Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Diposting pada 13 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 554 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa, dan kesibukan kerja yang makin padat, membuat laju kehidupan seakan-akan terasa begitu cepat. Alih-alih menelusuri perjalanan kehidupan ini setapak demi setapak, justru terasa sulit dikendalikan seperti kendaraan tanpa rem.

Dalam tekanan waktu dan tuntutan rutinitas dewasa ini, kita semakin sering melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya bernilai besar. Ucapan tiga kata sakti, yakni maaf, tolong, dan terima kasih misalnya, perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari. Ketiga kata tersebut seakan tak lagi dianggap penting. Padahal, tiga kata tersebut membangun dasar penghormatan, kepedulian, dan rasa saling menghargai dalam hubungan sosial. Ketika kata-kata itu tak lagi hadir, relasi antarsesama menjadi renggang, dan jarak emosional tumbuh tanpa disadari.

Kata maaf memiliki kekuatan besar untuk memperbaiki hubungan yang retak. Kata maaf, mempunyai makna tentang keberanian seseorang untuk bertanggung jawab dan menghargai perasaan orang lain. Sayangnya, makin banyak orang yang enggan mengaku salah meski telah menyakiti. Akhirnya, luka-luka emosional pun terus dibiarkan tanpa pernah benar-benar disembuhkan.

Selanjutnya, kata tolong. Sebuah kata yang mendeskripsikan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan peran orang lain. Ungkapan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap keberadaan orang lain dalam keseharian kita. Saat kata tolong diucapkan, permintaan terasa lebih manusiawi dan tidak terdengar seperti perintah yang kaku. Dalam praktiknya, penggunaan kata ini mulai tergeser oleh gaya komunikasi yang terksesan kasar, memaksa, dan bernada tinggi.

Kemudian, ada ucapan yang hanya terdiri dari dua kata tapi tidak mudah untuk diucapkan oleh semua orang, yaitu terima kasih. Ucapan sederhana tapi maknanya begitu dalam di hati. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini mampu menciptakan perasaan dihargai, membangun kepercayaan, serta mempererat hubungan dengan orang lain. Penelitian dalam bidang psikologi sosial bahkan menunjukkan bahwa rasa dihargai bisa meningkatkan motivasi dan kepuasan seseorang dalam menjalin relasi. Ironisnya, dalam banyak situasi, orang mulai enggan mengucapkannya. Terima kasih dianggap tidak wajib, atau kerap disepelekan. Banyak yang mengira bahwa kebaikan yang diterima adalah sesuatu yang seharusnya, bukan pemberian tulus yang layak disyukuri.

Dari sudut pandang yang berbeda, realitas sosial ini bukan hanya urusan adat sopan santun. Akan tetapi, ini juga refleksi dari krisis emosional yang ada pada individu itu sendiri. Ketika seseorang sulit berkata maaf, itu bisa jadi karena takut terlihat lemah atau merasa benar sendiri. Ketika seseorang enggan mengucap tolong, bisa jadi karena merasa tidak butuh orang lain. Dan ketika lupa mengucapkan terima kasih, bisa jadi karena merasa semua hal sudah seharusnya diterima tanpa syarat.

Tidak mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih memang tidak melanggar hukum. Namun, kelalaiannya bisa menciptakan luka batin dengan pihak lain yang tak terasa. Krisis ini bukan milik satu generasi saja. Krisis ini merambat lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak orang dewasa yang gagal memberi teladan, sehingga anak-anak tumbuh tanpa bekal bahasa yang mendamaikan. Maka, jangan heran jika suatu hari ucapan permintaan maaf terdengar asing, permohonan tolong terdengar aneh, dan ucapan terima kasih terdengar seperti formalitas basi.

Di sisi lain, kita tidak sedang kekurangan kreativitas dalam berbahasa, melainkan kita sedang mengalami kelangkaan kehalusan budi. Ketika maaf tak lagi tulus, tolong tak lagi rendah hati, dan terima kasih tak lagi menyentuh, kita sedang berjalan menuju masyarakat yang rapuh secara emosi. Masyarakat seperti itu akan mudah panas oleh perbedaan kecil dan sulit menyatu dalam hal kerja sama apa pun. Semua karena tiga kata penting itu tak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mengucapkan tiga kata sakti itu tidak membuat kita terlihat lemah. Sebaliknya, justru menunjukkan kekuatan hati, kecerdasan emosional, dan kedewasaan berpikir.

 

Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Sunah Nabi Saw Ini Jadi Resep Utama dalam Beretika Plus Menyehatkan
9 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam bermasyarakat, keharmonisan bertetangga dengan menerapkan kehidupan bersosial sangatlah dibutuhkan. Jika bertetangga tanpa mengutamakan etika yang baik,... selengkapnya

Jika yang Berbicara Bukan Ahlinya
27 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia berhak untuk berbicara tentang apa pun kepada siapa pun, selagi yang dibicarakannya adalah pembicaraan yang baik... selengkapnya

Jangan Sepelekan Wirid Jika Anda Tidak Ingin Kehilangan Warid
1 Februari 2024

Hakikat Warid Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Jika asing dengan istilah warid, Anda mungkin tidak akan asing dengan istilah wirid. Keduanya berasal... selengkapnya

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)
27 Januari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang... selengkapnya

5 Tanda Orang Akan Bahagia di Dunia dan Akhirat
15 Juni 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebahagiaan adalah harapan setiap manusia. Akan tetapi, kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari kesenangan dan keberhasilan di dunia,... selengkapnya

Mencium Tangan Guru: Tradisi Hormat atau Tanda Pengkultusan?
21 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mencium tangan guru merupakan sebuah tradisi yang masuk ke dalam bab tabarruk. Tabarruk sendiri berarti mengambil berkah... selengkapnya

Di Kalimantan Barat, Buya Yahya Sampaikan Pesan Khusus Kepada Para Orang Tua
26 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pulau Kalimantan menjadi tujuan safari dakwah Buya Yahya selanjutnya setelah sebelumnya Buya melakukan safari dakwah di... selengkapnya

Keutamaan dan Amalan 10 Hari Awal Bulan Dzulhijjah
6 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa. Bulan yang termasuk ke dalam salah satu bulan haram, bulan yang... selengkapnya

Puisi-Puisi Solahudin (1): Nyanyian Penghambaan
22 Juni 2025

Ketika Allah Cemburu Kepada Ciptaan-Nya   Di kesepian malam yang memanggil rindu Langit menunduk menyaksikan kisah manusia yang lupa akan... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah
18 September 2024

  Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan   Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: