● online
- Kitab Nawazil....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
- RAMADHANIAT....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na....
- Maqoshid Syariah....
- INDAHNYA MEMAHAMI PERBEDAAN PARA ULAMA KARYA BUYA ....
- Kitab Bidayatul Wushul 1....
Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna dari proses komunikasi. Pepatah lama menyebutkan bahwa mata sebagai jendela jiwa, dan memang dari sanalah kita belajar membaca rasa, menangkap emosi, serta merasakan kehadiran yang nyata.
Sayangnya, di tengah ledakan era digital, pertemuan tatap muka semakin terpinggirkan dan menjelma barang mewah. Tatapan tulus saat ini sering tergantikan oleh sorot mata hampa yang terpaku pada layar gawai. Kita pernah duduk bersama dengan kerabat atau kolega di satu ruang, tetapi tak jarang batin kita atau orang lain hanyut jauh ke dunia yang maya.
Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat tengah menghadapi krisis komunikasi yang meresap hingga ke ranah personal. Kecanggihan berkomunikasi melalui teks, emoji, atau video call terus meningkat. Sebaliknya, kemampuan komunikasi di saat berhadapan langsung justru semakin luntur. Suasana di kafe, restoran, hingga meja makan keluarga adalah salah satu contohnya. Kepala-kepala menunduk, jari jemari terus sibuk menari di atas layar, dan percakapan nyata larut dalam keheningan yang kian asing.
Ketiadaan tatap muka ini berdampak besar pada kualitas interaksi. Tatap muka bukan sekadar melihat, melainkan juga merasakan. Saat bertatap muka, sorot mata kita menangkap bahasa tubuh, ekspresi mikro, dan nada suara yang tidak dapat ditransfer melalui media digital. Semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari makna yang utuh. Tanpa itu, pesan bisa disalahartikan, niat bisa salah dipahami, sehingga tak jarang dari proses komunikasi yang tak utuh tersebut akhirnya menghasilkan hubungan yang retak antarsesama.
Marilah jujur kepada diri sendiri, tak sedikit dari kita yang hanya setengah hadir saat berbicara dengan orang lain, sementara mata terpaku pada layar gawai. Kepala mungkin mengangguk, mulut menggumamkan “oh ya” atau “betul juga”, tetapi pikiran sudah terbang jauh dari percakapan. Pesan-pesan yang disampaikan penutur dan petutur menguap tanpa arah.
Tatap muka juga menunjukkan penghargaan yang tulus dalam berinteraksi. Hanya sekadar tatap muka, berarti kita sedang menyampaikan pesan tanpa suara bahwa seseorang itu berarti dan ucapannya layak untuk didengar. Sementara itu, kontak mata yang minim dalam percakapan sering menimbulkan kesan seolah-olah lawan bicara tidak benar-benar hadir. Perasaan tidak didengar dan kurang dihargai tumbuh dari tatapan yang tak bertemu. Dalam jangka panjang, hubungan antarindividu kehilangan kedalaman dan menjadi rapuh. Jumlah teman kita di media sosial mungkin mencapai ribuan. Namun, rasa sepi tetap menghantui meski berada di tengah keramaian karena tanpa kontak mata.
Kita perlu belajar untuk menempatkan gawai pada tempatnya. Gawai itu alat, bukan tuan. Gawai seharusnya melayani kita, bukan sebaliknya. Mengembalikan tatap muka dalam percakapan adalah salah satu langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas interaksi kita.
Lalu bagaimana caranya? Dimulai dari hal-hal sederhana. Saat makan bersama, letakkan semua gawai di tempat yang jauh dari jangkauan. Saat mengobrol, simpan gawai di dalam saku atau tas. Saat ada seseorang yang berbicara, tataplah matanya. Dengarkan dengan sepenuh hati.
Sebagai penegasan, ini bukan seruan untuk kembali ke zaman batu. Bukan pula untuk meninggalkan teknologi dan kemajuan. Ini merupakan seruan untuk bijak dalam menggunakan gawai.
Oleh karena itu, tantangan terbesar kita bukanlah untuk menguasai teknologi. Tantangan terbesar kita sejatinya untuk menguasai diri kita sendiri di tengah gempuran teknologi. Kehilangan tatap muka saat berbicara dengan lawan bicara menjadi cermin dari hilangnya kesadaran kita akan kehadiran orang lain. Tanpa kehadiran, percakapan hanyalah deretan kata tanpa jiwa, dan hubungan hanyalah rangkaian koneksi tanpa makna. Mari kita kembalikan tatap muka atau kontak mata, demi percakapan yang lebih hidup, dan hubungan yang lebih kuat.
Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sudah menjadi rahasia umum bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman utama bagi umat manusia dalam menjalani... selengkapnya
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Infaq Center Al-Bahjah ☺ Semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari selalu dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya bersama Ippho Santosa menggelar kajian yang bertajuk “Gebyar Dakwah Nabi Muhammad Saw Sebagai Pedagang:... selengkapnya
Jangan Takut Merusak Silaturahmi Berikut Tips Cerdas Mengingatkan Teman yang Bertindak di Luar Batas Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim apapun keadaannya. Siapapun yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam rangka memaksimalkan penyelenggaraan maulid akbar Nabi Muhammad Saw yang akan diselenggarakan pada Ahad, 6 Rabiul... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Praktik penjualan kulit hewan kurban saat hari raya Idul Adha adalah fenomena yang sering kita temui... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah pagi yang syahdu, saat matahari masih malu-malu menyingkapkan sinarnya, halaman di sekolah PAUD Terpadu Al-Bahjah itu... selengkapnya
Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.