● online
Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkah kita menyadari bahwa yang bisa asing itu bukanlah semata persahabatan, keakraban, atau perkenalan, melainkan diri kita sendiri terhadap ajaran-ajaran yang ada dalam agama Islam, termasuk asing dengan masjid dan mushola. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai melupakan tujuan utama hidup di dunia ini. Kita lebih senang menghabiskan waktu untuk nongkrong daripada belajar, lebih senang menghadiri acara yang tidak berfaedah daripada menghadiri majelis ilmu, lebih banyak menghabiskan waktu scroll sosial media daripada membaca Al-Qur’an.
Jauh dari ajaran-ajaran agama Islam bukan hanya disebabkan oleh faktor internal, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal, seperti lingkungan. Hal ini diperparah dengan kurangnya pemahaman agama yang mendalam di kalangan pemuda, membuat mereka terlena dan tenggelam dengan gaya hidup yang jauh dari ajaran Islam.
Dahulu kala, kita masih bisa melihat anak-anak berbondong-bondong pergi mengaji ke mushola untuk belajar Iqro’, Juz Amma, menembangkan sholawat/pupujian (bahasa Sunda) di kala menunggu azan Magrib, atau membaca Al-Qur’an dengan ustaz/ustazah. Banyak kegiatan yang sering kita habiskan di masjid atau mushola kampung. Saat datangnya bulan Ramadan yang identik dengan pesantren kilat, meramaikan kegiatan-kegiatan Hari Besar Islam, dan lain sebagianya.
Pada masa itu, masjid dan mushola benar-benar menjadi tempat yang sangat menggembirakan bagi semua kalangan terutama anak-anak dan remaja. Mereka berkumpul bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk bermain bersama. Suasana yang indah ini menjadi bukti bahwa peradaban Islam terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Namun, lihatlah realitas zaman sekarang. Pemandangan itu mulai jarang terlihat. Masjid dan mushola yang dulu ramai kini tampak sepi. Tak banyak lagi pemuda yang lalu lalang menghidupkan rumah Allah, tak terdengar suara anak-anak mengaji, yang tersisa hanyalah beberapa orang tua yang khusyuk melaksanakan shalat. Ke manakah perginya para pemuda Islam?
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Rasulullah Salallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145).
Terdapat banyak arti “asing” pada hadis tersebut. Salah satunya dari riwayat Sahl bin Sa’d al-Sa’idi. Berdasarkan riwayat tersebut, ada penambahan kalimat tanya yang berbunyi, “Siapakah mereka yang asing itu?” Rasul menjawab, “orang-orang yang mengadakan perbaikan di tengah manusia yang berbuat kerusakan.” Yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash. Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Aalaihi Wasallam menjawab, “Mereka (orang asing) adalah orang-orang saleh di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang saleh, lebih banyak dari yang menaatinya”.
Perkembangan zaman menjadi penyebab mengapa agama mulai ditinggalkan. Orang-orang yang meninggalkan nilai-nilai agama ini, salah satunya sering menganggap bahwa berpakaian sesuai syariat sudah ketinggalan zaman. Membaca Al-Qur’an dan Kitab Maulid sebagai sesuatu yang kuno. Segala hal yang berhubungan dengan agama dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman. Akibatnya, terjadi kemunduran dalam gaya hidup. Yang dulunya rajin ke mushola, kini mulai jarang terlihat. Yang semula berhijab syar’i, perlahan beralih ke jilbab pendek, lalu mulai menampakkan lekuk tubuh, hingga akhirnya melepaskan hijabnya.
Hal ini menunjukkan bahwa di akhir zaman, banyak orang yang mulai menjauh dari agamanya, baik disadari maupun tidak. Hanya segelintir orang yang tetap berpegang teguh pada agama, dan mereka sering dianggap aneh di lingkungannya—di rumah, di kampung, maupun di tempat kerja.
Orang yang taat beragama seakan menjadi sosok yang terasing. Bahkan, karena semakin jarangnya pemuda yang menjalankan ajaran Islam, seseorang yang sekadar shalat pun sering dianggap sebagai ustaz. Padahal, shalat adalah kewajiban setiap Muslim dan seharusnya menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya oleh para ustaz.
Tak hanya itu, ketika seseorang memberi contoh yang baik atau memberi nasihat, mereka sering dicibir dengan sebutan “sok alim” oleh sebagian orang. Padahal, mengingatkan dalam kebaikan adalah kewajiban setiap orang. Cibiran seperti ini sering kali membuat semangat orang yang berusaha mengajak kepada kebaikan menjadi surut. Namun, ketika menghadapi celaan semacam itu, janganlah gelisah. Seperti yang pernah dinasihatkan oleh Buya Yahya,
“Kalau kamu berhenti berbuat baik karena dibilang sok alim, itu berarti memang niatmu bukan karena Allah. Cobalah tetap melakukan kebaikan meskipun ada yang mencibir. Jika niatmu karena Allah, maka cibiran itu tidak akan memengaruhi dirimu,”.
Pada akhir zaman, berpegang teguh pada agama menjadi ujian yang berat. Mereka yang melakukan sunah Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam sering dianggap aneh, dikucilkan, bahkan Rasulullah menggambarkan betapa sulitnya kondisi ini dengan mengibaratkannya seperti orang yang memegang bara api terasa panas dan ingin dilepaskan. Namun, beruntunglah mereka yang tetap istiqamah dalam berpegang teguh pada agama di tengah umat yang lalai. Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam membanggakan mereka karena keteguhan iman mereka. Sayangnya, banyak yang merasa minder karena dianggap aneh, padahal itu terjadi karena kurangnya kebanggaan dan keseriusan dalam berislam.
Seharusnya, kita bangga dengan keislaman kita. Jika seseorang tidak bangga dengan agamanya, maka ada yang perlu diperbaiki dalam keimanannya. Kita harus yakin bahwa segala ajaran Islam adalah yang terbaik untuk kita. Dengan kepercayaan diri terhadap agama, kita akan mampu bertahan dalam menghadapi gempuran perubahan zaman.
Penulis: Moh. Minanur Rohman
Penyunting: Assyifa
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Dahulu Ramai, Kini Pemuda Seakan Asing dengan Masjid dan Mushola
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Zaman terus berubah saban detik. Kini, kita berada pada zaman digital yang memungkinkan setiap orang terhubung hanya dengan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ilmu adalah kunci untuk mengangkat derajat manusia. Karena itu, dalam proses perkembangan peradaban manusia, ilmu memiliki peran penting... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Melakukan kebaikan dengan cara yang tidak baik tidak akan menjadikan orang tersebut dianggap telah melakukan kebaikan. Berniat... selengkapnya
Dari Kuningan Menuju Yaman PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Ijaz Ahmad Jawahirulhaq, seorang santri STAIBA (Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah) angkatan pertama, berbagi... selengkapnya
Judul Buku : Silsilah Fiqih Praktis Shalat Penulis : Buya Yahya Penerbit : Pustaka Al-Bahjah Tebal Buku : 156 Halaman... selengkapnya
Sujud Saat tangis tak lagi bersuara Saat tangan tak lagi mampu menyeka air mata Saat lisan tak lagi dapat... selengkapnya
Pagi itu, suasana Pondok Al Khoirot terasa syahdu seperti biasanya. Lalu lalang santri bergegas menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di tengah segala kesibukan dan dinamika kehidupan, shalat harus tetap menjadi prioritas utama. Dari terbitnya fajar hingga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Haru dan bahagia pecah diantara para santri dan pejuang pada sore hari Jumat 3 Sya’ban 1444... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat Ramadan, ramai di media sosial unggahan konten yang menggunakan istilah mokel. Mokel adalah bahasa gaul yang berasal... selengkapnya
Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000 Rp 95.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000
Saat ini belum tersedia komentar.