Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » (Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Diposting pada 13 September 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 455 kali / Kategori:

LANGGAR tua itu berdiri di ujung kampung, sederhana dan hampir lapuk dimakan waktu. Namun setiap sore, suara ayat suci selalu menggema dari dalamnya. Bagi para santri, tempat itu bukan sekadar ruang belajar, melainkan rumah kedua.

Di antara para santri ada seorang anak muda bernama Fahri. Baru setahun ia mondok, tetapi semangatnya selalu membara. Walau bacaannya belum fasih, ia terus bertahan karena selalu teringat kata-kata pengasuhnya, Kiai Ahmad:

Santri bukanlah siapa yang paling cepat menguasai kitab, melainkan siapa yang paling sabar menjaga niat.

Malam itu, langgar dipenuhi cahaya lampu minyak. Para santri duduk bersila dengan wajah penuh antusias. Kiai Ahmad membuka kisah, kali ini bukan tentang fiqih atau nahwu, melainkan tentang sejarah.

“Anak-anakku,” ucapnya dengan suara tenang, besok kita memperingati Hari Santri. Tapi mari kita kenang seorang wali besar, pewaris Nabi, yang namanya terpatri di tanah ini: Sunan Gunung Jati.”

Para santri mendongak, matanya berbinar.

“Sunan Gunung Jati,” lanjut Kiai Ahmad, bernama asli Syariif Hidayatullah. Ia lahir di tanah Mesir, memiliki darah Quraisy dari ayahnya, Syariif Abdullah, keturunan Rasulullah. Namun juga memiliki darah Pasundan dari Ibunya Nyai Rara Santang atau Syariifah Mudaim, putri Prabu Siliwangi. Sejak kecil, ia mewarisi dua warisan: darah kenabian dan darah kerajaan.”

Para santri tercengang. Bagi mereka, baru kali ini sejarah itu terdengar begitu dekat.

“Syariif Hidayatullah sejak muda pergi menuntut ilmu. Ia belajar tafsir, fiqih, tasawuf, bahkan ilmu politik dan diplomasi. Ia melihat dunia Islam yang luas, lalu dengan restu dari sang Ibunda, Syariif Hidayatullah pergi ke tanah Sunda membawa cahaya.”

Kiai Ahmad melanjutkan dengan penuh semangat:

“Di pesisir Pasundan, tepatnya di tanah Cirebon, beliau tidak memilih jalan menjadi pertapa, tapi membangun masyarakat. Melanjutkan Kesultanan Cirebon yang dibangun uwanya Raden Walangsungsang atau Mbah Kuwu Cirebon sebagai benteng dakwah. Ia paham betul, Islam tidak cukup hanya dengan ceramah, tapi perlu tatanan sosial dan politik yang adil. Maka istana dan masjid berdiri berdampingan—menjadi simbol bahwa agama dan negara tak boleh dipisahkan.”

Para santri semakin larut. Seolah-olah mereka bisa melihat istana megah di pinggir laut Cirebon, berdiri sejajar dengan masjid yang selalu ramai jamaah.

“Sunan Gunung Jati bukan hanya seorang guru,” kata Kiai Ahmad, “beliau juga pejuang. Saat Portugis datang ke Sunda Kelapa, beliau bersama Kesultanan Demak mengirim pasukan. Portugis yang datang dengan kapal meriam ditantang dengan bambu runcing, keberanian, dan doa. Dari situlah lahir kemenangan, Sunda Kelapa jatuh ke tangan umat Islam, lalu diganti namanya menjadi Jayakarta.”

Para santri merinding. Fahri membayangkan deru ombak, teriakan takbir, dan kapal-kapal asing yang terbakar di lautan.

“Lihatlah, anak-anakku,” lanjut Kiai Ahmad, “perjuangan itu bukan hanya pedang melawan meriam, tapi juga doa melawan kesombongan. Sunan Gunung Jati membuktikan bahwa keberanian lahir dari iman.”

Kiai Ahmad menundukkan wajahnya, suaranya merendah tetapi makin dalam.
“Namun, anak-anakku, yang paling abadi dari beliau bukanlah istana, bukan pula peperangan, melainkan pesan yang ia tinggalkan: ‘Ingsun titip tajug lan faqir miskin.’ Aku menitipkan masjid dan faqir miskin. Beliau tahu, istana akan runtuh, takhta akan digantikan, tapi masjid dan manusia lemah adalah fondasi peradaban.”

Fahri tertegun. Baginya, pesan itu lebih dalam dari ribuan kata. Ia membayangkan masjid kecil di desanya, tempat ia belajar dan bersujud. Ia juga melihat wajah-wajah faqir miskin di kampungnya yang sering ditolong orang-orang pondok. Ternyata, di situlah inti jihad.

Malam semakin larut. Setelah wirid, para santri kembali ke bilik masing-masing. Fahri tertidur di serambi dengan mushaf terbuka di dadanya. Dalam mimpi, ia melihat dirinya berada di pelabuhan Sunda Kelapa. Ombak bergemuruh, kapal Portugis mendekat dengan meriam menggelegar. Dari kejauhan, pasukan Islam berbaris dengan bambu runcing dan panji tauhid.

Di barisan depan berdiri seorang lelaki dengan wajah bercahaya, serban putih melilit kepalanya. Seorang tua berbisik di telinga Fahri: “Itulah Sunan Gunung Jati.”

Sunan mengangkat tangan ke langit, berdoa, lalu memberi aba-aba. Takbir menggema, lautan berguncang. Namun di tengah hiruk pikuk perang, yang paling menggetarkan hati Fahri adalah wajah Sunan Gunung Jati yang tenang, seolah mengatakan: “Keberanian sejati lahir dari iman, bukan senjata.” Adegan berganti. Sunan Gunung Jati duduk di serambi masjid, menyuapi seorang anak yatim. Lalu beliau menoleh pada Fahri, menatapnya penuh kasih, dan berkata:
“Ingsun titip tajug lan faqir miskin. Jagalah masjid, cintailah orang miskin, karena dari mereka Allah menurunkan rahmat.”

Air mata Fahri mengalir deras. Ia ingin menjawab, tapi bibirnya kelu. Fahri terbangun dengan tubuh berpeluh. Ayat di mushaf terbuka berbunyi: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ia sadar mimpinya bukan kebetulan, melainkan isyarat.

 

KEESOKAN harinya, 22 Oktober, para santri mengadakan kirab. Obor dinyalakan, bendera merah putih dikibarkan, dan shalawat menggema. Fahri berjalan di barisan tengah, memeluk Al-Qur’an tua di dadanya. Dalam hati ia berbisik:

Ya Allah, aku mungkin tak bisa menjadi Sunan Gunung Jati. Tapi izinkan aku menjadi santri kecil yang menjaga wasiatnya: menjaga masjid, menolong faqir miskin, dan mencintai negeri ini.

Senja turun perlahan. Langit berwarna jingga, bintang satu per satu muncul. Fahri duduk di serambi langgar, menatap langit dengan mata basah. Ia teringat kata-kata Kiai Ahmad:

Dunia mungkin melupakan Sunan Gunung Jati. Buku-buku besar mungkin hanya menyinggungnya sekilas. Tapi selama ada santri yang membaca Qur’an di langgar, selama ada doa yang terangkat dari masjid kecil, selama ada tangan yang menolong faqir miskin, maka cahaya beliau tetap hidup.

Langgar tua itu tetap berdiri, sederhana tetapi kokoh sebagai saksi. Dari ruang kecil itulah lahir santri-santri yang meneruskan cahaya. Cahaya yang turun dari Sunan Gunung Jati, menembus abad-abad, hingga menyala di dada para santri hari ini. Di dalam dada Fahri, cahaya itu menyala abadi.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pahala Puasa Hilang karena Ngabuburit yang Salah Kaprah
10 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ngabuburit telah menjadi tradisi yang sudah melekat di masyarakat Indonesia dan keberadaannya hanya ada di bulan Ramadan. Ngabuburit... selengkapnya

Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar
19 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang... selengkapnya

Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Islam: Hifzh Al-Biah dan Hifzh Al-Nafs
10 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya menjaga lingkungan (hifzh... selengkapnya

Rebo Wekasan: Hukum Memercayai dan Tidak Memercayainya
12 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Istilah Rebo Wekasan sudah familiar pada sebagian kalangan masyarakat. Rebo Wekasan ialah istilah untuk hari Rabu... selengkapnya

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti
13 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa,... selengkapnya

Cara Mendapatkan Pahala Haji dan Umrah Tanpa Berkunjung ke Makkah
6 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak orang-orang muslim berbondong-bondong pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semua itu... selengkapnya

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?
1 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada... selengkapnya

Beberapa Aturan Tak Tertulis Berikut Harus Ditulis Agar Diingat dan Dilakukan
18 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan sahabat mendengar aturan yang tak tertulis? Aturan tak tertulis adalah aturan yang menjadi kesepakatan sosial dan... selengkapnya

Belum Terlambat, Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Setara Puasa 1 Tahun
10 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, umat Islam dianjurkan melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Ini merupakan... selengkapnya

Fiqih mesin Cuci: Panduan Praktis Mencuci Pakaian Menggunakan Mesin Cuci Sesuai Syariat Islam
17 Juli 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mesin cuci merupakan salah satu alat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat untuk membersihkan pakaian.... selengkapnya

(Cerpen) Cahaya Santri, Warisan Sunan Gunung Jati

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: