Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Diposting pada 22 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 445 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar). Setiap daun yang gugur, curah hujan yang menetes, angin yang berembus, semua yang terlahir dan yang mati telah tercatat dalam lembaran agung Al-Lauhulmahfudz. Begitu juga dengan nasib manusia yang kelak dilahirkan ke alam dunia; usia, rezeki, jodoh, bahkan tujuan akhir perjalanan mereka, yaitu surga atau neraka.

Manusia terlahir ke dunia sebagai makhluk yang suci, tanpa terkecuali. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam:

كل مولود يولد على الفطرة

“Setiap orang yang terlahir ke dunia itu dalam keadaan suci”

Tanpa cela atau dosa yang diwariskan oleh pendahulunya, seburuk apa pun penduhulu itu. Namun dalam perjalanannyalah yang menampakkannya sebagai orang yang baik atau buruk. Baik berarti bahagia, begitu sebaliknya buruk berarti sengsara. Baik dan buruk tersebut tentu berdasarkan penilaian Sang Rohim yang tertulis dalam ajaran-Nya serta disebarkan oleh para Rasul dan sampai kepada kita, sehingga kita dapat melihat mana yang selayaknya dilakukan dan ditinggalkan, serta memilih untuk menjadi orang yang bahagia atau sengsara.

Kebahagiaan atau kesengsaraan yang dirasakan ketika masih berada di dunia bukanlah sesuatu yang hakiki. Namun itu juga bisa menjadi pertanda. Betapa banyak orang beriman, secara lahir tidak tampak bahagia, diuji dengan kekurangan harta, penyakit, serta yang lainnya, tetapi karena iman yang ada dalam hatinya, ia menerima itu semua dengan sabar dan lapang dada. Bahkan masih sanggup bersyukur kepada Allah Ta’ala, sehingga secara dzahir ia tampak menderita, padahal dalam hatinya penuh rasa bahagia. Begitu juga sebaliknya, banyak dari mereka yang tidak beriman, secara dzahir tampak senang dan gembira dengan apa yang dimilikinya, entah itu harta yang melimpah, rumah megah, serta mobil mewah. Namun ternyata di balik kemewahan itu ada rasa takut kehilangan, kekhawatiran akan kerugian, bahkan tidur di malam hari pun tak mampu karena perasaan itu. Lantas apakah itu yang dianggap sebagai kebahagian, terlihat gemerlap dari luar padahal hatinya selalu diliputi kegelisahan.

Dua ilustrasi di atas hanya sebatas contoh yang menunjukkan bahwa bahagia atau sengsara di dunia ini bukan sesuatu yang benar-benar murni. Adapun kebahagiaan yang hakiki sebagaimana disebut dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu:

وأما الذين سُعِدُوْا فَفِي الجنةِ خالدين فيها… الآية

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya…”

Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya kebahagiaan yang sesungguhnya ialah bagi mereka yang menempati surga Allah Subhanau wa Ta’ala bagaimana pun kondisi mereka tatkala hidup di dunia. Fakir atau kaya, susah atau senang, sakit atau sehat, rakyat atau pejabat, jika pada akhirnya mereka menjadi ahli surga, itulah kebahagiaan yang sejati. Selanjutnya Al-Qur’an juga menyebutkan siapa yang benar-benar sengsara:

… الأشقى ۝ الذي يصلى النار الكبرى…

“Orang yang celaka, yaitu orang-orang yang akan memasuki neraka.”

Begitulah Al-Qur’an menjelaskan siapa orang yang benar-benar sengsara atau celaka, yaitu mereka yang di akhir pemberhentiannya adalah seburuk-buruknya tempat, yaitu neraka. Na’udzubillah min dzalik. Lantas bagaimana nasib kita kelak, yang sejatinya Allah sendiri sudah menentukan bagaimana akhir dari perjalanan kita? Apakah kita masih perlu berusaha? Jawabannya adalah “Ya”, karena meski Allah sudah menentukan akhir dari perjalanan kita, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan kehendak kepada kita semua. Artinya, apa yang kita lakukan itu atas dasar kehendak kita juga, mau memilih baik atau buruk, itu juga kehendak kita. Mau memilih taat akan perintah Allah atau melanggar juga merupakan kehendak kita.

Kehendak itulah yang menjadi alasan kenapa kelak seseorang disiksa di akhirat apabila kita melanggar perintah Allah dengan kehendaknya. Adapun jika bukan kehendaknya maka tidak ada hukuman baginya. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan kehendaknya sendiri ingin meminum arak sedangkan ia tahu bahwa arak itu haram diminum. Pelanggaran yang dilakukan atas kehendak dan kesadarannya itu membuat orang tersebut berdosa dan kelak akan dihukum. Dalam peristiwa yang sama seseorang meminum arak, tetapi ia melakukannya karena tidak sengaja. Misalnya ada orang yang menuangkan arak di tempat minumnya dan ia tidak mengetahuinya. Maka, ia tidak dianggap melanggar dan tidak berdosa karena bukan kehendaknya untuk meminum arak tersebut.

Pada kesimpulannya, setiap perbuatan yang kita kerjakan, jika itu merupakan kehendak kita maka akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, dan menjadi sebab keridhaan atau kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita wajib waspada saat melangkah, saat melampiaskan kehendak kita, menata kehendak kita agar dapat bijaksana memilih sesuatu yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dimudahkan dalam melangkah di jalan yang Allah ridhai serta dijauhkan dari jalan yang Allah murkai dan kelak kita semua menjadi orang-orang yang menempati rumah yang dipenuhi kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu jannah-Nya. Aamiin

Penulis: Habibullah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Apa Itu Nikah Batin dan Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
26 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang dalam hidup. Mengandung makna bahwa pernikahan dilakukan dari mulai akad sampai... selengkapnya

Keimanan Tidak Hanya Diukur dari Ibadah Ritual, Tetapi Juga Tercermin dalam Memperlakukan Orang Lain
5 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Manusia tidak pernah hidup sendirian. Sejak ia dilahirkan hingga kembali kepada tanah, hidupnya selalu berada dalam jaringan relasi... selengkapnya

Ingin Ilmu Tetap Nyangkut? Amalkan Adab kepada Guru Berikut!
30 Maret 2021

Ingin Ilmu Tetap Nyangkut? Amalkan Adab kepada Guru Berikut! Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah... selengkapnya

Memasuki H-2, Mari Intip Kesiapan Panitia Jelang Maulid dan Silaturahmi Akbar LPD Al-Bahjah 1444 H
30 September 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah telah memasuki H-2, berbagai persiapan terus dikebut demi menyambut dan memuliakan... selengkapnya

Apakah Orang Berilmu Pastilah Orang Saleh?; Refleksi Menjelang Bulan Ramadan
9 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dunia pendidikan sering kali dipandang sebagai jalur yang kering dari sentuhan spiritual. Di ruang-ruang kuliah, ilmu kerap kali... selengkapnya

5 Cara Mudah Meraih Kekhusyuan dalam Shalat
18 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sulit khusyu dalam shalat merupakan salah satu masalah yang seringkali dialami oleh setiap muslim. Meski shalat... selengkapnya

Sambung dengan Nabi Kunci Perdamaian: Nasihat Guru Buya Yahya dalam Maulid dan Silaturahim Akbar Al-Bahjah 1445 H.
21 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Prof. Dr. Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun, guru Buya Yahya, berkesempatan memberikan pesan-pesan mulia penuh hikmah... selengkapnya

Apakah Curhat Termasuk Gibah?
7 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Curhat bisa menjadi suatu gunjingan dan bisa juga bukan. Artinya, terdapat dua tipe curhat, yaitu curhatan untuk... selengkapnya

Tidak Merasakan Vibes Nya Ramadhan? Jangan-Jangan Karena Ini
2 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat Pustaka, bulan Ramadhan merupakan bulan panen raya hamba-hamba terkasih Allah Swt karena pada bulan ini... selengkapnya

Kunci dari Tenangnya Jiwa Adalah Yakin Bahwa Takdir Allah Selalu Baik
20 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Takdir adalah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanu wa Ta’ala. Ketentuan ini tidak ada yang bisa mengubahnya,... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: