● online
Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang ini. Padahal, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi seharusnya dapat mempermudah urusan silaturahmi. Fakta yang terjadi di zaman serba instan ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dan perilaku masyarakat. Banyak orang yang semakin egois, individualis dan kehilangan empati terhadap lingkungan sekitar. Contoh sederhananya, hal yang banyak terjadi di komplek-komplek perumahan yang jarang menyapa tetangganya, apa lagi sampai melakukan gotong royong. Berbeda dengan tradisi di zaman orang tua kita dulu, di mana saling berkunjung, gotong royong, dan berbagi, meskipun hanya sejumput garam.
Meskipun terasa berat, silaturahmi memiliki pahala yang sangat besar dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bak kata pepatah, harga yang dibayarkan berbanding lurus dengan kualitas yang didapatkan.
Para nabi dan rasul termasuk orang yang paling berbahagia apabila ada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Selain mendatangkan keberkahan umur dan rezeki, silaturahmi juga membawa ganjaran surga dan berbagai kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyambung silaturahmi menjadi ciri khas dan akhlaknya para nabi dan rasul.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari).
Silaturahmi yang Paling Utama
Silaturahmi pada hakikatnya bukan hanya menjalin hubungan persaudaraan dengan sesama Muslim, tetapi yang paling utama adalah dengan saudara sedarah. Perkara ini merupakan hal yang sangat sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Banyak orang yang mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain, tetapi kurang harmonis dengan keluarga sendiri. Realita ini jelas sekali terjadi dalam kehidupan kaum Muslimin saat ini. Padahal, Islam sebagai sumber ajaran tentang akhlak dan pentingnya hakikat silaturahmi, namun anehnya umat Islam sendiri yang melupakan dan meninggalkannya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِيء وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah silaturahim itu membalas kunjungan seseorang, melainkan silaturahim itu adalah menyambung apa yang putus.” (HR. Al-Bukhari).
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa silaturahmi adalah perbuatan baik kepada karib kerabat sesuai dengan kondisi hubungan yang terjalin antara pihak yang menjalin silaturahmi dan yang menerima silaturahmi. Bisa dilakukan dengan memberi materi (uang, barang, makanan, bantuan), berkunjung, menyapa, dan lain sebagainya. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabat atau saudara sedarah lebih didahulukan dan diutamakan dibandingkan dengan orang lain yang bukan sedarah, terutama jika mereka pernah terjadi perselisihan.
Menyambung silaturahmi adalah salah satu amal yang dapt mempercepat seseorang masuk ke dalam surga karena menjadi tanda-tanda keimanan seseorang. Kuncinya terletak pada keimanan yang kokoh dan teguh. Keimanan tersebut hanya dapat dicapai dengan akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, riyadhah (latihan spiritual) yang dilakukan terus-menerus, serta membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.
Setidaknya ada empat ruh utama dalam silaturahmi yang wajib dimiliki dan dipertahankan agar tradisi keislaman ini tidak semakin memudar, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, Al-‘Afwu (memaafkan). Dalam Islam, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang mengharuskan seseorang untuk meminta maaf. Islam sangat menekankan pentingnya memaafkan. Memaafkan bukan sekadar tindakan ringan, tetapi merupakan ujian besar bagi hati manusia saat terlibat perselisihan.
Perkara Al-’Afwu ini sungguh amat sangat berat. Bagaimana mungkin memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita hingga membekas dalam dada. Seolah-olah dada yang lapang menjadi sesak apabila harus memaafkan orang tersebut. Dunia yang lapang menjadi sempit apabila memaafkan orang tersebut. Namun, di situlah samudera pahala yang Allah sediakan, andai ia mampu memaafkan, maka ia termasuk ke dalam golongan muttaqin (orang-orang yang bertakwa), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan kemarahannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134).
Tak perlu menunggu pelaku kezaliman untuk meminta maaf terlebih dahulu, melainkan maafkanlah tanpa harus menunggu ia datang kepadamu. Insyaallah itulah ciri-ciri orang yang benar-benar bertakwa.
Kedua, Al-Islah (berdamai). Kata Al-Islah dalam konteks silaturahmi bukan hanya sekadar mencoba berdamai dengan orang yang berselisih dengan kita. Hal yang lebih utama ialah berdamai dengan diri sendiri untuk berlapang dada menerima dengan ikhlas memori buruk di masa lalu walau sepahit apa pun keburukan yang kita terima dari orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ۚوَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Pada saat pertama kali mencoba berdamai mungkin masih ada perasaan yang mengganjal. Hal ini merupakan perkara yang wajar, karena berdamai dengan orang yang telah menyakiti kita memang sulit. Namun, yakinkan pada diri sendiri bahwa ini merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang nantinya akan memperoleh keutamaan (fadhilah) besar di sisi-Nya. Seiring waktu, insyaallah hubungan yang sebelumnya renggang dapat kembali menjalin hubungan yang baik dengan orang tersebut.
Ketiga, Ta’awun (tolong-menolong). Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa ketika seseorang mengalami musibah atau kemalangan, tetangga dan kerabat sekitar dengan sigap datang membantu, terutama dalam persiapan fardhu kifayah. Bagi mereka yang ikut bergabung dalam kelompok wirid atau Serikat Tolong Menolong (STM), hal ini menjadi tradisi yang terus dijaga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“…. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2).
Tolong-menolong menjadi salah satu ruh silaturahmi yang saat ini sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebiasaan kaum Muslim. Alhamdulillah, nilai ini tetap terjalin dengan baik.
Keempat, Takaful (menanggung/menjamin). Secara Bahasa, takaful berarti menanggung atau menjamin. Maksudnya perasaan senasib dan sepenanggungan apabila karib kerabat atau tetangga tertimpa musibah. Takaful bukan sekadar mengucapkan belasungkawa dan berempati, tetapi juga berusaha menanggung atau membantu mereka yang terkena musibah dengan sumber daya yang ia miliki, baik dalam bentuk materil maupun immateril.
Contohnya membantu melunasi utang jenazah yang masih tertinggal semasa hidupnya, baik sebagian maupun seluruhnya. Bisa dibayangkan alangkah bahagianya keluarga yang kurang mampu ketika mendapatkan bantuan melalui konsep takaful ini. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka yang terkena musibah tidak dibiarkan menghadapi ujian kehidupan sendirian.
Ruh silaturahmi ini hendaknya diaplikasikan dan terus dipertahankan oleh setiap kaum Muslim. Memang berat untuk dilaksanakan, namun bukan perkara yang mustahil jika kita istiqamah untuk terus berusaha dan meyakininya. Lewat silaturahmi akan membangun dan menciptakan kekuatan umat, kebersamaan dan tentunya menjadi sumber persatuan umat Islam dalam menghadapi segala permasalahan hidup.
Wallahu A’lam Bishowab
Penulis: M. Adib
Penyunting: Assyifa
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Tags: gotong royong, mempertahankan silaturahmi, Silaturahmi
Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saat Hari Raya Iduladha, kita pasti akan teringat tentang kisah keteladanan dari sebuah keluarga yang hidup dalam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada suatau ketika di zaman Nabi Muhammad Saw, terdapat keistimewaan bagi kaum laki-laki untuk senantiasa dekat kepada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ilmu adalah kunci untuk mengangkat derajat manusia. Karena itu, dalam proses perkembangan peradaban manusia, ilmu memiliki peran penting... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati dalam pandangan Islam, bukan hanya organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual dan moral. Ia adalah cermin kehidupan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan ini, umat Islam didorong untuk meningkatkan ibadah... selengkapnya
Ilmu Kebal di Dalam Pergaulan Sosial Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Komunikasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu manusia membawa amanahnya masing-masing. Jika tidak dijaga, kekurangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malam Lailatul Qadr adalah malam istimewa yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, keberadaannya tidak bisa ditentukan... selengkapnya
Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000
Saat ini belum tersedia komentar.