fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Mengaplikasikan Makna Transendental Al-Qur’an bagi Pemuda pada Era Digital

Mengaplikasikan Makna Transendental Al-Qur’an bagi Pemuda pada Era Digital

Diposting pada 29 April 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 375 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi berbagai macam persoalan yang dialami manusia. Baik itu berupa masalah kehidupan, kemiskinan, dan lain sebagainya. Pada posisi ini, Al-Qur’an sebagai petunjuk memberikan solusi terhadap manusia untuk menghadapi masalahnya serta mengarahkan manusia ke satu cara hidup tertentu. Memang benar, Al-Qur’an telah final secara cakupan ayatnya. Benar pula bahwa Al-Qur’an telah disistematisasi dan diatur kerangka ayatnya hingga menjadi satu versi yang baku. Hal itu senada dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Isra: 115:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya:

“Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra: 115)

Akan tetapi kebutuhan umat manusia, khususnya bagi kaum pemuda belum tersahuti hanya dengan sistematisasi, percetakan, dan pendistribusian saja. Maka ada kebutuhan mendasar lagi yaitu untuk menangkap pesan atau hikmah serta isi petunjuk dari Al-Qur’an secara persis, terperinci, dan komprehensif.

Dengan adanya fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk itulah yang membedakan Al-Qur’an dengan filsafat, karena Al-Qur’an adalah kitab yang menjelaskan dan dimudahkan untuk dipahami serta diingat. Sehingga timbal balik yang akan didapatkan oleh manusia dalam memahami isi petunjuk Al-Qur’an adalah menyinari akalnya dan menggerakkan hatinya.

Allah Swt menurunkan Al-Qur’an tiada lain agar makna-maknanya diserap dan rahasia-rahasianya diketahui oleh manusia. Salah satu isi penting yang dapat kita temukan di Al-Qur’an adalah Allah Swt menciptakan manusia supaya menjadi khalifah di bumi. Dari sinilah muncul pertanyaan bagaimana memajukan harkat dan martabat manusia dalam rangka mengemban khalifah di muka bumi ini? Suatu pertanyaan mendasar untuk kita sebagai manusia. Dalam hal ini tentu saja jawabannya tidak lain adalah kaum remaja atau pemuda yang akan meneruskan estafet di masa yang akan datang. Sebagaimana ungkapan pepatah dalam bahasa Arab “Inna fi yadi al-syubban amr al-ummah, wa fi iqdamiha hayataha,”  yang artinya sesungguhnya pada tangan pemuda terletak urusan umat ini dan pada kemajuan mereka terletak hidupnya umat ini. Baca buku-buku karya Buya Yahya dan perbaharui pengetahuan Anda setiap harinya. Kunjungi tautan berikut: https://pustakaalbahjah.com/katalog

Tak dapat dipungkiri memang kenyataan itulah yang sedang kita hadapi, terlepas dari berbagai masalah yang sedang ada di negeri tercinta ini. Pada dasarnya sebagaimana di dalam kamus Mu’ajamul Arab terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara dua term pemuda dalam kata bahasa arab yaitu antara  شاب  dan فتى. Penggunaan dan pemilihan kata sangat penting untuk kita telusuri guna mendapatkan kesesuaian makna yang tepat untuk kaum pemuda sehingga mereka dapat meresapi dan menghayati serta merefleksikan apa yang termuat di dalam kata tersebut.

Kata فتى ternyata lebih kompleks maknanya daripada kata شاب, di dalam kata yang pertama mengandung arti bahwa pemuda yang permulaan masa remajanya di antara مراهقة (masa puber) dan رجولة (kedewasaan) sedangkan شاب artinya seseorang yang sudah baligh, akan tetapi belum mempunyai karakter kedewasaan. Oleh karena itulah Al-Qur’an menggunakan kata fataa di dalam beberapa ayatnya. Di sinilah makna transendental dibutuhkan, untuk menginterpretasikan di kehidupan manusia, khususnya bagi kaum remaja.

Makna transendental yang dimaksud adalah suatu kategori yang bersifat abstrak yang memiliki aspek kerohanian dan spiritual. Disadari atau tidak, secara alamiah manusia dalam tinjauan kasus ini remaja sentralnya mendekati apa yang baik dan menghindari apa yang buruk bagi mereka. Telaah ini mengasumsikan integrasi gerak di masa yang akan datang, bagaimana menurut pandangan Al-Qur’an bagi remaja dalam melihat kenyataan di era digital ini.

Solusi yang dianjurkan oleh Al-Qur’an di antaranya ialah tafaqquh fiddin (bersungguh-sungguh di dalam agama). Suatu problem fundamental yang sedang dialami oleh kaum remaja. Arus globalisasi dan masyarakat agrikultural membuat para remaja seakan menganggap belajar agama sebagai yang kolot dan kuno. Padahal di era serba digital ini, kekhawatiran muncul dengan banyaknya distorsi di dalam konten digital. Dalam konteks ini, Nabi sudah memprediksi dengan sabdanya yang berbunyi antum a’lamu bisyuuni dunyakum (kalian lebih tahu tentang urusan/perkara dunia kalian). Maka untuk mencegah pendistorsian di era digital ini perlu adanya spiritual dan mengaplikasikan makna transendental dalam tafaqquh fiddin yang harus dimasukkan dalam era digital berupa mengisi medsos dengan ajaran Al-Qur’an yang sesuai kaidahnya.

Ini penting diimplementasikan mengingat kita sudah tidak hidup di era Nabi yang mana jika dahulu para sahabat menghadapi musuh demi memperjuangkan agama, maka tugas kita sekarang bagaimana caranya agar Al-Qur’an tetap eksis dan dilestarikan sampai hari kiamat nanti. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. At Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ

Artinya:

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.

 

Tafsir Ringkas Kemenag RI

Dalam asbabun nuzul-nya yang dijelaskan pada kitab Tafsir Jalalain, bahwa Nabi sebetulnya ingin semua masyarakat berperang bersama Nabi. Akan tetapi hal itu tidak dianjurkan dan seyogianya ada suatu kelompok yang tetap tinggal. Mengingat adanya masyarakat Badui yang membutuhkan ilmu agama. Menurut qoidah ulumul quran terdapat kaidah yang berbunyi al ibrah bikhusul lafdhi la biumumil lafdhi (ibrah dengan kekhususan lafadz bukan keumuman lafadz). Dengan menggunakan kaidah tersebut sangat memungkan bila yang dimaksud kelompok tersebut adalah para cendekiawan dan sebagian golongan remaja. Atas dasar itu seberapa besar usaha kita sebagai kaum remaja dapat memantaskan diri untuk menjadi golongan tersebut dan mengupayakan di era digital ini.

Penulis: Rohmat Yazid Nashiruddin

 

Daftar Pustaka

Prof. Dr. Hasan Asari, MA, Esai-Esai Religiositas Umat, edisi revisi. (Medan: Perdana Publihing, 2020) hal. 13

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Bagaimana Berinteraksi dengan Al Quran/Penerjemah: Kathur Suhardi, edisi Indonesia (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2000.) hal. 39-40

Arie Sukma Jaya, Integrasi Gerak Transendeal-Mekanis Mengapa Gerak Ada. (Rasi Terbit: 2020) hal.95

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan .

Tags: , ,

Bagikan ke

Mengaplikasikan Makna Transendental Al-Qur’an bagi Pemuda pada Era Digital

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Mengaplikasikan Makna Transendental Al-Qur’an bagi Pemuda pada Era Digital

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: