● online
Susah Menangisi Dosa, Apakah Taubat Diterima?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia adalah tempatnya salah dan dosa, tiada seorangpun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan dan dosa kecuali Baginda Nabi Muhammad Saw. Ia adalah satu-satunya manusia yang diberikan sifat ma’sum, yaitu terjaga dari perbuatan salah dan dosa.
Allah Swt Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa, sudah sepatutnya kita memohon ampunan kepada Allah Swt ketika kita telah melakukan perbuatan dosa, yaitu memohon ampunan yang sebenar-benarnya dengan cara bertaubat.
Taubat seseorang seringkali diidentikan dengan sebuah tangisan, namun apakah tangisan hanya satu-satunya tanda seseorang dikatakan bertaubat?
Para ulama menyebutkan bahwa terdapat tiga syarat dalam bertaubat, yang pertama adalah menyesal, kedua adalah meninggalkan perbuatandosa tersebut, dan yang ketiga adalah berjanji tidak akan mengulangi.
Meninggalkan perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi lebih memiliki makna bahwa seseorang dikatakan bertaubat, karena logikanya ketika seseorang telah menyesali perbuatan dosa nya maka ia akan segera meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Maka menurut Buya Yahya, dikatakan berdusta ketika seseorang mengatakan menyesal namun ia masih tetap mengulangi perbuatan dosanya. Dengan demikian dua syarat taubat yang terakhir ini lebih memiliki makna bahwa seseorang dikatakan bertaubat.
“Jadi kalau orang ada penyesalan di dalam hatinya, apa tandanya, dia akan segera meninggalkan, wong nyesel kok masih di situ, dan dia berjanji tidak akan melakukan ini”.
Rasulullah Saw Bersabda :النَّدَمُ تَوْبَةٌ
Artinya: “Penyesalan adalah taubat”.
Ketika menyampaikan hadits tersebut, Buya Yahya menjelaskan bahwa kunci taubat adalah penyesalan, apabila seseorang belum menghadirkan penyesalan terhadap kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya, maka ia belum dikatakan bertaubat.
Untuk mencapai penyesalan, pertama seseorang harus menyadari bahwa dia telah melakukan salah dan dosa, sadar akan besarnya akibat dari dosa tersebut. Maka untuk mencapai penyesalan tersebut seseorang harus menghadirkan renungan, kemudian dia akan sadar dan setelah sadar baru dia akan menyesal.

Sumber Gambar: Youtube Al-Bahjah TV
“Taubat itu kuncinya didalam penyesalan, yang tidak menyesal tidak taubat, untuk bisa menyesal itu harus sadar bahwa dia melakukan salah dan dosa, dan sadar begitu besar akibat daripada dosa. Menyesal karena sadar dan orang tidak akan bisa sadar kecuali dia menghadirkan renungan, merenung dulu setelah merenung baru nanti akan sadar, setelah sadar baru nanti dia akan menyesal”.
Berkenaan dengan hubungan antara tangis dengan taubat, menurut Buya, hadits tersebut sama sekali tidak menyebutkan bahwa menangis adalah pertanda taubat, sekalipun menangis bisa menjadi salah satu tanda jika seseorang merasakan penyesalan atas kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.
Buya menegaskan bahwa tidak cukup hanya dengan menangis seseorang bisa dikatakan telah menghadirkan penyesalan dan taubat, karena derajat kemudahan seorang menangis berbeda-beda, ada orang yang dia mudah menangis karena hal-hal sepele, ada juga orang yang sulit untuk menangis.
Artinya, orang yang tidak menangis bukan berarti dia tidak menyesali perbuatan dosanya. Maka dari itu, tangisan ini tidak bisa dijadikan satu-satnya tanda bahwa seseorang telah menyesali dosa dan kesalahannya.
“Nah disini tidak disebut tangis, tapi menangis itu tanda kalau dia menyesal, ada orang tidak menyesal tapi pintar mewek, ada. Bukan dilarang menangis di depan orang, tidak, yang dikhawatirkan adalah orang akting menangis bukan karena Allah. Ada juga orang yang susah menangis tapi bukan berarti tidak menyesal”.
Adapun menangis yang sesungguhnya Menurut Buya, adalah seperti yang dikatakan Sayyidina Umar bin Khatab bahwa:
“Jika kamu tidak bisa menangis karena dosamu, maka terus berusahalah kau untuk menangisi dosa-dosamu. Jika kamu masih belum bisa menangisi dosa-dosamu, maka berusahalah engkau menangis karena dosamu. Jika engkau masih belum bisa menangisi karena dosamu maka menangislah karena engkau tidak bisa menangis”.
Maksud dari perkataan Sayyidina Umar tentang perintah menangis tersebut adalah bukan menangis teriak-teriak, namun menangis dengan cara mencari sebab untuk menangis itu sendiri, yaitu menyadari dan merenungi dosa yang telah diperbuat, menyadari dan merenungi akan beratnya hukuman serta siksaan di neraka akibat kita melakukan dosa tersebut. Inilah makna menangis yang sesungguhnya.
Meskipun demikian, tetesaan air mata dalam tangisan itu hanya salah satu tanda saja bahwa seseorang bertaubat, yang menjadi syarat utama seseorang dikatakann bertaubat adalah menyesali perbuatan yang yang telah dilakukan, kemudian ia meninggalkan perbuatan tersebut, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Yang tidak menitikan air mata bukan berarti ia tidak sungguh-sungguh dalam bertaubat, yang terpenting ia telah menghadirkan penyesalan dalam dirinya kemudian meniggalkan perbuatan dosa tersebut dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, insyaallah yang demikian adalah pertanda taubatan nasuha, taubat yang diterima oleh Allah Swt.
Sumber: Youtube Al-Bahjah TV
Tags: Al-Bahjah TV, Buya Yahya, LPD Al-Bahjah, lpd albahjah pusat
Susah Menangisi Dosa, Apakah Taubat Diterima?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Apabila terdapat najis pada pakaian yang kita gunakan, maka kita dapat menyucikannya dengan air. Pada kasus yang lain,... selengkapnya
Menunggu Barangkali tap tip jiwa sama-sama lupa Barangkali tap tip jiwa sama-sama tuli Barangkali tap tip jiwa sama-sama... selengkapnya
Mungkin hidup ini berjalan tidak sesuai dengan pilihan kita, tetapi yakinlah kepada Allah Swt bahwa pilihan-Nya tidak akan pernah salah.... selengkapnya
Hijrah Cahaya Tahun Baru Hijriah terbit seperti fajar keemasan, Menghadirkan harapan dalam tiap getar jiwa yang lapang. Hijrah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Jumat, 02 Rabiul Akhir 1444 H atau bertepatan dengan Tanggal 28 Oktober 2022 telah diresmikan Pondok... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pulau Kalimantan menjadi tujuan safari dakwah Buya Yahya selanjutnya setelah sebelumnya Buya melakukan safari dakwah di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar).... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan suci Ramadan akan segera tiba. Bulan mulia yang membawa banyak keberkahan, rahmat, pengampunan, dan kebaikan yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di saat kita menaiki sebuah perahu, terkadang kita dihadapkan pada sebuah gelombang, angin yang kencang, hujan, terik yang... selengkapnya
Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.