Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Diposting pada 10 Juni 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 99 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan dengan indah. Ada kalanya kita merasa tersakiti, dikecewakan, bahkan terluka oleh orang-orang terdekat. Ketika luka itu begitu dalam, muncul pertanyaan yang sering menghantui hati kita

“Haruskah aku tetap menjaga silaturahmi meski hatiku terluka?”

Kondisi semacam itu sering muncul di zaman sekarang, terutama ketika banyak orang mengenal istilah cut off atau memutus hubungan demi menjaga kesehatan mental. Namun sebagai seorang Muslim, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang persoalan ini.

Meluruskan Pemahaman Tentang “Cut Off”

Belakangan ini, banyak orang menjadikan kesehatan mental sebagai alasan untuk memutus hubungan dengan keluarga, sahabat, atau kerabat. Padahal, Islam sangat menjaga hubungan persaudaraan dan silaturahmi. Sering pula muncul kisah tentang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Wahsyi sebagai pembenaran untuk menjauh dari seseorang yang pernah menyakiti kita. Namun kisah tersebut perlu dipahami secara utuh.

Wahsyi adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang sangat beliau cintai. Meski demikian, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam tidak mengusir Wahsyi dari Islam ataupun memutus hubungannya sebagai sesama Muslim. Beliau hanya meminta Wahsyi agar tidak sering menampakkan diri di hadapannya karena kesedihan yang muncul saat mengingat peristiwa tersebut. Ini menunjukkan bahwa menjaga jarak dalam kondisi tertentu berbeda dengan memutus silaturahmi secara total.

Memaafkan adalah Perintah Allah

Sebagai manusia, merasa sakit hati adalah hal yang wajar. Namun Islam tidak mengajarkan kita untuk memelihara luka hingga berubah menjadi kebencian yang berkepanjangan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi membebaskan hati dari beban dendam yang hanya akan menyakiti diri sendiri.

Terkadang kita merasa sudah memaafkan, tetapi masih enggan menyapa, menghindar, atau berharap tidak pernah bertemu lagi dengan orang tersebut. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa hati masih menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh. Memaafkan memang tidak mudah, namun di situlah letak kemuliaannya. Semakin besar luka yang berhasil dimaafkan, semakin besar pula pahala dan ketenangan yang Allah berikan.

Menyembuhkan Luka Tanpa Melanggar Syariat

Islam tidak pernah mengabaikan rasa sakit yang dirasakan seseorang. Jika hati terluka, maka penyembuhan memang diperlukan. Seseorang boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri, mengurangi intensitas interaksi, atau menetapkan batasan yang sehat agar tidak terus-menerus tersakiti. Namun penyembuhan itu tidak boleh dilakukan dengan memutus tali persaudaraan. Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan tetap menjaga hak-hak sesama Muslim. Kita boleh berhati-hati, tetapi tidak boleh membenci. Kita boleh menjaga jarak, tetapi tidak boleh memutus hubungan.

Jangan Biarkan Luka Menjauhkan dari Kebaikan

Salah satu bahaya terbesar dari rasa sakit hati adalah ketika luka itu membuat seseorang menjauh dari ibadah dan lingkungan yang baik. Ada orang yang berhenti menghadiri majelis ilmu karena tidak ingin bertemu seseorang. Ada yang meninggalkan kegiatan dakwah karena kecewa terhadap individu tertentu. Bahkan ada yang menjauh dari komunitas muslim karena konflik yang pernah dialami. Padahal kerugian terbesar justru kembali kepada dirinya sendiri.

Orang yang menyakiti kita mungkin tetap menjalani hidup seperti biasa, sementara kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu, pahala, dan lingkungan yang mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, jangan biarkan ego dan luka mengambil alih kendali hidup kita.

Ketika hati terluka, jangan terburu-buru memutus silaturahmi. Sembuhkan lukanya, perbaiki niatnya, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Karena terkadang, kemuliaan seorang hamba justru terlihat dari kemampuannya tetap berbuat baik kepada orang yang pernah menyakitinya.

 

Penulis: Athaya Dinda Haniyah

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Tidak Ada Zaman yang Lebih Mudah: Tantangan Setiap Generasi Itu Nyata
15 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya

Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia
21 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Orang tua yang telah memasuki lanjut usia berbeda dengan orang tua yang masih berusia sekitar 40 tahunan ke... selengkapnya

Cara Perempuan Membatalkan Ta’aruf yang Baik
19 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Hal yang harus dipahami terlebih dahulu adalah makna ta’aruf itu sendiri. Ta’aruf bukanlah kesepakatan untuk menuju kepada... selengkapnya

Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban: Jangan Biarkan Berlalu Sia-Sia
13 Februari 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah dan pintu gerbang memasuki bulan suci Ramadan. Bulan Sya’ban merupakan... selengkapnya

Pembelajaran Hidup dari Tukang Parkir yang Selalu Berdzikir
10 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Suatu Jumat pagi, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Setelah saya memarkirkan motor di area bebas... selengkapnya

Sering Dilupakan Orang, Buya Yahya Beberkan Hikmah Puasa Ramadan
25 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tak terasa saat ini kita sudah memasuki hampir setengah dari bulan Ramadan. Semoga Allah Swt menerima amalan-amalan... selengkapnya

Hikmah dan Renungan Umat Muslim di Tahun Baru Masehi yang Bertepatan dengan Datangnya Bulan Rajab
31 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pergantian tahun dapat dijadikan momen refleksi bagi banyak orang, termasuk umat muslim. Tahun baru Masehi sering kali... selengkapnya

Coklat, Langit, dan Tauhid (Sebuah Cerpen)
18 Mei 2024

Cahaya matahari masuk ke sela-sela ruang kamarku. Aku menggeliat malas, tubuhku terasa sakit di beberapa bagian. Kejadian semalam seperti mimpi.... selengkapnya

Bala Tentara Allah Datang di Saat yang Tepat (Cerpen)
4 Agustus 2024

Sang surya mulai menampakkan sinarnya pertanda hari mulai merangkak siang. Teguh duduk termangu di teras rumahnya. Matanya mendelik ke arah... selengkapnya

Pentingnya Thaharah dalam Beribadah
8 Maret 2024

Judul Buku     : Thaharah: Risalah Praktis dan Ringkas Menguraikan tentang Thaharah (Bersuci) sebagai Syarat Sah dalam Beribadah Penulis             : Buya... selengkapnya

Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: