Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Diposting pada 23 Juli 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 22 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjadi Muslim moderat berarti menjalankan pemahaman agama dengan Rahmatan Lil Alamin, menolak segala bentuk ekstrimisme atau kekerasan, serta penuh dengan menghargai perbedaan. Gagasan tentang Islam moderat ini diamalkan umat Muslim sebagai jalan tengah sehingga dengan sadar menjalankan lelaku kesehariannya secara seimbang. Islam moderat juga merupakan antitesis dari Islam radikal yang menjadikan kekerasan sebagai cara untuk mendakwahkan Islam.

Gagasan Islam radikal sering kali menyisakan citra negatif terhadap ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, di tengah kehidupan yang penuh dengan pelanggaran aturan dan penyimpangan pelbagai norma yang sistemis, menjadi Muslim moderat menjadi metode yang relevan di era resolusi atas resolusi seperti sekarang. Selain itu, Muslim moderat juga adalah jalan yang sesuai dengan wajah Islam sebagai agama kasih sayang. Hal ini merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ … ١٤٣ ( البقرة/2: 143)

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Kajian kata-kata dalam ayat ini menurut para mufassir menjadi penting, karena setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki pesan dan maknanya tersendiri. Salah satu kata yang terdapat pada ayat tersebut adalah kata “Ummatan”. Arti kata tersebut merujuk pada umat Islam, bukan kepada agama Islam. Sebab agama Islam sudah barang tentu adalah moderat. Islam tidak perlu dimoderatkan dan tidak perlu disandingkan dengan kata “moderat”. Yang perlu diupayakan untuk bersikap moderat adalah umat Islamnya itu sendiri. Hal yang juga penting untuk disinggung dalam hal ini termasuk perlunya membedakan antara umat dan agama. Sebab bisa jadi seorang umat tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik sehingga dia tidak merefresentasikan dari agamanya itu sendiri.

Dalam ayat di atas juga terdapat kata “Ja’alna” yang artinya “menjadikan”. Dalam hal ini bermakna Allah membuat sesuatu yang awalnya “potensi” untuk menjadi “aktual”. Dengan demikian ia adalah gabungan dari tindakan atau kehendak Allah dengan tindakan manusia. Potensi yang dimaksud adalah agama Islam itu sendiri, atau lebih tegasnya adalah sesuatu ajaran yang moderat. Adapun aktualnya adalah tugas kita sebagai umatnya untuk menginternalisasi Islam yang moderat tersebut di dalam diri kita. Oleh karena itu dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa Allah menjadikan kita umat yang pertengahan (moderat). Maka, kajian-kajian mengenai Islam seharusnya dilakukan terhadap ajaran Islam itu sendiri, melalui sumber-sumber utamanya yaitu Al-Qur’an dan hadist. Tidak bisa dilihat hanya kepada tingkah laku umatnya belaka.

Kata selanjutnya yang dapat kita bahas yaitu kata “Wasathan”. Para ulama tafsir mengartikan kata ini setidaknya sebagai: pertengahan; adil; dan terbaik. Pertama diartikan sebagai pertengahan. Ya, kata wasit dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “Wasatha”. Seperti wasit ia mesti tengah-tengah. Artinya ia tidak dipengaruhi bias dari kanan maupun dari kiri. Dalam konteks wasit, ia tidak boleh memihak pada ancaman maupun rayuan. Tetapi dia harus senantiasa berada di tengah-tengah dalam mengambil keputusan. Namun tidak cukup dengan hanya berada di tengah-tengah, ia mesti diperkuat maknanya dengan “adil”. Sebab berada di tengah bukan berarti kita tidak bisa bersikap, tegasnya dalam hal ini moderat bukan berarti tidak berpihak. Oleh karena itu adil bukan berarti bersikap sama kepada masing-masing kubu. Akan tetapi adil itu adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Maka seorang yang sudah moderat dan tidak terbias dengan sesuatu yang berada di kanan atau kiri, mestilah juga bersikap adil, mana yang benar dan mana yang tidak.

Makna kata “wasathan” juga artinya terbaik. Bahwa seseorang tidak akan ditunjuk menjadi wasit kalau ia tidak menjadi yang terbaik. Dalam arti terbaik, mestilah ia memiliki ketinggian moral yang baik dalam menyampaikan kebenaran yang haq, meskipun kebenarannya itu berbeda dari kebenaran yang sudah dianggap oleh mayoritasnya.

Pada kesimpulannya, menjadi Mulsim moderat adalah menjadi Muslim yang berada di tengah-tengah. Tidak bias kanan atau kiri, menghukumi secara adil tentang apa yang benar dan apa yang salah, tanpa peduli dengan risiko-risiko atas sikapnya yang berbeda dari masyarakat mayoritas pada umumnya, serta menyampaikan kebenaran itu secara bijaksana. Menjadi Muslim moderat era sekarang berarti kembali pada Khittah agama Islam itu sendiri, pada solusi yang sudah ada dalam Islam itu sendiri.

Wallahu A’lam Bissowab

 

Penulis: Syahidan

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Dahsyatnya Keberkahan dalam Pengabdian
9 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah sekian lama bekerja di sebuah instansi, saya memutuskan resign, kemudian mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa lembaga... selengkapnya

Menjadi Pemuda Produktif ala Ashabul Kahfi
23 November 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Masa muda idealnya diisi dengan segala macam produktivitas. Namun, godaan dapat membawa masa muda menjadi sia-sia.... selengkapnya

SMAIQU Al-Bahjah Pusat Cirebon Borong Penghargaan dalam Ekspose Hasil Akreditasi 2023
6 Desember 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Santri SMAIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon borong penghargaan pada acara Ekspose Hasil Akreditasi 2023 yang digelar... selengkapnya

Di Bawah Kubah Nabawi
18 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Cahaya fajar menari-nari di atas bukit hijau yang perlahan menyembulkan wajahnya dari selimut malam. Udara segar, belum ternoda... selengkapnya

Kenapa Penetapan Awal Ramadan dan Syawal Kerap Berbeda?
11 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ada dua metode paling populer untuk menentukan awal bulan Hijriyah, yakni rukyat dan hisab. Perbedaan metode ini... selengkapnya

DOA AWAL DAN AKHIR TAHUN 1443 H
9 Agustus 2021

DOA AKHIR TAHUN بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اللّٰهُمَّ لَكَ الْـحَمْدُ أنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، ولَكَ الْحـَمْدُ لَكَ مُلْكُ... selengkapnya

Tak Hanya Dibaca dan Dihafal, Hadirkanlah Hati untuk Mencintai Al-Qur’an
19 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi... selengkapnya

Shalat dalam Keadaan Mengantuk: Tetap Shalat atau Ditunda?
3 Oktober 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mengantuk adalah sifat manusia yang dapat dialami oleh setiap orang. Rasa kantuk ini bisa disebabkan oleh berbagai... selengkapnya

Heboh! Gurun Tandus Di Arab Menghijau Disebut Pertanda Kiamat, Begini Penjelasan Buya Yahya
16 Januari 2023

Pustaka Al-Bahjah – Pengguna media sosial dihebohkan dengan fenomena alam yang terjadi di Arab Saudi. Pasalnya, negeri yang terkenal dengan... selengkapnya

Beruntunglah Umat Islam, Dikaruniai Bulan Suci Ramadhan
5 April 2022

Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Ramadhan akhirnya tiba. Satu bulan yang amat dirindukan oleh umat Islam di seluruh dunia, bulan penuh... selengkapnya

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: