fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Coklat, Langit, dan Tauhid (Sebuah Cerpen)

Coklat, Langit, dan Tauhid (Sebuah Cerpen)

Diposting pada 18 Mei 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 75 kali / Kategori:

Cahaya matahari masuk ke sela-sela ruang kamarku. Aku menggeliat malas, tubuhku terasa sakit di beberapa bagian. Kejadian semalam seperti mimpi. Ah, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Hari ini, aku punya waktu untuk jalan-jalan. Tapi tidak, hari  ini adalah penting bagiku. Langit Spanyol begitu cerah pagi ini, secerah harapanku. Baiklah, aku harus menghubungi seseorang untuk menagih janjinya dua hari yang lalu. Tut Tut Tut suara sambungan telepon berbunyi, tak kunjung mendapatkan jawaban. Sepertinya Ayna sedang jauh dengan telepon genggamnya, pikirku. Akhirnya, aku putuskan untuk mengirim pesan saja. Ya, seseorang yang aku hubungi bernama Ayna.

Sudah pukul sembilan, langit Spanyol masih cerah dengan warna biru yang begitu nyaman dipandang. Aku duduk di kursi pojok kafe kecil di seberang apartemen. Menunggu Ayna. Dia bersedia menunaikan janjinya hari ini. Meng-iya-kan pesan yang kukirimkan tadi pagi. Sekitar sepuluh menit aku menunggu. Kopi yang kuminum sudah tandas, menyisakan cangkir dan piring kecil sebagai tatakannya. Ayna masih belum datang. Niatku ingin meneleponnya tetapi urung. Perempuan itu sudah duduk di depanku.

“Hai, sorry, Sakura. Aku terlambat. Ada beberapa hal yang menghambat perjalananku” Ayna masih mengatur napasnya yang kurang stabil, seolah seperti habis dikejar anjing.

It’s okay. Tetapi, apakah kamu baik-baik saja, Ayna?” Aku memerhatikan Ayna, wajahnya sedikit pucat dan hijab yang dikenakannya sedikit berantakan. Ayna menghembuskan napas berat, tersenyum, dan merapikan hijabnya.

“Aku baik-baik saja. Tidak perlu cemas, kawan” Ayna meyakinkanku.

Satu jam kami menghabiskan waktu di kafe tersebut. Ayna memesan es jeruk dan nasi goreng seafood kesukaannya. Membahas beberapa hal mengenai pekerjaan dan rasa makanan yang sedang kami nikmati. Jangan salah, menu di kafe kecil ini mengadopsi menu makanan di Indonesia, karena itu ada nasi goreng seafood di sini. Meskipun rasanya tidak semedok di Indonesia, kata Ayna. Tetapi itu cukup menghilangkan rasa rindu Ayna dengan makanan di negaranya.

Ayna adalah satu-satunya temanku. Dia baik, ceria dan pintar. Wajahnya putih bersih, tinggi dan selalu mengenakan hijab. Ayna adalah perempuan yang taat pada ajaran agamanya. Dia mau berteman denganku yang tidak beragama –atheis- tapi dalam hidupku, aku percaya Tuhan itu ada, hanya saja kepercayaanku terhadap Tuhan tidak sama dengan mereka yang beragama. Aku masih butuh keyakinan akan Tuhan agar aku bisa menganut agama tertentu. Aku tidak ─atau mungkin belum─ percaya pada agama. Meskipun begitu, Ayna selalu memberikanku pandangan lain tentang agama. Terutama tentang Islam. Mungkin, dia sedang mencoba agar aku bisa percaya pada satu agama. Aku memang tidak percaya pada agama tapi bukan berarti aku tidak mencari tahu tentang itu.

Jepang, Tiga tahun lalu.

Aku mencari tahu tentang semua agama hanya karena satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di pikiranku,

“Bagaimana bisa langit seluas ini terbentang, tanpa jatuh ke bumi, tanpa penyangga atau semacamnya, siapa yang menciptakannya, Tuhan yang mana yang mampu menciptakan langit dengan begitu kokoh?”.

Entahlah, pertanyaan itu muncul begitu saja ketika aku sedang menikmati kopi pagiku di kamar apartemen lantai dua puluh. Sambil menatap langit biru di balik pintu kaca kamarku. Bukannya aku tidak tahu mengenai sejarah terbentuknya langit. Bahkan persoalan itu sudah aku pelajari di sekolah. Hanya saja, aku merasa tidak puas dengan jawabannya. Aku ingin jawaban dari sudut pandang yang lain, terlebih lagi persoalan Tuhan, yang manakah yang mampu menciptakan langit?

Tiga tahun aku mencari jawaban pertanyaan itu. Hingga aku mendalami beberapa agama, tetapi nihil, semuanya tidak memberikan jawaban yang membuatku puas. Saat aku duduk di halte menunggu bus, perempuan disampingku menyodorkan sebatang coklat. Dengan bahasa Jepang yang lancar dia menawariku “Kamu mau coklat? Mungkin ini bisa sedikit membuat perasaanmu lebih baik”

Aku terdiam, menatap wajahnya yang tersenyum manis. Tanpa berbicara apa pun aku mengambil sebatang coklat itu dari tangannya. “Terima kasih, karena mau menerima coklat itu. Perkenalkan, saya Ayna, seorang muslim”. Perempuan yang barusan memberiku coklat sekali lagi mengulurkan tangannya. Aku menerima uluran tangannya dan memperkenalkan diri tanpa menyebutkan identitas agama apa pun. Aku berterima kasih untuk coklatnya, setelah itu aku bertanya pada Ayna, kenapa dia menyebutkan muslim saat memperkenalkan diri?

Karena Islam sangat minoritas di sini (Jepang) dan pakaianku masih dipandang aneh. Beberapa orang menjauhiku saat aku menyebutkan bahwa aku seorang muslim. Tapi kamu, tidak. Bahkan kamu bersedia menerima coklat yang kuberikan” Ayna menatap jalanan di depan. Seakan sedang membayangkan perlakuan orang-orang yang menghindarinya hanya karena pakaiannya.

“Apakah kamu berasal dari Indonesia?” Aku bertanya menggunakan bahasa Indonesia. Sengaja, karena aku tahu Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam terbesar di dunia dan pakaian yang dikenakan Ayna mirip dengan penduduk muslim di Indonesia. Bisa jadi dia memang berasal dari Indonesia. Ekspresi Ayna begitu senang seperti mendapatkan tiket konser VVIP Billie Elis secara gratis. Hey, siapa pula yang tidak senang dengan itu, bukan?

“Kamu, bisa bahasa Indonesia?” Bukannya menjawab pertanyaanku, Ayna malah bertanya. Baiklah, biar aku beritahu. Aku bisa menggunakan beberapa bahasa seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Jepang tentunya, karena aku tinggal di Jepang. Aku bisa bahasa Inggris sejak masih kecil karena aku sekolah di sana. Dan, bahasa Indonesia, aku mempelajarinya karena mengikuti les bahasa.

Aku tahu Ayna seorang muslim karena pakaian yang dikenakannya, tidak perlu menyebutkan muslim. Ingat tadi, aku mencari tahu tentang semua agama. Karena itu, aku tahu sedikit tentang Islam. Tetapi, Islam di Jepang begitu minoritas, karena itulah aku tidak mendapatkan kepuasan jawaban atas pertanyaanku. Itulah awal pertemuanku dengan Ayna. Setelah hari itu, kami sering bertemu dan Ayna selalu mempunyai cerita menarik mengenai Islam. Selain itu, dia selalu bisa memberikan jawaban yang puas dari setiap pertanyaanku.

Kembali ke kafe.

Kami sudah menghabiskan sarapan pagi ini. Hari ini tepat setahun aku berada di Spanyol. Ayna berasal dari Indonesia tetapi dia sudah lima tahun tinggal di sini. Kunjungannya ke Jepang tiga tahun lalu karena ikut suaminya perjalanan dinas. Benar, suami Ayna berasal dari Spanyol. Keturunan Islam sejak dulu. Asal kalian tahu, aku ini seorang freelancer, jadi aku bebas mau tinggal di mana saja, karena pekerjaanku fleksibel bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Mengapa aku menyebutkan hari ini adalah hari libur, padahal pekerjaanku fleksibel? Karena, aku memang meliburkan diri dari pekerjaanku hari ini. Aku khususkan karena Ayna bilang padaku dua hari lalu, bahwa hari ini dia akan memberikan jawaban mengenai pertanyaanku tiga tahun lalu. Bukannya Ayna tidak bisa menjawab pertanyaanku saat itu, hanya saja dia lebih tertarik menceritakan hal lain dari sisi Islam dan itu sukses membuatku semakin penasaran dengan Islam. Seperti halnya kejadian semalam. Ayna bercerita padaku bahwa bulan pernah terbelah oleh seseorang. Jelas aku tidak percaya itu. Dengan tenang Ayna menceritakan kisahnya. Sepulang dari rumah Ayna, aku mencari tahu perihal terbelahnya bulan. Dari tulisan di website, blog hingga jurnal-jurnal penelitian terpercaya. Aku kaget, ternyata kisah yang Ayna ceritakan memang benar, secara sains pun bisa dibuktikan bahwa bulan pernah terbelah. Meskipun penjelasan terbelahnya bulan berbeda, antara cerita Ayna dan jurnal penelitian yang aku baca, tetapi itu tetap saja sebuah hal yang luar biasa. Apa lagi, dari cerita Ayna, tentang seseorang yang bernama Muhammad, yang bisa membelah bulan. Jika kalian penasaran cari saja kisahnya. Saking takjub akan kebenaran cerita Ayna aku tidak memperhatikan langkahku. Aku terpeleset ketika hendak ke kamar mandi, itulah penyebab badanku terasa sakit saat bangun tidur.

“Jadi, Ayna, apa jawaban dari pertanyaanku, tentang terciptanya langit dan Tuhan mana yang mampu menciptakan itu?” Ayna bilang dia tidak akan menjawab pertanyaanku di sini. Kami keluar dari kafe sekitar lima menit yang lalu. Ayna membawaku ke rumahnya. Mengajakku pada sudut ruangan kecil di sana. Hey, sebelumnya aku tidak tahu jika ada ruangan kecil di sudut rumah Ayna.

“Tempat rahasia” kata Ayna. Ruangannya seperti ruangan ibadah ditambah dengan buku-buku yang tersusun rapi di rak. Terdapat kursi di dekat jendela dan kursi dengan meja kecil dekat rak buku. Indah dan nyaman. Ayna menyerahkan kitab suci yang disebut Al-Qur’an kepadaku. “Ayolah Ayna, aku ke sini bukan untuk belajar mengaji. Lagi pula, aku sudah memiliki Al-Qur’an darimu yang kamu jadikan hadiah ulang tahunku sepekan yang lalu” Aku medengus. “Bukalah halaman yang sudah kutandai, baca dan renungkan terjemahannya. Di sana kamu akan menemukan jawaban berbeda yang kamu cari selama ini”

Aku terdiam. Ruangan itu lenggang sejenak. Aku mengambil Al-Qur’an yang dipegang Ayna. Duduk di kursi dekat jendela yang menghadap hamparan hijau halaman belakang rumah Ayna. Dengan hati yang berdegup kencang, perlahan aku membuka Al-Qur’an itu, benarkah aku akan mendapatkan jawabannya? Baiklah, ini pertama kalinya aku membaca Al-Qur’an ─terjemahannya─ karena Al-Qur’an yang dihadiahkan Ayna hanya menjadi pajangan di lemari kacaku. Aku membuka halaman yang sudah Ayna tandai, nama suratnya adalah Ar Rad dan angka yang ditunjukkan oleh tanda itu bertempat di angka 2 ─disebut dengan ayat─ A Rad ayat 2. Aku membaca perlahan dan meresapi setiap kalimat yang tertulis di sana.

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (Makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu”.

Aku menutup Al-Qur’an tersebut. Mendongak menatap Ayna di seberang sana yang sedang membaca buku. Aku tahu, itu hanya pura-pura, Ayna pasti mendengar isak tangisku sejak tadi. Aku terenyuh dengan kalimatnya, dadaku terasa sesak, tidak bisa menahan air mata. Aku takjub dengan jawaban yang telah kutemukan. Seakan hatiku dipenuhi dengan bunga, rasanya seperti aku menemukan tempat pulang setelah berabad-abad tersesat. Aku memeluk Al-Qur’an itu dan kembali menangis tersedu-sedu. Ayna menghampiriku dan memelukku, membiarkan aku menumpahkan sesak ini hingga lapang. Lima menit, kini aku sudah merasa lebih baik.

“Terima kasih, Ayna. Kamu memberikan jawaban yang sangat luar biasa padaku,” Ayna tersenyum manis dan mengangguk sebagai jawaban dari ucapan terima kasihku. Hatiku sudah yakin, tekadku sudah bulat, maka saat ini juga aku berterus-terang pada Ayna. Aku menatap manik mata Ayna dengan serius. Menggenggam tangannya erat.

“Aku ingin menjadi muslim, Ayna. Aku ingin masuk Islam. Tolong bimbing aku,” sedetik kemudian Ayna melepas genggaman tanganku, dia langsung memelukku dan kali ini dia menangis. Aku heran.

Alhamdulillah, Ya Allah. Sakura, saat ini adalah momen yang paling aku tunggu. Akhirnya, aku bisa berteman denganmu bukan hanya sebatas teman seperjalanan tetapi kita menjadi saudara, saudara seiman dan seagama. Aku menangis karena aku bahagia. Akhirnya kamu menemukan jawaban sekaligus menemukan Tuhanmu. Tuhan kita, Allah”.

Aku ikut menangis dengan pernyataan Ayna. Tepat pukul dua siang waktu Spanyol, aku mengikrarkan syahadat di masjid kecil dekat rumah Ayna. Disaksikan oleh beberapa orang, termasuk Ayna dan suaminya. Rasanya hatiku lapang sekali seperti beban-beban dalam hidupku hilang begitu saja. Setelah proses ikrar syahadat selesai, Ayna memasangkan hijab panjang dikepalaku yang dia sebut dengan pashmina. Aku meminta Ayna untuk terus membimbingku agar aku bisa lebih dalam mengenal tentang Islam.

Itulah, perjalananku dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak sengaja lewat dipikiranku. Ternyata pertanyaan itu membawaku pada seorang perempuan bernama Ayna yang tak segan memberiku coklat dan dia juga yang menjadi perantaraku dalam memilih Islam. Alhamdulillah.

Tamat.

 

Penulis: Ara Husna

 

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara ini.

Tags: , , , ,

Bagikan ke

Coklat, Langit, dan Tauhid (Sebuah Cerpen)

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Coklat, Langit, dan Tauhid (Sebuah Cerpen)

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: