Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?

Diposting pada 30 September 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 2.649 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan seseorang akan ringan, jika mengucapkannya kepada para sahabat, tetangga, atau orang lain yang sedang memperoleh cobaan maupun saat mendapatkan kebahagiaan. Namun, jika yang menerima cobaan tersebut ialah diri sendiri, acap kali kita sulit untuk mengimplementasikannya. Begitu banyak nikmat Allah Swt yang diberikan kepada manusia hingga Allah firmankan dalam kitab-Nya, dan manusia sungguh tak akan sanggup menghitungnya. Mulai dari nikmat bernapas, melihat, mendengar, berjalan hingga nikmatnya merasakan kelezatan makan, minum, dan tidur. Sungguh manusia tak akan sanggup membayarnya apabila ingin membelinya satu per satu meski memiliki kekayaan berlimpah ruah sekalipun.

Nabi Sulaiman a.s. yang dinobatkan oleh Allah Swt sebagai Nabi sekaligus manusia paling kaya se-multiverse saja tak sanggup ketika mencoba untuk memberi makan seluruh ikan yang ada di lautan. Padahal manusia, hewan, tumbuhan bahkan kerajaan jin berada dalam genggaman kekuasaannya. Jadi, apabila hari ini masih ada yang menganggap dirinya dan keluarganya kaya raya layaknya seorang raja dengan dinastinya, bila dibandingkan dengan kekayaannya Fir’aun, Namrud, Haman apa lagi Nabi Sulaiman a.s. maka tidak ada bandingannya. Dan di atas itu semua masih ada Allah Swt yang Maha Kaya.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita mesti bersyukur dan sabar dalam mengarungi kehidupan ini. Ashabul as-shabr beranggapan sabar lebih tinggi nilainya karena ujian yang didapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam hati dan penderitaan berkepanjangan dalam hidup. Sebaliknya ashabul as-syukur beranggapan syukur lebih baik derajatnya dikarenakan berapa banyak orang yang lulus saat diuji dengan musibah lalu ia bersabar namun gagal ketika diberikan banyak kenikmatan hidup dan lalai setelahnya. Dinamika tersebut adalah wajar karena semua memiliki perspektifnya masing-masing.

Menyikapi hal ini, lantas bagaimana pandangan Al-Qur’an dan hadis?

 

Sabar dan Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadis

Kata sabar dan derivasinya dalam Al-Qur’an menurut para ulama berjumlah 70-100 lebih kata, sedangkan syukur berjumlah sekitar 75 kata yang bersanding dengan kata bala dengan jumlah yang sama pula. Apa yang membuat sabar dan syukur begitu spesial dalam Al-Qur’an?

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur”. (QS. Luqman: 31).

Sabar dan syukur merupakan bagian dari iman yang tak terpisahkan. Jika salah satu hilang, maka hilanglah sebagian imannya. Dalam ayat ini disebutkan bahwa sifat sabar bersanding dengan sifat syukur. Sahabat Ibnu Mas’ud bahkan menyebut iman itu terdiri dari setengah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan urgensi syukur dan pelakunya yang sangat sedikit. Ya, sebab hanya sedikit hamba Allah Swt yang mau bersyukur. Dalam surat Ibrahim ayat 7 juga diterangkan barang siapa yang enggan bersyukur maka balasannya adalah azab yang pedih.

Bagaimana dengan sabar? Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Sabar merupakan salah satu akhlaknya para Nabi dan rasul. Begitu besarnya pahala bersabar sampai-sampai Allah Swt sebut pahala bersabar sungguh tak terhitung. Namun bagaimana mengetahui derajat sabar dan syukur? Al-Qur’an menceritakan tentang kisahnya Nabi Sulaiman a.s. dan Nabi Dawud a.s. dalam ayat berikut:

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ

“Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 30)

Dalam ayat ke-44 disebutkan:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

 “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (QS. Shad: 44)

Dalam kedua ayat tersebut disebutkan kata awwab yang berarti taat atau patuh kepada seluruh perintah Allah Swt. Selain itu awwab juga memiliki makna kembali dan bertobat kepada Allah Swt, baik saat ia melakukan dosa atau pun saat ia tidak berbuat dosa.

Perbedaannya terletak pada konteks ayat. Pada ayat ke-30 konteksnya berisi nikmat yang anugerahkan kepada Nabi Dawud a.s. berupa lahirnya Nabi Sulaiman a.s. Lain halnya pada ayat 44 konteksnya menjelaskan tentang kesabaran Nabi Ayyub a.s. ketika menerima ujian sakit yang ia lalui selama puluhan tahun. Dapat dilihat dari ayat di atas bahwa orang yang sabar dan orang yang bersyukur memiliki ciri-ciri yang sama yaitu awwab alias patuh pada perintah Allah Swt.

Hal ini senada dengan hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

 “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kegembiraan, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Apabila dia ditimpa suatu kesulitan, dia bersikap sabar, maka hal itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Orang mukmin yang memperoleh nikmat dan cobaan maka hakikatnya tak berbeda respon ketika menyikapinya, yaitu ia berprasangka baik kepada Allah Swt. Ketika ia menerima nikmat lantas bersyukur dan saat mendapatkan cobaan maka ia bersabar, maka itu semua hal yang baik baginya. Artinya dalam hadis di atas tak ada perbedaan antara sabar dan syukur.

 

Lantas, Mana yang Lebih Luhur?

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan di atas mulai dari Al-Qur’an, hadis hingga pendapat Ibnu Mas’ud jelaslah sudah bagaimana derajat sabar dan syukur. Ya, derajat sabar dan syukur keduanya adalah sama alias setara.

Sabar dan syukur merupakan akhlaknya para rasul, sahabat, dan ulama salafussalih yang harus kita jadikan pedoman dalam kehidupan. Sabar dan syukur ciri-cirinya para penghuni surga dan orang yang beriman dengan sungguh-sungguh. Tak ada perbedaan mengenai mana yang lebih luhur, semuanya sama-sama luhur nilainya dihadapan Allah Ta’ala. Sabar dan syukur sama-sama memiliki derajat yang tinggi dan luhur. Semoga kita semua dijaga dan senantiasa diberikan kemampuan oleh Allah Swt untuk bisa melaksanakan sabar dan syukur. Amin.

Wallahu A’lam Bish Showab

 

Penulis: Muhammad Adib

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , ,

Bagikan ke

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Pendidikan Formal Al-Bahjah: Tak Hanya Mencerdaskan, tapi Menyejukkan Hati
16 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sejak berdirinya, pendidikan formal Al-Bahjah telah menjadi tujuan masyarakat untuk menitipkan para putra dan putrinya dalam menimba ilmu... selengkapnya

Tujuan dan Makna Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw
2 Oktober 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Perayaan maulid Nabi Muhammad saw semarak di mana-mana. Namun, sebenarnya apa tujuan dari perayaan maulid Nabi... selengkapnya

Sejatinya Allah Sudah Menentukan Takdir Kita, Haruskah Kita Tetap Berusaha?
22 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Semua yang terjadi di dunia ini tidak luput dari ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (qadha) dan implementasinya (qadar).... selengkapnya

Jangan Seperti Ayam yang Mati di Lumbung Padi
25 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Lingkungan yang baik dan nyaman merupakan tempat yang diidamkan oleh setiap orang. Apalagi di tempat tersebut sambil melakukan... selengkapnya

Tebar “Jaring-Jaring” Kemandirian Ekonomi Pondok Pesantren, LPD Al-Bahjah Bangun Resto AB Chicken dan Launching AB Express
13 Mei 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pagi ini Sabtu, 23 Syawal 1444H/13 Mei 2023 Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali menebar “jaring-jaring”... selengkapnya

Shalat Ditegakkan tetapi Kemungkaran Terus Dilakukan? (Dilihat dari Sudut Pandang yang Berbeda)
16 Maret 2021

Orang yang melaksanakan shalat pasti akan terhindar dari perbuatan jahat, keji dan mungkar. Sebaliknya, orang yang tidak melaksanakan shalat akan... selengkapnya

Perbedaan Takbir Muqayyad dan Takbir Mursal Pada Hari Raya Iduladha dan Idulfitri
28 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Salah satu kesunnahan pada Hari Raya Iduladha dan Idulfitri adalah mengumandangkan takbir. Takbir sendiri terbagi kedalam... selengkapnya

Sunah Nabi Saw Ini Jadi Resep Utama dalam Beretika Plus Menyehatkan
9 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam bermasyarakat, keharmonisan bertetangga dengan menerapkan kehidupan bersosial sangatlah dibutuhkan. Jika bertetangga tanpa mengutamakan etika yang baik,... selengkapnya

Cara Menjadi Muslimah Mulia dengan Ilmu dan Akhlak
1 Oktober 2024

“Perempuan tidak perlu menuntut ilmu terlalu tinggi. Kalau ujung-ujungnya hanya mengurusi sumur, dapur, dan kasur.” Anggapan seperti itu harus diluruskan.... selengkapnya

Prinsip dan Peran Dakwah dalam Menyeru Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran
15 Februari 2025

Sumber gambar: https://minanews.net/jenis-juru-dakwah/ Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tanda ketulusan hati seorang Muslim adalah ketika merindukan saudara-saudaranya yang belum melakukan kebaikan, agar... selengkapnya

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: