● online
Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebagai makhluk sosial, kita tak terlepas dari interaksi dengan orang lain. Seiring bertambahnya umur, sikap yang makin dewasa, dan kesibukan kerja yang makin padat, membuat laju kehidupan seakan-akan terasa begitu cepat. Alih-alih menelusuri perjalanan kehidupan ini setapak demi setapak, justru terasa sulit dikendalikan seperti kendaraan tanpa rem.
Dalam tekanan waktu dan tuntutan rutinitas dewasa ini, kita semakin sering melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya bernilai besar. Ucapan tiga kata sakti, yakni maaf, tolong, dan terima kasih misalnya, perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari. Ketiga kata tersebut seakan tak lagi dianggap penting. Padahal, tiga kata tersebut membangun dasar penghormatan, kepedulian, dan rasa saling menghargai dalam hubungan sosial. Ketika kata-kata itu tak lagi hadir, relasi antarsesama menjadi renggang, dan jarak emosional tumbuh tanpa disadari.
Kata maaf memiliki kekuatan besar untuk memperbaiki hubungan yang retak. Kata maaf, mempunyai makna tentang keberanian seseorang untuk bertanggung jawab dan menghargai perasaan orang lain. Sayangnya, makin banyak orang yang enggan mengaku salah meski telah menyakiti. Akhirnya, luka-luka emosional pun terus dibiarkan tanpa pernah benar-benar disembuhkan.
Selanjutnya, kata tolong. Sebuah kata yang mendeskripsikan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan peran orang lain. Ungkapan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap keberadaan orang lain dalam keseharian kita. Saat kata tolong diucapkan, permintaan terasa lebih manusiawi dan tidak terdengar seperti perintah yang kaku. Dalam praktiknya, penggunaan kata ini mulai tergeser oleh gaya komunikasi yang terksesan kasar, memaksa, dan bernada tinggi.
Kemudian, ada ucapan yang hanya terdiri dari dua kata tapi tidak mudah untuk diucapkan oleh semua orang, yaitu terima kasih. Ucapan sederhana tapi maknanya begitu dalam di hati. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini mampu menciptakan perasaan dihargai, membangun kepercayaan, serta mempererat hubungan dengan orang lain. Penelitian dalam bidang psikologi sosial bahkan menunjukkan bahwa rasa dihargai bisa meningkatkan motivasi dan kepuasan seseorang dalam menjalin relasi. Ironisnya, dalam banyak situasi, orang mulai enggan mengucapkannya. Terima kasih dianggap tidak wajib, atau kerap disepelekan. Banyak yang mengira bahwa kebaikan yang diterima adalah sesuatu yang seharusnya, bukan pemberian tulus yang layak disyukuri.
Dari sudut pandang yang berbeda, realitas sosial ini bukan hanya urusan adat sopan santun. Akan tetapi, ini juga refleksi dari krisis emosional yang ada pada individu itu sendiri. Ketika seseorang sulit berkata maaf, itu bisa jadi karena takut terlihat lemah atau merasa benar sendiri. Ketika seseorang enggan mengucap tolong, bisa jadi karena merasa tidak butuh orang lain. Dan ketika lupa mengucapkan terima kasih, bisa jadi karena merasa semua hal sudah seharusnya diterima tanpa syarat.
Tidak mengucapkan maaf, tolong, dan terima kasih memang tidak melanggar hukum. Namun, kelalaiannya bisa menciptakan luka batin dengan pihak lain yang tak terasa. Krisis ini bukan milik satu generasi saja. Krisis ini merambat lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak orang dewasa yang gagal memberi teladan, sehingga anak-anak tumbuh tanpa bekal bahasa yang mendamaikan. Maka, jangan heran jika suatu hari ucapan permintaan maaf terdengar asing, permohonan tolong terdengar aneh, dan ucapan terima kasih terdengar seperti formalitas basi.
Di sisi lain, kita tidak sedang kekurangan kreativitas dalam berbahasa, melainkan kita sedang mengalami kelangkaan kehalusan budi. Ketika maaf tak lagi tulus, tolong tak lagi rendah hati, dan terima kasih tak lagi menyentuh, kita sedang berjalan menuju masyarakat yang rapuh secara emosi. Masyarakat seperti itu akan mudah panas oleh perbedaan kecil dan sulit menyatu dalam hal kerja sama apa pun. Semua karena tiga kata penting itu tak lagi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mengucapkan tiga kata sakti itu tidak membuat kita terlihat lemah. Sebaliknya, justru menunjukkan kekuatan hati, kecerdasan emosional, dan kedewasaan berpikir.
Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Memulihkan Kembali Tiga Kata Sakti
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Menjamu makan tamu adalah hal biasa, namun bagaimana jika yang dijamu jumlahnya mencapai puluhan ribu orang?... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejak kecil, kita telah diperingatkan untuk selalu menghabiskan makanan yang kita santap dan tidak menyisakannya barang sebutir... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Apakah ada penulis yang mampu menyelesaikan tulisannya hanya dalam sekali duduk? Jika ada, bagaimana ia melakukannya? Apakah J.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Doa sering dimaknai dengan permohonan atau permintaan dengan penuh harapan dan pujian kepada Tuhan. Dalam agama Islam,... selengkapnya
Zakat, salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan penting, bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia berhak untuk berbicara tentang apa pun kepada siapa pun, selagi yang dibicarakannya adalah pembicaraan yang baik... selengkapnya
Anda Gemar Membaca? Berikut Tips di Saat Membaca Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa, bulan ini diagungkan oleh Allah Swt Yang Maha Tinggi. Allah Swt... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara kita yang memiliki utang, baik kepada individu maupun lembaga. Latar belakang... selengkapnya
Pemilu semakin dekat. Kampanye semakin gencar di berbagai tempat dan media sosial. Kemudahan mengakses media sosial ini mewarnai prosesi kampanye... selengkapnya
Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMaulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000 Rp 95.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000
Saat ini belum tersedia komentar.