Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Diposting pada 22 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 426 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar). Setiap daun yang gugur, curah hujan yang menetes, angin yang berembus, semua yang terlahir dan yang mati telah tercatat dalam lembaran agung Al-Lauhulmahfudz. Begitu juga dengan nasib manusia yang kelak dilahirkan ke alam dunia; usia, rezeki, jodoh, bahkan tujuan akhir perjalanan mereka, yaitu surga atau neraka.

Manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk yang suci, tanpa terkecuali. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam:

كل مولود يولد على الفطرة

“Setiap orang yang terlahir ke dunia itu dalam keadaan suci”

Tanpa cela atau dosa yang diwariskan oleh pendahulunya, seburuk apa pun penduhulu itu. Namun dalam perjalanannyalah yang menampakkannya sebagai orang yang baik atau buruk. Baik berarti bahagia, begitu sebaliknya buruk berarti sengsara. Baik dan buruk tersebut tentu berdasarkan penilaian Sang Rohim yang tertulis dalam ajaran-Nya serta disebarkan oleh para Rasul dan sampai kepada kita, sehingga kita dapat melihat mana yang selayaknya dilakukan dan ditinggalkan, serta memilih untuk menjadi orang yang bahagia atau sengsara.

Kebahagiaan atau kesengsaraan yang dirasakan ketika masih berada di dunia bukanlah sesuatu yang hakiki. Namun itu juga bisa menjadi pertanda. Betapa banyak orang beriman, secara lahir tidak tampak bahagia, diuji dengan kekurangan harta, penyakit, serta yang lainnya, tetapi karena iman yang ada dalam hatinya, ia menerima itu semua dengan sabar dan lapang dada. Bahkan masih sanggup bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga secara dzahir ia tampak menderita, padahal dalam hatinya penuh rasa bahagia. Begitu juga sebaliknya, banyak dari mereka yang tidak beriman, secara dzahir tampak senang dan gembira dengan apa yang dimilikinya, entah itu harta yang melimpah, rumah megah, serta mobil mewah. Namun ternyata di balik kemewahan itu ada rasa takut kehilangan, kekhawatiran akan kerugian, bahkan tidur di malam hari pun tak mampu karena perasaan itu. Lantas apakah itu yang dianggap sebagai kebahagian, terlihat gemerlap dari luar padahal hatinya selalu diliputi kegelisahan.

Dua ilustrasi di atas hanya sebatas contoh yang menunjukkan bahwa bahagia atau sengsara di dunia ini bukan sesuatu yang benar-benar murni. Adapun kebahagiaan yang hakiki sebagaimana disebut dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu:

وأما الذين سُعِدُوْا فَفِي الجنةِ خالدين فيها… الآية

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya…”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kebahagiaan yang sesungguhnya ialah bagi mereka yang menempati surga Allah Subhanau wa Ta’ala bagaimana pun kondisi mereka tatkala hidup di dunia. Fakir atau kaya, susah atau senang, sakit atau sehat, rakyat atau pejabat, jika pada akhirnya mereka menjadi ahli surga, itulah kebahagiaan yang sejati. Selanjutnya Al-Qur’an juga menyebutkan siapa yang benar-benar sengsara:

… الأشقى ۝ الذي يصلى النار الكبرى…

“Orang yang celaka, yaitu orang-orang yang akan memasuki neraka.”

Begitulah Al-Qur’an menjelaskan siapa orang yang benar-benar sengsara atau celaka, yaitu mereka yang di akhir pemberhentiannya adalah seburuk-buruknya tempat, yaitu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lantas bagaimana nasib kita kelak, yang sejatinya Allah sendiri sudah menentukan bagaimana akhir dari perjalanan kita? Apakah kita masih perlu berusaha? Jawabannya adalah “Ya”, karena meski Allah sudah menentukan akhir dari perjalanan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan kehendak kepada kita semua. Artinya, apa yang kita lakukan itu atas dasar kehendak kita juga, mau memilih baik atau buruk, itu juga kehendak kita. Mau memilih taat akan perintah Allah atau melanggar juga merupakan kehendak kita.

Kehendak itulah yang menjadi alasan kenapa kelak seseorang disiksa di akhirat apabila kita melanggar perintah Allah dengan kehendaknya. Adapun jika bukan kehendaknya maka tidak ada hukuman baginya. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan kehendaknya sendiri ingin meminum arak sedangkan ia tahu bahwa arak itu haram diminum. Pelanggaran yang dilakukan atas kehendak dan kesadarannya itu membuat orang tersebut berdosa dan kelak akan dihukum. Dalam peristiwa yang sama seseorang meminum arak, tetapi ia melakukannya karena tidak sengaja. Misalnya ada orang yang menuangkan arak di tempat minumnya dan ia tidak mengetahuinya. Maka, ia tidak dianggap melanggar dan tidak berdosa karena bukan kehendaknya untuk meminum arak tersebut.

Pada kesimpulannya, setiap perbuatan yang kita kerjakan, jika itu merupakan kehendak kita maka akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, dan menjadi sebab keridhaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita wajib waspada saat melangkah, saat melampiaskan kehendak kita, menata kehendak kita agar dapat bijaksana memilih sesuatu yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dimudahkan dalam melangkah di jalan yang Allah ridhai serta dijauhkan dari jalan yang Allah murkai dan kelak kita semua menjadi orang-orang yang menempati rumah yang dipenuhi kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu jannah-Nya. Aamiin

Penulis: Habibullah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Beberapa Aturan Tak Tertulis Berikut Harus Ditulis Agar Diingat dan Dilakukan
18 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan sahabat mendengar aturan yang tak tertulis? Aturan tak tertulis adalah aturan yang menjadi kesepakatan sosial dan... selengkapnya

Agar Tidak Merugi di Sepuluh Hari Awal Bulan Haji
20 Juni 2023

Oleh: Ustadz Maulid Johansyah (Dewan Asatidz LPD Al-Bahjah) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.... selengkapnya

Cara Perempuan Membatalkan Ta’aruf yang Baik
19 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah makna ta’aruf itu sendiri. Ta’aruf bukanlah kesepakatan untuk menuju kepada... selengkapnya

Meski Macet dan Sedang di Perjalanan, Shalat Bisa Dilakukan di dalam Mobil
2 Maret 2026

Identitas Buku Judul               : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis             : Buya Yahya Penerbit           :... selengkapnya

Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra atau Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H
14 November 2021

Pendaftaran Santri Baru Kelas Dewasa Putra/Putri TAFAQQUH AL-BAHJAH Tahun Akademik 1443-1444 H Visi: “Mendahulukan Akhlaq & Mengembangkan Dakwah Rasulallah SAW.”... selengkapnya

Hikmah Merindukan Surga dan Takut Neraka
8 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang sudah mengikrarkan dirinya beriman secara otomatis akan mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ia juga akan secara... selengkapnya

Bulan Ramadan Bulan Berbahagia
26 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setiap kali menjelang Ramadan, sahabat Nabi Saw selalu bergembira menyambut kedatangannya. Kegembiraan itu terpancar di wajah dan... selengkapnya

Heboh! Gurun Tandus Di Arab Menghijau Disebut Pertanda Kiamat, Begini Penjelasan Buya Yahya
16 Januari 2023

Pustaka Al-Bahjah – Pengguna media sosial dihebohkan dengan fenomena alam yang terjadi di Arab Saudi. Pasalnya, negeri yang terkenal dengan... selengkapnya

Urgensi Akhlak dalam Membangun Peradaban Islam: Telaah Nilai-Nilai Nabawi
18 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ketika kita menelusuri sejarah kejayaan Islam, salah satu fondasi utama yang menopang bangunan peradaban itu adalah akhlak. Rasulullah... selengkapnya

Puisi-Puisi Faizatulatifah (2): Hijrah yang Hijrah
12 Juli 2025

  Hijrah Cahaya   Tahun Baru Hijriah terbit seperti fajar keemasan, Menghadirkan harapan dalam tiap getar jiwa yang lapang. Hijrah... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: