersama. Suasana yang indah ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Namun, lihatlah realitas zaman sekarang. Pemandangan itu mulai jarang terlihat. Masjid dan mushola yang dulu ramai kini tampak sepi. Tak banyak lagi pemuda yang lalu lalang menghidupkan rumah Allah, tak terdengar suara anak-anak mengaji, yang tersisa hanyalah beberapa orang tua yang khusyuk melaksanakan shalat. Ke manakah perginya para pemuda Islam?

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Rasulullah Salallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).

Terdapat banyak arti “asing” pada hadis tersebut. Salah satunya dari riwayat Sahl bin Sa’d al-Sa’idi. Berdasarkan riwayat tersebut, ada penambahan kalimat tanya yang berbunyi, “Siapakah mereka yang asing itu?” Rasul menjawab, “orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan.” Yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam menjawab, “Mereka (orang asing) adalah orang-orang saleh di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang saleh, lebih banyak dari yang menaatinya”.

Perkembangan zaman menjadi penyebab mengapa agama mulai ditinggalkan. Orang-orang yang meninggalkan nilai-nilai agama ini, salah satunya sering menganggap bahwa berpakaian sesuai syariat sudah ketinggalan zaman. Membaca Al-Qur’an dan Kitab Maulid sebagai sesuatu yang kuno. Segala hal yang berhubungan dengan agama dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman. Akibatnya, terjadi kemunduran dalam gaya hidup. Yang dulunya rajin ke mushola, kini mulai jarang terlihat. Yang semula berhijab syar’i, perlahan beralih ke jilbab pendek, lalu mulai menampakkan lekuk tubuh, hingga akhirnya melepaskan hijabnya.

Hal ini menunjukkan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang mulai menjauh dari agamanya, baik disadari maupun tidak. Hanya segelintir orang yang tetap berpegang teguh pada agama, dan mereka sering dianggap aneh di lingkungannya—di rumah, di kampung, maupun di tempat kerja.

Orang yang taat beragama seakan menjadi sosok yang terasing. Bahkan, karena semakin jarangnya pemuda yang menjalankan ajaran Islam, seseorang yang sekadar shalat pun sering dianggap sebagai ustaz. Padahal, shalat adalah kewajiban setiap Muslim dan seharusnya menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh para ustaz.

Tak hanya itu, ketika seseorang memberi contoh yang baik atau memberi nasihat, mereka sering dicibir dengan sebutan “sok alim” oleh sebagian orang. Padahal, mengingatkan dalam kebaikan adalah kewajiban setiap orang. Cibiran seperti ini sering kali membuat semangat orang yang berusaha mengajak kepada kebaikan menjadi surut. Namun, ketika menghadapi celaan semacam itu, janganlah gelisah. Seperti yang pernah dinasihatkan oleh Buya Yahya,

“Kalau kamu berhenti berbuat baik karena dibilang sok alim, itu berarti memang niatmu bukan karena Allah. Cobalah tetap melakukan kebaikan meskipun ada yang mencibir. Jika niatmu karena Allah, maka cibiran itu tidak akan memengaruhi dirimu,”.

Pada akhir zaman, berpegang teguh pada agama menjadi ujian yang berat. Mereka yang melakukan sunah Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam sering dianggap aneh, dikucilkan, bahkan Rasulullah menggambarkan betapa sulitnya kondisi ini dengan mengibaratkannya seperti orang yang memegang bara api terasa panas dan ingin dilepaskan. Namun, beruntunglah mereka yang tetap istiqamah dalam berpegang teguh pada agama di tengah umat yang lalai. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam membanggakan mereka karena keteguhan iman mereka. Sayangnya, banyak yang merasa minder karena dianggap aneh, padahal itu terjadi karena kurangnya kebanggaan dan keseriusan dalam berislam.

Seharusnya, kita bangga dengan keislaman kita. Jika seseorang tidak bangga dengan agamanya, maka ada yang perlu diperbaiki dalam keimanannya. Kita harus yakin bahwa segala ajaran Islam adalah yang terbaik untuk kita. Dengan kepercayaan diri terhadap agama, kita akan mampu bertahan dalam menghadapi gempuran perubahan zaman.

 

Penulis: Moh. Minanur Rohman

Penyunting: Assyifa

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , , , ,

Bagikan ke

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
3 Adab yang Sering Dilanggar pasca-Kepulangan Ibadah Haji
4 Juli 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setelah menunaikan ibadah haji, seorang muslim akan kembali ke tanah air dan tempat tinggalnya masing-masing. Adab... selengkapnya

Antara Sound Horeg dan Suara Ulama
1 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mengadakan perayaan dengan suara keras yang dihasilkan dari sepiker berdaya tinggi seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari... selengkapnya

Musibah dan Ujian sebagai Bentuk Kasih Sayang dari Allah
3 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan, tidak ada manusia yang tidak mendapatkan musibah atau ujian. Baik musibah yang besar maupun kecil.... selengkapnya

Menenun Cahaya Qur’ani di Tanah Cirebon: Jejak Langkah Pendidikan Formal Al-Bahjah
1 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya

Cara Mencintai Istri ala Ali bin Abi Thalib
26 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di bawah langit Madinah yang jernih, di tengah kehidupan yang sederhana namun penuh makna, tersembunyi sebuah kisah... selengkapnya

Mengenal Mazhab dan Rujukan Fatwa Syafi’iyah
19 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pendiri mazhab Syafi’i bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i. Lahir dalam keadaan yatim di Gaza pada... selengkapnya

Liburan Telah Selesai, Begini Cara Memulai Aktivitas dengan Semangat Baru
25 April 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya

Peduli Palestina, LAZ Al-Bahjah Salurkan Infak Kemanusiaan Tahap II Rp1,7 M Melalui BAZNAS RI
24 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Bahjah menyalurkan infak kemanusiaan untuk Palestina tahap II sebesar Rp1.746.285.736 melalui Badan Amil... selengkapnya

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati
13 September 2025

LANGGAR tua itu berdiri di ujung kampung, sederhana dan hampir lapuk dimakan waktu. Namun setiap sore, suara ayat suci selalu... selengkapnya

Kita Tidak Krisis Teknologi Tapi Krisis Akhlak
8 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita hidup di era modern, infrastuktur semakin maju, teknologi berkembang begitu pesat, dan segala informasi dengan... selengkapnya

Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: