● online
Salman Al-Farisi: Pengembara, Pencari Kebenaran, Budak, hingga Inisiator dalam Perang Khandak

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Salman Al-Farisi adalah seorang sahabat yang berasal dari luar negara Arab, tepatnya dari negara Persia. Beliaulah yang mengusulkan penggalian parit yang belum pernah dilakukan oleh bangsa Arab. Peristiwa itu terjadi waktu Perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijriah.
Pada saat Rasulullah dan kaum muslimin sedang melakukan rapat genting untuk menghadapi serangan Quraisy, tampilah seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan dihormati oleh Rasulullah. Itulah dia Salman al-Farisi. Di negerinya Persia, Salman mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah, yaitu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka mengelilingi kota.
Demi Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota. Pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah sehingga memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan putus asa serta menderita kekalahan pahit. Pada akhirnya umat Muslim dapat memenangkan Perang Khandaq berkat ide Salman Al-Farisi.
Salman Al-Farisi juga merupakan sang pencari kebenaran spiritual, ia sanggup menanggung segala risiko dan mara bahaya, sekalipun harus meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persia. Pernah mengembara dan mengikuti agama Nasrani sebelum akhirnya pindah ke agama Islam. Betapa ia pun telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwa. Harga dirinya sebagai insan merdeka pernah terampas di pasar budak dalam mencari kebenaran itu. Satu jalan peristiwa yang menakdirkan dirinya dapat berjumpa dengan Rasulullah dan akhirnya beriman kepadanya.
Berikut kisah mulia dan menakjubkan yang diceritakannya dalam mencari kebenaran itu:
Aku berasal dari Isfahan, warga desa bernama “Ji”. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama Majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.
Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang sembahyang, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati: ‘Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini.’ Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.
Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nasrani dari mana asal-usul agama mereka, ‘Dari Syria,’ ujar mereka. Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan padanya apa yang telah aku alami selama di perjalanan menuju tanah miliknya. Kami pun bersoal jawab melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dimasukkan ke dalam penjara.
Kepada orang-orang Nasrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.
Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceritakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan dan belajar di sana. Namun sayang uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk diri pribadi. Kemudian uskup itu wafat.
Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Tatkala ajalnya telah dekat, tanyaku padanya: ‘Sebagai Anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri Anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi?’ ia menjawab, ‘Anakku,’ ujarnya. Kemudian sesaat melanjutkan, ‘Tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin dari Mosul.’ Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceritakan padanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudian tatkala ajal pemimpin Mosul itu pun telah dekat pula, kutanyakan kepadanya siapa yang harus kuturuti. Ditunjukanlah orang saleh yang tinggal di Nashibin. Aku datang kepadanya dan kuceritakan perihal pemimpin Mosul yang sebelumnya telah kubaktikan diriku sampai ajalnya menjemput. Lalu akun pun selanjutnya tinggal di Nashibin selama waktu yang dikehendaki Allah. Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula padanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di ‘Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi. Seperti yang kuyakini sebelum-sebelumnya, aku juga berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku beternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.
Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakannya. Ujarnya, ‘Anakku! Tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia! Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan sedekah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya.’
Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari Jazirah Arab, maka kataku pada mereka, ‘Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?’ Mereka meyanggupinya tanpa sulit
Demikianlah mereka membawaku serta dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Nahas, di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang Yahudi Bani Quraidhah yang membeliku pula daripadanya. Aku dibawa ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan dulu.
Aku tinggal bersama Yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraidhah, hingga datang saat dibangkitkannya Rasulullah yang datang ke Madinah dan singgah pada Bani Amar bin Auf di Quba. Pada suatu hari ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku lagi duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang Yahudi saudara sepupunya yang mengatakan padanya, ‘Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Makkah dan mengaku sebagai Nabi.’
Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, aku segera turun dan aku tanyakan kepada orang tadi, ‘Apa kata Anda? Ada berita apakah?’ Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku serta bentaknya, ‘Apa urusanmu dengan ini, ayo kembali ke pekerjaanmu!’ maka aku kembali bekerja. Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Setelah aku coba dan menguji tanda-tanda kerasulannya, ternyata ciri-ciri itu benar yang dikatakan oleh saudaraku dulu ketika aku tinggal di Romawi.
Keesokannya aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceritakan kisahku kepadanya sebagaimana yang telah kuceritakan dulu. Kemudian aku masuk Islam. Tak lama dari itu, kudengar Perang Badar dan Uhud akan berkecamuk, aku pun ingin iut serta. Namun perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan kepadaku untuk mengatakan kepada majikanku agar aku dibebaskan dengan uang tebusan. Maka kumintalah kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan. Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai orang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam Perang Khandaq dan perang lainnya.
Penulis: Muhammad Tis Asuh Shobirin
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Salman Al-Farisi: Pengembara, Pencari Kebenaran, Budak, hingga Inisiator dalam Perang Khandak
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Anak adalah titipan dari Allah Subhanau wa Ta’ala, maka setiap orang tua sejatinya tengah mengemban amanah atas titipan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kepergian orang tua untuk selama-lamanya tentu selalu meninggalkan kesedihan dan duka yang mendalam. Penyesalan seringkali... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dunia ini sangat sementara. Segala yang kita miliki dan kita sayangi akan kita tinggalkan. Tidak ada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berkunjung ke Makkah dan Madinah merupakan impian yang dimiliki banyak orang. Makkah dan Madinah merupakan dua tempat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari Raya Iduladha adalah hari kegembiraan bagi umat Baginda Nabi Muhammad Saw dan sebentar lagi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahajah, Cirebon – Tahukan sahabat bahwa saat ini banyak sekali orang yang saling mencintai di dunia namun ternyata bermusuhan... selengkapnya
Berikut kami hadirkan teks khutbah Iduladha 1445 H/2024 M. Silakan mendownload dan menyebarkannya melalui tautan yang ada di bawah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Telah dibahas sebelumnya bahwa wirid merujuk pada amalan zikir dan ibadah (termasuk sunah muakkadah dan ghairu muakkadah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Ramadan akan segera datang, sudahkan kita mempersiapkan diri? Apa saja sebenarnya pesiapan yang harus kita lakukan... selengkapnya
Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000
Saat ini belum tersedia komentar.