Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menjaga Pandangan dan Pendengaran: Dua Pintu yang Bisa Merusak Hati

Menjaga Pandangan dan Pendengaran: Dua Pintu yang Bisa Merusak Hati

Diposting pada 29 Mei 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 1.324 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada zaman sekarang, setiap orang dapat mengakses apa pun dengan bebas melalui peranti teknologi. Tidak sedikit pula melalui teknologi tersebut kemaksiatan menjadi mudah dijangkau oleh hamba-hamba yang tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Medsos (media sosial) dan internet bisa menjadi sarana maksiat mata dan telinga. Sisi negatif ini dapat menyerang siapa pun tanpa pandang bulu, karena keduanya seakan telah menjadi kebutuhan dasar manusia. Menyebabkan manusia tidak sadar akan bahayanya hingga akhirnya terjerumus dalam kehinaan.

Kemajuan teknologi ini menjadikan urusan manusia semakin mudah, sehingga seharusnya menjadikan manusia semakin mudah mendekat juga kepada Allah. Sebab, banyak sarana yang dijadikan untuk ibadah melalui teknologi ini. Oleh karena itu, teknologi ini bagaikan dua mata pisau yang tajam. Jika digunakan untuk kebaikan akan mendatangkan kemaslahatan. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan akan mendatangkan bahaya berkepanjangan.

Sementara itu, godaan tak hanya datang dari internet, tapi juga dari kehidupan manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial bisa menjadi ujian bagi manusia lainnya, terutama saat ia tidak pandai menjaga hati. Misalnya, ketika seseorang di dekat kita diberi kelebihan, itu merupakan bagian dari ujian; apakah menjadikan kita dengki atau tidak. Dan ketika ia diberi kekurangan; apakah menjadikan kita merendahkannya atau tidak. Bahkah terhadap diri sendiri juga adalah ujian; apakah kita bijak dalam menyikapi kelebihan dan kekurangan diri sendiri atau tidak.

Jika kita tidak pandai menjaga hati, semua itu berpotensi untuk mengotori dan merusak hati. Bahaya ini selalu mengintai di mana saja kita berada. Baik saat sendiri atau ketika bersama dengan orang lain. Untuk mengantisipasinya, setidaknya kita perlu menjaga hati melalui pintu-pintunya, yaitu mata dan telinga.

Dua Pintu Hati

Hati memiliki dua pintu utama, yaitu mata dan telinga. Mata dan telinga merupakan saluran utama untuk informasi masuk ke dalam hati. Dibandingkan dengan indra lain, mata dan telinga lebih mudah tersambung ke hati. Mata memandang dan telinga mendengar lalu diterima hati begitu saja Istilah mengatakan, “Dari mata turun ke hati.”. Tak jarang hati langsung bisa menanggapi dan menyimpulkan. Hal-hal baik yang masuk melalui keduanya akan berdampak positif. Sebaliknya, hal-hal buruk yang masuk melalui keduanya akan merusak hati.

Kalau hati sudah rusak, ketenangan hidup akan sangat sulit dicapai. Ini karena hati bagaikan raja dari tubuh kita, jika kecenderungan hati buruk gara-gara yang dikonsumsi selalu negatif maka segalanya akan mengarah pada ketidakbaikan. Dan ini sangat mengganggu keseimbangan hidup.

Buya Yahya pernah mengutip nasihat Imam Al-Haddad,

“Jaga hatimu dengan menjaga pintu-pintunya yaitu pandangan dan pendengaran.”

Oleh karena itu, sangat penting sekali menjaga dua pintu hati ini. Jangan sampai kita mengotori hati kita sendiri gara-gara membiarkan mata dan telinga kita liar.

Pentingnya Menjaga Pandangan dan Pendengaran

Buya Yahya menjelaskan,

“Pintu untuk menuju hati adalah pandangan dan pendengaran, kalau seseorang tidak menjaga pandangan dan pendengarannya maka yang rusak adalah hatinya.”

Kita paham dari penjelasan tersebut satu hal; penting sekali untuk menjaga hati agar selalu bersih. Dan hampir mustahil hati bersih jika seseorang tidak menjaga pandangan dan pendengarannya. Sebab orang yang tidak menjaga pandangan dan pendengarannya mudah terjangkit kekotoran hati. Seperti dengki, riya, sombong, dan sebagainya. Apa lagi jika dasar hatinya sudah kotor, segala yang masuk melalui mata dan telinga yang tidak difilter akan semakin mengotori hatinya.

Banyak kekacauan yang terjadi disebabkan kotornya hati. Persaingan yang tidak sehat, perendahan terhadap martabat orang lain, cinta dunia, perundungan, pengkhianatan, kemunafikan, dan masih banyak lagi. Belum lagi kerusakan yang menimpa diri orang yang hatinya kotor; tidak percaya diri, overthinking, putus asa, dan kerusakan mental lainnya. Semua ini bersumber dari kotornya hati, dan hati yang kotor lebih banyak dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui jalur eksternal, yaitu mata dan telinga.

Selain itu Buya Yahya mengingatkan, jangan sampai setelah kita melakukan kebaikan, kita juga melakukan kesalahan yang mungkin kebaikan itu tidak cukup untuk mengganti kesalahan yang kita perbuat.

Bisa saja karena tidak menjaga pandangan dan pendengaran, kebaikan yang kita lakukan tidak cukup untuk membayar kesalahan yang disebabkan pandangan dan pendengaran yang tidak terjaga. Seperti tidak menjaga mata dari melihat yang tidak diperkenankan dan menggunjing ketika sedang berpuasa. Tanpa disadari, itulah yang akan menghabiskan pahala puasa. Atau seperti bersedekah tapi menyakiti perasaan orang yang diberi. Kebaikan sedekahnya menjadi sia-sia saja.

Jika Hati Sudah Kotor

Hati yang sudah kotor akan merusak ketenangan hidup. Sekali lagi, hati ibarat raja di dalam diri. Ialah yang akan memerintahkan mata untuk melihat, memerintahkan telinga untuk mendengar, memerintahkan tangan untuk bertindak, dan memerintahkah kaki untuk melangkah. Jika hati kenal Allah maka perintah-perintahnya akan menuju kepada Allah. Sebaliknya, jika hati tidak kenal Allah maka perintah-perintahnya akan menjauhkan dirinya dari Allah. Kalau sudah jauh dari Allah mustahil ketenangan hidup akan dicapai.

Jauh dari Allah menyebabkan seseorang jauh dari ketenangan sejati, baik ketika bersama orang lain maupun ketika sendiri. Itulah bahaya yang ditimbulkan dari hati yang tidak bersih.

Bahayanya lagi, Buya Yahya menjelaskan bahwa kalau hati sudah kotor bisa mendatangkan kejahatan-kejahatan meski dalam kesendirian. Pada zaman ini, saking mudahnya kemaksiatan bisa dilakukan oleh seseorang yang mengunci diri sendirian di dalam kamar dengan hanya bermodalkan layar gadget.

Buya Yahya pernah mengutip perkataan Imam Al-Ghazali,

“Membersihkan hati adalah fardu ain di atas fardu ain. Shalat yang hebat tapi tidak khusyuk dan ikhlas tidak akan diterima Allah. Berderma miliaran tapi tidak ikhlas tidak akan diterima Allah. Demikian juga puasa. Maka kuncinya adalah hati yang sehat (bersih).”

Oleh karena itu, jagalah hati kita dengan melakukan ikhtiar batin dan ikhtiar lahir. Ikhtiar batin dengan mendekatkan diri kepada Allah dan meminta perlindungan dari-Nya. Ikhtiar lahir dengan senantiasa melakukan uzlah, mengalihkan pandangan dan pendengaran, sibuk mengoreksi diri, dan melihat orang lain dengan pandangan rahmat.

Semoga Allah membersihkan jiwa kita sehingga kita tergolong dalam kategori orang beruntung yang disebutkan dalam QS. As-Syams ayat 9: Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Amin.

 

Referensi: Youtube Al-Bahjah TV

 

Penulis: Iim Ainunnaim Muhammad

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menjaga Pandangan dan Pendengaran: Dua Pintu yang Bisa Merusak Hati

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
(Puisi) Kesunyian, Kesepian, dan Kesendirian
20 September 2025

Kesunyian Di menara doa yang tinggi, aku duduk menahan gema hatiku sendiri. Langkah-langkah manusia menjauh, riuh dunia perlahan lenyap, meninggalkanku... selengkapnya

Apakah Kebakaran di Los Angeles Balasan atas Kekejaman di Gaza?
16 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menelisik peristiwa yang terjadi di Palestina, setidaknya ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya. Pertama adalah rakyat... selengkapnya

Mengapa Anda Harus Menyambut Bulan Kelahiran Manusia Pilihan?
3 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada tanggal 06 Muharram 1446 H/12 Juli 2024, podcast “Satu Hati” akan menggelar episode istimewa yang bertajuk... selengkapnya

Allah Bersumpah dengan Pena: Simbol Ilmu, Amal, dan Medium Peradaban
8 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Selembar kertas tampak sederhana, rapuh, bahkan sering terabaikan. Namun di balik kesederhanaannya, ia adalah saksi bisu perjalanan ilmu,... selengkapnya

Buya Yahya Menjawab: Bagaimana Menyikapi Adanya Dugaan Kecurangan Hasil Pemilu?
19 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masyarakat Indonesia telah melangsungkan Pesta Demokrasi 5 tahun sekali yang digelar pada tanggal 14 Februari 2023. Setelah... selengkapnya

Metode Pendidikan Terbaik Itu Ada pada Nabi Muhammad Saw
16 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sejatinya umat Islam telah memiliki suri teladan yang harus diikuti. Ketika kita mengikutinya dalam hal apa pun,... selengkapnya

Hakikat Ketakwaan
3 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Takwa merupakan inti dari perintah Allah Swt kepada hamba-Nya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ‘yang paling... selengkapnya

Awas! Hijab Antara Murid Dengan Guru, Penyebab Sulitnya Mendapatkan Ilmu
14 Mei 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu ikhtiar untuk mendapatkan ilmu. Namun bagaimana jika antara guru dengan... selengkapnya

Ayo Belajar Shalat
29 Maret 2024

Judul Buku      : Silsilah Fiqih Praktis Shalat Penulis             : Buya Yahya Penerbit           : Pustaka Al-Bahjah Tebal Buku      : 156 Halaman... selengkapnya

Menjaga Pandangan dan Pendengaran: Dua Pintu yang Bisa Merusak Hati

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: