Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia

Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia

Diposting pada 5 Juni 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 386 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di momen hari Iduladha ini mari kita belajar dari kisah keteladanan dari seorang hamba kekasih Allah, Kholilurrohman Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam bersama istri beliau seorang wanita salehah; seorang ibunda yang berhasil mendidik putranya menjadi pemuda berbakti kepada Allah dan kepada orang tuanya. Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam bersama keluarga kecilnya berhasil menghadirkan keindahan dalam rumah tangga bukan dengan berlimpahnya harta, bukan dengan kemewahan rumah yang megah, bukan dengan tinggi jabatan dan pangkat di hadapan manusia, tetapi kebahagiaan itu semua terwujud karena kepatuhan mereka kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan keimamannya yang kuat, beliau melaksanakan segala apa yang Allah perintahkan kepadanya. Bahkan tanpa keraguan sedikit pun, beliau rela untuk menyembelih sang putra kesayangannya semata wayang. Lalu Sayyidah Hajar adalah juga seorang wanita salehah; istri yang tidak banyak berkeluh kesah walaupun harus ditinggalkan di sebuah tempat yang tandus dan gersang nan tidak berpenghuni. Begitu pun Sayyiduna Ismail, seorang pemuda hebat, dengan kemantapan hati siap melaksanakan perintah Allah dan sebagai baktinya kepada ayahandanya.

Mereka adalah contoh paripurna dalam keimaan dan ketaqwaan kepada Allah, suri teladan bagi setiap keluarga Islam, inspirasi bagi kita semua yang merindukan kebahagiaan sejati dalam rumah tangga sehingga Allah memuji beliau di dalam Al-Qur’an sebagai teladan, contoh dan panutan untuk kita:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (النساء : 125)

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Q.S. Annisa: 125)

Yang mengkhawatirkan dan bahkan menjadi hal yang sangat ironi pada zaman kemajuan teknologi saat ini bahwa teladan dan panutan baik semakin pudar dan hilang. Kemajuan teknologi yang membuat kita mudah mendapatkan informasi terkadang malah menjadi bumerang untuk kita umat Muslim dan generasi Islam. Budaya-budaya yang tidak baik masuk ke dalam rumah kita, meracuni keluarga kita, dan memengaruhi gaya hidup dan keadaan rumah tangga. Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam sudah memperingatkan kepada kita dalam sabda beliau:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ

“Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan dan gaya hidup orang-orang yang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga andaikan mereka masuk ke sebuah lubang kecil kalian pasti akan mengikutinya.” (HR. Ahmad)

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam telah memberikan isyarat, bahwa kerusakan akhlak, perubahan sosial, kedurhakaan generasi saat ini, problem rumah tangga, hilangnya nilai-nilai kebaikan, bahkan hilangnya iman dan agama semua disebabkan karena hilangnya panutan dan teladan baik dalam kehidupan kita. Coba tanyakan kepada diri sendiri dan tengok di sekitar kita. Di mana yang meneladani Sayyidina Ibrahim dan keluarganya? Di mana yang meneladani Rasulillah, Sayyidah Fathimah, Ummahatul Mu’minin, para sahabat Nabi dan pewaris beliau? Yang kita temui malah pengikut dan peniru style, budaya, dan gaya hidup orang-orang yang jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ternyata semua itu sampai kepada kita melalui sebuah perangkat kecil yang ukurannya hanya seukuran genggaman tangan kita. Standar ideal gaya hidup saat ini hanya dari glamor sosmed, bukan lagi bersandarkan kepada pendidikan Al-Qur’an dan petunjuk Nabi. Guru mulia Buya Yahya beliau pernah berkata,

“Wahai orang tua, saat Anda bertanya kepada putra putri Anda, siapa idola kamu, Nak? Lalu mereka tidak mengatakan Rasulullah, maka nyatakan kepada diri Anda bahwa Anda telah gagal mendidik mereka.”

Cara agar kita bisa menghadapi dan selamat dari arus negatif media sosial, internet, dan segala yang berkaitan dengan perangkat gadget adalah dengan mengembalikan teladan yang baik di tengah-tengah keluarga kita. Lebih spesifik dalam peran sebagai anggota keluarga. Wahai ayah, suami, dan kepala rumah tangga, ambil teladan mulia dari kepribadian Nabi Ibrahim. Beliau mengayomi, membimbing, dan mendidik keluarga bukan hanya dengan ucapan saja, akan tetapi juga dengan perilaku yang tergambarkan dalam kepatuhan dan kesabaran dengan segala ujian yang Allah berikan kepadanya. Beliau sebagai seorang kepala keluarga telah memberikan pemberian terbaik untuk anak istrinya, yaitu pendidikan yang baik. Dalam sebuah hadis Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ نَحْلًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ (رواه أحمد)

“Tidaklah seorang ayah memberikan kepada anaknya sebuah hadiah yang lebih baik daripada pendidikan yang baik.” (HR. Ahmad)

Wahai istri, ibunda yang salehah, ambillah teladan dari Sayyidah Hajar, seorang istri yang selalu sabar dan mendukung perjuangan baik suami. Saat harus tinggal hanya dengan seorang bayi di tempat yang tandus dan gersang dengan bekal seadanya, beliau mengatakan, “Jika ini adalah perintah dari Allah, maka Dia tidak akan menelantarkan kita.” Sebuah rasa tawakal dan berpasrah diri kepada Allah. Itulah ciri wanita yang dirindukan oleh surga Allah, bukan yang hanya pandai bersolek, berhias diri, dan banyak menuntut kepada suami.

Wahai pemuda hebat, anak-anak yang saleh, ambil teladan hebat dari Sayyiduna Ismail. Beliau berhasil menjadi anak yang patuh dan berbakti, tanpa keraguan sedikit pun beliau menyambut perintah Allah walaupun harus merelakan nyawanya

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayah, laksanakanlah perintah tersebut, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ketahuilah, ayah dan ibundamu wahai anak berbakti, tidak hanya bangga dengan prestasi akademikmu, mereka lebih bangga melihat akhlak muliamu, baktimu kepada mereka.

Kesimpulannya bahwa kebahagiaan di dalam rumah tangga dapat diwujudkan ketika visi misi keluarga bukan hanya tentang urusan dunia, tidak hanya berbicara soal materi saja, tetapi mengedepankan dan menomorsatukan perintah Allah di atas segalanya. Sebagaimana teladan keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam dan keluarganya. Mereka merelakan kesenangan pribadi, meninggalkan hasrat hawa nafsu demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sudah berjanji dalam firman-Nya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (النحل : 97)

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 97)

Sebaliknya, kesengsaraan akan datang kepada orang-orang yang tidak patuh kepada perintah-Nya. Meskipun tidak dirasakan di dunia, dia akan mendapatkan kesengsaraan kelak di akhirat

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (طه : 124)

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Taha: 124)

Semoga Allah memberikan kepada kita dan keluarga kita kepatuhan kepada perintah Allah sebagaimana keluarga Nabi Ibrahim sehingga Allah berikan kepada keluarga kita keindahan, sakinah mawaddah wa rohmah, penuh dengan kebahagiaan di dunia sampai di surga-Nya Allah. Suami istri yang saling mencintai karena Allah dengan anak-anak yag saleh dan salehah, berbakti serta taat kepada perintah Allah dan perintah orang tua. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, kebaikan kita dan qurban kita. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada harta kita, jabatan, ilmu, dan segala yang kita miliki agar itu semua menjadi perantara dan sebab selamatnya kita di akhirat serta menjadi tabungan kebaikan kita.

 

Penulis: Ust. Maulid Johansyah, M.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

Bagikan ke

Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pandai Menyikapi Kebencian sebagai Kunci Hidup Bahagia
18 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kebencian adalah ketidaksenangan terhadap sesuatu yang bersemayam di hati. Kebencian yang menetap terlalu lama dalam hati seseorang akan... selengkapnya

Literasi Keuangan: Sadar Finansial Hidup Aman di Masa Depan
13 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat ini kita sedang berada di zaman yang serba instan.  Ketika membutuhkan barang misalnya, kita cukup membuka gadget,... selengkapnya

Diksi Dua Wajah: Menegur dan Menyinggung di Grup, Tapi Giliran Ada Butuh Baru Japri
26 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Zaman ini telah melahirkan sebuah peradaban baru, yaitu peradaban jempol dan tanda centang biru. Teknologi terus melesat seperti... selengkapnya

Tetangga Non-Muslim Meninggal Dunia, Apakah Boleh Merawat dan Mendoakan?
31 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam kehidupan bertetangga dengan non-muslim, tentu kita tidak dapat tenghindar dari hal-hal yang berhubungan dengan kepedulian... selengkapnya

Bolehkah Mendukung Iran yang Mayoritas Beraqidah Syiah?
16 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini, dunia sedang terfokus pada peperangan yang terjadi di Timur Tengah. Yakni peperangan antara Israel yang didukung... selengkapnya

(Cerpen) Di Antara Titik dan Koma
17 Januari 2026

HUJAN turun pelan sejak sore, seperti sengaja menunda reda. Tidak deras, tidak pula berhenti. Butirannya jatuh satu-satu di atas atap... selengkapnya

Bolehkah Membaca Surah Al-Waqi’ah Setelah Asar?
13 Januari 2025

Sering kali kita mendengar anjuran untuk membaca surah Al-Waqi’ah setelah Asar. Sebenarnya, apakah ini diperbolehkan dalam Islam? Mari simak penjelasannya... selengkapnya

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur
19 Maret 2021

Rambu-Rambu dalam Menyikapi Berita Miring Seorang Publik Figur Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon)... selengkapnya

Langkah-Langkah Menulis Beserta Penjelasannya
15 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa pun dapat menulis, tetapi tidak semua orang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebab, menulis merupakan wujud... selengkapnya

Tantangan Muslimah Masa Kini Menjaga Iffah di Era Digital
17 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Era digital menghadirkan berbagai kemudahan. Namun juga memunculkan tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai Islam, khususnya bagi para Muslimah.... selengkapnya

Kunci Kebahagiaan Keluarga dengan Teladan Mulia

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: