Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Diposting pada 17 April 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 109 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, tidak jarang muncul perdebatan mengenai amalan-amalan dalam Islam, salah satunya adalah tentang shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagian pihak menganggap ada jenis-jenis shalawat tertentu yang tidak boleh diamalkan karena dinilai berlebihan dalam mengagungkan Nabi. Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan di masyarakat: apakah benar ada shalawat yang dilarang?

Dalam ajaran Islam, memang terdapat peringatan agar umat tidak mengultuskan Nabi secara berlebihan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nasrani terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengingatkan agar beliau tidak ditempatkan pada derajat ketuhanan. Namun, penting untuk dipahami bahwa larangan tersebut memiliki batas yang jelas, yaitu ketika pengagungan sampai pada level menyamakan Nabi dengan Tuhan. Selama pujian kepada Nabi tidak melampaui batas tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan, bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan atas jasa Nabi dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Perdebatan sering muncul pada contoh shalawat tertentu, seperti Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian orang dianggap bermasalah karena mengandung kalimat-kalimat yang dinilai “terlalu tinggi” dalam memuji Nabi. Namun, jika dipahami dengan benar, makna dalam shalawat tersebut tidaklah keluar dari koridor aqidah.

Ungkapan-ungkapan seperti memohon kemudahan, terkabulnya hajat, atau terhindar dari kesulitan “dengan Nabi Muhammad” sejatinya masuk dalam konsep tawassul, yaitu menjadikan Nabi sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Hal ini memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam dan tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kesesatan. Bahkan dalam literatur hadist, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa para sahabat bertawassul dengan Nabi, termasuk dalam doa meminta hujan. Ini menunjukkan bahwa menyebut Nabi sebagai wasilah (perantara) bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, selama tetap diyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah.

Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman bahasa Arab atau konteks makna dalam shalawat tersebut. Sebagian orang dengan mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah atau sesat tanpa kajian yang mendalam. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian seperti itu memerlukan kehati-hatian dan dasar yang kuat.

Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang berlebihan. Misalnya dengan menganggap shalawat tertentu lebih utama daripada shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, karena tidak ada shalawat yang lebih utama daripada yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Selain itu, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu membuat-buat keutamaan shalawat tanpa dasar yang jelas, bahkan sampai mengatasnamakan sabda Nabi. Misalnya, klaim bahwa membaca shalawat tertentu dalam jumlah tertentu akan mendapatkan pahala khusus, padahal tidak ada dalil yang sahih. Hal seperti ini termasuk dalam perbuatan yang harus dihindari karena berpotensi menjadi dusta atas nama Nabi.

Perdebatan mengenai redaksi shalawat, seperti penggunaan kata tertentu dalam bahasa Arab, juga sering kali berlebihan. Padahal, selama maknanya benar dan tidak menyimpang dari aqidah, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan. Mengubah redaksi hanya karena terpengaruh tuduhan yang belum tentu benar justru menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam memahami ajaran itu sendiri.

Pada akhirnya, shalawat adalah amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui shalawat, seorang hamba berharap mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagaimana janji bahwa setiap satu kali shalawat kepada Nabi akan dibalas berkali-kali oleh Allah. Perbedaan dalam praktik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Yang perlu dijaga adalah adab, keilmuan, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang agama. Karena dalam urusan seperti ini, yang lebih berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi sikap mudah menyalahkan tanpa pemahaman yang utuh.

Referensi: Ceramah Buya Yahya di Youtube Al-Bahjah TV

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Cara Memakai Cincin Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad Saw
26 November 2024

Salah satu bentuk kesunahan yang dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan cincin. Tidak hanya sebagai perhiasan dan alat... selengkapnya

Diksi Dua Wajah: Menegur dan Menyinggung di Grup, Tapi Giliran Ada Butuh Baru Japri
26 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Zaman ini telah melahirkan sebuah peradaban baru, yaitu peradaban jempol dan tanda centang biru. Teknologi terus melesat seperti... selengkapnya

Berburuk Sangka Itu Diam-Diam Menghayutkan
29 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita mungkin pernah mendengar kalau di balik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita juga tahu kalau... selengkapnya

Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana Umat Islam Menyikapinya?
8 Oktober 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Beberapa hari yang lalu telah terjadi musibah besar yaitu kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur... selengkapnya

Sinergi Pejuang Al-Bahjah Menyambut Maulid Akbar Nabi Muhammad Saw 1444 H
29 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam rangka memaksimalkan penyelenggaraan maulid akbar Nabi Muhammad Saw yang akan diselenggarakan pada Ahad, 6 Rabiul... selengkapnya

Keceriaan, Rahasia di Balik Setiap Senyuman
17 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya

SMAIQU Al-Bahjah Sukses Laksanakan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS)
25 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –PKKS merupakan proses evaluasi yang dilakukan oleh pengawas sekolah yang tak lepas dari koordinasi dengan dinas pendidikan.... selengkapnya

Jadwal Imsakiyah Ramadan 1446 H Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon
3 Maret 2025

  Berikut adalah link jadwal imsakiyah Ramadan 1446 H. untuk Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon: Imsakiyah Ramadan 1446 H.  ... selengkapnya

Mengakhiri Derita Jomblo; Insan yang Hidupnya dalam Kesendirian di Setiap Keheningan Malam
13 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Fase menuju pernikahan menjadi momok mengerikan bagi para pemuda yang khawatir akan masa depannya. Akhir dari masa... selengkapnya

Hidup Indah Berkat Berbakti Kepada Orang Tua
2 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam ceramah yang dibawakan oleh Buya Yahya di acara Uswatun Hasanah, beliau menegaskan berbuat baik kepada orang... selengkapnya

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: