Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir

Diposting pada 10 Juli 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 508 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas parkir lalu turun ke bawah memasuki pasar. Sebelum memasuki pasar, ternyata di depan pintu utamanya juga terdapat tempat parkir motor, tetapi berbayar. Motor-motor yang terparkir di sana dijaga oleh seorang bapak paruh baya yang duduk di depan emperan toko pakaian. Setiap kali saya masuk dan keluar dari pasar, tidak jarang saya melihat keberadaannya.

Keluar dari pasar, seperti biasa saya kembali melewati Pak Mamat (nama samaran bapak tukang parkir). Namun kali ini berbeda, ketika langkah saya semakin dekat dengannya, tidak sengaja saya mendengar Pak Mamat menyenandungkan, Laa ilaa ha illallah al malikul haqqul mubiin…,” dengan samar-samar seraya kaki saya yang terus melangkah. Saya memelankan langkah dan berusaha mendengarkan lebih saksama suara yang saya dengar dari mulutnya. Pak Mamat mengulangi senandung dzikirnya. Ternyata saya tidak salah dengar, beliau memang sedang menyenandungkan dzikir yang biasa saya dengar dalam pujian setelah adzan berkumandang.

Seketika itu, pintu hati saya terketuk. Sepanjang perjalanan pulang saya merenungi kejadian kecil yang penuh hikmah ini.

“Oh ya Allah. Begitu mudah jalan masuk surga sekalipun bagi orang yang biasa-biasa saja. Begitu mudah masuk surga bagi orang yang tidak sok tahu. Begitu mudah masuk surga bagi orang yang tidak gila pangkat, gelar, reputasi dan gebyar dunia. Merekalah golongan ahli surga yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an yaitu pemilik muthmainnah (jiwa yang tenang),” renung saya sepanjang jalan hingga rumah.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)

Artinya:

“27. Wahai jiwa yang tenang! 28. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku. 30. Dan masuklah ke dalam surgaku.”

Duduk manis menjaga motor sambil mengingat-Mu hati Pak Mamat tenang meski dunia tidak memihaknya. Pak Mamat sadar bahwa dia memiliki satu tujuan yang pasti, yaitu membawa bekal untuk mati. Sehingga ketika bekerja pun, lisannya ia didik untuk selalu mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki.

Kejadian kecil penuh hikmah ini menampar diri saya dan menghardik hati karena sadar diri, bahwa sejak pagi ada saja dosa yang saya perbuat. Saya beristighfar berulang kali.

“Berapa banyak ilmu yang telah kau pelajari? Berapa banyak ibadah yang kau lakukan? Namun seberapa banyak dirimu menghadirkan hati untuk mengingat Allah?” hardik saya kepada diri sendiri.

Pembelajaran hidup yang dapat kita ambil dari kisah Pak Mamat, yaitu Islam itu mudah dan ringan. Islam memudahkan dan meringankan umatnya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Faktor yang membuatnya sulit dan berat adalah hawa nafsu, syahwat manusia, dan godaan setan yang tidak ada habisnya.

Mengingat hal ini, sepatutnya kita meminta perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala godaan yang dapat menghentikan langkah kita dari jalan ketaatan, tidak lengah memohon ampunan-Nya atas dosa-dosa yang secara sadar maupun tidak sadar telah kita perbuat, dan tidak berhenti melakukan ketaatan hanya karena merasa berdosa. Justru kita wajib terus melakukan ketaatan dengan merasa tidak sempurna, tetapi berusaha menyempurnakannya. Terlebih dengan membiasakan lisan maupun batin mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (baca: berdzikir). Sejatinya dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati kita menjadi tenang.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala hati menjadi tenteram.”  (QS. Ar-Ra’d: 28)

Marilah kita mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya di segala keadaan dan menjaga keistiqomahannya hingga ajal menjemput.  Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan muthmainnah (jiwa yang tenang) yaitu golongan ahli surga. Amin Allahumma Amin.

 

Penulis: Erna Septiana

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Cara Mendapatkan Pahala Haji dan Umrah Tanpa Berkunjung ke Makkah
6 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak orang-orang muslim berbondong-bondong pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semua itu... selengkapnya

Agar Hidup Bahagia dan Hati Tak Mudah Terluka
13 Oktober 2023

Kunci Hidup Bahagia Berbicara tentang kehidupan yang damai tidak bisa terlepas dari hati. Semua kedamaian yang kita peroleh ternyata sangat... selengkapnya

Menata Hati: Persiapan dan Bekal untuk Menyambut Bulan Ramadan
21 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Ramadan akan segera datang, sudahkan kita mempersiapkan diri? Apa saja sebenarnya pesiapan yang harus kita lakukan... selengkapnya

Bagaimanakah Cara Mencintai Rasulullah Saw? Simak Penjelasan Buya Yahya Berikut
9 September 2023

Cinta kepada Nabi merupakan hal yang sangat mudah untuk diucapkan. Akan tetapi, ternyata cinta kepada Nabi tidak sederhana dalam ucapan... selengkapnya

Kebangsaan dalam Perspektif Islam
11 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dan terbesar di bandingkan negara lainnya, tidak dapat serta merta... selengkapnya

3 Cara Berbakti Kepada Orang Tua Saat Jauh dari Mereka
14 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban dalam Islam, setiap detik kita tidak boleh terlepas dari berbakti... selengkapnya

Cara Menyikapi Kekurangan dan Kelebihan yang Menghantarkan kepada Kemuliaan
12 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu manusia membawa amanahnya masing-masing. Jika tidak dijaga, kekurangan... selengkapnya

Keindahan Metode Dakwah Rasulullah Saw yang Diikuti oleh Para Ulama
11 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mengutip kisah Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah di kota Thaif, kala itu beliau memulainya dengan datang ke... selengkapnya

Di Majelis Al-Bahjah Bandung, Buya Yahya Berpesan Begini
23 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya kembali hadir di Kota Cimahi dalam kajian rutin Majelis Al-Bahjah Bandung, Rabu 28 Rabiul... selengkapnya

Sisa Make Up Masih Ada, Sahkah Wudunya?
17 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: