● online
- Kitab Nawazil....
- KITAB MAULID AD DIBA'I....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- Motivasi Dakwah "Membawa kepada Kemuliaan dengan H....
- Buku Aqidah - Hadits Jibril....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita....
- النجاح في تكملة المفتاح....
Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan seseorang akan ringan, jika mengucapkannya kepada para sahabat, tetangga, atau orang lain yang sedang memperoleh cobaan maupun saat mendapatkan kebahagiaan. Namun, jika yang menerima cobaan tersebut ialah diri sendiri, acap kali kita sulit untuk mengimplementasikannya. Begitu banyak nikmat Allah Swt yang diberikan kepada manusia hingga Allah firmankan dalam kitab-Nya, dan manusia sungguh tak akan sanggup menghitungnya. Mulai dari nikmat bernapas, melihat, mendengar, berjalan hingga nikmatnya merasakan kelezatan makan, minum, dan tidur. Sungguh manusia tak akan sanggup membayarnya apabila ingin membelinya satu per satu meski memiliki kekayaan berlimpah ruah sekalipun.
Nabi Sulaiman a.s. yang dinobatkan oleh Allah Swt sebagai Nabi sekaligus manusia paling kaya se-multiverse saja tak sanggup ketika mencoba untuk memberi makan seluruh ikan yang ada di lautan. Padahal manusia, hewan, tumbuhan bahkan kerajaan jin berada dalam genggaman kekuasaannya. Jadi, apabila hari ini masih ada yang menganggap dirinya dan keluarganya kaya raya layaknya seorang raja dengan dinastinya, bila dibandingkan dengan kekayaannya Fir’aun, Namrud, Haman apa lagi Nabi Sulaiman a.s. maka tidak ada bandingannya. Dan di atas itu semua masih ada Allah Swt yang Maha Kaya.
Oleh karenanya, sudah selayaknya kita mesti bersyukur dan sabar dalam mengarungi kehidupan ini. Ashabul as-shabr beranggapan sabar lebih tinggi nilainya karena ujian yang didapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam hati dan penderitaan berkepanjangan dalam hidup. Sebaliknya ashabul as-syukur beranggapan syukur lebih baik derajatnya dikarenakan berapa banyak orang yang lulus saat diuji dengan musibah lalu ia bersabar namun gagal ketika diberikan banyak kenikmatan hidup dan lalai setelahnya. Dinamika tersebut adalah wajar karena semua memiliki perspektifnya masing-masing.
Menyikapi hal ini, lantas bagaimana pandangan Al-Qur’an dan hadis?
Sabar dan Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadis
Kata sabar dan derivasinya dalam Al-Qur’an menurut para ulama berjumlah 70-100 lebih kata, sedangkan syukur berjumlah sekitar 75 kata yang bersanding dengan kata bala dengan jumlah yang sama pula. Apa yang membuat sabar dan syukur begitu spesial dalam Al-Qur’an?
Firman Allah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur”. (QS. Luqman: 31).
Sabar dan syukur merupakan bagian dari iman yang tak terpisahkan. Jika salah satu hilang, maka hilanglah sebagian imannya. Dalam ayat ini disebutkan bahwa sifat sabar bersanding dengan sifat syukur. Sahabat Ibnu Mas’ud bahkan menyebut iman itu terdiri dari setengah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.
Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan urgensi syukur dan pelakunya yang sangat sedikit. Ya, sebab hanya sedikit hamba Allah Swt yang mau bersyukur. Dalam surat Ibrahim ayat 7 juga diterangkan barang siapa yang enggan bersyukur maka balasannya adalah azab yang pedih.
Bagaimana dengan sabar? Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Sabar merupakan salah satu akhlaknya para Nabi dan rasul. Begitu besarnya pahala bersabar sampai-sampai Allah Swt sebut pahala bersabar sungguh tak terhitung. Namun bagaimana mengetahui derajat sabar dan syukur? Al-Qur’an menceritakan tentang kisahnya Nabi Sulaiman a.s. dan Nabi Dawud a.s. dalam ayat berikut:
وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ
“Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 30)
Dalam ayat ke-44 disebutkan:
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ
“Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 44)
Dalam kedua ayat tersebut disebutkan kata awwab yang berarti taat atau patuh kepada seluruh perintah Allah Swt. Selain itu awwab juga memiliki makna kembali dan bertobat kepada Allah Swt, baik saat ia melakukan dosa atau pun saat ia tidak berbuat dosa.
Perbedaannya terletak pada konteks ayat. Pada ayat ke-30 konteksnya berisi nikmat yang anugerahkan kepada Nabi Dawud a.s. berupa lahirnya Nabi Sulaiman a.s. Lain halnya pada ayat 44 konteksnya menjelaskan tentang kesabaran Nabi Ayyub a.s. ketika menerima ujian sakit yang ia lalui selama puluhan tahun. Dapat dilihat dari ayat di atas bahwa orang yang sabar dan orang yang bersyukur memiliki ciri-ciri yang sama yaitu awwab alias patuh pada perintah Allah Swt.
Hal ini senada dengan hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kegembiraan, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Apabila dia ditimpa suatu kesulitan, dia bersikap sabar, maka hal itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Orang mukmin yang memperoleh nikmat dan cobaan maka hakikatnya tak berbeda respon ketika menyikapinya, yaitu ia berprasangka baik kepada Allah Swt. Ketika ia menerima nikmat lantas bersyukur dan saat mendapatkan cobaan maka ia bersabar, maka itu semua hal yang baik baginya. Artinya dalam hadis di atas tak ada perbedaan antara sabar dan syukur.
Lantas, Mana yang Lebih Luhur?
Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan di atas mulai dari Al-Qur’an, hadis hingga pendapat Ibnu Mas’ud jelaslah sudah bagaimana derajat sabar dan syukur. Ya, derajat sabar dan syukur keduanya adalah sama alias setara.
Sabar dan syukur merupakan akhlaknya para rasul, sahabat, dan ulama salafussalih yang harus kita jadikan pedoman dalam kehidupan. Sabar dan syukur ciri-cirinya para penghuni surga dan orang yang beriman dengan sungguh-sungguh. Tak ada perbedaan mengenai mana yang lebih luhur, semuanya sama-sama luhur nilainya dihadapan Allah Ta’ala. Sabar dan syukur sama-sama memiliki derajat yang tinggi dan luhur. Semoga kita semua dijaga dan senantiasa diberikan kemampuan oleh Allah Swt untuk bisa melaksanakan sabar dan syukur. Amin.
Wallahu A’lam Bish Showab
Penulis: Muhammad Adib
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.
Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hari kiamat adalah hari di mana semua alam semesta beserta isinya akan hancur. Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Mesin cuci merupakan salah satu alat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat untuk membersihkan pakaian.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Salah satu kesunnahan pada Hari Raya Iduladha dan Idulfitri adalah mengumandangkan takbir. Takbir sendiri terbagi kedalam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Keceriaan memiliki peran penting dalam kehidupan, bahkan di tengah kesulitan. Tampil ceria adalah salah satu bentuk syukur... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Bulan Ramadan merupakan bulan penuh keistimewaan bagi umat Islam di pelbagai belahan penjuru bumi karena setiap amalan ibadah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –PKKS merupakan proses evaluasi yang dilakukan oleh pengawas sekolah yang tak lepas dari koordinasi dengan dinas pendidikan.... selengkapnya
“Kelak, mereka yang menjaga jalinan hubungan dengan Nabi Saw akan menyusul masuk surga bersama Nabi Saw,” Prof. Dr. Al-Habib Abdullah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mudik telah menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan masyarakat di Indonesia. Tak hanya bagi umat Islam, sering kali non-Muslim... selengkapnya
Ramadan telah mengajarkan kita ketenangan hati, ketulusan jiwa dan kesabaran dalam berproses untuk mencapai kejayaan. Oleh karenanya, Ramadan bukan hanya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000
Saat ini belum tersedia komentar.