● online
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- Silsilah Fiqih Praktis Jenazah....
- BUKU THAHARAH - BERSUCI - KARYA BUYA YAHYA....
- AQIDAH 50 KARYA BUYA YAHYA....
- Kosakata (Almufrodat) Sehari-Hari....
- المعين المبين....
- Sam'iyyat - Beriman Kepada yang Gaib....
Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna dari proses komunikasi. Pepatah lama menyebutkan bahwa mata sebagai jendela jiwa, dan memang dari sanalah kita belajar membaca rasa, menangkap emosi, serta merasakan kehadiran yang nyata.
Sayangnya, di tengah ledakan era digital, pertemuan tatap muka semakin terpinggirkan dan menjelma barang mewah. Tatapan tulus saat ini sering tergantikan oleh sorot mata hampa yang terpaku pada layar gawai. Kita pernah duduk bersama dengan kerabat atau kolega di satu ruang, tetapi tak jarang batin kita atau orang lain hanyut jauh ke dunia yang maya.
Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat tengah menghadapi krisis komunikasi yang meresap hingga ke ranah personal. Kecanggihan berkomunikasi melalui teks, emoji, atau video call terus meningkat. Sebaliknya, kemampuan komunikasi di saat berhadapan langsung justru semakin luntur. Suasana di kafe, restoran, hingga meja makan keluarga adalah salah satu contohnya. Kepala-kepala menunduk, jari jemari terus sibuk menari di atas layar, dan percakapan nyata larut dalam keheningan yang kian asing.
Ketiadaan tatap muka ini berdampak besar pada kualitas interaksi. Tatap muka bukan sekadar melihat, melainkan juga merasakan. Saat bertatap muka, sorot mata kita menangkap bahasa tubuh, ekspresi mikro, dan nada suara yang tidak dapat ditransfer melalui media digital. Semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari makna yang utuh. Tanpa itu, pesan bisa disalahartikan, niat bisa salah dipahami, sehingga tak jarang dari proses komunikasi yang tak utuh tersebut akhirnya menghasilkan hubungan yang retak antarsesama.
Marilah jujur kepada diri sendiri, tak sedikit dari kita yang hanya setengah hadir saat berbicara dengan orang lain, sementara mata terpaku pada layar gawai. Kepala mungkin mengangguk, mulut menggumamkan “oh ya” atau “betul juga”, tetapi pikiran sudah terbang jauh dari percakapan. Pesan-pesan yang disampaikan penutur dan petutur menguap tanpa arah.
Tatap muka juga menunjukkan penghargaan yang tulus dalam berinteraksi. Hanya sekadar tatap muka, berarti kita sedang menyampaikan pesan tanpa suara bahwa seseorang itu berarti dan ucapannya layak untuk didengar. Sementara itu, kontak mata yang minim dalam percakapan sering menimbulkan kesan seolah-olah lawan bicara tidak benar-benar hadir. Perasaan tidak didengar dan kurang dihargai tumbuh dari tatapan yang tak bertemu. Dalam jangka panjang, hubungan antarindividu kehilangan kedalaman dan menjadi rapuh. Jumlah teman kita di media sosial mungkin mencapai ribuan. Namun, rasa sepi tetap menghantui meski berada di tengah keramaian karena tanpa kontak mata.
Kita perlu belajar untuk menempatkan gawai pada tempatnya. Gawai itu alat, bukan tuan. Gawai seharusnya melayani kita, bukan sebaliknya. Mengembalikan tatap muka dalam percakapan adalah salah satu langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas interaksi kita.
Lalu bagaimana caranya? Dimulai dari hal-hal sederhana. Saat makan bersama, letakkan semua gawai di tempat yang jauh dari jangkauan. Saat mengobrol, simpan gawai di dalam saku atau tas. Saat ada seseorang yang berbicara, tataplah matanya. Dengarkan dengan sepenuh hati.
Sebagai penegasan, ini bukan seruan untuk kembali ke zaman batu. Bukan pula untuk meninggalkan teknologi dan kemajuan. Ini merupakan seruan untuk bijak dalam menggunakan gawai.
Oleh karena itu, tantangan terbesar kita bukanlah untuk menguasai teknologi. Tantangan terbesar kita sejatinya untuk menguasai diri kita sendiri di tengah gempuran teknologi. Kehilangan tatap muka saat berbicara dengan lawan bicara menjadi cermin dari hilangnya kesadaran kita akan kehadiran orang lain. Tanpa kehadiran, percakapan hanyalah deretan kata tanpa jiwa, dan hubungan hanyalah rangkaian koneksi tanpa makna. Mari kita kembalikan tatap muka atau kontak mata, demi percakapan yang lebih hidup, dan hubungan yang lebih kuat.
Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Saat Kontak Mata Hilang, Makna Pembicaraan Terbuang
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam pengambilan keputusan, selalu terdapat perbedaan pendapat yang beragam. Hal ini sering terjadi dan sulit dihindari. Tak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia di muka bumi karena kesempurnaannya melebihi makhluk... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Curhat bisa menjadi suatu gunjingan dan bisa juga bukan. Artinya, terdapat dua tipe curhat, yaitu curhatan untuk... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan menjelang Hari Raya Iduladha yakni mengenai kebolehan orang yang hendak melakukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada kegiatan Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah 1444 H kemarin, sangat banyak ilmu dan nasihat yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya
sumber gambar: Suara Cirebon Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sunan Gunung Djati, atau yang dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah, merupakan salah satu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Rabu 6 Jumadil Ula 1444 H atau bertepatan dengan 30 November 2022, Guru Mulia Sayyidi Syeikh... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ada pemandangan langka pada acara Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah Buyut Minggu (27/11/2022). Sayyid Husein Haidar... selengkapnya
Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000
Saat ini belum tersedia komentar.