Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Diposting pada 10 Juni 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 33 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan dengan indah. Ada kalanya kita merasa tersakiti, dikecewakan, bahkan terluka oleh orang-orang terdekat. Ketika luka itu begitu dalam, muncul pertanyaan yang sering menghantui hati kita

“Haruskah aku tetap menjaga silaturahmi meski hatiku terluka?”

Kondisi semacam itu sering muncul di zaman sekarang, terutama ketika banyak orang mengenal istilah cut off atau memutus hubungan demi menjaga kesehatan mental. Namun sebagai seorang Muslim, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang persoalan ini.

Meluruskan Pemahaman Tentang “Cut Off”

Belakangan ini, banyak orang menjadikan kesehatan mental sebagai alasan untuk memutus hubungan dengan keluarga, sahabat, atau kerabat. Padahal, Islam sangat menjaga hubungan persaudaraan dan silaturahmi. Sering pula muncul kisah tentang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Wahsyi sebagai pembenaran untuk menjauh dari seseorang yang pernah menyakiti kita. Namun kisah tersebut perlu dipahami secara utuh.

Wahsyi adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang sangat beliau cintai. Meski demikian, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam tidak mengusir Wahsyi dari Islam ataupun memutus hubungannya sebagai sesama Muslim. Beliau hanya meminta Wahsyi agar tidak sering menampakkan diri di hadapannya karena kesedihan yang muncul saat mengingat peristiwa tersebut. Ini menunjukkan bahwa menjaga jarak dalam kondisi tertentu berbeda dengan memutus silaturahmi secara total.

Memaafkan adalah Perintah Allah

Sebagai manusia, merasa sakit hati adalah hal yang wajar. Namun Islam tidak mengajarkan kita untuk memelihara luka hingga berubah menjadi kebencian yang berkepanjangan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi membebaskan hati dari beban dendam yang hanya akan menyakiti diri sendiri.

Terkadang kita merasa sudah memaafkan, tetapi masih enggan menyapa, menghindar, atau berharap tidak pernah bertemu lagi dengan orang tersebut. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa hati masih menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh. Memaafkan memang tidak mudah, namun di situlah letak kemuliaannya. Semakin besar luka yang berhasil dimaafkan, semakin besar pula pahala dan ketenangan yang Allah berikan.

Menyembuhkan Luka Tanpa Melanggar Syariat

Islam tidak pernah mengabaikan rasa sakit yang dirasakan seseorang. Jika hati terluka, maka penyembuhan memang diperlukan. Seseorang boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri, mengurangi intensitas interaksi, atau menetapkan batasan yang sehat agar tidak terus-menerus tersakiti. Namun penyembuhan itu tidak boleh dilakukan dengan memutus tali persaudaraan. Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan tetap menjaga hak-hak sesama Muslim. Kita boleh berhati-hati, tetapi tidak boleh membenci. Kita boleh menjaga jarak, tetapi tidak boleh memutus hubungan.

Jangan Biarkan Luka Menjauhkan dari Kebaikan

Salah satu bahaya terbesar dari rasa sakit hati adalah ketika luka itu membuat seseorang menjauh dari ibadah dan lingkungan yang baik. Ada orang yang berhenti menghadiri majelis ilmu karena tidak ingin bertemu seseorang. Ada yang meninggalkan kegiatan dakwah karena kecewa terhadap individu tertentu. Bahkan ada yang menjauh dari komunitas muslim karena konflik yang pernah dialami. Padahal kerugian terbesar justru kembali kepada dirinya sendiri.

Orang yang menyakiti kita mungkin tetap menjalani hidup seperti biasa, sementara kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu, pahala, dan lingkungan yang mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, jangan biarkan ego dan luka mengambil alih kendali hidup kita.

Ketika hati terluka, jangan terburu-buru memutus silaturahmi. Sembuhkan lukanya, perbaiki niatnya, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Karena terkadang, kemuliaan seorang hamba justru terlihat dari kemampuannya tetap berbuat baik kepada orang yang pernah menyakitinya.

 

Penulis: Athaya Dinda Haniyah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Bagaimanakah Cara Mencintai Rasulullah Saw? Simak Penjelasan Buya Yahya Berikut
9 September 2023

Cinta kepada Nabi merupakan hal yang sangat mudah untuk diucapkan. Akan tetapi, ternyata cinta kepada Nabi tidak sederhana dalam ucapan... selengkapnya

Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Mencegah Kekerasan Terhadap Anak Menurut Maqashid Syariah
21 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kekerasan terhadap anak merupakan masalah yang sangat serius dan memerlukan perhatian mendalam dari berbagai pihak. Menurut data yang... selengkapnya

Hadiri! Memupuk Rindu di Malam Cinta Rasul
31 Desember 2023

Terdapat banyak cara untuk memupuk rasa rindu kita kepada Nabi Muhammad Saw, utamanya dengan selalu teguh memegang segala ajarannya. Al-Habib... selengkapnya

Menyoal Rokok dan Perkembangan Fatwanya dari Masa ke Masa
17 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pembahasan mengenai hukum rokok selalu penting untuk disimak di tengah-tengah zaman yang terus berkembang. Para ulama terdahulu hidup... selengkapnya

Jangan Dulu Mudik Sebelum Tahu Ini: Shalat Bisa Dilakukan di Atas Kendaraan
24 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Terdapat tradisi masyarakat ketika menjelang Hari Raya Idulfitri, yaitu mudik. Tradisi mudik yang ada di Indonesia terbilang... selengkapnya

Teks Khutbah Idulfitri 1447 H
14 Maret 2026

Selamat Idulfitri 1447 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala,... selengkapnya

Al-Bahjah Pusat Kukuhkan Pengasuh Pondok Pesantren Baru
28 Januari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam upaya menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan melanjutkan sinergitasnya, Pondok Pesantren Al-Bahjah Pusat mengukuhkan pengasuh baru. Acara... selengkapnya

Manusia Serakah: Mudharat dan Penyebab Bencana Alam
5 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada penghujung tahun 2025 ini, banyak bencana terjadi di bumi pertiwi. Mulai dari tanah longsor, gunung meletus, dan... selengkapnya

Mendefinisikan Ulang Moralitas
19 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Agama Islam sering kali disebut agama rahmatan lil alamin, agama untuk keselamatan alam semesta. Tak pelak pula, Baginda... selengkapnya

Kemudahan Shalat Saat Mudik
18 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat sedang mudik dengan perjalanan yang panjang dan lama. Seorang pemudik terkadang meninggalkan shalat dengan berbagai alasan. Ini... selengkapnya

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: