● online
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Low Begi....
- Buku Aqidah - Hadits Jibril....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- Fiqih Qurban....
- Maqoshid Syariah....
- النجاح في تكملة المفتاح....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
Buya Yahya Menjawab: Bagaimana Menyikapi Adanya Dugaan Kecurangan Hasil Pemilu?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masyarakat Indonesia telah melangsungkan Pesta Demokrasi 5 tahun sekali yang digelar pada tanggal 14 Februari 2023. Setelah pemilu selesai, hal yang ditunggu-tunggu masyarakat adalah penetapan presiden dan wakil presiden terpilih. Namun, salah satu isu yang hangat dibicarakan adalah adanya dugaan kecurangan yang dilakukan pada gelaran pemilu tersebut. Adanya dugaan kecurangan tersebut membuat pendukung antarpasangan calon saling debat, bahkan tak sedikit saling mencaci antarsatu sama lain. Lantas bagaimana masyarakat harus menyikapinya?
Pilihan Berdasarkan Hati Nurani, Bukan Karena Nafsu
Sebelum hari pemilihan, Buya Yahya telah memberikan banyak wejangan agar pemilu ini berlangsung lancar dan menyejukkan. Salah satunya adalah dengan tidak saling mencaci meskipun berbeda pilihan. Selain itu, dalam memilih harus berdasarkan hati nurani, bukan berdasarkan hawa nafsu sehingga siapa pun yang terpilih kita tidak akan berdosa.
“Di saat memilih pastikan engkau memilih adalah karena Allah Swt, bukan karena hawa nafsu dan urusan pribadimu. Dengan memohon kepada Allah Swt, istikharah, sedekah, dan lain sebagainya. Baru esoknya pilih sesuai dengan hati nuraninya yang bersih. Biarpun nanti yang keluar dajjal maka ia tidak dosa” Kata Buya Yahya beberapa hari sebelum hari pemilihan.
Banyak Kemungkinan yang Terjadi dalam Kecurangan
Menurut Buya Yahya, banyak kemungkinan yang terjadi dalam proses pemilihan pemimpin. Kecurangan bisa dilakukan oleh pendukung pemimpin yang menghalalkan segala cara demi berkuasa. Bisa juga ada pengikut calon pemimpin yang baik dan ingin mendukung kebaikannya tapi caranya tidak baik, atau melakukan kebohongan dengan menuduh lawannya curang padahal dia sendiri yang melakukannya. Bagaimana pun caranya memenangkan dengan cara yang tidak baik adalah tidak benar.
“Adapun benar tidaknya ada kecurangan, seandainya sekalipun beneran dan nyata, misalnya Anda mengubah angka dalam kecurangan tersebut maka Anda berdusta, sekalipun orang yang ingin Anda menangkan adalah seorang Nabi misalnya. Itu berarti Anda membelanya sudah bukan karena Allah Swt” Imbuhnya.
Buya Yahya menambahkan penjelasannya dengan sebuah kisah yang terjadi pada zaman dahulu yang dilakukan pendusta hadis. Pernah ada orang yang mengarang hadis keutamaan membaca Al-Qur’an, maksud hati untuk memperjuangan Al-Qur’an. Namun, jelas yang dilakukannya salah, meskipun niatnya baik.
“Jadi semuanya mungkin, yang penting dusta itu gak bener.” Tambahnya.
Menyikapi Dugaan Kecurangan Pemilu 2024
Dalam menyikapi dugaan kecurangan Pemilu 2024, Buya Yahya mengimbau umat membebaskan diri bahwa tidak senang dengan kebohongan itu. Kalau senang dengan kebohongan, maka bukan karena Allah Swt lagi dalam memilih seorang pemimpin.
“Bebaskan diri Anda bahwa Anda tidak senang dengan kebohongan itu. Jangan sampai Anda senang, sekalipun yang diuntungkan dalam kecurangan itu adalah pemimpin yang Anda dukung. Kalau Anda bisa mengantisipasinya, melakukan perubahan, punya kemampuan akan itu, maka lakukan itu. Jika Anda tidak punya kemampuan, Anda cukup berdoa.”
Kembali Berdamai pasca-Pemilu 2024
Buya Yahya berpesan agar umat menata hati, tidak berdusta, dan tidak bertepuk tangan dengan kesalahan. Kalau ternyata pemimpin yang dipilihnya berdusta, maka harus ingkar. Pengingkaran terhadap pemimpin yang curang dalam proses pemilihannya dilakukan dalam rangka meluruskannya.
“Kecurangan yang selama ini dimuat di media, misalnya, tidak boleh menjadikan sebab kita bermusuhan, caci maki. Sebab banyak di antara pendukung 01, 02, 03 mereka tulus sesuai dengan pengetahuannya. Kalau ada pemain salah satu yang gak benar, itu pemainnya (oknum),” tutur Buya Yahya.
Terakhir Buya Yahya menutupnya dengan sebuah penyataan yang menyentuh, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Kisah orang beriman sangat panjang, bukan hanya urusan menyelenggarakan, memilih, mencalonkan, dan menjabat saja lalu selesai. Segala yang dilakukan dalam prosesnya pasti akan ditanya di alam barzakh dan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.
Penulis: Idan Syahid
Sumber Youtube Al-Bahjah TV: https://www.youtube.com/watch?v=1nHhWm2f_8o&t=1s
Tags: Buya Yahya, Pemilu. Kecurangan
Buya Yahya Menjawab: Bagaimana Menyikapi Adanya Dugaan Kecurangan Hasil Pemilu?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ibadah Qurban merupakan ibadah sunnah yang sangat dikukuhkan untuk dilaksanakan oleh setiap muslim. Ibadah Qurban... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malam Lailatul Qadr adalah malam istimewa yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, keberadaannya tidak bisa ditentukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bagi orang yang belum paham, ketika bepergian mungkin saja beranggapan bahwa shalat normal seperti biasa, tanpa jamak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya saat menjelaskan tafsir surah Maryam ayat satu sampai dengan ayat tujuh menyampaikan rumus terkabulnya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam adalah agama yang sempurna dan memuliakan setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam urusan pernikahan. Memberikan kemudahan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini, dunia sedang terfokus pada peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Yakni peperangan antara Israel yang didukung... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buku “Oase Iman: Refleksi Problematika Umat” merupakan salah satu buku terbaru karya Buya Yahya. Tidak seperti... selengkapnya
(Bagian terakhir dari dua tulisan) Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dengan semakin gencarnya arus informasi di media sosial, Muslimah harus melek literasi. Pandai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia serta datang untuk memuliakan wanita.... selengkapnya
Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600CATATAN PENTING ‼️ Open PO 1-15 Agustus 2026 Pengiriman bertahap 1-5 September 2026 Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Zahro Yahya J…. selengkapnya
Rp 43.000 Rp 59.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.