Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Diposting pada 23 Juli 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 104 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjadi Muslim moderat berarti menjalankan pemahaman agama dengan Rahmatan Lil Alamin, menolak segala bentuk ekstrimisme atau kekerasan, serta penuh dengan menghargai perbedaan. Gagasan tentang Islam moderat ini diamalkan umat Muslim sebagai jalan tengah sehingga dengan sadar menjalankan lelaku kesehariannya secara seimbang. Islam moderat juga merupakan antitesis dari Islam radikal yang menjadikan kekerasan sebagai cara untuk mendakwahkan Islam.

Gagasan Islam radikal sering kali menyisakan citra negatif terhadap ajaran Islam itu sendiri. Oleh karena itu, di tengah kehidupan yang penuh dengan pelanggaran aturan dan penyimpangan pelbagai norma yang sistemis, menjadi Muslim moderat menjadi metode yang relevan di era resolusi atas resolusi seperti sekarang. Selain itu, Muslim moderat juga adalah jalan yang sesuai dengan wajah Islam sebagai agama kasih sayang. Hal ini merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ … ١٤٣ ( البقرة/2: 143)

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)

Kajian kata-kata dalam ayat ini menurut para mufassir menjadi penting, karena setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki pesan dan maknanya tersendiri. Salah satu kata yang terdapat pada ayat tersebut adalah kata “Ummatan”. Arti kata tersebut merujuk pada umat Islam, bukan kepada agama Islam. Sebab agama Islam sudah barang tentu adalah moderat. Islam tidak perlu dimoderatkan dan tidak perlu disandingkan dengan kata “moderat”. Yang perlu diupayakan untuk bersikap moderat adalah umat Islamnya itu sendiri. Hal yang juga penting untuk disinggung dalam hal ini termasuk perlunya membedakan antara umat dan agama. Sebab bisa jadi seorang umat tidak menjalankan ajaran agamanya dengan baik sehingga dia tidak merefresentasikan dari agamanya itu sendiri.

Dalam ayat di atas juga terdapat kata “Ja’alna” yang artinya “menjadikan”. Dalam hal ini bermakna Allah membuat sesuatu yang awalnya “potensi” untuk menjadi “aktual”. Dengan demikian ia adalah gabungan dari tindakan atau kehendak Allah dengan tindakan manusia. Potensi yang dimaksud adalah agama Islam itu sendiri, atau lebih tegasnya adalah sesuatu ajaran yang moderat. Adapun aktualnya adalah tugas kita sebagai umatnya untuk menginternalisasi Islam yang moderat tersebut di dalam diri kita. Oleh karena itu dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa Allah menjadikan kita umat yang pertengahan (moderat). Maka, kajian-kajian mengenai Islam seharusnya dilakukan terhadap ajaran Islam itu sendiri, melalui sumber-sumber utamanya yaitu Al-Qur’an dan hadist. Tidak bisa dilihat hanya kepada tingkah laku umatnya belaka.

Kata selanjutnya yang dapat kita bahas yaitu kata “Wasathan”. Para ulama tafsir mengartikan kata ini setidaknya sebagai: pertengahan; adil; dan terbaik. Pertama diartikan sebagai pertengahan. Ya, kata wasit dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “Wasatha”. Seperti wasit ia mesti tengah-tengah. Artinya ia tidak dipengaruhi bias dari kanan maupun dari kiri. Dalam konteks wasit, ia tidak boleh memihak pada ancaman maupun rayuan. Tetapi dia harus senantiasa berada di tengah-tengah dalam mengambil keputusan. Namun tidak cukup dengan hanya berada di tengah-tengah, ia mesti diperkuat maknanya dengan “adil”. Sebab berada di tengah bukan berarti kita tidak bisa bersikap, tegasnya dalam hal ini moderat bukan berarti tidak berpihak. Oleh karena itu adil bukan berarti bersikap sama kepada masing-masing kubu. Akan tetapi adil itu adalah menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Maka seorang yang sudah moderat dan tidak terbias dengan sesuatu yang berada di kanan atau kiri, mestilah juga bersikap adil, mana yang benar dan mana yang tidak.

Makna kata “wasathan” juga artinya terbaik. Bahwa seseorang tidak akan ditunjuk menjadi wasit kalau ia tidak menjadi yang terbaik. Dalam arti terbaik, mestilah ia memiliki ketinggian moral yang baik dalam menyampaikan kebenaran yang haq, meskipun kebenarannya itu berbeda dari kebenaran yang sudah dianggap oleh mayoritasnya.

Pada kesimpulannya, menjadi Mulsim moderat adalah menjadi Muslim yang berada di tengah-tengah. Tidak bias kanan atau kiri, menghukumi secara adil tentang apa yang benar dan apa yang salah, tanpa peduli dengan risiko-risiko atas sikapnya yang berbeda dari masyarakat mayoritas pada umumnya, serta menyampaikan kebenaran itu secara bijaksana. Menjadi Muslim moderat era sekarang berarti kembali pada Khittah agama Islam itu sendiri, pada solusi yang sudah ada dalam Islam itu sendiri.

Wallahu A’lam Bissowab

 

Penulis: Syahidan

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Dahsyatnya Puasa Arafah, Yakin Masih Mau Melewatkannya?
27 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa... selengkapnya

Tafsir Alam: Ketika Alam Tak Lagi Diam
16 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini telah terjadi berbagai bencana yang terjadi di negeri ini, terutama longsor dan banjir. Menurut berbagai sumber... selengkapnya

Sebuah Puisi: Balada Rindu Sang Bilal
12 Mei 2024

  Balada Rindu Sang Bilal (Oleh: Husni A. Mubarak)   Andai datang burung-burung surga padanya Bilal bin Rabah tetap memeras... selengkapnya

Mudah Mengingatkan dan Mudah Diingatkan
23 September 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjalani hidup yang harmonis merupakan impian semua orang dan untuk menuju hidup yang harmonis tentunya harus dengan usaha,... selengkapnya

Hukum Menukar Uang Baru dengan Selisih Nilai dalam Islam
11 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjelang hari raya, sering kita jumpai praktik penukaran uang baru di tempat-tempat tertentu. Banyak orang menukarkan uang dengan... selengkapnya

Puisi-Puisi Faizatulatifah (2): Hijrah yang Hijrah
12 Juli 2025

  Hijrah Cahaya   Tahun Baru Hijriah terbit seperti fajar keemasan, Menghadirkan harapan dalam tiap getar jiwa yang lapang. Hijrah... selengkapnya

Pergantian Tahun Adalah Renungan Muhasabah Diri untuk Menyongsong Tahun Depan yang Lebih Baik
28 Desember 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Beberapa hari menjelang akhir tahun ini kita akan menyaksikan banyak perayaan, panggung gembira, pesta, atau apa pun... selengkapnya

Bagaimanakah Perayaan Halloween Dalam Pandangan Islam?
11 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya

Mengupas 3 Tujuan Puasa: Elemen Penting dari Esensi Krusial Ibadah Puasa
5 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ramadan mestinya bukan hanya sekadar tradisi tahunan, bukan pula sebagai ajang kumpul buka puasa bersama semata, melainkan... selengkapnya

Antrean Haji Hingga Berpuluh Tahun, Harus Bagaimana?
11 Juni 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat diimpikan oleh jutaan umat islam di seluruh dunia. Banyak diantara... selengkapnya

Menjadi Muslim Moderat di Era Society 5.0

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: