Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis

Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis

Diposting pada 6 Maret 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 508 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat Ramadan, ramai di media sosial unggahan konten yang menggunakan istilah mokel. Mokel adalah bahasa gaul yang berasal dari bahasa Jawa dan sudah akrab bagi pengguna sosial media. Mokel adalah tindakan membatalkan puasa Ramadan secara sengaja dengan makan, minum, dan semacamnya secara diam-diam. Meski diam-diam, mirisnya tidak jarang aksi mokel ini dilakukan secara terang-terangan dengan merasa tidak bersalah. Bahkan menjadi bahan lelucon di sosial media dengan tagline “mokel core”, yakni sekumpulan adegan orang-orang yang tertangkap basah makan dan minum di siang bulan Ramadan.

Fenomena mokel dilakukan seseorang dengan beragam alasan dan motif. Di antaranya seperti: Rendahnya kontrol diri menahan lapar, haus, atau hawa nafsu yang ekstrem di siang hari. Tekanan sosial, merasa terpaksa ikut berpuasa meskipun secara fisik atau mental tidak siap, sehingga memilih mokel. Fisik tidak prima, kondisi tubuh sakit atau lemas namun pelaku enggan mengakuinya sehingga memilih membatalkan puasa secara diam-diam. Faktor lingkungan atau teman, pengaruh ajakan teman atau lingkungan sekitar yang juga tidak berpuasa. Hingga faktor kurangnya pemahaman agama akan syariat, esensi kejujuran, dan niat ibadah.

Puasa memang kewajiban bagi manusia beriman dan puasa telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Seseorang yang menahan lapar dan haus selama seharian berpuasa akan diganjar atau dijanjikan padanya pahala. Orang yang kurang memiliki pemahaman agama dan kepercayaan akan pahala, sering kali mudah mengabaikan syariat puasa ini. Karena pahala sifatnya ghaib atau tidak terlihat, sedangkan melaksanakan puasa dapat mengakibatkan letih, lemas, lesu, dan sebagainya.

Sering kali manusia enggan melakukan sesuatu yang membuat dirinya payah dan tidak ada keuntungan bagi dirinya sendiri. Padahal puasa tidak hanya untuk mendapatkan pahala dan menggugurkan kewajiban semata. Banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh seseorang dengan melaksanakan puasa. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ زَكَرِيَّا، ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلٍ الْجَزَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي دَاوُدَ، ثنا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا

“Musa bin Zakariyya meriwayatkan kepada kami, Ja’far bin Muhammad bin Fudayl al-Jazari meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Sulayman bin Abi Dawud meriwayatkan kepada kami, Zuhayr bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, berdasarkan riwayat Suhayl bin Abi Salih, berdasarkan riwayat ayahnya, berdasarkan riwayat Abu Hurayrah, yang berkata: Rasulullah Salallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Berperanglah niscaya kalian akan mendapatkan harta rampasan, berpuasalah maka kalian akan sehat, dan bersafarlah maka kalian akan kaya.’”

Meskipun banyak ulama dan cendekiawan yang mengkritik hadis ini dari segi sanad termasuk dha’if. Bukan berarti umat Muslim berkesimpulan untuk meninggalkan amalan hadis tersebut tentang puasa karena akan mendatangkan penyakit. Akan tetapi kutipan matan hadis di atas, menurut Syekh Abdullah Siraj al-Din al-Husaini berdasarkan hadis riwayat al-Thabarani termasuk sanad hadis yang tsiqah.

Terlepas dari khilaf sanad hadis yang dha’if atau tsiqah, secara substansial, matan hadis di atas tentang puasa akan mendapatkan kesehatan, dibenarkan dalam ilmu medis. Di antara manfaat puasa untuk kesehatan adalah terbakarnya lemak-lemak yang ada di dalam tubuh. Ketika perut manusia kosong dari aktivitas makan dan minum, organ tubuh yang lain akan merasa lemas. Dari rasa itulah tubuh manusia di-setting secara otomatis untuk mengubah tumpukan kolestrol menjadi suatu energi.

Dari proses pengubahan tumpukan kolestrol menjadi suatu energi itu akan menghasilkan HDL (High Density Lipoprotein). HDL yakni kadar kolestrol baik bagi tubuh yang berfungsi seperti vaccum cleaner untuk menghapus flek-flek yang ada dalam pembuluh darah. Selain itu, selama puasa, peningkatan HDL dapat menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolestrol jahat, sehingga berperan penting dalam membersihkan lemak hasil dari metabolisme karbohidrat dan trigliserid. Peningkatan HDL selama puasa membantu menjaga kesehatan pembuluh darah, mencegah penyumbatan, dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, jantung serta stroke.

Realita yang juga dijumpai dalam dunia medis, sering kali para dokter memerintahkan pasien yang akan dioperasi untuk berpuasa atau mengambil jeda sekitar 6-8 jam untuk tidak makan dan minum. Hal itu wajib dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serius terutama aspirasi paru, yakni isi lambung masuk ke paru-paru akibat muntah saat dibius yang bisa menyebabkan infeksi atau pneumonia. Di sisi lain, puasa pun dapat menurunkan kadar kolesterol, kadar gula, hipertensi, dan kadar beberapa penyakit lain semakin menurun dan bahkan dapat kembali ke kondisi normal.

Selain mendapat validasi dari pakar medis terkait manfaat puasa, Syekh Abdullah Siraj al-Din pun berpendapat bahwa puasa memberikan kesehatan bagi tubuh dan pelindung dari berbagai penyakit. Hal ini dikarenakan mayoritas penyakit yang menyerang tubuh sejatinya disebabkan oleh penumpukan sisa-sisa makanan atau pola makanan yang salah, dan kondisi perut yang terlalu penuh.

Puasa pun dapat memberikan kesejahteraan intelektual, kejernihan pikiran, meningkatkan daya ingat, serta mengurangi sifat pelupa. Hal ini dikarenakan terlalu banyak makan dapat memperbanyak unsur kelembapan cairan tubuh dan uap-uap yang berlebih dalam otak yang mana hal tersebut memicu rasa malas dan memberatkan kerja daya ingat sehingga seseorang sering lupa.

Maka ketika seorang Muslim memilih untuk mokel makan, minum, merokok dengan sengaja di tempat umum tanpa ada alasan yang dibenarkan secara syarak, ia tidak hanya sedang melanggar kewajiban. Ia pun telah mengabaikan detoksifikasi secara alami bagi tubuh, mengakibatkan rusaknya ritme kerja sel tubuh, karena membiarkan tubuh terus-terusan bekerja mencerna apa yang dikonsumsinya, sehingga ia membiarkan kolestrol jahat menumpuk dalam tubuhnya.

 

Referensi:

  • Habib Muhammad bin Anies Shahab, Miracle of Puasa. Ttp: t.np, 2019.
  • Abdullah Siraj al-Din al-Husaini, al-Shiyam: Adabuhu, Mathalibuhu, Fawa`iduhu, Fadha`iluhu. Ttp: Maktabah Dar al-Rahmah, t.th.

 

Penulis: Nur Kholisah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Memercayai Takdir Allah Selalu Baik
25 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam hidup, kita tak pernah tahu kejutan apa yang akan datang esok hari. Kadang kita bersukacita, kadang juga... selengkapnya

Keutamaan Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal, Yakin Masih Mau Melewatkannya?
30 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Syawal merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Buya Yahya... selengkapnya

Puisi-Puisi Faizatulatifah (2): Hijrah yang Hijrah
12 Juli 2025

  Hijrah Cahaya   Tahun Baru Hijriah terbit seperti fajar keemasan, Menghadirkan harapan dalam tiap getar jiwa yang lapang. Hijrah... selengkapnya

Memfotokopi atau Menyalin Buku yang Terdapat Hak Cipta, Bagaimana Hukumnya?
24 Mei 2023

Oleh: Sayyid Hasan Syafiq Shahab Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada dasarnya, siapapun yang mempunyai hak milik atas suatu barang, maka... selengkapnya

Musyawarah Kerja Divisi Dakwah dan Media LPD Al-Bahjah Cirebon Tahun Buku 2021
29 Desember 2021

Musyawarah Kerja Divisi Dakwah dan Media LPD Al-Bahjah Cirebon Tahun Buku 2021 Media komunikasi dan informasi dewasa ini mengalami perkembangan... selengkapnya

Banyak yang Belum Tahu, Istinja Cukup Pakai Tisu
15 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tahukah kamu bahwa dalam Islam terdapat istilah istinja. Secara sederhana pengertian istinja adalah aktivitas bersuci setelah berhadas dari... selengkapnya

Keutamaan dan Kesunnahan dalam Berbuka Puasa di Bulan Suci Ramadhan
8 April 2022

Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Ketika sedang berpuasa, khususnya di bulan suci Ramadhan, hal yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam adalah waktu... selengkapnya

2 Hari Jelang Pemilu, Buya Yahya Beri Pesan Sebelum Memilih
12 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pemilu menjadi ajang pesta demokrasi sekaligus medium aktualisasi hak dan kewajiban politik seluruh warga negara. Agar pemilu... selengkapnya

Kebangsaan dalam Perspektif Islam
11 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dan terbesar di bandingkan negara lainnya, tidak dapat serta merta... selengkapnya

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka dan Idealisasinya Menurut Para Ulama
16 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini mengucapkan kata paling sakral dalam sejarahnya: merdeka. Kata itu lahir dari rahim... selengkapnya

Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: