● online
- BUKU PENGANTAR BAHASA ARAB....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na....
- النجاح في تكملة المفتاح....
- FIQIH SHOLAT KARYA BUYA YAHYA....
- Fiqih Shalat Berjamaah....
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus ....
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita....
Bolehkah Syair dan Berpuisi dalam Islam? Begini Penjelasan Buya Yahya

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Syair atau puisi merupakan untaian kata-kata yang dibuat seseorang dan berisi ungkapan isi hati, pikiran, atau perasaan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sehingga membuat syair atau berpuisi dianggap salah satu sarana untuk mengekspresikan pengalaman yang dialaminya. Baik itu pengalaman indah, berkesan, dan lain sebagainya. Namun, tidak sedikit juga ada orang-orang yang memiliki pandangan bahwa syair atau puisi adalah haram. Salah satu dasar yang mengharamkan syair adalah karena terdapat hadist Nabi yang menyebutkan bahwa lebih baik perut seseorang dipenuhi nanah daripada dengan syair-syair.
Pada salah satu kajian yang rutin diselenggarakan, Buya Yahya membahas terkait persoalan syair ini. Sebelum menjawab mengenai halal atau haramnya syair, Buya Yahya memberikan penjelasan untuk senantiasa mengurai secara luas terhadap satu permasalahan terlebih dahulu, agar tidak ada orang yang mudah langsung mengatakan haram hanya ketika baru menemukan satu hadist.
“Kalau membaca hadist Nabi, itu jangan serta ketemu satu hadist, kemudian disodorkan kepada orang dengan pemahaman satu hadist itu saja. Sementara hadist itu saling berkaitan dan saling melengkapi dengan hadist yang lainnya, juga ada sebab-sebabnya hadist itu keluar,” ujar Buya Yahya.
Masih menurut Buya Yahya, adanya hukum yang berbeda sering kali juga disebabkan oleh hanya dengan memahami satu hadist saja. Sehingga muridnya Imam Malik, yakni Ibnu Wahab mengatakan, hadist itu bisa menjadi menyesatkan, kecuali di orang yang mengerti. Oleh karenanya jangan hanya asal menghadirkan hadist karena itu akan membahayakan, termasuk dalam urusan halal dan haramnya syair atau puisi ini.
Buya Yahya mengatakan bahwa hadist mengenai perut yang dipenuhi nanah lebih baik daripada dipenuhi syair adalah sahih. Namun, kita harus melihat bagaimana kisah hadist tersebut, sebab keluarnya, dan seterusnya. Sedangkan terdapat banyak hadist sahih juga yang mengatakan Nabi senang dengan syair, Nabi pernah meminta untuk menyenandungkan syair kepada sahabatnya, dan lain sebagainya. Sehingga dari kedua kisah tersebut, yang dimaksud syair yang haram adalah tentu syair-syair yang dibuat dengan tujuan-tujuan tidak baik serta mengandung kemudharatan.
“Jadi, syair yang jelas haram, termasuk hadist yang mengatakan lebih baik perutnya dipenuhi nanah daripada syair adalah syair yang menjadikan orang lupa kepada Allah Swt, menjadi lupa kewajiban, melalaikan. Apa lagi syair yang mencaci Nabi, mencaci Allah Swt, mencaci saudaranya itu syair-syair yang diharamkan. Tapi ada juga syair-syair yang menyanjung Allah Swt, menyanjung Nabi, mengajak kepada kebaikan itu adalah boleh. Maka orang yang mengatakan syair adalah haram dengan hanya membawa satu hadist itu saja jelas jauh dari kebenaran,” tegas Buya Yahya.
Oleh karena itu, orang yang mengatakan syair atau puisi adalah haram itu akan benar jika ditujukan kepada syair atau puisi yang tidak mengandung kebaikan, syair yang dapat memecah belah umat, mengandung caci maki, dan seterusnya. Sebab dikisahkan oleh Buya Yahya, syair sudah umum digunakan sebagai sarana-sarana kebaikan. Baik sejak zaman dahulu dan dari masa ke masa. Sehingga muncul banyak syair-syair atau penyair-penyair terbaik di zamannya.
Bahkan dikatakan Nabi menyukai Hasan bin Tsabit yang kemudian dijadikan sebagai penyairnya karena berkat kepandaiannya membuat syair dan menyenandungkan syair.
“Syair-syair, puisi-puisi untuk ibunda, menyemangati, dan pujangga-pujangga yang berpuisi ya sah-sah saja. Makannya jangan gampang memotong hadist. Sehingga ketemu hadist itu sehingga langsung mengharamkan. Jelas ya… syair itu diperkenankan bahkan dianjurkan jika itu untuk menyanjung Baginda Nabi, untuk memudahkan kita menghapalkan amalan-amalan kebaikan, menyanjung sesama, mengajak berjuang, dan seterusnya,” ucap Buya Yahya.
Oleh karena itu, marilah sama-sama menjaga keinsyafan untuk tidak serta merta memotong hadist dan membawakannya untuk dihadapkan pada sesuatu yang sebenarnya terdapat kebaikan dan diperbolehkan sehingga kita tidak menisbatkan Nabi kepada pelaku keharaman.
Wallahu a’lam bisshowab
Sumber: Youtube Al-Bahjah TV
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Tags: berpuisi, Buya Yahya, Puisi, Syair
Bolehkah Syair dan Berpuisi dalam Islam? Begini Penjelasan Buya Yahya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam pengambilan keputusan, selalu terdapat perbedaan pendapat yang beragam. Hal ini sering terjadi dan sulit dihindari. Tak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Baru-baru ini aktivitas “cek khodam” ramai di media sosial, khususnya di live TikTok dan Instagram. Pengguna media... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di bawah langit Madinah yang jernih, di tengah kehidupan yang sederhana namun penuh makna, tersembunyi sebuah kisah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebuah sudut yang hening namun penuh makna, tepatnya di Jl. Pangeran Cakrabuana No. 179 Cirebon, berdirilah sebuah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan suci Ramadan akan segera tiba. Bulan mulia yang membawa banyak keberkahan, rahmat, pengampunan, dan kebaikan yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Krisis karakter yang melanda generasi muda saat ini menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu, menyisakan harapan dan tujuan yang belum sempat dicapai. Harapan yang seharusnya terwujud... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Fenomena stres dan depresi bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia. Namun pada zaman modern dengan tekanan hidup yang... selengkapnya
Sang surya mulai menampakkan sinarnya pertanda hari mulai merangkak siang. Teguh duduk termangu di teras rumahnya. Matanya mendelik ke arah... selengkapnya
Di antara hal yang disepakati oleh para ulama bahwa agama Islam adalah agama yang relevan untuk setiap zaman dan di… selengkapnya
Rp 90.000 Rp 110.500Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000 Rp 95.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000
Saat ini belum tersedia komentar.