Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Ahad & Hari Besar Tutup
Beranda » Blog » Dari Kuningan Menuju Yaman

Dari Kuningan Menuju Yaman

Diposting pada 17 November 2021 oleh Dzikri Imaddudin / Dilihat: 3.902 kali

Dari Kuningan Menuju Yaman

PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Ijaz Ahmad Jawahirulhaq, seorang santri STAIBA (Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah) angkatan pertama, berbagi kisah inspiratif di sela-sela kesibukan beliau dalam mempersiapkan diri  untuk menimba ilmu agama sampai ke Negeri Yaman.

* Tangkapan layar Youtube Al-Bahjah TV, Ijaz memperagakan gerakan shalat pada Ramadhan 1442 H

Seperti yang telah diketahui bersama bahwa Ijaz ini adalah santri yang sudah banyak berkhidmah di berbagai kegiatan dan divisi, di antaranya berkhidmah di Pustaka Al-Bahjah, menjadi MC buka bersama dan sahur bersama pada bulan Ramadhan tahun lalu, menjadi pengajar dua putra tercinta Buya Yahya (Mas Muh dan Mas Ali), serta berkhidmah dalam kegiatan yang lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

 

* sebelah kiri

Awal mula menjadi santri Al-Bahjah

Awal mulanya beliau menjadi santri Al-Bahjah bermula dari orang tua beliau yang sudah lebih dulu mengenal Buya Yahya, Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon, melalui siaran radio.

“Dulu orang tua sering mendengar RadioQu Kuningan 104.8 FM pada tahun 2015/2016”, ungkap santri asal Kuningan, Jawa Barat tersebut.

Pada tahun yang sama, selepas lulus dari SMP (sekolah menengah pertama) beliau nyaris masuk ke sebuah SMAN (sekolah menengah atas negeri) di kota penghasil tape ketan ini, ditambah juga saat itu beliau mendapatkan beasiswa untuk masuk ke SMA tersebut. Akan tetapi, beliau mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang SMA, karena beliau khawatir akan pergaulan anak-anak sekolah yang semakin parah pada saat itu.

“Jadi, sebenarnya rencana awal tuh mau masuk ke SMAN. Cuman kita mikir ya karena melihat di SMP saja itu pergaulan anak-anak zaman itu sangat parah”, tutur santri yang biasa dipanggil Ijaz ini.

Akhirnya, dengan segala pertimbangan dan perenungan yang matang, beliau pun memutuskan untuk mondok di sebuah pesantren.

“Makannya kita khawatir di sana, makannya kita pun memutuskan ingin mondok,” jelas santri penyuka kerang hijau ini.

Keputusan anak ke-2 dari 6 bersaudara ini mendapatkan respon yang positif dari orang tua, sehingga orang tua beliau langsung mendaftarkannya di Al-Bahjah Cirebon.

“Akhirnya diarahkan oleh orang tua kita mondoknya ke Al-Bahjah. Akhirnya di daftarkanlah di sini,” jelas santri penyuka STMJ (susu telur madu jahe) ini.

Kisah singkat perjalanan dari menjadi santri Tafaqquh hingga menjelang keberangkatannya ke Yaman

Santri penyukai olahraga sepak bola dan voli ini menuturkan bahwa pada awal-awal beliau masuk ke Al-Bahjah itu belum ada yang namanya program STAIBA.

“Pas kita masuk ke sini itu yang ada hanya kelas 1, 2, 3, 4, 5. Ada yang iddad ada yang kelas 1, kita masuk ke kelas 1. Kemudian, lanjut kelas 2, kemudian masuk ke kelas 3,” beber santri yang memfavoritkan pelajaran fiqih ini.

* tengah, Ijaz besama teman sekamarnya di STAIBA

Ijaz menceritakan bahwa yang namanya karantina-karantina bahasa Arab itu mulai ada pada tahun 2018 ketika beliau kelas tiga, kemudian pada saat itu barulah ada yang namanya STAIBA. Kemudian, setelah beliau kelas tiga, ada pengetesan untuk santri yang akan masuk ke STAIBA.

“Lolos dari kelas 3 tersebut 5 orang. Kami, Idris, Mustofa, Arifin, Akbar, ditambah 5 orang dari Cianjur”, kenangnya, “Setelah masuk STAIBA, kita awalnya STAIBA tuh di Majalengka 10 orang. Mulai di sana tuh STAIBA pertama,” ungkap santri yang bersahabat dekat dengan Arifin ini.

Kondisi negara yang diterpa oleh wabah COVID-19 pada saat itu, membuat beliau dan teman-temannya yang sedang berada di Majalengka akhirnya dipindahkan ke Al-Bahjah Cirebon. Karena sekaligus juga ditugaskan untuk mengajar santri-santri formal, baik  SMA maupun SMP pada tahun 2020.

“Kebetulan saat itu, guru-guru formal pada saat itu tidak boleh masuk. Mereka itu mengajarnya itu fokus ke diniyah. Kita yang dari STAIBA itu mengajar formal selama beberapa bulan,” terang santri yang  mengidolakan Buya Yahya ini.

Akhirnya, setelah berjalan satu tahun beliau di Al-Bahjah Cirebon, ada pembicaraan lebih lanjut dengan  Buya Yahya bahwasanya nanti beliau dan temannya akan ada yang dikirim ke Turki dan ke Yaman.

“Akhirnya dipilihlah beberapa orang untuk berangkat ke Yaman 12 orang dan 6 orang ke Turki”, ungkap santri yang dibesarkan  oleh ayah yang berprofesi sebagai pengajar ini.

Kemudian, dari 6 orang yang direncanakan diberangkatkan ke Turki tersebut, tidak diberangkatkan ke Turki semuanya, karena ternyata Buya Yahya mempunyai program khusus di Yaman. Akhirnya dipilihlah dari 6 orang ini, yaitu beliau dan Arifin untuk mengikuti program khusus tersebut.

“Akhirnya yang 4 orang berangkat ke Turki, kami yang 2 orang menunggu keberangkatan ke Yaman yang akan datang.” tutur santri yang dilahirkan dari seorang ibu yang berprofesi sebagai pengajar ini.

Kunci sukses  

“Pertama, harus mempunyai intelektual, keinginan kuat, senang bergaul, akhlak yang baik, dan khidmahnya dengan pondok maksimal.”

Pesan untuk adik-adik di Al-Bahjah

“Patuh, dan sungguh-sungguh, nanti pondok akan mengarahkan. Intinya mudah jadi santri itu, resepnya jadi santri di Al-Bahjah ini selama kita menerima apa yang disediakan pondok untuk kita dari pembelajaran, dari tugas, nanti kedepannya sudah enak, tidak harus memikirkan bagaimana kita kedepannya, pasrah sepenuhnya ke pondok itu sudah enak.”

Kesan yang dirasakan selama di Al-Bahjah

“Kesannya banyak banget, seperti kerasa kalau yang namanya watak itu terbentuk di sini. Jiwa lembut, jiwa menghormati orang lain, jiwa ingin menyenangkan orang tua itu ke bentuk di sini. Begitu tidak terlupakan pondok ini bagi kita, soalnya benar-benar bisa menanamkan watak yang baik,” kesan santri yang lahir pada tahun 2001 ini.

Yang dirindukan dari Al-Bahjah

“Pasti rindu Buya, Ummi juga, karena sering duduk langsung mendengarkan ilmu-ilmu yang beliau sampaikan, orang tua yang selalu mensuport kita, susana pondok,” ungkap santri yang lahir pada tanggal 28 tersebut.

Rencanan atau harapan ketika berada di Yaman

“Ingin berusaha mencari pengalaman dari guru ini ke guru ini, mencari banyak guru lah,” harap santri yang lahir pada bulan Juli ini.

Rencana atau harapan ketika pulang dari Yaman

“Inginnya lanjut ke pendidikan S-2 nya,” harap santri dari kecamatan Sindangagung ini.

Persiapan sebelum berangkat ke Yaman

Adapapun persiapan yang beliau persiapkan sebelum berangkat ke Yaman adalah: (1) mendengarkan metode-metode pembelajaran guru-guru dari Yaman supaya sudah terbiasa nanti. (2) Mempersiapkan pakian, karena cuaca di sana kalau dingin-dingin sekali, kalau panas-panas sekali. Dan yang paling penting,  yaitu menyiapkan hati karena jangan sampai di sana menyia-nyiakan waktu.

Pesan buat Buya, Ummi, dan orang tua  

“Mohon doanya selalu, doa Buya Ummi, orang tua, terima kasih kepada beliau-beliau semua, karena semangatnya beliau-beliau menjadikan kita termotivasi.”

Masya Allah, sungguh kisah yang sangat menginspirasi sekali. Dengan penuh pengorbanan dan kelapangan hati melepas kesempatan emas mendapatkan beasiswa ke jenjang SMA demi melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.

Menurut beliau, santri yang berangkat ke Yaman itu belum bisa dikatakan sukses, karena Yaman itu bukan tujuan akhir. Yaman itu ibaratnya pintu kedua, di depannya masih banyak pintu-pintu lagi. Jadi, santri yang pergi ke Yaman itu bukan berarti dia sudah sukses. Karena “kesuksesan  adalah ketika kita sudah bisa bermanfaat di masyarakat.”

Untuk melihat video Ijaz di Al-Bahjah, silakan klik link di bawah ini:

Bagikan ke

Dari Kuningan Menuju Yaman

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Dari Kuningan Menuju Yaman

Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: