fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Gegara Dua Butir Kurma

Gegara Dua Butir Kurma

Diposting pada 2 Maret 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 490 kali / Kategori:

Oleh: Herry Munhanif

Lelaki itu dengan susah payah menempuh perjalanan yang melelahkan selama berbulan-bulan, demi mendapatkan keikhlasan pemilik dua butir kurma yang telah masuk ke dalam perutnya.

Bagi kita, dua butir kurma yang sudah jatuh di tanah dan tak jelas siapa pemiliknya mungkin tak masalah apabila kita pungut dan makan. Tapi bagi seorang sufi seperti Ibrahim bin Adham, dua butir kurma itu sangat mengganggu sekaligus meresahkan hatinya. Ia khawatir dua butir kurma itu menjadi penghalang ibadah dan amalan-amalan yang dilakukannya. Bagaimana bisa demikian, simak kisahnya di bawah ini?

Memungut Kurma di Tanah

Saat musim haji tiba, di tengah-tengah kesibukan kaum muslim dengan ritual ibadahnya. Satu di antara jamaah di Tanah Suci itu adalah Ibrahim bin Adham, atau dikenal dengan sebutan Abu Ishak.

Usai menunaikan ibadah haji, lelaki itu mampir di sebuah toko yang berada di sekitar Masjidil Haram. Ia hendak berbelanja beberapa tangkai kurma. Tatkala kurma yang dibelinya sedang ditimbang dan dibungkus, dilihatnya ada dua butir kurma yang tergeletak di bawah kakinya. Ia menyangka kurma tersebut bagian dari kurma yang dibelinya sehingga tanpa pikir panjang ia pun memungut kemudian memasukkan ke dalam kantongnya.

Sepeninggalnya dari toko itu, seperti biasa kemudian ia membuka barang belanjaannya. Ia lantas menyantap kurma-kurmanya, termasuk dua butir kurma yang telah dipungut di bawah kakinya. Tak ada perasaan apa-apa kala itu, hanya saja timbul keinginannya untuk berziarah ke Baitul Maqdis. Keinginan itu terus menggebu sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mempersingkat waktu tinggalnya di Makkah.

Tatkala ada kafilah yang hendak menuju ke sana, segeralah ia ikut dalam rombongan. Meskipun jarak tempuh menuju Baitul Maqdis memakan waktu perjalanan kurang lebih beberapa bulan lamanya, serta melewati gurun sahara yang panas nan bebukitan. Namun keletihan itu terbayar tuntas tatkala ia sampai di tempat tujuan.

Sesampainya di sana, lelaki itu memasuki tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah, yakni Qubbatush Shakhra (Dome of The Rock) ─tempat yang dipercayai sebagai titik berangkatnya Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa Mi’raj. Letaknya di kompleks al-Haram asy-Syarif (tempat suci yang mulia) yang berada di dalam tembok kota lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

Tak dinyana, Ibrahim dapat masuk dengan mudah. Hatinya merasa gembira luar biasa. Sebab tempat ini diimpikan oleh banyak orang. Di tempat itu juga, ia melaksanakan salat dan berdoa dengan khusyuk sekali. Dalam dzikirnya itu, ia mendengar sayup-sayup dialog yang sedang membicarakan tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah dari Khurasan, Irak Barat. Setiap hari cukup banyak amal yang dilakukannya,” ujarnya.

“Benar,” jawab yang satunya spontan, “Tapi sekarang sudah tidak lagi, lantaran beberapa bulan yang lalu ia memakan kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram,” jawab yang satunya menimpali.

Kontan saja Ibrahim terhenyak.

Jadi, selama beberapa bulan ini, ibadah, salat, doa-doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah Swt. Hal itu dikarenakan ia telah memakan kurma yang bukan haknya. Sekujur tubuhnya seketika gemetaran. Sendi-sendinya seakan lunglai. Air matanya menetes membasahi tempat sujudnya.

Astaghfirullahaladzim,” Ibrahim beristighfar.

Dialog tersebut membuat Ibrahim tak tenang. Tatkala pagi tiba, segeralah ia berkemas untuk berangkat lagi ke Makkah menemui pedagang kurma.

Meminta Keikhlasan

Perjalanan jauh kembali dilakukan. Dari Baitul Maqdis menuju Makkah. Ia bersikukuh untuk menemui pemilik dua butir kurma. Sebab, ini menyangkut amalnya. Menurutnya, jika tak ditemui dan diminta keikhlasannya, maka ia akan sangat merugi karena semua ibadah dan amal salehnya tak kunjung diterima oleh Allah Swt.

Setelah menempuh perjalanan melelahkan, sampailah ia bersama rombongan di Tanah Suci. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung menuju tempat penjual kurma itu. Sayangnya, ia tidak menemukan pedagang tua yang dicarinya itu, melainkan hanya ada seorang anak muda.

“Nak, di mana bapak tua yang menjaga toko ini beberapa bulan yang lalu?” tanyanya.

“Oh, dia ayahku, Tuan. Beliau sudah meninggal sebulan yang lalu, dan sayalah yang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Ada apa tuan menanyakannya?” si pemuda balik bertanya.

Ibrahim langsung menceritakan semuanya sejak ia masih berada di Makkah hingga pengalamannya saat berada di Qubbatus Shakhra. Mendengar cerita ini, membuat pemuda itu menjadi terharu.

“Sekarang dua butir kurma itu telah saya ikhlaskan dan halal bagi tuan.”

“Mungkin ibumu atau saudara-saudaramu yang lain masih berhak menuntut kurma itu. Untuk itu, aku mohon, Nak! Bawalah aku ke keluargamu! Aku akan minta keikhlasan hati mereka untuk menghalalkan dua butir kurma yang telanjur kumakan,” desak Ibrahim.

Pemuda si penjual kurma akhirnya sadar bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Ia heran, ternyata di dunia ini masih ada orang yang menjaga betul makanan yang masuk ke dalam perutnya. Lantas pemuda itu menunjukkan rumah ibunya. Setelah Ibrahim mengetuk pintu rumah yang dimaksudkan, maka keluarlah perempuan tua yang berjalan dengan sebilah tongkat.

“Apa keperluan, Tuan?” tanya perempuan itu.

Ibrahim segera menceritakan semua pengalamannya kembali. Sehingga perempuan tua itu terpana dan segera mengatakan, “Sudah… saya ikhlaskan dua butir kurma itu buat tuan. Sekarang janganlah engkau bersedih lagi.”

“Bagaimana dengan anak-anak ibu yang lain?” sergah Ibrahim yang masih bersedih.

Anak-anak perempuan itu segera dipanggil semuanya. Setelah diceritakan apa yang dialami oleh Ibrahim, akhirnya mereka pun merelakan dua butir kurma itu. Mereka benar-benar takjub atas sikap Ibrahim, karena telah rela menempuh perjalanan jauh dan melelahkan hanya untuk memperoleh keikhlasan dua butir kurma yang sudah dimakannya.

Kini, hati Ibrahim lega. Pikirannya sudah plong. Sudah tak ada lagi yang mengganjal di hatinya. Ia kemudian meneruskan ibadah dan dzikirnya yang tertunda dengan kembali lagi ke Baitul Maqdis. Tatkala telah berada di Qubbatus Shakhra, ia mendengar dialog itu kembali.

“Dia datang lagi. Namun sekarang doa dan amalnya sudah tak terhalang lagi”

“Ya, karena dua butir kurma yang telah dimakannya sudah diikhlaskan oleh pemiliknya,” sahut yang satunya.

“Subhanallah… subhanallah…,” rintih Ibrahim.

Air matanya berurai. Hatinya gembira. Ia pun berujar, “Demi Allah! Untuk menjalani sisa umurku ini, aku berjanji bahwa perutku ini hanya akan aku isi dengan makanan yang jelas-jelas halal.”

Sebuah pelajaran agung dari kisah di atas bahwa apa pun yang kita makan haruslah jelas sumbernya, halal lagi baik (halalan thayyiban). Sebab, sekecil apa pun makanan atau minuman yang tak jelas masuk ke dalam tubuh, bisa menyebabkan amal saleh dan ibadah yang kita lakukan menjadi percuma.  Mari kita teladani kisah Ibrahim bin Adham di atas.

Tags: ,

Bagikan ke

Gegara Dua Butir Kurma

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Gegara Dua Butir Kurma

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: