● online
Memungut Hikmah di Bulan Rajab: Perjalanan dari Akal menuju Hati

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Rajab sering kali hadir menyapa kita dengan suasana yang tenang namun penuh wibawa. Di tengah deru kehidupan modern yang serba cepat, kehadiran bulan haram ini seolah menjadi “polisi tidur” yang memaksa kita untuk sedikit memperlambat laju kendaraan hidup. Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, ia adalah penanda bahwa Ramadan sudah di ambang pintu. Namun, bagi kita yang mau sedikit berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, Rajab bukan sekadar angka di kalender Hijriah. Ia adalah sebuah undangan untuk “pulang”; pulang dari segala kerumitan logika manusia menuju ketenangan iman yang hakiki.
Sebagai seseorang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku kuliah, bergelut dengan teks-teks akademik, teori-teori aqidah, hingga dialektika filsafat, sering kali merasa terjebak dalam labirin pertanyaan yang tak berujung. Kita, para penuntut ilmu, terkadang tanpa sadar mencoba membedah kebesaran Tuhan hanya dengan pisau logika yang terbatas. Kita mencoba memahami kekuasaan-Nya melalui batasan-batasan silogisme dan premis-premis rasional. Namun, di bulan Rajab ini, melalui momentum agung Isra’ Mi’raj, kita seolah diingatkan kembali bahwa ada titik di mana akal harus berhenti berlari, dan membiarkan iman yang mengambil alih kemudi.
Perjalanan Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa hingga menembus Sidratulmuntaha dalam waktu satu malam adalah sebuah tamparan lembut bagi ego intelektual kita. Kejadian itu melampaui segala hukum fisika, menabrak dinding rasionalitas yang kita agungkan, dan melampaui dimensi ruang serta waktu yang kita pahami. Di sinilah letak indahnya: Islam tidak pernah menyuruh kita membuang akal ke keranjang sampah. Namun Islam mengajarkan kita di mana seharusnya akal itu bersujud.
Sebagai akademisi, kita sering kali merasa bahwa segala sesuatu harus bisa dijelaskan secara empiris atau rasional agar bisa diterima sebagai kebenaran. Namun, Rajab mengajarkan kita tentang iman bil ghaib (beriman kepada yang gaib). Sebagaimana para filsuf Muslim terdahulu mencoba mencari harmoni antara wahyu dan rasio, peristiwa Rajab menunjukkan bahwa kebenaran tertinggi terkadang tidak bisa dicapai hanya dengan diskusi panjang di ruang kelas atau melalui catatan kaki yang rumit, melainkan dengan ketundukan total di atas sajadah di keheningan malam.
Bulan Januari dan Februari sering kali dianggap sebagai bulan “perencanaan” dan “target” dalam kalender Masehi. Kita seolah-olah merasa mampu mengendalikan segalanya dengan strategi yang matang. Kita terjebak dalam euforia resolusi Tahun Baru dengan rentetan daftar keinginan yang panjang. Kita lupa, bahwa di atas hukum sebab-akibat yang kita pelajari di bangku kuliah, ada “Kehendak Mutlak” (Iradah Ilahiyah) yang mengatur segalanya dengan begitu presisi. Rajab hadir untuk meruntuhkan kesombongan rencana-rencana itu, mengingatkan bahwa kita hanyalah setitik debu di tengah skenario agung Sang Pencipta.
Ada sebuah analogi indah yang sering disampaikan oleh para ulama klasik:
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, dan Ramadan adalah bulan memanen.”
Jika kita membedah kalimat ini dengan kacamata batin, kita akan menemukan sebuah manajemen spiritual yang luar biasa. Kita tidak mungkin mengharapkan kekhusyukan yang luar biasa di bulan Ramadan jika tanah hati kita masih gersang, berbatu, dan dipenuhi semak duri di bulan Rajab.
Membersihkan hati bagi seorang yang terpelajar tentu memiliki tantangan yang jauh lebih berat daripada orang awam. Penyakit hati seorang akademisi terkadang bukan lagi soal kemaksiatan lahiriah yang kasar, melainkan penyakit yang lebih halus: rasa merasa “lebih tahu”, merasa memiliki sanad ilmu yang lebih tinggi, atau merasa lebih paham tentang kebenaran dibandingkan orang lain. Ilmu agama yang kita pelajari di strata satu maupun strata dua, jika tidak dibarengi dengan bimbingan dari para ulama yang saleh akan menjadi tumpukan beban di kepala, bukan cahaya yang menerangi jalan bagi orang lain.
Bulan Rajab mengajak kita untuk kembali menjadi “murid” bagi kehidupan. Ia meminta kita untuk menanggalkan jubah kebesaran akademik kita sejenak, lalu duduk bersimpuh mengakui betapa fakirnya kita akan petunjuk-Nya. Di bulan ini, kita diajak untuk memperbanyak istighfar, bukan hanya atas dosa-dosa anggota badan, melainkan juga atas dosa-dosa pikiran kita yang sering kali meragukan ketetapan-Nya atau merasa sombong dengan sedikit pengetahuan yang kita miliki.
Oleh-oleh terbesar dari peristiwa Rajab bukan hanya sekadar cerita tentang perjalanan menembus langit, melainkan perintah shalat lima waktu. Jika Mi’raj adalah perjalanan fisik dan ruhani Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam menuju Arsy Allah, maka shalat adalah jembatan “Mi’raj” bagi setiap orang beriman. Shalat adalah ruang di mana keterbatasan kita sebagai manusia bertemu dengan kemutlakan Allah sebagai pencipta.
Di saat kita meletakkan dahi di atas tanah saat sujud, di situlah sebenarnya derajat kita sedang diangkat setinggi-tingginya. Tidak peduli seberapa banyak gelar akademik yang kita deretkan di belakang nama. Di hadapan Allah, kita hanyalah hamba yang sangat butuh akan kasih sayang dan ampunan-Nya. Shalat yang kita lakukan di bulan Rajab seharusnya memiliki kualitas yang berbeda, ia adalah latihan fokus sebelum kita memasuki “madrasah” Ramadan. Selain itu, momentum Rajab di awal tahun Masehi ini juga menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali kontribusi sosial kita. Apakah ilmu yang kita miliki sudah memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar kita? Ataukah ilmu itu hanya menjadi menara gading yang menjauhkan kita dari realitas sosial? Islam bukan hanya tentang hubungan vertikal ke langit, tapi juga tentang bagaimana cahaya dari langit itu bisa menyinari bumi.
Mari kita jadikan hari-hari yang tersisa di bulan Rajab ini sebagai momentum untuk melakukan “detoksifikasi” batin. Mari kita kurangi perdebatan yang hanya menguras energi tetapi kering akan manfaat. Kita perbanyak sujud-sujud panjang yang penuh air mata. Kita perlu menyadari, bahwa pada akhirnya setiap baris kalimat yang kita tulis, setiap ide yang kita sampaikan di forum-forum diskusi, akan dimintai pertanggungjawabannya. Pada akhirnya, saat kita menghadap kepada-Nya kelak, yang ditanya bukanlah seberapa banyak jurnal ilmiah yang kita publikasikan atau seberapa mahir kita berdebat tentang sejarah pemikiran Islam. Yang dicari adalah qolbun salim—hati yang bersih, hati yang selamat dari penyakit-penyakit duniawi, dan hati yang dipenuhi kerinduan yang tulus kepada Sang Khalik.
Semoga, saat kaki kita melangkah masuk ke bulan Sya’ban nanti, hati kita sudah tidak lagi sekeras batu yang sulit ditembus air hidayah. Semoga ia telah menjelma menjadi tanah yang subur, yang telah digemburkan dengan istighfar dan dzikir. Siap menerima siraman rahmat di bulan Sya’ban, hingga akhirnya mekar dengan bunga-bunga ketaatan yang harum di Bulan Suci Ramadan. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Memungut Hikmah di Bulan Rajab: Perjalanan dari Akal menuju Hati
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berbuka puasa bukan hanya prosesi melepas dahaga dan haus, tapi juga merupakan salah satu ibadah yang memiliki... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Masa remaja adalah salah satu fase paling menarik dalam kehidupan seseorang. Masa tersebut adalah waktu di mana... selengkapnya
Gemerlap Harlah Al-Bahjah: Bersinergi untuk Negeri, Bermanfaat untuk Ummat PUSTAKA AL-BAHJAH-NEWS-Tidak terasa tahun ini Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya menjaga lingkungan (hifzh... selengkapnya
“Apakah tidur membatalkan wudhu?” Sebuah pertanyaan yang kerap masyarakat tanyakan, mengingat seringkali kita menjumpai jamaah yang tertidur saat akan melaksanakan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak manusia mengenal istilah saling menyapa dalam sejarah peradaban, kontak mata atau tatap muka menjadi hal yang bermakna... selengkapnya
Al-Quds Seperti bayi yang menangis Butuh kasih sayang Dari orang tuamu Al-Quds Di sana kau merana Meratapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Santri SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon borong penghargaan pada acara Ekspose Hasil Akreditasi 2023 yang digelar... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Muharram sering kali dikenal oleh masyarakat sebagai “Bulannya anak yatim”, khususnya pada tanggal 10 Muharram. Tradisi ini... selengkapnya
Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri dan keluarganya. Maksud dari kewajiban ini adalah... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000
Saat ini belum tersedia komentar.