Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Diposting pada 17 April 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 147 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, tidak jarang muncul perdebatan mengenai amalan-amalan dalam Islam, salah satunya adalah tentang shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagian pihak menganggap ada jenis-jenis shalawat tertentu yang tidak boleh diamalkan karena dinilai berlebihan dalam mengagungkan Nabi. Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan di masyarakat: apakah benar ada shalawat yang dilarang?

Dalam ajaran Islam, memang terdapat peringatan agar umat tidak mengultuskan Nabi secara berlebihan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nasrani terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengingatkan agar beliau tidak ditempatkan pada derajat ketuhanan. Namun, penting untuk dipahami bahwa larangan tersebut memiliki batas yang jelas, yaitu ketika pengagungan sampai pada level menyamakan Nabi dengan Tuhan. Selama pujian kepada Nabi tidak melampaui batas tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan, bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan atas jasa Nabi dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Perdebatan sering muncul pada contoh shalawat tertentu, seperti Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian orang dianggap bermasalah karena mengandung kalimat-kalimat yang dinilai “terlalu tinggi” dalam memuji Nabi. Namun, jika dipahami dengan benar, makna dalam shalawat tersebut tidaklah keluar dari koridor aqidah.

Ungkapan-ungkapan seperti memohon kemudahan, terkabulnya hajat, atau terhindar dari kesulitan “dengan Nabi Muhammad” sejatinya masuk dalam konsep tawassul, yaitu menjadikan Nabi sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Hal ini memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam dan tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kesesatan. Bahkan dalam literatur hadist, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa para sahabat bertawassul dengan Nabi, termasuk dalam doa meminta hujan. Ini menunjukkan bahwa menyebut Nabi sebagai wasilah (perantara) bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, selama tetap diyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah.

Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman bahasa Arab atau konteks makna dalam shalawat tersebut. Sebagian orang dengan mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah atau sesat tanpa kajian yang mendalam. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian seperti itu memerlukan kehati-hatian dan dasar yang kuat.

Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang berlebihan. Misalnya dengan menganggap shalawat tertentu lebih utama daripada shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, karena tidak ada shalawat yang lebih utama daripada yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Selain itu, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu membuat-buat keutamaan shalawat tanpa dasar yang jelas, bahkan sampai mengatasnamakan sabda Nabi. Misalnya, klaim bahwa membaca shalawat tertentu dalam jumlah tertentu akan mendapatkan pahala khusus, padahal tidak ada dalil yang sahih. Hal seperti ini termasuk dalam perbuatan yang harus dihindari karena berpotensi menjadi dusta atas nama Nabi.

Perdebatan mengenai redaksi shalawat, seperti penggunaan kata tertentu dalam bahasa Arab, juga sering kali berlebihan. Padahal, selama maknanya benar dan tidak menyimpang dari aqidah, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan. Mengubah redaksi hanya karena terpengaruh tuduhan yang belum tentu benar justru menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam memahami ajaran itu sendiri.

Pada akhirnya, shalawat adalah amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui shalawat, seorang hamba berharap mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagaimana janji bahwa setiap satu kali shalawat kepada Nabi akan dibalas berkali-kali oleh Allah. Perbedaan dalam praktik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Yang perlu dijaga adalah adab, keilmuan, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang agama. Karena dalam urusan seperti ini, yang lebih berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi sikap mudah menyalahkan tanpa pemahaman yang utuh.

Referensi: Ceramah Buya Yahya di Youtube Al-Bahjah TV

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Memasuki H-2, Mari Intip Kesiapan Panitia Jelang Maulid dan Silaturahmi Akbar LPD Al-Bahjah 1444 H
30 September 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah telah memasuki H-2, berbagai persiapan terus dikebut demi menyambut dan memuliakan... selengkapnya

Teknik Menulis bagi Pemula: Lupakan EYD dan Tanda Baca (Freewriting)
20 Januari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan Anda memiliki keinginan untuk menulis tetapi terhambat dengan pengetahuan Anda yang terbatas? Ya, hambatan tersebut salah... selengkapnya

Hidup Diliputi Kebingungan, Tak Tentu Arah dan Tujuan? Mari Simak Nasihat Buya Yahya Berikut Ini
24 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia di muka bumi karena kesempurnaannya  melebihi makhluk... selengkapnya

Malaikat-Malaikat yang Jarang Orang Ketahui
20 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malaikat-malaikat yang sudah masyhur diketahui ada banyak. Kita sudah tidak asing lagi dengan Malaikat Jibril, Mikail, dan... selengkapnya

Buya Yahya Memberikan Tanggapan Mengenai Jenazah Mualaf yang Dikremasi
24 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Islam, tata cara pengurusan jenazah memiliki aturan yang sangat jelas dan rinci. Namun salah satu pertanyaan... selengkapnya

Hukum Berwudhu dalam Keadaan Masih Memakai Kosmetik
5 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan modern, penggunaan kosmetik seperti handbody, pelembap wajah, lipstik, bedak, hingga produk-produk berlabel waterproof sudah menjadi bagian... selengkapnya

Benarkah Wanita Haid Dilarang Membaca Al-Qur’an?
17 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah yang bisa dilakukan kapan pun oleh kaum muslimin. Selain mendapatkan pahala, membaca... selengkapnya

Kamu Sedang Galau? Coba Amalkan 9 Cara Membenahi Hati Ini
29 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hati adalah cerminan diri kita sendiri. Ketika hati itu baik maka perilaku pun menjadi baik, begitu pun... selengkapnya

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban: Jangan Biarkan Berlalu Sia-Sia
13 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah dan pintu gerbang memasuki bulan suci Ramadan. Bulan Sya’ban merupakan... selengkapnya

Buya Yahya: Kalau Hanya Ingin Dipuji Manusia, Maka Hidup Akan Lelah
3 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Media sosial sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern, khususnya generasi muda. Kehadirannya memberikan... selengkapnya

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: