● online
Bolehkah Cut Off dalam Islam?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan dengan indah. Ada kalanya kita merasa tersakiti, dikecewakan, bahkan terluka oleh orang-orang terdekat. Ketika luka itu begitu dalam, muncul pertanyaan yang sering menghantui hati kita
“Haruskah aku tetap menjaga silaturahmi meski hatiku terluka?”
Kondisi semacam itu sering muncul di zaman sekarang, terutama ketika banyak orang mengenal istilah cut off atau memutus hubungan demi menjaga kesehatan mental. Namun sebagai seorang Muslim, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang persoalan ini.
Meluruskan Pemahaman Tentang “Cut Off”
Belakangan ini, banyak orang menjadikan kesehatan mental sebagai alasan untuk memutus hubungan dengan keluarga, sahabat, atau kerabat. Padahal, Islam sangat menjaga hubungan persaudaraan dan silaturahmi. Sering pula muncul kisah tentang Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan Wahsyi sebagai pembenaran untuk menjauh dari seseorang yang pernah menyakiti kita. Namun kisah tersebut perlu dipahami secara utuh.
Wahsyi adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang sangat beliau cintai. Meski demikian, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam tidak mengusir Wahsyi dari Islam ataupun memutus hubungannya sebagai sesama Muslim. Beliau hanya meminta Wahsyi agar tidak sering menampakkan diri di hadapannya karena kesedihan yang muncul saat mengingat peristiwa tersebut. Ini menunjukkan bahwa menjaga jarak dalam kondisi tertentu berbeda dengan memutus silaturahmi secara total.
Memaafkan adalah Perintah Allah
Sebagai manusia, merasa sakit hati adalah hal yang wajar. Namun Islam tidak mengajarkan kita untuk memelihara luka hingga berubah menjadi kebencian yang berkepanjangan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi membebaskan hati dari beban dendam yang hanya akan menyakiti diri sendiri.
Terkadang kita merasa sudah memaafkan, tetapi masih enggan menyapa, menghindar, atau berharap tidak pernah bertemu lagi dengan orang tersebut. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa hati masih menyimpan luka yang belum benar-benar sembuh. Memaafkan memang tidak mudah, namun di situlah letak kemuliaannya. Semakin besar luka yang berhasil dimaafkan, semakin besar pula pahala dan ketenangan yang Allah berikan.
Menyembuhkan Luka Tanpa Melanggar Syariat
Islam tidak pernah mengabaikan rasa sakit yang dirasakan seseorang. Jika hati terluka, maka penyembuhan memang diperlukan. Seseorang boleh mengambil waktu untuk menenangkan diri, mengurangi intensitas interaksi, atau menetapkan batasan yang sehat agar tidak terus-menerus tersakiti. Namun penyembuhan itu tidak boleh dilakukan dengan memutus tali persaudaraan. Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga diri dan tetap menjaga hak-hak sesama Muslim. Kita boleh berhati-hati, tetapi tidak boleh membenci. Kita boleh menjaga jarak, tetapi tidak boleh memutus hubungan.
Jangan Biarkan Luka Menjauhkan dari Kebaikan
Salah satu bahaya terbesar dari rasa sakit hati adalah ketika luka itu membuat seseorang menjauh dari ibadah dan lingkungan yang baik. Ada orang yang berhenti menghadiri majelis ilmu karena tidak ingin bertemu seseorang. Ada yang meninggalkan kegiatan dakwah karena kecewa terhadap individu tertentu. Bahkan ada yang menjauh dari komunitas muslim karena konflik yang pernah dialami. Padahal kerugian terbesar justru kembali kepada dirinya sendiri.
Orang yang menyakiti kita mungkin tetap menjalani hidup seperti biasa, sementara kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu, pahala, dan lingkungan yang mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, jangan biarkan ego dan luka mengambil alih kendali hidup kita.
Ketika hati terluka, jangan terburu-buru memutus silaturahmi. Sembuhkan lukanya, perbaiki niatnya, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Karena terkadang, kemuliaan seorang hamba justru terlihat dari kemampuannya tetap berbuat baik kepada orang yang pernah menyakitinya.
Penulis: Athaya Dinda Haniyah
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Bolehkah Cut Off dalam Islam?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu manusia membawa amanahnya masing-masing. Jika tidak dijaga, kekurangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjalani hidup yang harmonis merupakan impian semua orang dan untuk menuju hidup yang harmonis tentunya harus dengan usaha,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Judi atau yang dikenal sebagai maisir dalam konteks Islam, merupakan aktivitas yang dilarang keras karena dampaknya yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Ketika hati lelah, bingung, pikiran penuh, dan langkah terasa goyah, kita berusaha mencari pegangan akan sesuatu yang membuat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita seringkali mendapatkan pemberitaan tentang kasus pelecehan seksual yang yang umumnya menimpa kaum perempuan.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Islam adalah agama yang sempurna dan memuliakan setiap aspek kehidupan manusia, termasuk dalam urusan pernikahan. Memberikan kemudahan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sedekah adalah salah satu amalan yang bisa dilakukan oleh setiap Muslim, baik dirinya kaya maupun fakir. Dalam Islam... selengkapnya
Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair. Pada suatu waktu, ia dipilih oleh Rasulullah untuk melakukan tugas... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Menghadapi perasaan ragu-ragu atau waswas saat melaksanakan shalat, terutama terkait najis seperti air kencing, sering kali menjadi... selengkapnya
Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.