Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman

Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman

Diposting pada 27 Mei 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 697 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pesantren sering dipandang sebagai sarana pendidikan yang hanya membekali santrinya dengan ilmu keagamaan namun tidak menjadikan ia siap menyongsong apa-apa yang dibutuhkan kelak di kehidupannya. Padahal, di balik peci dan sarung itu terdapat potensi yang menjanjikan dan berpeluang besar menjadikan cita-cita “kemandirian umat” bukan lagi sebatas angan-angan. Terlebih, di negara Indonesia ini mayoritas pemeluk agamanya adalah Islam, maka sudah sepatutnya orang-orang Islam berjaya di buminya sendiri. Menjadi ironis, ketika justru umat Islam malah menggantungkan dirinya kepada orang lain.

Potensi santri menjadi pengusaha, pembisnis, dan sebagainya sangat bisa terwujud dengan berbagai program dan ikhtiar-ikhtiar yang mengawinkan nilai-nilai spiritual dengan kewirausahaan. Inilah kemudian yang disebut dengan konsep Islam Wasathiyah. Konsep ini menggunakan pendekatan melalui pentingnya keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dewasa ini, telah tumbuh subur pesantren-pesantren yang mengusung konsep pendidikannya sebagai demikian. Bahkan, pondok pesantren yang sangat erat memegang tradisi konservasi klasiknya sebenarnya telah lebih dulu melakukannya. Seperti halnya pondok-pondok pesantren yang terletak di kampung atau pedesaan, kebanyakan apa-apa yang dibutuhkan santrinya adalah hasil dari usaha santrinya itu sendiri. Santri benar-benar bisa mengolah dan mengembangkan kompetensinya yang dapat berguna kelak ketika mereka terjun ke masyarakat. Seperti berkebun dengan mengolah lahan atau sawah milik pondok pesantren, berternak, mengelola koperasi pondok, sampai memasak kebutuhan pangan secara mandiri, dan lain sebagainya. Namun, itu saja tidak cukup, kaum sarungan mesti melebarkan potensinya semakin luas. Hasil berkebun dan berternak tidak cukup hanya berputar di lingkungan pondok. Produk dan hasilnya mesti dikenalkan kepada masyarakat, pasar, dan bahkan masuk supermarket dan marketplace. Serta banyak lagi inovasi-inovasi yang bukan untuk menghapus tradisi klasik, tetapi justru mengembangkannya menjadi lebih luas.

Pengembangan dan usaha menjadikan santri dan pondok pesantren sebagai jawaban atas perubahan zaman tentu tidak bisa dilakukan hanya oleh santri dan pondok pesantren saja, tetapi perlu kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah melalui beberapa kementeriannya, pengusaha-pengusaha Muslim yang menempatkan programnya di pondok pesantren, dan lain sebagainya, termasuk alumni dan juga pengurus pondok yang dapat turut serta menjadi pendorong, inisiator, dan sumbangan-sumbangan idenya mengenai spirit ini. Niscaya jika hal ini dilakukan, santri dan pondok pesantren benar-benar akan menjadi pengambil peran strategis dalam menjawab tantangan ekonomi global.

Pondok pesantren yang bertemu entrepreneurship tidak menjadikan santri lupa akan jati dirinya, tetapi santri mengembangkan potensi besarnya untuk kesejahteraan diri sendiri dan masyarakat. Konsep kemandirian ekonomi menjadi hasil akhir yang akan didapatkan dari perkawinan ini. Terlebih fondasi-fondasi tersebut dibangun dengan nilai-nilai keislaman. Seperti kejujuran, keadilan, kebermanfaatan, dan lain sebagainya. Sungguh keluhuran dan keluhungan yang amat dicita-citakan oleh banyak pengusaha dan pembisnis yang telah sukses sekalipun.

Secara historis, kemandirian umat dan tokoh-tokoh penggerak ekonomi dalam Islam lagi-lagi bukan sesuatu yang utopis. Sebut saja pada zaman Nabi ada Abdurrahman bin Auf, Khadijah binti Khuwailidi, Ustman bin Affan, Thalhal ibn Ubaydillah, dan lain sebagainya hingga pada saat ini pun tak kalah kurang pembisnis dan pengusaha dari kalangan Muslim yang dapat dijadikan figur dalam berwirausaha dan berbisnis. Oleh karena itu, kemandirian ekonomi umat bukanlah sesuatu yang jauh dari angan-angan, namun sesuatu hal yang tinggal digapai karena sejatinya telah ada di depan mata.

Pesantren dan entrepreneurship bukan hanya sebatas tren apa lagi ceremony, tapi bagian dari tradisi umat Islam yang mesti terus dikembangkan dan berjalan dengan kebutuhan zaman. Dari koperasi santri ke masyarakat sekitar, masyarakat sekitar ke digital, digital ke nasional, dan nasional ke dunia. Serta banyak lagi sektor-sektor lainnya yang dapat menjadi pilar ekonomi umat. Pesantren bertemu entrepreneurship juga bukan semata-mata solusi pragmatis kesejahteraan santri dan masyarakat, tetapi manifestasi dari visi Islam rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu A’lam Bisshowab

 

Penulis: Idan Sahid

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Manajemen Waktu ala Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazalie
23 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Manusia diberi nikmat oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan waktu yang begitu panjang dalam satu harinya, yakni... selengkapnya

Launching Buku: Oase Iman “Refleksi Problematika Umat”
1 Oktober 2022

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kemeriahan rangkaian maulid dan silaturahmi akbar Al-Bahjah 1444 H kian terasa menjelang hari puncak, besok Ahad,02... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Problem Moral dan Masa Depan Bangsa
19 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata.... selengkapnya

Apa Itu Nikah Batin dan Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
26 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang dalam hidup. Mengandung makna bahwa pernikahan dilakukan dari mulai akad sampai... selengkapnya

Muslimah Begitu Berharga, Maka Ia Dijaga
13 Maret 2024

  Islam sebagai agama yang sempurna, sejak awal telah mendeklarasikan hak-hak wanita secara sempurna pula. Sejak saat itu, wanita muslimah... selengkapnya

Menghadapi Depresi Berat, Bolehkah Bunuh Diri?
1 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Manusia terkadang mengalami depresi berat yang sulit untuk diselesaikan. Reaksi setiap orang dalam menghadapinya berbeda-beda, ada... selengkapnya

Sisa Make Up Masih Ada, Sahkah Wudunya?
17 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Make up atau kosmetik sudah menjadi kebutuhan dasar setiap wanita. Fitrah dari seorang wanita yang ingin tampil... selengkapnya

Pandai Menyikapi Kebencian sebagai Kunci Hidup Bahagia
18 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebencian adalah ketidaksenangan terhadap sesuatu yang bersemayam di hati. Kebencian yang menetap terlalu lama dalam hati seseorang akan... selengkapnya

Pergantian Tahun Adalah Renungan Muhasabah Diri untuk Menyongsong Tahun Depan yang Lebih Baik
28 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Beberapa hari menjelang akhir tahun ini kita akan menyaksikan banyak perayaan, panggung gembira, pesta, atau apa pun... selengkapnya

Ketika Pesantren Bertemu Entrepreneurship, Pengembangan Pesantren yang Menjawab Perkembangan Zaman

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: