Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Diposting pada 17 April 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 39 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, tidak jarang muncul perdebatan mengenai amalan-amalan dalam Islam, salah satunya adalah tentang shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagian pihak menganggap ada jenis-jenis shalawat tertentu yang tidak boleh diamalkan karena dinilai berlebihan dalam mengagungkan Nabi. Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan di masyarakat: apakah benar ada shalawat yang dilarang?

Dalam ajaran Islam, memang terdapat peringatan agar umat tidak mengultuskan Nabi secara berlebihan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nasrani terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengingatkan agar beliau tidak ditempatkan pada derajat ketuhanan. Namun, penting untuk dipahami bahwa larangan tersebut memiliki batas yang jelas, yaitu ketika pengagungan sampai pada level menyamakan Nabi dengan Tuhan. Selama pujian kepada Nabi tidak melampaui batas tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan, bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan atas jasa Nabi dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Perdebatan sering muncul pada contoh shalawat tertentu, seperti Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian orang dianggap bermasalah karena mengandung kalimat-kalimat yang dinilai “terlalu tinggi” dalam memuji Nabi. Namun, jika dipahami dengan benar, makna dalam shalawat tersebut tidaklah keluar dari koridor aqidah.

Ungkapan-ungkapan seperti memohon kemudahan, terkabulnya hajat, atau terhindar dari kesulitan “dengan Nabi Muhammad” sejatinya masuk dalam konsep tawassul, yaitu menjadikan Nabi sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Hal ini memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam dan tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kesesatan. Bahkan dalam literatur hadist, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa para sahabat bertawassul dengan Nabi, termasuk dalam doa meminta hujan. Ini menunjukkan bahwa menyebut Nabi sebagai wasilah (perantara) bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, selama tetap diyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah.

Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman bahasa Arab atau konteks makna dalam shalawat tersebut. Sebagian orang dengan mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah atau sesat tanpa kajian yang mendalam. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian seperti itu memerlukan kehati-hatian dan dasar yang kuat.

Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang berlebihan. Misalnya dengan menganggap shalawat tertentu lebih utama daripada shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, karena tidak ada shalawat yang lebih utama daripada yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Selain itu, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu membuat-buat keutamaan shalawat tanpa dasar yang jelas, bahkan sampai mengatasnamakan sabda Nabi. Misalnya, klaim bahwa membaca shalawat tertentu dalam jumlah tertentu akan mendapatkan pahala khusus, padahal tidak ada dalil yang sahih. Hal seperti ini termasuk dalam perbuatan yang harus dihindari karena berpotensi menjadi dusta atas nama Nabi.

Perdebatan mengenai redaksi shalawat, seperti penggunaan kata tertentu dalam bahasa Arab, juga sering kali berlebihan. Padahal, selama maknanya benar dan tidak menyimpang dari aqidah, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan. Mengubah redaksi hanya karena terpengaruh tuduhan yang belum tentu benar justru menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam memahami ajaran itu sendiri.

Pada akhirnya, shalawat adalah amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui shalawat, seorang hamba berharap mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagaimana janji bahwa setiap satu kali shalawat kepada Nabi akan dibalas berkali-kali oleh Allah. Perbedaan dalam praktik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Yang perlu dijaga adalah adab, keilmuan, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang agama. Karena dalam urusan seperti ini, yang lebih berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi sikap mudah menyalahkan tanpa pemahaman yang utuh.

Referensi: Ceramah Buya Yahya di Youtube Al-Bahjah TV

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Shalat Ditegakkan tetapi Kemungkaran Terus Dilakukan? (Dilihat dari Sudut Pandang yang Berbeda)
16 Maret 2021

Orang yang melaksanakan shalat pasti akan terhindar dari perbuatan jahat, keji dan mungkar. Sebaliknya, orang yang tidak melaksanakan shalat akan... selengkapnya

Tafsir Surat Al-Kautsar Ayat 1-2: Perspektif Ulama Klasik hingga Kontemporer
15 Juni 2024

Pendahuluan Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan istimewa dalam Islam, di mana terdapat dua ibadah utama yang... selengkapnya

Asal-Usul Jin dalam Perspektif Islam
10 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya

Puisi-Puisi Husni Mubarok: Liris Mengiris (2)
29 Desember 2024

  Makkah   Di kejauhan jelajah terbentang luas, Di hati nurani, cinta tak terbatas. Perjalanan ke Makkah, tiada terlukiskan, Dalam... selengkapnya

Anda Ingin Meniup Terompet di Malam Tahun Baru? Mari Simak Penjelasan Buya Yahya
28 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mendekati akhir bulan Desember, banyak orang yang sibuk mempersiapkan perayaan Tahun Baru Masehi. Banyak diantaranya ada... selengkapnya

Perempuan dan Cinta
27 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pembahasan mengenai perempuan dan cinta tidak bisa dipisahkan, keduanya seperti saudara kembar. Artinya, memiliki kesamaan antara satu... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah (1)
27 April 2024

  MALU Aku malu pada bulan Yang terangnya meluluhlantahkan gelapnya hatiku Aku malu pada bintang Yang indah kemerlapnya tak seujung... selengkapnya

Jangan Kelamaan Jomblo, Segerakan Menikah dengan Niat Berikut!
23 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Niat jangan dientengkan apa lagi disepelekan. Sebab, niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam melakukan apa pun,... selengkapnya

Meminta Tanpa Mengeluh: Adab Berdoa Nabi Ayyub
14 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Doa sering dimaknai dengan permohonan atau permintaan dengan penuh harapan dan pujian kepada Tuhan. Dalam agama Islam,... selengkapnya

Bolehkah Membaca Surah Al-Waqi’ah Setelah Asar?
13 Januari 2025

Sering kali kita mendengar anjuran untuk membaca surah Al-Waqi’ah setelah Asar. Sebenarnya, apakah ini diperbolehkan dalam Islam? Mari simak penjelasannya... selengkapnya

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: