Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Diposting pada 22 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 427 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar). Setiap daun yang gugur, curah hujan yang menetes, angin yang berembus, semua yang terlahir dan yang mati telah tercatat dalam lembaran agung Al-Lauhulmahfudz. Begitu juga dengan nasib manusia yang kelak dilahirkan ke alam dunia; usia, rezeki, jodoh, bahkan tujuan akhir perjalanan mereka, yaitu surga atau neraka.

Manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk yang suci, tanpa terkecuali. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam:

كل مولود يولد على الفطرة

“Setiap orang yang terlahir ke dunia itu dalam keadaan suci”

Tanpa cela atau dosa yang diwariskan oleh pendahulunya, seburuk apa pun penduhulu itu. Namun dalam perjalanannyalah yang menampakkannya sebagai orang yang baik atau buruk. Baik berarti bahagia, begitu sebaliknya buruk berarti sengsara. Baik dan buruk tersebut tentu berdasarkan penilaian Sang Rohim yang tertulis dalam ajaran-Nya serta disebarkan oleh para Rasul dan sampai kepada kita, sehingga kita dapat melihat mana yang selayaknya dilakukan dan ditinggalkan, serta memilih untuk menjadi orang yang bahagia atau sengsara.

Kebahagiaan atau kesengsaraan yang dirasakan ketika masih berada di dunia bukanlah sesuatu yang hakiki. Namun itu juga bisa menjadi pertanda. Betapa banyak orang beriman, secara lahir tidak tampak bahagia, diuji dengan kekurangan harta, penyakit, serta yang lainnya, tetapi karena iman yang ada dalam hatinya, ia menerima itu semua dengan sabar dan lapang dada. Bahkan masih sanggup bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga secara dzahir ia tampak menderita, padahal dalam hatinya penuh rasa bahagia. Begitu juga sebaliknya, banyak dari mereka yang tidak beriman, secara dzahir tampak senang dan gembira dengan apa yang dimilikinya, entah itu harta yang melimpah, rumah megah, serta mobil mewah. Namun ternyata di balik kemewahan itu ada rasa takut kehilangan, kekhawatiran akan kerugian, bahkan tidur di malam hari pun tak mampu karena perasaan itu. Lantas apakah itu yang dianggap sebagai kebahagian, terlihat gemerlap dari luar padahal hatinya selalu diliputi kegelisahan.

Dua ilustrasi di atas hanya sebatas contoh yang menunjukkan bahwa bahagia atau sengsara di dunia ini bukan sesuatu yang benar-benar murni. Adapun kebahagiaan yang hakiki sebagaimana disebut dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu:

وأما الذين سُعِدُوْا فَفِي الجنةِ خالدين فيها… الآية

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya…”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kebahagiaan yang sesungguhnya ialah bagi mereka yang menempati surga Allah Subhanau wa Ta’ala bagaimana pun kondisi mereka tatkala hidup di dunia. Fakir atau kaya, susah atau senang, sakit atau sehat, rakyat atau pejabat, jika pada akhirnya mereka menjadi ahli surga, itulah kebahagiaan yang sejati. Selanjutnya Al-Qur’an juga menyebutkan siapa yang benar-benar sengsara:

… الأشقى ۝ الذي يصلى النار الكبرى…

“Orang yang celaka, yaitu orang-orang yang akan memasuki neraka.”

Begitulah Al-Qur’an menjelaskan siapa orang yang benar-benar sengsara atau celaka, yaitu mereka yang di akhir pemberhentiannya adalah seburuk-buruknya tempat, yaitu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lantas bagaimana nasib kita kelak, yang sejatinya Allah sendiri sudah menentukan bagaimana akhir dari perjalanan kita? Apakah kita masih perlu berusaha? Jawabannya adalah “Ya”, karena meski Allah sudah menentukan akhir dari perjalanan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan kehendak kepada kita semua. Artinya, apa yang kita lakukan itu atas dasar kehendak kita juga, mau memilih baik atau buruk, itu juga kehendak kita. Mau memilih taat akan perintah Allah atau melanggar juga merupakan kehendak kita.

Kehendak itulah yang menjadi alasan kenapa kelak seseorang disiksa di akhirat apabila kita melanggar perintah Allah dengan kehendaknya. Adapun jika bukan kehendaknya maka tidak ada hukuman baginya. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan kehendaknya sendiri ingin meminum arak sedangkan ia tahu bahwa arak itu haram diminum. Pelanggaran yang dilakukan atas kehendak dan kesadarannya itu membuat orang tersebut berdosa dan kelak akan dihukum. Dalam peristiwa yang sama seseorang meminum arak, tetapi ia melakukannya karena tidak sengaja. Misalnya ada orang yang menuangkan arak di tempat minumnya dan ia tidak mengetahuinya. Maka, ia tidak dianggap melanggar dan tidak berdosa karena bukan kehendaknya untuk meminum arak tersebut.

Pada kesimpulannya, setiap perbuatan yang kita kerjakan, jika itu merupakan kehendak kita maka akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, dan menjadi sebab keridhaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita wajib waspada saat melangkah, saat melampiaskan kehendak kita, menata kehendak kita agar dapat bijaksana memilih sesuatu yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dimudahkan dalam melangkah di jalan yang Allah ridhai serta dijauhkan dari jalan yang Allah murkai dan kelak kita semua menjadi orang-orang yang menempati rumah yang dipenuhi kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu jannah-Nya. Aamiin

Penulis: Habibullah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Ratusan Jamaah Ikuti Manasik Akbar Umroh Munajat Kubro Bersama Buya Yahya
21 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sebanyak 483 calon jamaah Umroh Munajat Kubro memadati ballroom Hotel Grage, Cirebon, dalam kegiatan Manasik Akbar yang berlangsung... selengkapnya

Keceriaan, Rahasia di Balik Setiap Senyuman
17 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya

Hidup Diliputi Kebingungan, Tak Tentu Arah dan Tujuan? Mari Simak Nasihat Buya Yahya Berikut Ini
24 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia di muka bumi karena kesempurnaannya  melebihi makhluk... selengkapnya

(Teks Khutbah Jumat) Keistimewaan 10 Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya
25 Juni 2026

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) dalam Islam, yaitu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah c.... selengkapnya

Tanpa Akhlak, Peradaban Islam Bisa Apa?
13 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin meletakkan akhlak sebagai fondasi utama peradaban. Akhlak bukan hanya pelengkap ajaran agama, melainkan... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah (5)
9 Juli 2025

  Mampukah Aku? Perjalanan yang kurasa panjang ini… Ke manakah langkah akhir kan berlabuh? Pada hiruk pikuk dunia yang fana... selengkapnya

Buya Yahya Jelaskan Hukum SBN dan Pengelolaannya sebagai Uang Pensiun Menurut Pandangan Hukum Islam
27 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada sebuah pertanyaan menarik dari salah satu jamaah yang dilontarkan kepada Buya Yahya, yaitu mengenai orang yang... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?
22 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar).... selengkapnya

Menyambut Kedatangan Murobbina Buya Yahya & Ummi Fairuz
25 Februari 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Haru dan bahagia pecah diantara para santri dan pejuang pada sore hari Jumat 3 Sya’ban 1444... selengkapnya

Mengubah Luka Fisik maupun Batin Menjadi Pelajaran Berharga
24 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Luka fisik maupun luka batin merupakan pelajaran berharga untuk lebih mengenal diri kita sendiri, memperkuat hati, dan... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: