Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar

Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar

Diposting pada 19 February 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 1.282 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang ini. Padahal, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi seharusnya dapat mempermudah urusan silaturahmi. Fakta yang terjadi di zaman serba instan ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dan perilaku masyarakat. Banyak orang yang semakin egois, individualis dan kehilangan empati terhadap lingkungan sekitar. Contoh sederhananya, hal yang banyak terjadi di komplek-komplek perumahan yang jarang menyapa tetangganya, apa lagi sampai melakukan gotong royong. Berbeda dengan tradisi di zaman orang tua kita dulu, di mana saling berkunjung, gotong royong, dan berbagi, meskipun hanya sejumput garam.

Meskipun terasa berat, silaturahmi memiliki pahala yang sangat besar dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bak kata pepatah, harga yang dibayarkan berbanding lurus dengan kualitas yang didapatkan.

Para nabi dan rasul termasuk orang yang paling berbahagia apabila ada tamu yang berkunjung ke rumahnya. Selain mendatangkan keberkahan umur dan rezeki, silaturahmi juga membawa ganjaran surga dan berbagai kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyambung silaturahmi menjadi ciri khas dan akhlaknya para nabi dan rasul.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari).

Silaturahmi yang Paling Utama

Silaturahmi pada hakikatnya bukan hanya menjalin hubungan persaudaraan dengan sesama Muslim, tetapi yang paling utama adalah dengan saudara sedarah. Perkara ini merupakan hal yang sangat sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Banyak orang yang mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain, tetapi kurang harmonis dengan keluarga sendiri. Realita ini jelas sekali terjadi dalam kehidupan kaum Muslimin saat ini. Padahal, Islam sebagai sumber ajaran tentang akhlak dan pentingnya hakikat silaturahmi, namun anehnya umat Islam sendiri yang melupakan dan meninggalkannya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِيء وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah silaturahim itu membalas kunjungan seseorang, melainkan silaturahim itu adalah menyambung apa yang putus.” (HR. Al-Bukhari).

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa silaturahmi adalah perbuatan baik kepada karib kerabat sesuai dengan kondisi hubungan yang terjalin antara pihak yang menjalin silaturahmi dan yang menerima silaturahmi. Bisa dilakukan dengan memberi materi (uang, barang, makanan, bantuan), berkunjung, menyapa, dan lain sebagainya. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabat atau saudara sedarah lebih didahulukan dan diutamakan dibandingkan dengan orang lain yang bukan sedarah, terutama jika mereka pernah terjadi perselisihan.

Menyambung silaturahmi adalah salah satu amal yang dapt mempercepat seseorang masuk ke dalam surga karena menjadi tanda-tanda keimanan seseorang. Kuncinya terletak pada keimanan yang kokoh dan teguh. Keimanan tersebut hanya dapat dicapai dengan akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, riyadhah (latihan spiritual) yang dilakukan terus-menerus, serta membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.

Setidaknya ada empat ruh utama dalam silaturahmi yang wajib dimiliki dan dipertahankan agar tradisi keislaman ini tidak semakin memudar, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, Al-‘Afwu (memaafkan). Dalam Islam, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang mengharuskan seseorang untuk meminta maaf. Islam sangat menekankan pentingnya memaafkan. Memaafkan bukan sekadar tindakan ringan, tetapi merupakan ujian besar bagi hati manusia saat terlibat perselisihan.

Perkara Al-’Afwu ini sungguh amat sangat berat. Bagaimana mungkin memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita hingga membekas dalam dada. Seolah-olah dada yang lapang menjadi sesak apabila harus memaafkan orang tersebut. Dunia yang lapang menjadi sempit apabila memaafkan orang tersebut. Namun, di situlah samudera pahala yang Allah sediakan, andai ia mampu memaafkan, maka ia termasuk ke dalam golongan muttaqin (orang-orang yang bertakwa), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan kemarahannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Tak perlu menunggu pelaku kezaliman untuk meminta maaf terlebih dahulu, melainkan maafkanlah tanpa harus menunggu ia datang kepadamu. Insyaallah itulah ciri-ciri orang yang benar-benar bertakwa.

Kedua, Al-Islah (berdamai). Kata Al-Islah dalam konteks silaturahmi bukan hanya sekadar mencoba berdamai dengan orang yang berselisih dengan kita. Hal yang lebih utama ialah berdamai dengan diri sendiri untuk berlapang dada menerima dengan ikhlas memori buruk di masa lalu walau sepahit apa pun keburukan yang kita terima dari orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ‌ۚ‌وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Pada saat pertama kali mencoba berdamai mungkin masih ada perasaan yang mengganjal. Hal ini merupakan perkara yang wajar, karena berdamai dengan orang yang telah menyakiti kita memang sulit. Namun, yakinkan pada diri sendiri bahwa ini merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang nantinya akan memperoleh keutamaan (fadhilah) besar di sisi-Nya. Seiring waktu, insyaallah hubungan yang sebelumnya renggang dapat kembali menjalin hubungan yang baik dengan orang tersebut.

Ketiga, Ta’awun (tolong-menolong). Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa ketika seseorang mengalami musibah atau kemalangan, tetangga dan kerabat sekitar dengan sigap datang membantu, terutama dalam persiapan fardhu kifayah. Bagi mereka yang ikut bergabung dalam kelompok wirid atau Serikat Tolong Menolong (STM), hal ini menjadi tradisi yang terus dijaga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“…. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2).

Tolong-menolong menjadi salah satu ruh silaturahmi yang saat ini sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebiasaan kaum Muslim. Alhamdulillah, nilai ini tetap terjalin dengan baik.

Keempat, Takaful (menanggung/menjamin). Secara Bahasa, takaful berarti menanggung atau menjamin. Maksudnya perasaan senasib dan sepenanggungan apabila karib kerabat atau tetangga tertimpa musibah. Takaful bukan sekadar mengucapkan belasungkawa dan berempati, tetapi juga berusaha menanggung atau membantu mereka yang terkena musibah dengan sumber daya yang ia miliki, baik dalam bentuk materil maupun immateril.

Contohnya membantu melunasi utang jenazah yang masih tertinggal semasa hidupnya, baik sebagian maupun seluruhnya. Bisa dibayangkan alangkah bahagianya keluarga yang kurang mampu ketika mendapatkan bantuan melalui konsep takaful ini. Hal ini menjadi bukti bahwa mereka yang terkena musibah tidak dibiarkan menghadapi ujian kehidupan sendirian.

Ruh silaturahmi ini hendaknya diaplikasikan dan terus dipertahankan oleh setiap kaum Muslim. Memang berat untuk dilaksanakan, namun bukan perkara yang mustahil jika kita istiqamah untuk terus berusaha dan meyakininya. Lewat silaturahmi akan membangun dan menciptakan kekuatan umat, kebersamaan dan tentunya menjadi sumber persatuan umat Islam dalam menghadapi segala permasalahan hidup.

Wallahu A’lam Bishowab

 

Penulis: M. Adib

Penyunting: Assyifa

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , ,

Bagikan ke

Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Sebuah Puisi: Balada Rindu Sang Bilal
12 May 2024

  Balada Rindu Sang Bilal (Oleh: Husni A. Mubarak)   Andai datang burung-burung surga padanya Bilal bin Rabah tetap memeras... selengkapnya

Keutamaan Puasa Ramadan, Jalan menuju Ampunan dan Meraih Lailatul Qadar
17 February 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 March 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Tukang Sembelih Kurban Tidak Boleh Diupah Dengan Daging Kurban, Begini Penjelasan Buya Yahya
14 June 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya

Mengenal Ilmu Tasawuf; Membersihkan Hati dan Menjernihkan Jiwa Serta Membangun Akhlak dan Adab
17 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saudaraku sekalian, sebagai orang yang beriman kita telah mengenal rukun Islam dan rukun iman yang telah masyhur.... selengkapnya

Cara Perempuan Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial (1)
15 October 2025

(Bagian kesatu dari dua tulisan) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sahabat Muslimah, masih ingatkah dengan platform friendster? Buat yang belum tahu, friendster adalah... selengkapnya

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?
30 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya

Kunci dari Tenangnya Jiwa Adalah Yakin Bahwa Takdir Allah Selalu Baik
20 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Takdir adalah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanu wa Ta’ala. Ketentuan ini tidak ada yang bisa mengubahnya,... selengkapnya

Meski Macet dan Sedang di Perjalanan, Shalat Bisa Dilakukan di dalam Mobil
2 March 2026

Identitas Buku Judul               : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis             : Buya Yahya Penerbit           :... selengkapnya

Gen Z, Generasi paling Kesepian
14 October 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Generasi Z sering kali disebut sebagai generasi beruntung karena hidup di tengah-tengah perkembangan teknologi. Oleh karenanya, kepemilikan gawai... selengkapnya

Mempertahankan Silaturahmi yang Kian Memudar

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: