fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)

Diposting pada 27 Januari 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 994 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sesekali, kita secara tidak sengaja bisa melihat layar handphone orang lain yang tergeletak atau layar smartphone-nya yang sedang dimainkan. Selagi itu tidak disengaja tidak dipermasalahkan. Namun, bagaimana jika ternyata hal itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang tidak kita sadari? Atau jangan-jangan, justru malah dengan sengaja kita mencari tahu urusan dan privasi orang lain?

Di dalam Islam, perilaku di atas memiliki istilah yang dikenal dengan fudhul. Makna fudhul secara sederhana ialah ‘ingin tahu urusan orang lain’. Dalam istilah gaul mungkin orang-orang lebih mengenal istilah kepo yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai hampir sama, yakni rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain. Kepo yang baik adalah kepo terhadap segala sesuatu yang bermanfaat dan maslahat, misalnya kepo dalam ilmu. Akan tetapi, akan berbeda nilainya jika kepo itu ditujukan kepada privasi dan urusan orang lain, yang dalam hal ini disebut dengan fudhul.

Buya Yahya sempat menerangkan—dalam salah satu untaian hikmahnya—bahwa fudhul merupakan perilaku yang sangat tercela. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

مَنِ ‌اسْتَمَعَ ‌إِلَى ‌حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ

“Barang siapa mencuri dengar omongan suatu kaum, yang mereka tidak suka jika omongan itu didengar, akan dituangkan besi yang sudah dilunakkan/tembaga yang cair/timah cair ke dalam telinganya pada hari kiamat nanti.”

Buya menambahkan,

“Bahkan dikatakan juga ini minal kabair atau dosa gede.”

Contoh perilakunya bisa bermacam-macam. Misalnya di zaman yang serba canggih ini mungkin saja seseorang selalu ingin tahu isi handphone-nya orang lain. Melihat handphone orang lain tergeletak itu gatal. Sesuka hati membuka-buka agenda milik orang. Ironinya, dia menjadi orang yang paling tahu tentang seseorang tersebut. Lalu berbangga dengan pengetahuannya itu dengan bercerita ke sana sini.

Pada contoh lainnya, ketika masuk ke rumah seseorang saat bertamu, orang yang fudhul akan kepo atas segala hal yang dilihatnya. Instingnya langsung mencari privasi orang lain. Buka-buka lemari tuan rumahnya. Sehingga dia bisa tahu kejelekan seseorang. Dia tak sadar bahwa perbuatannya itu adalah dosa. Padahal, hendaknya kita selalu menjaga segala sesuatu yang menjadi urusan dan privasi orang lain. Orang lain bisa jadi sebenarnya sudah berusaha menyembunyikan urusan pribadinya itu. Tetapi malah ada orang yang sengaja mencari-cari tahu dengan mencuri dengar dan lain sebagainya.

Buya juga menambahkan,

Bahkan, antara suami istri pun harus ada privasi. Jangan mencari-cari kesalahan, kejelekan, dan lain sebagainya.

Dalam keterangan yang lain, sebagaimana disampaikan oleh Abah Sayf (Pimpinan Al-Bahjah Buyut), Rasulullah Saw bersabda:

مَنِ اطَّلَعَ فِي كِتَابِ أَخِيهِ بِغَيْرِ أَمْرِهِ ، فَكَأَنَّمَا اطَّلَعَ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang menengok-nengok atau membaca-baca buku temannya dengan tanpa perintah dari temannya (izin) maka seakan-akan dia sedang mengintai neraka.”

Jadi, ketika ada barang milik seseorang, lalu tiba-tiba temannya langsung main ambil saja barang itu tanpa ada izin pemiliknya, maka dia seakan-akan sedang mengincar neraka.

Karena itu, beliau berpesan,

“Kalau bukan milikmu, gak usah intip-intip sok ingin tahu. Apa lagi menyangkut aib seseorang yang sudah disembunyikan, kok malah kita teropong.”

Dikisahkan bahwa orang-orang saleh zaman dahulu, setiap pagi jika hendak keluar rumah, mereka berdoa, “Ya Allah, aku akan bertemu orang banyak, ya Allah. Maka tolong, ya Allah, tutuplah aib dan kejelekan siapa pun orang yang kutemui dari mataku. Jangan sampai aku melihat kekurangannya.”

Mari kita merenung dengan mengambil hikmah dari kisah di atas. Betapa berhati-hatinya mereka dalam menjaga diri dari melihat aib orang lain. Karena keinginan untuk melihat aib seseorang itu erat kaitannya dengan kualitas hati. Buya Yahya berpesan,

Sebetulnya kalo orang pengen tau kejelekan orang, hati dia itu jelek.

Sebaliknya, untuk menjaga kemurnian hati kita, caranya ialah dengan tidak melihat kejelekan orang lain.

Maka pertama agar hati Anda bisa bersih, mulai sekarang pastikan Anda tidak ingin melihat kejelekan orang,” pesan Buya.

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat fudhul dan Allah Swt jaga segala aib kita. Amin Ya Rabbal Alamin…

Ditulis oleh: Iim Ainunnaim Muhammad

Tags: , ,

Bagikan ke

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Orang yang Suka Kepo Urusan Orang Lain (Fudhul)

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: