● online
- AQIDAH 50 KARYA BUYA YAHYA....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Intermed....
- KITAB MAULID AD DIBA'I....
- Kosakata (Almufrodat) Sehari-Hari....
- Alur "Sebaris Luka yang Berganti Wajah"....
- Silsilah Fiqih Praktis Jenazah....
- النجاح في تكملة المفتاح....
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami....
Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas parkir lalu turun ke bawah memasuki pasar. Sebelum memasuki pasar, ternyata di depan pintu utamanya juga terdapat tempat parkir motor, tetapi berbayar. Motor-motor yang terparkir di sana dijaga oleh seorang bapak paruh baya yang duduk di depan emperan toko pakaian. Setiap kali saya masuk dan keluar dari pasar, tidak jarang saya melihat keberadaannya.
Keluar dari pasar, seperti biasa saya kembali melewati Pak Mamat (nama samaran bapak tukang parkir). Namun kali ini berbeda, ketika langkah saya semakin dekat dengannya, tidak sengaja saya mendengar Pak Mamat menyenandungkan, “Laa ilaa ha illallah al malikul haqqul mubiin…,” dengan samar-samar seraya kaki saya yang terus melangkah. Saya memelankan langkah dan berusaha mendengarkan lebih saksama suara yang saya dengar dari mulutnya. Pak Mamat mengulangi senandung dzikirnya. Ternyata saya tidak salah dengar, beliau memang sedang menyenandungkan dzikir yang biasa saya dengar dalam pujian setelah adzan berkumandang.
Seketika itu, pintu hati saya terketuk. Sepanjang perjalanan pulang saya merenungi kejadian kecil yang penuh hikmah ini.
“Oh ya Allah. Begitu mudah jalan masuk surga sekalipun bagi orang yang biasa-biasa saja. Begitu mudah masuk surga bagi orang yang tidak sok tahu. Begitu mudah masuk surga bagi orang yang tidak gila pangkat, gelar, reputasi dan gebyar dunia. Merekalah golongan ahli surga yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an yaitu pemilik muthmainnah (jiwa yang tenang),” renung saya sepanjang jalan hingga rumah.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)
Artinya:
“27. Wahai jiwa yang tenang! 28. Kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku. 30. Dan masuklah ke dalam surgaku.”
Duduk manis menjaga motor sambil mengingat-Mu hati Pak Mamat tenang meski dunia tidak memihaknya. Pak Mamat sadar bahwa dia memiliki satu tujuan yang pasti, yaitu membawa bekal untuk mati. Sehingga ketika bekerja pun, lisannya ia didik untuk selalu mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki.
Kejadian kecil penuh hikmah ini menampar diri saya dan menghardik hati karena sadar diri, bahwa sejak pagi ada saja dosa yang saya perbuat. Saya beristighfar berulang kali.
“Berapa banyak ilmu yang telah kau pelajari? Berapa banyak ibadah yang kau lakukan? Namun seberapa banyak dirimu menghadirkan hati untuk mengingat Allah?” hardik saya kepada diri sendiri.
Pembelajaran hidup yang dapat kita ambil dari kisah Pak Mamat, yaitu Islam itu mudah dan ringan. Islam memudahkan dan meringankan umatnya dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Faktor yang membuatnya sulit dan berat adalah hawa nafsu, syahwat manusia, dan godaan setan yang tidak ada habisnya.
Mengingat hal ini, sepatutnya kita meminta perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala godaan yang dapat menghentikan langkah kita dari jalan ketaatan, tidak lengah memohon ampunan-Nya atas dosa-dosa yang secara sadar maupun tidak sadar telah kita perbuat, dan tidak berhenti melakukan ketaatan hanya karena merasa berdosa. Justru kita wajib terus melakukan ketaatan dengan merasa tidak sempurna, tetapi berusaha menyempurnakannya. Terlebih dengan membiasakan lisan maupun batin mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (baca: berdzikir). Sejatinya dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati kita menjadi tenang.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Marilah kita mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak-banyaknya di segala keadaan dan menjaga keistiqomahannya hingga ajal menjemput. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan muthmainnah (jiwa yang tenang) yaitu golongan ahli surga. Amin Allahumma Amin.
Penulis: Erna Septiana
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak orang-orang muslim berbondong-bondong pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Semua itu... selengkapnya
Kunci Hidup Bahagia Berbicara tentang kehidupan yang damai tidak bisa terlepas dari hati. Semua kedamaian yang kita peroleh ternyata sangat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Ramadan akan segera datang, sudahkan kita mempersiapkan diri? Apa saja sebenarnya pesiapan yang harus kita lakukan... selengkapnya
Cinta kepada Nabi merupakan hal yang sangat mudah untuk diucapkan. Akan tetapi, ternyata cinta kepada Nabi tidak sederhana dalam ucapan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dan terbesar di bandingkan negara lainnya, tidak dapat serta merta... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban dalam Islam, setiap detik kita tidak boleh terlepas dari berbakti... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu manusia membawa amanahnya masing-masing. Jika tidak dijaga, kekurangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mengutip kisah Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah di kota Thaif, kala itu beliau memulainya dengan datang ke... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya kembali hadir di Kota Cimahi dalam kajian rutin Majelis Al-Bahjah Bandung, Rabu 28 Rabiul... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya
Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000
Saat ini belum tersedia komentar.