Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Diposting pada 13 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 536 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa, dan kesibukan kerja yang makin padat, membuat laju kehidupan seakan-akan terasa begitu cepat. Alih-alih menelusuri perjalanan kehidupan ini setapak demi setapak, justru terasa sulit dikendalikan seperti kendaraan tanpa rem.

Dalam tekanan waktu dan tuntutan rutinitas dewasa ini, kita semakin sering melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya bernilai besar. Ucapan tiga kata sakti, yakni maaf, tolong, dan terima kasih misalnya, perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari. Ketiga kata tersebut seakan tak lagi dianggap penting. Padahal, tiga kata tersebut membangun dasar penghormatan, kepedulian, dan rasa saling menghargai dalam hubungan sosial. Ketika kata-kata itu tak lagi hadir, relasi antarsesama menjadi renggang, dan jarak emosional tumbuh tanpa disadari.

Kata maaf memiliki kekuatan besar untuk memperbaiki hubungan yang retak. Kata maaf, mempunyai makna tentang keberanian seseorang untuk bertanggung jawab dan menghargai perasaan orang lain. Sayangnya, makin banyak orang yang enggan mengaku salah meski telah menyakiti. Akhirnya, luka-luka emosional pun terus dibiarkan tanpa pernah benar-benar disembuhkan.

Selanjutnya, kata tolong. Sebuah kata yang mendeskripsikan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan peran orang lain. Ungkapan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap keberadaan orang lain dalam keseharian kita. Saat kata tolong diucapkan, permintaan terasa lebih manusiawi dan tidak terdengar seperti perintah yang kaku. Dalam praktiknya, penggunaan kata ini mulai tergeser oleh gaya komunikasi yang terksesan kasar, memaksa, dan bernada tinggi.

Kemudian, ada ucapan yang hanya terdiri dari dua kata tapi tidak mudah untuk diucapkan oleh semua orang, yaitu terima kasih. Ucapan sederhana tapi maknanya begitu dalam di hati. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini mampu menciptakan perasaan dihargai, membangun kepercayaan, serta mempererat hubungan dengan orang lain. Penelitian dalam bidang psikologi sosial bahkan menunjukkan bahwa rasa dihargai bisa meningkatkan motivasi dan kepuasan seseorang dalam menjalin relasi. Ironisnya, dalam banyak situasi, orang mulai enggan mengucapkannya. Terima kasih dianggap tidak wajib, atau kerap disepelekan. Banyak yang mengira bahwa kebaikan yang diterima adalah sesuatu yang seharusnya, bukan pemberian tulus yang layak disyukuri.

Dari sudut pandang yang berbeda, realitas sosial ini bukan hanya urusan adat sopan santun. Akan tetapi, ini juga refleksi dari krisis emosional yang ada pada individu itu sendiri. Ketika seseorang sulit berkata maaf, itu bisa jadi karena takut terlihat lemah atau merasa benar sendiri. Ketika seseorang enggan mengucap tolong, bisa jadi karena merasa tidak butuh orang lain. Dan ketika lupa mengucapkan terima kasih, bisa jadi karena merasa semua hal sudah seharusnya diterima tanpa syarat.

Tidak mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih memang tidak melanggar hukum. Namun, kelalaiannya bisa menciptakan luka batin dengan pihak lain yang tak terasa. Krisis ini bukan milik satu generasi saja. Krisis ini merambat lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak orang dewasa yang gagal memberi teladan, sehingga anak-anak tumbuh tanpa bekal bahasa yang mendamaikan. Maka, jangan heran jika suatu hari ucapan permintaan maaf terdengar asing, permohonan tolong terdengar aneh, dan ucapan terima kasih terdengar seperti formalitas basi.

Di sisi lain, kita tidak sedang kekurangan kreativitas dalam berbahasa, melainkan kita sedang mengalami kelangkaan kehalusan budi. Ketika maaf tak lagi tulus, tolong tak lagi rendah hati, dan terima kasih tak lagi menyentuh, kita sedang berjalan menuju masyarakat yang rapuh secara emosi. Masyarakat seperti itu akan mudah panas oleh perbedaan kecil dan sulit menyatu dalam hal kerja sama apa pun. Semua karena tiga kata penting itu tak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mengucapkan tiga kata sakti itu tidak membuat kita terlihat lemah. Sebaliknya, justru menunjukkan kekuatan hati, kecerdasan emosional, dan kedewasaan berpikir.

 

Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Antara Sound Horeg dan Suara Ulama
1 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mengadakan perayaan dengan suara keras yang dihasilkan dari sepiker berdaya tinggi seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari... selengkapnya

Pesan Mulia Buya Yahya Bagi Para Freshgraduate: Perluas Cara Pandang Dalam Bekerja!
12 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Masa-masa awal ketika kita baru saja menyelsaikan pendidikan (freshgraduate) merupakan salah satu masa yang krusial bagi... selengkapnya

Gen Z, Generasi paling Kesepian
14 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Generasi Z sering kali disebut sebagai generasi beruntung karena hidup di tengah-tengah perkembangan teknologi. Oleh karenanya, kepemilikan gawai... selengkapnya

Ketertiban dan Keamanan:  “Kecil di mata kita, tapi kalau sudah dinisbatkan kepada Nabi Muhammad akan menjadi besar”
9 Oktober 2021

Ketertiban dan Keamanan  “Kecil di mata kita, tapi kalau sudah dinisbatkan kepada Nabi Muhammad akan menjadi besar” PUSTAKA AL-BAHJAH-SEKILAS INFO... selengkapnya

Kejelian Memanfaatkan Ruangan untuk Mendatangkan Kesuksesan
23 Oktober 2021

Kejelian Memanfaatkan Ruangan untuk Mendatangkan Kesuksesan PUSTAKA Al-BAHJAH-SEPUTAR PONDOK-Mendungnya sore hari pada hari Rabu, 13 Rabiul Awal 1443 H atau... selengkapnya

10 Cara Menghargai Masa Remaja
14 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masa remaja adalah salah satu fase paling menarik dalam kehidupan seseorang. Masa tersebut adalah waktu di mana... selengkapnya

Teks Khutbah Idulfitri 1447 H
14 Maret 2026

Selamat Idulfitri 1447 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,... selengkapnya

Lakukan Ini Agar Anak Terhindar Jeratan Judi Online
30 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Era digital menuntun setiap orang untuk mengakses pelbagai informasi yang mudah dijangkau, tanpa terkecuali dan tanpa memerlukan... selengkapnya

Sudah 79 Tahun Merdeka, Perjuangan Belum Selesai!
17 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada negeri dan bangsa ini sehingga saat... selengkapnya

Kabar Gembira! Penerimaan Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Al-Bahjah (STAIBA) Dibuka, Ini Syaratnya
2 Mei 2023

    Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah (STAIBA)  merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi dibawah naungan Yayasam Al-Bahjah... selengkapnya

Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: