Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Kebangsaan dalam Perspektif Islam

Kebangsaan dalam Perspektif Islam

Diposting pada 11 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 430 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dan terbesar di bandingkan negara lainnya, tidak dapat serta merta melepaskan persoalan kebangsaan dari perspektif keislaman. Sebab, keislaman bukan sekadar identitas religius, melainkan sumber nilai yang memberi makna pada arah perjalanan bangsa tersebut.

Dalam perbincangan publik, tidak jarang muncul pandangan yang mencoba mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Padahal, keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Islam di Indonesia tidak pernah tumbuh dalam ruang hampa, melainkan selalu menyatu dengan realitas kebangsaan. Identitas bangsa Indonesia sendiri tidak mungkin dilepaskan dari kontribusi umat Islam, baik dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan moral masyarakat, maupun dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Buya Yahya dalam salah satu kajiannya menegaskan, “Seorang Muslim yang baik adalah yang menjaga agamanya sekaligus menjaga bangsanya. Karena mencintai Tanah Air adalah bagian dari menjaga amanah Allah.” Pernyataan ini menyingkap dimensi filosofis dari hubungan agama dan bangsa. Mencintai Tanah Air bukanlah sekadar ekspresi emosional, melainkan tindakan spiritual yang meneguhkan amanah ilahi. Dengan demikian, meneguhkan identitas kebangsaan tidak berarti mengurangi keislaman seseorang. Justru sebaliknya, ia merupakan perwujudan konkret dari pengamalan ajaran Islam.

Bangsa Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang tidak kecil. Krisis moral, politik yang pragmatis, ketimpangan sosial, serta degradasi etika publik menjadi tantangan nyata yang mengancam identitas kebangsaan. Dalam kondisi seperti ini, perspektif keislaman menawarkan solusi yang kokoh. Islam mengajarkan nilai-nilai universal: keadilan, kasih sayang, persaudaraan, dan amanah. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjiwai arah perjalanan bangsa.

Buya Yahya pernah mengingatkan tentang bahaya kesombongan. Menurut beliau, kesombongan adalah penyakit hati yang membuat seseorang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Dalam konteks kebangsaan, kesombongan dapat menjelma menjadi arogansi kekuasaan, politik yang menindas rakyat, atau sikap anti-kritik. Bila penyakit ini dibiarkan, maka bangsa akan kehilangan arah. Oleh karena itu, refleksi kebangsaan seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan sikap rendah hati, memperkuat keterbukaan, dan meneguhkan semangat melayani.

Keislaman yang sejati tidak berhenti pada aspek ritual ibadah, tetapi menjelma dalam praksis sosial yang nyata. Al-Qur’an berulang kali menekankan pentingnya menegakkan keadilan dan menebar kasih sayang. Spirit inilah yang dibutuhkan Indonesia agar tidak terjebak dalam konflik identitas atau kepentingan sempit.

Refleksi kebangsaan dari perspektif Islam mengingatkan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang menjadikan nilai agama sebagai dasar moral kolektif. Agama tanpa kebangsaan akan kehilangan ruang praksis, sementara kebangsaan tanpa agama akan kehilangan arah moral. Dengan demikian, meneguhkan identitas kebangsaan melalui refleksi keislaman adalah jalan menuju peradaban yang berkelanjutan. Identitas itu tidak bisa dilepaskan dari keislaman, sebab Islam memberi arah moral dan spiritual bagi perjalanan bangsa. Muhasabah menjadi kunci, baik pada level individu maupun kolektif, untuk memperbaiki diri dan menguatkan cita-cita bersama.

Sebagaimana diingatkan Buya Yahya, menjaga agama dan menjaga bangsa adalah dua amanah yang tidak dapat dipisahkan. Mencintai Tanah Air bukan hanya slogan nasionalistik, melainkan ibadah yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Dengan semangat ini, bangsa Indonesia diharapkan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih adil, bersatu, dan bermartabat. Refleksi keislaman pada akhirnya tidak hanya meneguhkan iman personal, tetapi juga memperkokoh fondasi kebangsaan menuju peradaban yang lebih luhur.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Kebangsaan dalam Perspektif Islam

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Amalan Penghapus Dosa
14 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebanyakan dari kita pasti pernah merasakan kurang nyaman ketika menjalankan hari-hari. Seperti pekerjaan yang seakan tidak kunjung beres,... selengkapnya

Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi)
14 September 2021

Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya

Mudah Mengingatkan dan Mudah Diingatkan dalam Kebaikan
22 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari yang namanya komunikasi. Baik itu dengan pasangan, keluarga, teman kerja,... selengkapnya

Memutus Rantai Bullying di Lingkungan Pendidikan Indonesia
10 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dua pekan terakhir ini, publik kembali dihebohkan dengan adanya dua kasus perundungan yang terjadi di lingkungan lembaga... selengkapnya

Memaknai Khalifah Fil Ardh dalam Gaya Hidup Zero Waste
17 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Aktivitas manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup tentu tidak lepas dengan makan dan minum. Makanan dan minuman yang... selengkapnya

Cara Wanita Menjaga Mental Agar Tetap Sehat
30 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Wanita cenderung memiliki beban pikiran dua kali lipat dibandingkan beban fisik. Beban fisik di sini maksudnya adalah tuntutan... selengkapnya

Beginilah Menyikapi Perbedaan Doa Berbuka Puasa Menurut Buya Yahya
28 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang merindukan bulan Ramadan akan mengenang setiap hiruk-pikuk yang ada di dalamnya. Seperti berburu takjil, sahur,... selengkapnya

Mana yang Lebih Baik?: Orang Kaya yang Bersyukur atau Orang Miskin yang Bersabar?
17 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Terdapat satu hadis Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wassalam yang kurang lebih isinya orang beriman itu baik-baik saja keadaannya.... selengkapnya

Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Islam: Hifzh Al-Biah dan Hifzh Al-Nafs
10 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya menjaga lingkungan (hifzh... selengkapnya

Waswas Keputihan karena Tidak Tahu Hukumnya? Ummi Fairuz Ar-Rahbini Menjawab
12 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keputihan kerapkali membuat para wanita menjadi waswas. Waswas yang menimpa seorang wanita terhadap keputihan ini disebabkan adanya... selengkapnya

Kebangsaan dalam Perspektif Islam

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: