Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Kontroversi Amalan di Hari ‘Asyura

Kontroversi Amalan di Hari ‘Asyura

Diposting pada 5 Juli 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 796 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita dianjurkan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan di sebagian waktu dengan melakukan amalan kebaikan di waktu tersebut. Itulah yang dilakukan kaum Yahudi saat ditanya oleh Nabi kenapa mereka melaksanakan puasa di tanggal 10 bulan Muharram (hari ‘Asyura). Mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari baik. Pada hari tersebut dahulu Allah menyelamatkan Nabi mereka, yakni Nabi Musa ‘Alahi Salam. Bagi mereka hari tersebut adalah hari anugerah dan hari baik. Begitu pun bagi kita umat Rasulullah bahwa hari tersebut juga adalah hari mulia karena dengan tegas Nabi mengatakan:

أنا أحق بموسى منكم (رواه أحمد)

Aku lebih berhak dengan Musa daripada kalian (Yahudi).(HR. Ahmad)

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam pun sudah melegitimasi hari Asyura, bahwa Nabi beserta umatnya lebih berhak dengan hari tersebut sehingga beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa di hari Asyura. Agar berbeda dengan kaum Yahudi dan sebagai bentuk menghidupkan hari mulia tersebut, Nabi pun memerintahkan berpuasa sehari sebelum atau setelahnya (hari ‘Asyura) juga.

Menghidupan Hari Mulia dengan Melakukan Kebaikan

Pada prinsipnya kita dianjurkan menghidupkan hari-hari baik lainnya juga dengan kebaikan apa pun. Berharap agar Allah memberikan pahala dan ganjaran yang lebih banyak. Begitu pun bagi yang merusak kehormatan hari mulia maka baginya mendapatkan dosa yang double. Pertama dosa atas perbuatan maksiatnya dan kedua dosa karena sudah merusak kemuliaan hari yang mulia.

Di dalam Islam sejatinya semua hari adalah baik, tidak ada hari sial atau hari apes. Akan tetapi Allah menjadikan sebagian waktu atau hari lebih utama dari yang lainnya sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya

إن لربكم عز وجل في أيام دهركم نفحات فتعرضوا لها، لعل أحدكم أن تصيبه منها نفحة لا يشقى بعدها أبدا (رواه الطبراني)

Sesungguhnya Tuhan kalian Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai embusanembusan rahmat di sepanjang harihari kalian. Maka sambutlah (carilah dan manfaatkanlah) embusanembusan itu, semoga salah satu dari kalian mendapatkannya sehingga tidak akan celaka selamanya.(HR. at Tabhrani)

12 Amalan Hari ‘Asyura Menurut Sebagian Ulama

Ada beberapa keterangan tentang amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di hari Asyura. Di antaranya yang disebutkan di kumpulan beitbeit sya’ir berikut:

في يوم عاشوراء عشر تتصل * * بها اثنتان ولها فضل نقل

صم، صل، صل، زر عالما، عد، واكتحل * * رأس اليتيم امسح، تصدق واغتسل

وسع على العيال، قلم ظفرا * * وسورة الإخلاص قل ألفا تصل

Keterangan tersebut juga disebutkan di dalam kitab I’anah at Thalibin karya Asy Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho─salah satu kitab andalan para santri dan pelajar ilmu fiqih. Perincian dari ­beitbeit tersebut adalah terdapat 12 amalan yang dianjurkan di hari Asyura yaitu:

  1. Berpuasa
  2. Melakukan shalat
  3. Menyambung silaturahmi
  4. Mengunjungi orang alim
  5. Menjenguk orang sakit
  6. Memakai celak
  7. Mengusap kepala anak yatim
  8. Bersedekah
  9. Mandi sunnah
  10. Melebihkan nafkah keluarga
  11. Memotong kuku
  12. Membaca surat Al-Ikhlas 1000x

Penjelasan Para Ulama tentang Amalan di Hari ‘Asyura

Hal yang perlu dicermati adalah agar kita tidak menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam jika belum ada keterangan riwayat yang jelas, dikhawatirkan akan masuk ke dalam golongan yang celaka sebagaimana sabda Nabi:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه البخاري)

Barang siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia bersiapsiap untuk menempati tempatnya di neraka. (HR. Al-Bukhari)

Keterangan 12 amalan sebelumnya yang disebutkan oleh Asy Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho perlu kita baca kembali secara keseluruhan dan tidak hanya berfokus kepada beit-beit sya’ir itu saja. Pertanyaannya apakah 12 amalan tersebut sudah disepakati oleh para mayoritas ulama mazhab? Sebelum menjelaskan 12 amalan di atas, Asy Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho juga menyebutkan kutipan dari perkataan al Imam al Ajhuri:

قال : وحاصله أن ما ورد من فعل عشر خصال يوم عاشوراء لم يصح فيها إلا حديث الصيام والتوسعة على العيال، وأما باقي الخصال الثمانية: فمنها ما هو ضعيف، ومنها ما هو منكر موضوع. (إعانة الطالبين الجزء : 2 صحفة : 301)

Berkata al Imam al Ajhuri: ‘Kesimpulannya adalah bahwa keterangan tentang 10 amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan di hari ‘Asyura tidak ada riwayat hadits yang benar, kecuali hadits tentang puasa sunnah ‘Asyura dan anjuran untuk melebihkan nafkah keluarga. Adapun amalan yang lainnya di antaranya ada dari riwayat hadits dho’if (lemah), munkar (dho’if) bahkan ada yang maudhu’ (palsu).’(I’anah at Thalibin. Juz: 2 hal: 301)

Maka disimpulkan bahwa riwayat yang benar tentang amalan hari Asyura hanya riwayat kesunnahan puasa dan melebihkan nafkah keluarga saja. Adapun hadits yang menjelaskannya adalah sebagai berikut:

Anjuran puasa sunnah Asyura ada banyak riwayat di antaranya:

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله (رواه مسلم)

“Dan puasa di hari ‘Asyura aku berharap dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosa di tahun lalu.” (HR. Muslim)

Anjuran meluaskan nafkah kepada keluarga:

من وسع على عياله يوم عاشوراء لم يزل في سعة سائر سنته (رواه الطبراني في المعجم الكبير والبيهقي في شعب الإيمان)

Barang siapa yang meluaskan nafkah kepada keluarganya di hari ‘Asyura maka dia akan selalu dalam keluasan rezeki sepanjang tahunnya.(HR. al Thabrani di dalam kitab al Mu’jam al Kabir dan al Baihaqi di dalam kitab Syu’ab al Iman)

Hadits ini─melebihkan nafkah di hari ‘Asyura─memang diperselisihkan oleh sebagian ulama. Sebagian menganggap hadits ini sampai derajat munkar (hadits dho’if). Akan tetapi Al Imam as Suyuthi mengatakan di dalam kitab Ad Durar Al Muntatsirah:

كلا، بل هو ثابت صحيح، أخرجه البيهقي في الشعب من حديث أبي سعيد الخذري وأبي هريرة وابن مسعود وجابر، وقال : أسانيده كلها ضعيفة ولكن إذا ضم بعضها إلى بعض أفاده قوة. (الدرر المنتثرة الجزء : 1 صفحة : 186)

Tidak, tetapi hadits tersebut adalah benar. Hadits tersebut disebutkan oleh al Imam al Baihaqi di dalam kitabnya Syu’ab al Iman dari riwayat hadits Abi Sa’id al Khudzri, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud dan Jabir, al Imam al Baihaqi mengatakan: ‘Semua sanadnya adalah dho’if/lemah. Akan tetapi jika dikumpulkan semua riwayat-riwayat tersebut maka hadits itu akan menjadi kuat.” (Ad Durar Al Muntatsirah karya al Imam as Suyuthi. Juz: 1 hal: 186)

Amalan Baik Bisa Dilakukan Kapan pun, Termasuk di Hari ‘Asyura

Adapun selain dari 2 amalan tersebut─berpuasa dan melebihkan nafkah kepada keluarga─sebagian ada yang dho’if bahkan ada juga riwayat yang palsu. Akan tetapi bukan berarti kita langsung menyalahkan apalagi membid’ahkan amalan-amalan tersebut. Sebab, semuanya adalah amalan-amalan kebaikan yang secara dalil umum itu boleh untuk dikerjakan kapan pun, tidak hanya terikat di sebagian waktu saja.

Sekali lagi yang dilarang adalah menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah tanpa riwayat yang benar atau berdusta atas nama beliau. Sebagaimana yang dikatakan oleh al ‘Allamah as Sayyid Abdullah bin Ibrahim asy Syinqithi di dalam kitab Thal’atul Anwar:

ولا يقول مسلم قال النبي * بلا رواية لخوف الكذب

Dan tidak boleh seorang Muslim mengatakan Nabi bersabda tanpa riwayat yang benar, khawatir itu adalah dusta.

Adapun melakukan sebuah amalan-amalan yang biasa dilakukan di hari Asyura seperti menjenguk orang sakit, menyantuni anak yatim sambil mengusap kepalanya, berkunjung ke orang alim, dan yang lainnya selama masih adanya dalil umum dan tidak bertentangan dengan syari’at maka itu bukan hal yang dilarang dan tidak boleh kita mengatakan bahwa amalan tersebut adalah bid’ah yang tercela yang harus dihindari.

Tidak perlu kami hadirkan dalil-dalil umum tentang amalan-amalan tersebut karena sudah sangat jelas dan sering dijumpai di dalam kitab-kitab hadits atau kitab lainnya. Al Imam Ibnu Hajar al ‘Asqollani di dalam kitab Fathul Bari mengatakan:

والتحقيق أنها إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة ، وإن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة ، وإلا فهي من قسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة (فتح الباري الجزء : 4 صفحة : 253)

Dan yang benar adalah bahwa bid’ah jika berada di bawah (kategori) dalil yang baik dalam syari’at maka itu adalah bid’ah yang baik, dan jika di bawah (kategori) dalil yang jelek maka dalam syari’at maka itu adalah bid’ah yang jelek, dan jika tidak ada di bawah (kategori) 2 dalil tersebut maka dia termasuk bid’ah yang mubah, terkadang bid’ah juga terbagi menjadi 5 hukum.(Fathul Bari. Juz: 4 hal: 253).

Al Imam al Ghozali juga menyebutkan di dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin:

فليس كل ما أبدع منهيا بل المنهي بدعة تضاد سنة ثابتة وترفع أمرا من الشرع مع بقاء علته بل الإبداع قد يجب في بعض الأحوال إذا تغيرت الأسباب (إحياء علوم الدين الجزء  : 2 صحفة : 3)

Tidak semua hal baru (bid’ah) adalah dilarang, tetapi yang dilarang adalah bid’ah yang bertentang dengan syari’at dan menghapus suatu ketentuan syari’at padahal sebabnya masih ada. Bahkan terkadang bid’ah bisa menjadi wajib di sebagian keadaan jika sebab-sebabnya telah berubah.” (Ihya ‘Ulumuddin. Juz: 2 hal: 3)

Al Imam asy Syatibi di dalam kitab al I’tisham menjelaskan dengan penjelasan yang sangat gamblang bagi yang ingin membacanya agar tidak salah dalam memahami tentang bid’ah. (Madza Fi Sya’ban karya Abuya as Sayyid Muhammad al Maliki, hal: 84)

Kesimpulan

Hari Asyura adalah hari mulia. Kemuliaannya bukan hanya bagi umat Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam saja, tetapi bagi umat-umat terdahulu karena terdapat banyak kejadian-kejadian penting yang terjadi di hari tersebut sepanjang sejarah para Nabi sebelum Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam.

Sudah seharusnya kesempatan hari-hari mulia kita hidupkan dengan ibadah apa pun itu selama ibadah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at walaupun itu datangnya bukan dari Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam seperti diriwayatkan dari sebagian ulama, para auliya atau kaum sholihin.

Hal yang tidak boleh bahkan diancam oleh Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam adalah menisbatkan sesuatu kepada beliau tanpa riwayat yang benar. Mari kita insaf dan tidak gampang mencaci satu sama lain karena setiap Muslim adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita keberkahan hari Asyura. Amiiin.

Wallahu a’lam bi Showab

 

Penulis: Ust. Maulid Johansyah, M.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Kontroversi Amalan di Hari ‘Asyura

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Kenakalan pada Anak
4 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika anak sakit, orang tua akan pergi menemui dokter, pusat kesehatan, atau orang yang mengerti tentang kesehatan.... selengkapnya

Orang Tua Juga Bisa Durhaka kepada Anak
24 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam Islam, relasi orang tua dan anak sering dibahas dalam kerangka birr al-walidayn, yang menekankan kewajiban anak untuk... selengkapnya

Sisa Make Up Masih Ada, Sahkah Wudunya?
17 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya

Memercayai Takdir Allah Selalu Baik
25 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam hidup, kita tak pernah tahu kejutan apa yang akan datang esok hari. Kadang kita bersukacita, kadang juga... selengkapnya

Pergantian Tahun Adalah Renungan Muhasabah Diri untuk Menyongsong Tahun Depan yang Lebih Baik
28 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Beberapa hari menjelang akhir tahun ini kita akan menyaksikan banyak perayaan, panggung gembira, pesta, atau apa pun... selengkapnya

Bolehkah Meminta Air Keberkahan kepada Orang Saleh?
14 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Air sering kali dijadikan sebagai media untuk mendapatkan keberkahan, baik melalui doa maupun sebagai perantara untuk keberkahan... selengkapnya

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H
18 Juli 2023

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H Awal tahun adalah saat untuk merencanakan dan memulai kebaikan dimasa yang akan... selengkapnya

Merawat Hati di Tengah-Tengah Gempuran Teknologi Informasi
11 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati memiliki dua pintu utama, yaitu mata dan telinga. Segala informasi yang diterima hati melalui mata dan telinga... selengkapnya

Kabar Gembira! Sayyidi Syeikh Dr. Muhammad Ba’athiyah Tiba di Al-Bahjah Hari Ini
30 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Rabu 6 Jumadil Ula 1444 H atau bertepatan dengan 30 November 2022, Guru Mulia Sayyidi Syeikh... selengkapnya

Kontroversi Amalan di Hari ‘Asyura

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: