Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Diposting pada 23 Juli 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 21 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjadi Muslim moderat berarti menjalankan pemahaman agama dengan Rahmatan Lil Alamin, menolak segala bentuk ekstrimisme atau kekerasan, serta penuh dengan menghargai perbedaan. Gagasan tentang Islam moderat ini diamalkan umat Muslim sebagai jalan tengah sehingga dengan sadar menjalankan lelaku kesehariannya secara seimbang. Islam moderat juga merupakan antitesis dari Islam radikal yang menjadikan kekerasan sebagai cara untuk mendakwahkan Islam.

Gagasan Islam radikal sering kali menyisakan citra negatif terhadap ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, di tengah kehidupan yang penuh dengan pelanggaran aturan dan penyimpangan pelbagai norma yang sistemis, menjadi Muslim moderat menjadi metode yang relevan di era resolusi atas resolusi seperti sekarang. Selain itu, Muslim moderat juga adalah jalan yang sesuai dengan wajah Islam sebagai agama kasih sayang. Hal ini merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ … ١٤٣ ( البقرة/2: 143)

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Kajian kata-kata dalam ayat ini menurut para mufassir menjadi penting, karena setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki pesan dan maknanya tersendiri. Salah satu kata yang terdapat pada ayat tersebut adalah kata “Ummatan”. Arti kata tersebut merujuk pada umat Islam, bukan kepada agama Islam. Sebab agama Islam sudah barang tentu adalah moderat. Islam tidak perlu dimoderatkan dan tidak perlu disandingkan dengan kata “moderat”. Yang perlu diupayakan untuk bersikap moderat adalah umat Islamnya itu sendiri. Hal yang juga penting untuk disinggung dalam hal ini termasuk perlunya membedakan antara umat dan agama. Sebab bisa jadi seorang umat tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik sehingga dia tidak merefresentasikan dari agamanya itu sendiri.

Dalam ayat di atas juga terdapat kata “Ja’alna” yang artinya “menjadikan”. Dalam hal ini bermakna Allah membuat sesuatu yang awalnya “potensi” untuk menjadi “aktual”. Dengan demikian ia adalah gabungan dari tindakan atau kehendak Allah dengan tindakan manusia. Potensi yang dimaksud adalah agama Islam itu sendiri, atau lebih tegasnya adalah sesuatu ajaran yang moderat. Adapun aktualnya adalah tugas kita sebagai umatnya untuk menginternalisasi Islam yang moderat tersebut di dalam diri kita. Oleh karena itu dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa Allah menjadikan kita umat yang pertengahan (moderat). Maka, kajian-kajian mengenai Islam seharusnya dilakukan terhadap ajaran Islam itu sendiri, melalui sumber-sumber utamanya yaitu Al-Qur’an dan hadist. Tidak bisa dilihat hanya kepada tingkah laku umatnya belaka.

Kata selanjutnya yang dapat kita bahas yaitu kata “Wasathan”. Para ulama tafsir mengartikan kata ini setidaknya sebagai: pertengahan; adil; dan terbaik. Pertama diartikan sebagai pertengahan. Ya, kata wasit dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “Wasatha”. Seperti wasit ia mesti tengah-tengah. Artinya ia tidak dipengaruhi bias dari kanan maupun dari kiri. Dalam konteks wasit, ia tidak boleh memihak pada ancaman maupun rayuan. Tetapi dia harus senantiasa berada di tengah-tengah dalam mengambil keputusan. Namun tidak cukup dengan hanya berada di tengah-tengah, ia mesti diperkuat maknanya dengan “adil”. Sebab berada di tengah bukan berarti kita tidak bisa bersikap, tegasnya dalam hal ini moderat bukan berarti tidak berpihak. Oleh karena itu adil bukan berarti bersikap sama kepada masing-masing kubu. Akan tetapi adil itu adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Maka seorang yang sudah moderat dan tidak terbias dengan sesuatu yang berada di kanan atau kiri, mestilah juga bersikap adil, mana yang benar dan mana yang tidak.

Makna kata “wasathan” juga artinya terbaik. Bahwa seseorang tidak akan ditunjuk menjadi wasit kalau ia tidak menjadi yang terbaik. Dalam arti terbaik, mestilah ia memiliki ketinggian moral yang baik dalam menyampaikan kebenaran yang haq, meskipun kebenarannya itu berbeda dari kebenaran yang sudah dianggap oleh mayoritasnya.

Pada kesimpulannya, menjadi Mulsim moderat adalah menjadi Muslim yang berada di tengah-tengah. Tidak bias kanan atau kiri, menghukumi secara adil tentang apa yang benar dan apa yang salah, tanpa peduli dengan risiko-risiko atas sikapnya yang berbeda dari masyarakat mayoritas pada umumnya, serta menyampaikan kebenaran itu secara bijaksana. Menjadi Muslim moderat era sekarang berarti kembali pada Khittah agama Islam itu sendiri, pada solusi yang sudah ada dalam Islam itu sendiri.

Wallahu A’lam Bissowab

 

Penulis: Syahidan

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Cara Meraih Keutamaan Lailatul Qadar bagi Wanita yang Sedang Haid
25 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan, malam yang penuh... selengkapnya

Bolehkah Dana Zakat Disalurkan untuk MBG?
9 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merupakan sebuah kebaikan membuat program mulia dengan membagikan makanan sehat, bergizi, dan gratis atau MBG kepada masyarakat. Selagi... selengkapnya

(Cerpen) Biarkan Aku Pergi
24 Januari 2026

AKU menulis ini bukan sebagai seseorang yang telah selesai dengan hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang masih berjalan tersendat, ragu, dan... selengkapnya

Buya Yahya: Santuni Anak Yatim Langsung ke Rumah Mereka
30 Juli 2023

Buya Yahya, pengasuh LPD Al-Bahjah memberikan tausiyah tentang cara yang lebih baik dalam menyantuni anak yatim dan piatu. Menurut Buya... selengkapnya

Jangan Sampai Keliru! Ini Dia Perbedaan Antara Cinta dan Nafsu
7 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Cinta merupakan fenomena yang lazim dialami oleh setiap manusia. Dan hawa nafsu merupakan sesuatu yang fitrahnya... selengkapnya

Pentingnya Membaca Buku: Manfaat yang Tak Tergantikan
29 Juli 2023

Membaca buku adalah kegiatan yang telah ada selama berabad-abad. Sejak ditemukannya tulisan, manusia telah menjadikan membaca sebagai salah satu cara... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Rumah yang Menenangkan adalah Tempat Pertama Anak Belajar Akhlak
13 Mei 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Anak tidak hanya tumbuh dari makanan yang ia makan atau sekolah tempat ia belajar. Anak juga tumbuh dari... selengkapnya

Tip Sukses Melakukan Iktikaf
4 April 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak amalan yang dapat dilakukan di bulan Ramadan, selain melakukan amalan-amalan yang biasa dilakukan di bulan-bulan lainnya,... selengkapnya

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0
23 Juli 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjadi Muslim moderat berarti menjalankan pemahaman agama dengan Rahmatan Lil Alamin, menolak segala bentuk ekstrimisme atau kekerasan, serta... selengkapnya

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: