● online
(Cerpen) Auman di Balik Semak

PADA suatu hari, Hutan Alamara tidak lagi memantulkan ketenangan yang dulu menjadi jiwanya. Sungai yang pernah berkilau bagai kaca kini beriak dengan keluhan, burung-burung menyanyikan nada gelisah, dan rerumputan merunduk seolah takut akan langkah yang menginjak tanpa belas kasih. Semua keresahan itu tumbuh sejak sang Singa penguasa hutan lebih sibuk menjaga bayangan takhtanya daripada menjaga denyut hidup rakyatnya, “Aku adalah raja, pemilik segalanya,” gumamnya setiap kali menatap cakrawala. Tapi sesungguhnya, dalam sorot matanya ada bayang-bayang takut: takut kehilangan kuasa yang sudah lama ia genggam.
Di belakangnya, burung hantu selalu menunduk, memberi nasihat yang terdengar bijak tapi penuh hitungan.
“Berjanjilah kepada rusa, tapi jangan terlalu banyak. Tunjukkan kekuatanmu pada serigala, tapi jangan sampai kau tampak lemah.” Kalimat yang selalu diucapkan kepada sang Raja. Namun, Sang Raja lebih sering menutup telinga. Ia merasa aumannya sudah cukup membuat semua tunduk. Sementara itu, jauh di dalam hutan, Serigala mulai menggerakkan kelompoknya. Dengan lidah licin, ia mendekati hewan-hewan kecil.
“Kalian lapar, bukan? Rumput mengering, pohon tumbang, dan suara kalian tak pernah didengar. Semua karena singa sibuk menjaga takhtanya.” Kata-kata itu menusuk. Banyak yang mulai mendengar, meski masih diliputi ragu: apakah serigala sungguh peduli, atau hanya ingin menggantikan singa di singgasana?
Di sudut-sudut hutan, Kelinci bersembunyi. Mereka hanyalah rakyat jelata, yang hidupnya tak pernah masuk dalam hitungan besar politik.
“Kami hanya ingin makan tenang,” bisik seekor kelinci kecil. “Siapa pun rajanya, apa gunanya bila perut kami tetap kosong?”
Dari langit, elang terbang berputar dengan kepakan sayap yang gagah. Matanya menajam, menyapu setiap sudut hutan Alamara. Ia bukan penghuni tetap hutan itu, namun kehadirannya selalu menimbulkan getar. Hewan-hewan menengadah penuh waspada setiap kali bayangan sayapnya melintas di atas kepala, seakan tahu bahwa dari mulut elang sering keluar kabar yang bisa mengguncang ketenangan mereka.
SUATA sore, Elang menukik rendah mendekati sekumpulan hewan-hewan, suaranya lantang menembus pepohonan, “Aku telah melihat dari kejauhan,” serunya, “di hutan lain, raja-raja perkasa runtuh bukan karena serigala yang menggonggong, bukan pula karena burung hantu yang membisik, melainkan karena mereka tuli terhadap suara yang kecil, suara yang dianggap tak penting.” Hewan-hewan terdiam, mendengarkan dengan hati berdebar. Sebab kata-kata itu bagai kilat yang menyambar kesadaran.
“Elit boleh berseteru,” lanjut elang, “singa boleh mengaum sekeras-kerasnya, serigala boleh melolong sepintar-pintarnya. Namun jika kelinci yang hanya ingin makan rumput dan tidur tenang terus diabaikan, maka hutan ini akan kehilangan akar kekuatannya. Ingatlah, runtuhnya takhta bukan datang dari luar, melainkan dari dalam: dari hati rakyat kecil yang retak.” Setelah itu, elang kembali mengepak sayapnya, meninggalkan keheningan yang sarat makna.
HARI besar tiba, kala itu sang raja memanggil semua hewan untuk berkumpul di padang luas. Singa datang dengan langkah berat, serigala dengan senyum licik, burung hantu bersembunyi di bayangan, elang mengawasi dari langit, dan kelinci berdesakan di antara semak.
Pertemuan berubah menjadi medan pertarungan kata. Singa mengaum, serigala melolong, burung hantu berbisik, elang berteriak. Namun suara kelinci tetap tenggelam di antara hiruk-pikuk. Hingga tiba-tiba, seekor kelinci kecil memberanikan diri maju ke tengah lingkaran.
Dengan tubuh gemetar, ia bersuara, “Kalian berebut takhta seakan hutan hanya milik kalian. Padahal, tanpa rumput, tanpa ketenangan, apa arti semua itu? Kami yang kecil ini hanya ingin hidup damai. Apakah itu terlalu sulit?” Keheningan menelan padang. Singa terdiam, serigala menunduk, burung hantu memejamkan mata, elang terkagum dengan keberanian seekor kelinci kecil.
Hari itu tak ada keputusan mutlak, tapi suara kecil itu merambat ke hati banyak hewan. Mereka sadar, hutan bukanlah milik singa, serigala, atau burung hantu, melainkan milik semua yang hidup di dalamnya. Sejak hari itu, Alamara tetap bergolak. Namun, dari balik keresahan, tumbuh benih kesadaran: bahwa suara paling kecil sekalipun mampu mengguncang takhta yang paling besar.
Penulis: Sopyan Ade Saputra
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
(Cerpen) Auman di Balik Semak
Bijak dalam Bertindak (Utamakan Klarifikasi, Kesampingkan Emosi) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya
Selamat Idulfitri 1447 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa ingin segera menegur ketika melihat kesalahan orang lain. Entah kepada anak, pasangan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di beberapa daerah pesisir yang dekat dengan laut, masyarakat kerap menghadapi kenyataan bahwa sumber air yang tersedia terasa... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika seorang wanita hadir dengan kemuliaan dan kesalehannya, ia membawa keberuntungan besar bagi orang-orang yang berada di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kita sering mendengar kisah agung disyariatkannya ibadah qurban. Namun tahukan bahwa di balik kisah agung tersebut ada peran... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di saat kita menaiki sebuah perahu, terkadang kita dihadapkan pada sebuah gelombang, angin yang kencang, hujan, terik yang... selengkapnya
Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pernahkan Anda memiliki keinginan untuk menulis tetapi terhambat dengan pengetahuan Anda yang terbatas? Ya, hambatan tersebut salah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang sudah mengikrarkan dirinya beriman secara otomatis akan mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ia juga akan secara... selengkapnya
CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 59.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000
Saat ini belum tersedia komentar.