fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?

Diposting pada 1 November 2023 oleh Redaksi / Dilihat: 364 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada orang yang hanya membutuhkan tempat dukungan untuk melepaskan diri dari jebakan depresi. Ada juga orang yang kesulitan untuk terlepas dari depresi, sekalipun lingkungan sekitarnya sudah mendukungnya. Di sisi lain, membiarkan depresi berkelanjutan tanpa ada langkah-langkah yang tepat untuk mengobatinya justru akan semakin memperburuk keadaan.

 

Pada tingkat depresi yang paling parah, bisa saja ia berpikiran untuk mengakhiri hidupnya sebagai solusi terbaik. Kondisi ini tentunya sangat ironis, karena mengakhiri hidup sama sekali bukanlah solusi. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit orang yang mengambil langkah bunuh diri. Ini menggambarkan bahwa permasalahan depresi bukanlah hal sepele, ia merupakan penyakit serius yang harus sesegera mungkin mendapatkan penanganan khusus.

 

Sebagai jawaban atas permasalahan di atas, Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah) memberikan tips bagaimana cara menghadapi depresi.

 

  1. Pahami bahaya depresi dan ancaman bagi orang yang melakukan bunuh diri

 

Berbagai macam ancaman di akhirat kelak bagi orang yang melakukan bunuh diri bukan untuk membuat penderita depresi semakin putus asa. Melainkan untuk menghentikan pikirannya dari bunuh diri. Sehingga penderita depresi tidak akan mengambil langkah untuk mengakhiri hidupnya. 

 

Buya Yahya Menyampaikan,

“Ancaman tentang nasib orang yang bunuh diri Buya sampaikan untuk mengunci, agar penderita depresi tidak mengambil langkah bunuh diri. Agar orang yang depresi sadar bahwa itu penyakit berat yang butuh penanganan. Biar segera berobat. (Depresi) itu penyakit yang tidak enteng, kalau dianggap enteng nanti malah tidak berusaha berobat. Nasihat ini bukan untuk menjadikan penderita depresi semakin depresi atau semakin putus asa akan rahmat Allah Swt.”

 

  1. Perkuat keimanan

 

Penderita depresi perlu sekali untuk memperkokoh keimanannya. Keimanan dapat menjadi penopang baginya agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang semakin memperburuk keadaannya.

 

Buya Yahya mengingatkan,

“Ingatlah bahwa keimanan itu sangat penting, iman itu yang akan menolongnya dari depresi. Karena keimanannya itu yang akan membatasi dia untuk tidak sampai masuk pada wilayah bunuh diri.”

 

Bagaimanakah cara memperkuat keimanan ini? Buya menyampaikan,

“Ala bidzikrillah tathmainnul qulub (QS. Ar-Ra’d: 28) . Dengan berdzikir akan tambah tenang hati. Tenang hati itu tambah iman. Pada ayat lain, idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat alaihim ayatuhu zaadathum imana (QS. Al-Anfal: 2). Itulah makanan ruh kita.”

 

Beliau menambahkan, bahwa jasad manusia saja ketika lapar memerlukan makanan agar tetap sehat dan kuat. Begitu pun dengan ruh, ia memerlukan nutrisi agar tidak kering. Makanan ruh ini di antaranya ialah dzikir kepada Allah, membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, berkumpul dengan orang-orang saleh, dan sebagainya.

 

“Kalau Anda rajin makan, maka akan tambah pertumbuhan Anda. Urusan ruh pun lebih lagi, berapa kali ngaji Anda dalam seminggu? Tidak cukup hanya seminggu sekali. Bunga saja tidak terkena siraman tiga hari akan kering. Maka mestinya urusan ruh ini harus lebih daripada itu,” ujar Buya.

 

  1. Ilaj ma’rifi 

 

Ketika gejala-gejala depresi mulai muncul, seperti merasa tidak enak makan, susah tidur, tidak nyaman saat berkomunikasi dengan orang lain, pikiran tidak tenang, atau bahkan muncul hasrat untuk mengonsumsi obat-obatan terlarang, maka perlu mendapatkan penanganan dengan segera. Karena jika dibiarkan bisa berujung sebuah petaka.

 

Apa pun penyebab munculnya depresi, baik karena lingkungan, gen keturunan, atau suatu penyakit tertentu, ketika gejala depresi mulai terasa, bersegeralah berobat!

 

Adapun langkah pertama yang semestinya dilakukan ialah dengan melakukan ilaj ma’rifi. Pada tahap ini penderita depresi duduk bersama orang terdekatnya. Diskusi untuk saling memahami faktor penyebabnya, seperti latar belakang pribadi dan keluarga, atau lain sebagainya. Diskusi semacam ini sebagaimana pengobatan dengan para psikiater. Terkadang pada tahap ini penderita depresi sudah bisa sembuh tanpa harus dilanjutkan dengan obat. Buya Yahya juga mengingatkan agar jangan terlalu terburu-buru menggunakan obat selagi masih bisa sembuh dengan metode konsultasi.

 

Ketika hendak berkonsultasi dengan seorang psikiater, Buya mengingatkan,

“Seorang psikiater perlu betul-betul ahli. Cakap bertutur kata, punya kecerdasan untuk menangkap permasalahan, mengerti solusi, dan dia punya iman tentunya. Inilah psikiater andal.”

 

  1. Pengobatan medis dengan resep dari dokter

 

Jika cara pengobatan sebelumnya tidak membuahkan hasil apa-apa, maka tahap selanjutnya adalah penyembuhan dengan mengonsumsi obat. Tepatnya ketika depresi tersebut sudah semakin parah. Penggunaan obat tersebut juga haruslah sesuai anjuran dokter, tidak boleh mengonsumsi obat tanpa resep dari dokter.

 

Buya Yahya juga berpesan agar orang-orang di sekitarnya memperhatikan mereka yang terkena depresi. Mereka harus paham bahwa dalam memperlakukannya harus dengan cara yang tidak menyinggung dan tidak menekan.

“Jangan menganggapnya sesuatu yang sepele. Bahkan kadang-kadang dianggap kena jin,” pesan Buya.

 

  1. Mencari suasana dan hal baru

 

Orang yang terkena depresi sebaiknya tidak menutup diri dari lingkungannya. Carilah suasana dan hal baru yang dapat membuka wawasan. Hal ini penting agar ia dapat mengalihkan pikirannya dengan hal lain, karena jika dibiarkan depresinya akan semakin menjadi-jadi. Namun tetap dengan cara yang tidak bertentangan dengan syari’at. Misalnya, mencoba bermain, berolahraga, dan bergaul.

 

Buya berpesan,

“Sekali pun tidak senang bergaul dengan orang, paksakanlah. Karena dengan inilah nanti akan ada kesembuhan. Tentunya bergaul dengan yang tidak menyakitinya, tidak menekan perasaan dia. Ingatlah ini seperti penyakitnya lainnya, bisa sembuh. Asalkan Anda mau berusaha.”


Demikianlah sekelumit tips agar terlepas dari depresi. Semaga Allah Swt senantiasa menolong kita dari segala kesulitan dan melindungi kita dari depresi berat dan pikiran untuk bunuh diri. Aamiin.

 

Sumber: Youtube Al-Bahjah TV

 

Tags: , ,

Bagikan ke

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: