Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Diposting pada 17 April 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 94 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, tidak jarang muncul perdebatan mengenai amalan-amalan dalam Islam, salah satunya adalah tentang shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagian pihak menganggap ada jenis-jenis shalawat tertentu yang tidak boleh diamalkan karena dinilai berlebihan dalam mengagungkan Nabi. Hal ini kemudian menimbulkan kebingungan di masyarakat: apakah benar ada shalawat yang dilarang?

Dalam ajaran Islam, memang terdapat peringatan agar umat tidak mengultuskan Nabi secara berlebihan, sebagaimana yang terjadi pada umat Nasrani terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri telah mengingatkan agar beliau tidak ditempatkan pada derajat ketuhanan. Namun, penting untuk dipahami bahwa larangan tersebut memiliki batas yang jelas, yaitu ketika pengagungan sampai pada level menyamakan Nabi dengan Tuhan. Selama pujian kepada Nabi tidak melampaui batas tersebut, maka hal itu bukanlah sesuatu yang terlarang. Bahkan, bershalawat merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalawat adalah bentuk cinta, penghormatan, dan pengakuan atas jasa Nabi dalam membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Perdebatan sering muncul pada contoh shalawat tertentu, seperti Shalawat Nariyah, yang oleh sebagian orang dianggap bermasalah karena mengandung kalimat-kalimat yang dinilai “terlalu tinggi” dalam memuji Nabi. Namun, jika dipahami dengan benar, makna dalam shalawat tersebut tidaklah keluar dari koridor aqidah.

Ungkapan-ungkapan seperti memohon kemudahan, terkabulnya hajat, atau terhindar dari kesulitan “dengan Nabi Muhammad” sejatinya masuk dalam konsep tawassul, yaitu menjadikan Nabi sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah. Hal ini memiliki dasar dalam tradisi keilmuan Islam dan tidak serta-merta bisa dianggap sebagai kesesatan. Bahkan dalam literatur hadist, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa para sahabat bertawassul dengan Nabi, termasuk dalam doa meminta hujan. Ini menunjukkan bahwa menyebut Nabi sebagai wasilah (perantara) bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, selama tetap diyakini bahwa yang mengabulkan doa hanyalah Allah.

Kesalahpahaman sering terjadi karena kurangnya pemahaman bahasa Arab atau konteks makna dalam shalawat tersebut. Sebagian orang dengan mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah atau sesat tanpa kajian yang mendalam. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, penilaian seperti itu memerlukan kehati-hatian dan dasar yang kuat.

Di sisi lain, memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang berlebihan. Misalnya dengan menganggap shalawat tertentu lebih utama daripada shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi, seperti Shalawat Ibrahimiyah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, karena tidak ada shalawat yang lebih utama daripada yang diajarkan oleh Rasulullah sendiri. Selain itu, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah berbahaya, yaitu membuat-buat keutamaan shalawat tanpa dasar yang jelas, bahkan sampai mengatasnamakan sabda Nabi. Misalnya, klaim bahwa membaca shalawat tertentu dalam jumlah tertentu akan mendapatkan pahala khusus, padahal tidak ada dalil yang sahih. Hal seperti ini termasuk dalam perbuatan yang harus dihindari karena berpotensi menjadi dusta atas nama Nabi.

Perdebatan mengenai redaksi shalawat, seperti penggunaan kata tertentu dalam bahasa Arab, juga sering kali berlebihan. Padahal, selama maknanya benar dan tidak menyimpang dari aqidah, tidak ada alasan untuk saling menyalahkan. Mengubah redaksi hanya karena terpengaruh tuduhan yang belum tentu benar justru menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam memahami ajaran itu sendiri.

Pada akhirnya, shalawat adalah amalan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Melalui shalawat, seorang hamba berharap mendapatkan rahmat dari Allah. Sebagaimana janji bahwa setiap satu kali shalawat kepada Nabi akan dibalas berkali-kali oleh Allah. Perbedaan dalam praktik seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Yang perlu dijaga adalah adab, keilmuan, dan kehati-hatian dalam berbicara tentang agama. Karena dalam urusan seperti ini, yang lebih berbahaya bukanlah perbedaan itu sendiri, tetapi sikap mudah menyalahkan tanpa pemahaman yang utuh.

Referensi: Ceramah Buya Yahya di Youtube Al-Bahjah TV

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Petugas Keamanan Al-Bahjah Cirebon Menutup Jalan di Area Masjid Oemar untuk Sementara Waktu
16 Maret 2021

Cirebon, Pustaka Al-Bahjah News-Petugas Keamanan LPD AL-Bahjah Cirebon Menutup Jalan untuk Sementara Waktu pada Saat Shalat Berjamaah Sedang Berlangsung di... selengkapnya

Pesan Mulia Buya Yahya Bagi Para Freshgraduate: Perluas Cara Pandang Dalam Bekerja!
12 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Masa-masa awal ketika kita baru saja menyelsaikan pendidikan (freshgraduate) merupakan salah satu masa yang krusial bagi... selengkapnya

Menyambut Bulan Mulia
28 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan suci Ramadan akan segera tiba. Bulan mulia yang membawa banyak keberkahan, rahmat, pengampunan, dan kebaikan yang... selengkapnya

Lakukan 4 Hal Ini untuk Menjaga Silaturahmi, Nomor 1 Bisa Dilakukan Tanpa Harus Bertemu
6 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Melalui Nabi Muhammad... selengkapnya

Cara Bijak Menghadapi Perkembangan Teknologi Artificial Intelligence (AI)
14 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Peradaban manusia berkembang begitu cepat di berbagai bidang, termasuk di bidang teknologi. Salah satu contoh perkembangan teknologi yang... selengkapnya

Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis
6 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat Ramadan, ramai di media sosial unggahan konten yang menggunakan istilah mokel. Mokel adalah bahasa gaul yang berasal... selengkapnya

Tebar “Jaring-Jaring” Kemandirian Ekonomi Pondok Pesantren, LPD Al-Bahjah Bangun Resto AB Chicken dan Launching AB Express
13 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pagi ini Sabtu, 23 Syawal 1444H/13 Mei 2023 Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali menebar “jaring-jaring”... selengkapnya

Lepas Cadar Di Media Sosial, Bagaimana Hukumnya?
29 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan kejadian seorang muslimah yang melepas cadarnya di awak media. Sontak kejadian... selengkapnya

Ikhtiar dan Keikhlasan dalam Mencari Jodoh
25 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam perjalanan mencari jodoh, mungkin kita pernah bertanya-tanya, “Apakah jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kita akan... selengkapnya

Anak Masuk Sekolah Favorit, Arah Jalan ke Surga atau Neraka?
2 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Anak adalah titipan dari Allah Subhanau wa Ta’ala, maka setiap orang tua sejatinya tengah mengemban amanah atas titipan... selengkapnya

Ketika Shalawat Dianggap Mengultuskan Nabi

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: