Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai

Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai

Diposting pada 9 Maret 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 739 kali / Kategori:

Pagi itu, suasana Pondok Al Khoirot terasa syahdu seperti biasanya. Lalu lalang santri bergegas menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Ada sesuatu yang berbeda di sudut serambi masjid. Terompah milik Pak Kiyai, yang biasanya tersusun rapi di depan pintu, Subuh itu tidak ada.

“Lho, di mana terompah Pak Kyai?” tanya Hasan, salah satu santri senior, sambil menggaruk kepalanya tak gatal. Kepekaannya dituntut lebih hidup. Sebab, ia yang bertugas memastikan semua kebutuhan Pak Kyai tersedia sebelum dan sesudah shalat, termasuk menyiapkan terompah.

“Mungkin tergeser ke bawah tangga,” jawab Fauzi, teman sekamarnya, mencoba menenangkan. Namun, setelah mereka mencari ke sana-sini, terompah itu tetap tidak ditemukan.

Pak Kyai, yang baru selesai wirid, mendekati Hasan dan Fauzi, “Ada apa, Nak?” tanyanya dengan lembut.

“E… itu, Pak Kyai. Terompahnya tidak ada,” jawab Hasan dengan nada ragu.

Pak Kyai hanya tersenyum, “Ya sudah, tidak apa-apa. Barangkali sedang diuji Allah. Coba cari lagi nanti setelah Dhuha,” ujarnya tenang, lalu melangkah ke rumahnya dengan kaki telanjang.

Setelah shalat Dhuha, Hasan dan Fauzi memutuskan untuk mengumpulkan beberapa teman lainnya. Mereka sepakat untuk menyelidiki hilangnya terompah itu.

“Menurutku, ini ulah si Jono,” bisik Fahmi, menduga Jono sebagai santri yang terkenal usil.

“Jono? Dia kan sudah seminggu pulang ke rumah karena sakit,” balas Fauzi, membantah tuduhan Fahmi.

Mereka pun menyisir area sekitar pondok, mulai dari masjid, asrama hingga dapur. Anehnya, tak ada seorang pun yang melihat atau mengetahui keberadaan terompah tersebut. Kejadian ini menjadi bahan pembicaraan di kalangan santri.

“Mungkin ada yang mengambil untuk kenang-kenangan,” kata wawan sambal tertawa kecil. “Kan, terompah Pak Kyai dianggap keramat.”

Namun hasan merasa ada yang aneh. Tidak mungkin seseorang mencuri barang milik Pak Kyai, apa lagi di pondok pesantren yang menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Malam harinya, saat suasana pondok mulai hening, Hasan memutuskan untuk pergi ke masjid seorang diri. Ia merasa harus berusaha lebih keras mencari terompah itu. Dengan langkah yang perlahan namun pasti, ia menyisir setiap sudut masjid. Ketika ia sampai di belakang mimbar, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan.

“Apa ini?” gumamnya sambil memungut secarik kain yang tergeletak di lantai. Kain itu terlihat seperti sobekan sarung dengan noda lumpur di salah satu ujungnya.

Hasan memutuskan untuk menyimpan kain itu dan menyampaikannya kepada Pak Kyai keesokan harinya. Namun, dalam hati, ia mulai merasa bahwa hilangnya terompah ini bukan kejadian biasa.

 

***

 

Keesokan paginya, Hasan membawa sobekan kain itu ke hadapan Pak Kiyai. Setelah selesai shalat Subuh, ia mengetuk pintu ndalem Pak Kiyai dengan hati-hati.

“Assalamu’alaikum, Pak Kiyai,” sapa Hasan.

“Wa’alaikumsalam, Hasan. Masuk saja,” jawab Pak Kiyai dengan suara lembut.

Hasan melangkah masuk dan menyerahkan kain itu. “Pak Kiyai, semalam saya menemukan ini di belakang mimbar, saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan terompah yang hilang.”

Pak Kiyai mengambil kain itu dan memandanginya dengan saksama. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, “Kain ini seperti sobekan dari sarung santri kita. Coba kamu tanyakan kepada teman-temanmu siapa yang kehilangan sarung.”

Hasan mengangguk dan segera pergi. Ia mengumpulkan para santri di halaman masjid setelah Dhuha.

“Siapa di antara kalian yang sarungnya sobek? Kalua ada, tolong bilang, itu penting,” serunya.

Beberapa santri saling berpandangan, hingga akhirnya seorang santri bernama Khozin mengangkat tangan dengan ragu.

“Sarungku memang sobek beberapa hari yang lalu, Hasan. Tapi aku tidak tahu kenapa kainnya bisa di masjid.”

Hasan menatap Akmal dengan tajam.

“Kapan terakhir kali kamu melihat sarung itu sobek?”

“Saat aku jatuh di kebun belakang waktu mengambil kayu bakar,” jawab Akmal jujur.

Mendengar itu, Hasan mengajak beberapa santri untuk memeriksa kebun belakang. Di sana, mereka menemukan jejak kaki kecil yang mengarah ke semak-semak. Setelah mengikuti jejak itu, mereka terkejut saat menemukan seekor kambing dengan terompah Pak Kiyai yang tersangkut di tanduknya.

“Astagfirullah, jadi itu ulah kambing!” seru Hasan.

Mereka segera membawa kambing itu beserta terompah kembali ke pondok. Pak Kiyai yang melihat kejadian itu, hanya tersenyum lebar.

“Lihat, Nak, Allah punya caranya sendiri untuk mengajari kita kesabaran dan kerja sama. Bahkan kambing pun bisa menjadi pelaku misteri.”

Para santri tertawa lega. Hilangnya terompah Pak Kiyai akhirnya terpecahkan, dan mereka belajar bahwa terkadang masalah yang besar bisa berasal dari hal-hal kecil yang tidak terduga.

 

***

 

Kambing itu kembali ke kandangnya, namun Hasan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: Bagaimana terompah Pak Kiyai bisa sampai tersangkut di tanduk kambing? Lokasi kendang kambing jauh dari masjid, dan pintu kandangnya biasanya selalu terkunci.

“Aku merasa ada yang tidak beres,” ujar Hasan kepada Fauzi yang duduk di sebelahnya sambil membersihkan lantai masjid.

“Apa maksudmu?” tanya Fauzi heran.

“Kandang kambing itu jauh di sini, dan tidak mungkin seekor kambing bisa membawa terompah sejauh itu tanpa bantuan seseorang,” jawab Hasan dengan nada serius.

Fauzi mngerutkan kening.

“Jadi, kamu pikir ada orang yang sengaja meletakkan terompah Pak Kiyai ke tanduk kambing?”

Hasan mengangguk.

“Aku tidak tau siapa atau mengapa, tapi aku rasa kita harus mencari tahu lebih dalam.”

Malam itu, Hasan dan Fauzi memutuskan untuk berjaga-jaga di dekat kandang kambing. Mereka bersembunyi di balik semak-semak, ditemani oleh lampu senter kecil. Sekitar tengah malam, suara langkah pelan terdengar mendekati kandang.

Dari kejauhan, mereka melihat sosok bayangan masuk ke kandang. Orang itu membawa sesuatu di tangannya. Ketika cahaya bulan sedikit lebih terang, Hasan bisa mengenali wajahnya.

“Fahmi?” bisiknya kaget.

Fahmi hampir saja bersuara, namun Hasan segera menutup mulutnya. Mereka melihat Fahmi meletakkan sesuatu di dalam kandang dan segera pergi dengan langkah yang tergesa-gesa.

Setelah yakin Fahmi sudah jauh, Hasan dan Fauzi keluar dari persembunyiannya dan memeriksa kandang. Di sana, mereka menemukan sepasang sandal lain yang diletakkan di atas jerami. Sandal itu milik Wawan, salah satu santri lainnya.

“Astagfirullah, Fahmi sengaja membuat keributan di pondok,” ujar Fauzi geram.

“Tapi kenapa? Apa tujunnya?” Hasan bertanya-tanya

 

***

 

Keesokan harinya, Hasan membawa sandal itu ke hadapan Pak Kiyai. Setelah menceritakan apa yang mereka lihat, Pak Kiyai memanggil Fahmi secara khusus. Di hadapan Pak Kiyai, Fahmi akhirnya mengakui perbuatannya.

“Saya… hanya ingin bercanda, Pak Kiyai. Saya tidak menyangka akan jadi segaduh ini,” ujarnya dengan kepala tertunduk.

Pak Kiyai menatap Fahmi dengan lembut, namun tegas.

“Nak Fahmi, bercanda itu ada batasannya. Apa lagi jika sudah menyusahkan orang lain. Kamu harus belajar dari kejadian ini.”

Fahmi mengangguk penuh penyesalan, sebagai hukumannya ia diminta membantu membersihkan kandang kambing dan memberi makan kambing itu selama satu Minggu. Para santri lainnya pun akhirnya memahami bahwa hukuman yang diberikan Pak Kiyai adalah pelajaran berharga yang harus mereka jaga.

Di akhir hari, Hasan dan Fauzi kembali ke masjid, merasa lega. Hilangnya terompah Pak Kiyai mungkin hanyalah awal dari sebuah pelajaran tentang tanggung jawab dan kejujuran.

(Tamat)

 

Penulis: Solahudin Al Ayyubi

Penyunting: Idan Sahid

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , ,

Bagikan ke

Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Ada Istri Memiliki Dua Suami, Begini Tanggapan Buya Yahya
8 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat ini media sosial dihebohkan oleh kejadian seorang perempuan yang memiliki dua orang suami. Mereka tinggal... selengkapnya

Sebab Hilangnya Pahala Puasa
21 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sungguh merugi orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Puasa tidak hanya melakukan puasa secara... selengkapnya

Sinergi Dakwah untuk Umat antara Pustaka Al-Bahjah dan Dar Al-Kutub Islamiah
28 September 2021

Sinergi Dakwah untuk Umat antara Pustaka Al-Bahjah dan Dar Al-Kutub Islamiah PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS-Dalam rangka meningkatkan kualitas, mutu, dan memperluas jejaring... selengkapnya

Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia
5 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di momen hari Iduladha ini mari kita belajar dari kisah keteladanan dari seorang hamba kekasih Allah, Kholilurrohman Nabi... selengkapnya

Bolehkah Syair dan Berpuisi dalam Islam? Begini Penjelasan Buya Yahya
27 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
22 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah... selengkapnya

Kapan Waktu Menyembelih Hewan Kurban yang Paling Afdhol? Begini Penjelasan Buya Yahya
16 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pertanyaan yang sering muncul ketika menjelang Iduladha salah satunya mengenai kapan waktu paling afdhol (utama) untuk menyembelih... selengkapnya

Muliakan Anak Yatim Setiap Hari, Bukan Hanya di Bulan Muharram
23 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Muharram sering kali dikenal oleh masyarakat sebagai “Bulannya anak yatim”, khususnya pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini... selengkapnya

Metode Pendidikan Terbaik Itu Ada pada Nabi Muhammad Saw
16 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejatinya umat Islam telah memiliki suri teladan yang harus diikuti. Ketika kita mengikutinya dalam hal apa pun,... selengkapnya

Kekuatan Lantunan Azan: Sebuah Kisah Nyata
28 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hari itu, kelelahan menyelimuti tubuhku setelah seharian penuh bergulat dengan berbagai tugas dan kewajiban. Rasanya tak ada... selengkapnya

Cerpen: Kambing dan Terompah Pak Kiyai

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: