Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Diposting pada 6 Agustus 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 440 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna dari proses komunikasi. Pepatah lama menyebutkan bahwa mata sebagai jendela jiwa, dan memang dari sanalah kita belajar membaca rasa, menangkap emosi, serta merasakan kehadiran yang nyata.

Sayangnya, di tengah ledakan era digital, pertemuan tatap muka semakin terpinggirkan dan menjelma barang mewah. Tatapan tulus saat ini sering tergantikan oleh sorot mata hampa yang terpaku pada layar gawai. Kita pernah duduk bersama dengan kerabat atau kolega di satu ruang, tetapi tak jarang batin kita atau orang lain hanyut jauh ke dunia yang maya.

Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat tengah menghadapi krisis komunikasi yang meresap hingga ke ranah personal. Kecanggihan berkomunikasi melalui teks, emoji, atau video call terus meningkat. Sebaliknya, kemampuan komunikasi di saat berhadapan langsung justru semakin luntur. Suasana di kafe, restoran, hingga meja makan keluarga adalah salah satu contohnya. Kepala-kepala menunduk, jari jemari terus sibuk menari di atas layar, dan percakapan nyata larut dalam keheningan yang kian asing.

Ketiadaan tatap muka ini berdampak besar pada kualitas interaksi. Tatap muka bukan sekadar melihat, melainkan juga merasakan. Saat bertatap muka, sorot mata kita menangkap bahasa tubuh, ekspresi mikro, dan nada suara yang tidak dapat ditransfer melalui media digital. Semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari makna yang utuh. Tanpa itu, pesan bisa disalahartikan, niat bisa salah dipahami, sehingga tak jarang dari proses komunikasi yang tak utuh tersebut akhirnya menghasilkan hubungan yang retak antarsesama.

Marilah jujur kepada diri sendiri, tak sedikit dari kita yang hanya setengah hadir saat berbicara dengan orang lain, sementara mata terpaku pada layar gawai. Kepala mungkin mengangguk, mulut menggumamkan “oh ya” atau “betul juga”, tetapi pikiran sudah terbang jauh dari percakapan. Pesan-pesan yang disampaikan penutur dan petutur menguap tanpa arah.

Tatap muka juga menunjukkan penghargaan yang tulus dalam berinteraksi. Hanya sekadar tatap muka, berarti kita sedang menyampaikan pesan tanpa suara bahwa seseorang itu berarti dan ucapannya layak untuk didengar. Sementara itu, kontak mata yang minim dalam percakapan sering menimbulkan kesan seolah-olah lawan bicara tidak benar-benar hadir. Perasaan tidak didengar dan kurang dihargai tumbuh dari tatapan yang tak bertemu. Dalam jangka panjang, hubungan antarindividu kehilangan kedalaman dan menjadi rapuh. Jumlah teman kita di media sosial mungkin mencapai ribuan. Namun, rasa sepi tetap menghantui meski berada di tengah keramaian karena tanpa kontak mata.

Kita perlu belajar untuk menempatkan gawai pada tempatnya. Gawai itu alat, bukan tuan. Gawai seharusnya melayani kita, bukan sebaliknya. Mengembalikan tatap muka dalam percakapan adalah salah satu langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas interaksi kita.

Lalu bagaimana caranya? Dimulai dari hal-hal sederhana. Saat makan bersama, letakkan semua gawai di tempat yang jauh dari jangkauan. Saat mengobrol, simpan gawai di dalam saku atau tas. Saat ada seseorang yang berbicara, tataplah matanya. Dengarkan dengan sepenuh hati.

Sebagai penegasan, ini bukan seruan untuk kembali ke zaman batu. Bukan pula untuk meninggalkan teknologi dan kemajuan. Ini merupakan seruan untuk bijak dalam menggunakan gawai.

Oleh karena itu, tantangan terbesar kita bukanlah untuk menguasai teknologi. Tantangan terbesar kita sejatinya untuk menguasai diri kita sendiri di tengah gempuran teknologi. Kehilangan tatap muka saat berbicara dengan lawan bicara menjadi cermin dari hilangnya kesadaran kita akan kehadiran orang lain. Tanpa kehadiran, percakapan hanyalah deretan kata tanpa jiwa, dan hubungan hanyalah rangkaian koneksi tanpa makna. Mari kita kembalikan tatap muka atau kontak mata, demi percakapan yang lebih hidup, dan hubungan yang lebih kuat.

 

Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

Bagikan ke

Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Mengapa Ada Perbedaan Mazhab? Begini Penjelasannya
23 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sudah menjadi rahasia umum bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman utama bagi umat manusia dalam menjalani... selengkapnya

PROMO PAHALA JUM’AT BERKAH BERSAMA LPD AL-BAHJAH
13 Februari 2020

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Infaq Center Al-Bahjah ☺ Semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari selalu dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,... selengkapnya

Bijak Berbelanja di Tengah Maraknya Kredit Barang
24 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya

Terkuak! Buya Yahya dan Ippho Santosa Bongkar Rahasia Bisnis Sahabat Nabi, Ternyata Para Sahabat Itu…
8 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya bersama Ippho Santosa menggelar kajian yang bertajuk “Gebyar Dakwah Nabi Muhammad Saw Sebagai Pedagang:... selengkapnya

Jangan Takut Merusak Silaturahmi! Berikut Tips Cerdas Mengingatkan Teman yang Bertindak di Luar Batas
18 Maret 2021

Jangan Takut Merusak Silaturahmi Berikut Tips Cerdas Mengingatkan Teman yang Bertindak di Luar Batas Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah... selengkapnya

Tukang Sembelih Kurban Tidak Boleh Diupah Dengan Daging Kurban, Begini Penjelasan Buya Yahya
14 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya

Shalat Anda Tidak Khusyu, Apakah Sia-Sia?
17 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim apapun keadaannya. Siapapun yang... selengkapnya

Sinergi Pejuang Al-Bahjah Menyambut Maulid Akbar Nabi Muhammad Saw 1444 H
29 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam rangka memaksimalkan penyelenggaraan maulid akbar Nabi Muhammad Saw yang akan diselenggarakan pada Ahad, 6 Rabiul... selengkapnya

Masih Ada Yang Suka Menjual Kulit Hewan Kurban? Ternyata Begini Hukumnya
19 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Praktik penjualan kulit hewan kurban saat hari raya Idul Adha adalah fenomena yang sering kita temui... selengkapnya

Keseruan Market Day PAUD Al-Bahjah: Cerdas Berwirausaha Sejak Dini ala Rasulullah
25 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah pagi yang syahdu, saat matahari masih malu-malu menyingkapkan sinarnya, halaman di sekolah PAUD Terpadu Al-Bahjah itu... selengkapnya

Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: