Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia

Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia

Diposting pada 21 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 426 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Orang tua yang telah memasuki lanjut usia berbeda dengan orang tua yang masih berusia sekitar 40 tahunan ke bawah. Dari segi fisik dan bahkan psikologis, di antara keduanya memiliki perbedaan yang mencolok. Meski tidak semua lansia memiliki keterbatasan yang lebih banyak dibandingkan usia di bawahnya, usia senja cenderung lebih memerlukan perhatian dalam menjalankan aktivitasnya. Oleh karenanya, berbakti kepada orang tua yang telah lanjut usia merupakan salah satu bentuk pengabdian etis sekaligus bukti spiritual seseorang. Sebab, tugas ini tidak hanya memerlukan ketekunan fisik, tetapi juga ketulusan hati, kestabilan emosi, serta keikhlasan yang berlapis.

Dalam pengalaman banyak orang, ketika orang tuanya menginjak usia senja, mereka harus menyisihkan banyak waktu untuk merawat orang tuanya yang mulai sakit-sakitan. Perasaan lelah, letih, dan terbebani kerap muncul secara manusiawi. Namun, pengalaman tersebut juga menjadi ruang refleksi tentang makna sesungguhnya dari berbakti kepada orang tua serta kedekatannya dengan nilai-nilai ketauhidan dan moralitas yang diajarkan dalam agama. Al-Qur’an memberikan penegasan yang sangat eksplisit mengenai kewajiban menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam Surah al-Isra’, Allah berfirman:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada mereka perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Ayat ini menegaskan bahwa pelayanan terhadap orang tua bukan sekadar kewajiban moral, tetapi berakar langsung pada hubungan tauhid: penyembahan kepada Allah dan pemuliaan terhadap orang tua ditempatkan dalam satu rangkaian perintah. Bahkan ekspresi keluhan yang paling ringan sekalipun seperti mengucapkan “ah” diperintahkan untuk dihindari, apalagi keluhan verbal maupun sikap batin yang lebih keras. Larangan ini menjadi titik awal refleksi spiritual bahwa kelelahan fisik tidak boleh berubah menjadi keluh-kesah yang mencederai rasa hormat dan penghargaan terhadap orang tua.

Di sisi lain, agama tidak menafikan kenyataan bahwa manusia memiliki batas fisik. Merasa lelah ketika merawat orang tua merupakan sesuatu yang wajar; yang ditekankan adalah bagaimana menjaga agar kelelahan itu tidak berubah menjadi ketidakikhlasan atau bahkan penolakan terhadap amanah tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad Salalallhu ‘Alaihi Wassalam menegaskan tiga kali:

“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.”

Penegasan berganda ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua terutama ibu adalah layanan spiritual yang menjadi sarana pintu pembuka keberkahan hidup. Dalam konteks ini, keikhlasan bukan berarti tidak merasakan letih, tetapi kemampuan mentransformasi kelelahan menjadi persembahan cinta dan rasa syukur atas kesempatan untuk mengabdi.

Kisah Abdullah bin Umar tentang seorang pemuda yang menggendong ibunya saat melaksanakan ibadah haji atau umrah sering dijadikan rujukan etis. Ketika pemuda itu bertanya apakah pengorbanannya sudah mampu membalas jasa ibunya, Abdullah bin Umar menjawab, “Tidak. Apa yang engkau lakukan tidak sebanding dengan satu hembusan napas ibumu ketika melahirkanmu.”

Refleksi moral dari kisah ini sangat mendalam: seluruh bentuk bakti seorang anak, sekalipun dengan usaha fisik yang besar, tidak akan pernah mampu menandingi pengorbanan eksistensial orang tua, khususnya ibu, yang mempertaruhkan nyawanya dalam proses melahirkan. Kesadaran ini bukan untuk membuat anak merasa tidak berdaya, tetapi untuk menanamkan kerendahan hati dan rasa syukur bahwa kesempatan merawat orang tua adalah perpanjangan dari hubungan kasih sayang yang telah berlangsung seumur hidup.

Dari perspektif etis, merawat orang tua menjadi ruang pengujian keikhlasan yang paling nyata. Ketika seseorang menggendong anaknya, yang terlintas adalah harapan dan masa depan; tetapi ketika merawat orang tua yang sakit dan tak berdaya, seseorang justru dihadapkan pada kesadaran tentang kefanaan hidup. Di sinilah godaannya, baik berupa rasa jenuh maupun keluhan batin mudah muncul. Namun, Islam mengajarkan agar anak mengubah perspektif tersebut: bahwa pelayanan kepada orang tua adalah ibadah yang berpahala besar, bahkan menjadi salah satu sebab turunnya ridha Allah. Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung kepada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Dengan demikian, pengabdian kepada orang tua bukan semata-mata urusan domestik atau kewajiban keluarga, melainkan ibadah yang memiliki implikasi teologis. Kesadaran ini dapat menjadi sumber ketenangan batin bagi siapa pun yang merawat orang tua dalam kondisi sulit: setiap tetes keringat, setiap malam tanpa tidur, setiap kesabaran, pada hakikatnya adalah amal yang dicatat sebagai bentuk penghambaan.

Pada akhirnya, merawat orang tua yang sakit harus dilihat bukan hanya sebagai beban atau kewajiban moral, tetapi sebagai kesempatan spiritual yang tidak diberikan kepada semua orang. Ketika seseorang diberi kepercayaan untuk merawat ayah atau ibunya menjelang akhir hayat mereka, ia sebenarnya sedang diberi jalan untuk mengumpulkan pahala, memperhalus hati, dan memperbaiki hubungannya dengan Allah. Di tengah kelelahan fisik, terdapat ruang refleksi untuk memahami kembali makna cinta, pengorbanan, dan kesabaran nilai yang membentuk fondasi etika Islam.

 

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Batal Menikah Bukan Akhir Segalanya
21 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Tidak semua yang telah direncanakan berjalan sesuai keinginan dan harapan. Termasuk dalam hal pernikahan. Pernikahan sebuah momen yang... selengkapnya

Perbedaan Puasa Arafah Antara Indonesia dan Arab Saudi Tahun 1443 H
7 Juli 2022

Di tengah-tengah kaum muslimin Indonesia sedang ramai perbincangan mengenai perbedaan penetapan hari Raya Iduladha. Sebagian pihak mengikuti ketetapan pemerintah melalui... selengkapnya

Marhaban Ya Ramadhan: Ramadhan yang Dirindukan
3 April 2022

Tak terasa kita sudah berada di hadapan bulan agung dan mulia. Bulan yang dirindukan kedatangannya oleh para kekasih Allah Swt,... selengkapnya

Tren War Takjil dengan Nonis: Gambaran Keharmonisan di Bulan Ramadan
24 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di tengah gemerlap bulan Ramadan, saat suasana kota terasa penuh kehangatan dan kebersamaan, pemandangan yang lazim terlihat... selengkapnya

Momentum Kemerdekaan Indonesia ke-80, Yayasan Al-Bahjah Ajak Orang Tua Siapkan Rumah Kedua untuk Anak
22 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Masih dalam semangat memperingati 80 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Al-Bahjah mengajak orang tua untuk menjadikan pendidikan... selengkapnya

Liburan Telah Selesai, Begini Cara Memulai Aktivitas dengan Semangat Baru
25 April 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya

Inovasi Dakwah Melalui Gedung Media Al-Bahjah yang Baru Diresmikan
10 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Divisi Media dan Dakwah Al-Bahjah mengadakan tasyakuran gedung media baru yang berdiri megah di kawasan kompleks yayasan... selengkapnya

Setan Dibelenggu Saat Ramadhan , Mengapa Masih Ada Orang Yang Berbuat Dosa?
27 Maret 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan pengampunan. Pada bulan ini, umat Islam diberikan... selengkapnya

AB Voice: Dakwah Melalui Musik
1 Oktober 2021

AB Voice: Dakwah Melalui Musik PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Alhamdulillah Pustaka Al-Bahjah, Rabu (29-09-2021) kedatangan tamu yang sangat spesial. Beliau adalah Kang... selengkapnya

Jihad Kita untuk Palestina
16 Oktober 2023

Seorang jamaah bertanya tentang jihad kepada Buya Yahya, “Bagaimana cara jihad untuk membela saudara kita yang terzalimi di Palestina? Sedangkan... selengkapnya

Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Lanjut Usia

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: