Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Islam yang Asing

Islam yang Asing

Diposting pada 28 Februari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 226 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Islam yang asing merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi pada abad ke-21, abad di mana generasi Z, Alfa, dan Beta lahir. Generasi ini lahir pada masa teknologi berkembang pesat, sehingga untuk mendapatkan pengetahuan seperti halnya agama bisa dilakukan dari gawai mereka sendiri. Tanpa perlu susah-susah datang ke pengajian atau sebuah majelis. Namun kondisi itu memiliki risiko apabila orang tua tidak mengajari ilmu agama yang cukup dan mengarahkannya kepada guru agama.

Hal tersebut dapat ditilik dari fakta bahwa sudah sangat jarang sekali kita melihat generasi muda sekarang pergi ke sebuah majelis ilmu. Maka tidak heran, jika didikan ilmu agama yang sangat kurang mengakibatkan lemah dan keroposnya iman serta Islam pada generasi sekarang. Mereka bisa mengakses semua ilmu agama, bahkan dari semua golongan sekalipun─ golongan yang bertentangan dengan akidahnya. Hal itu diperparah dengan orang tuanya yang juga tidak faham dengan ilmu agama, membuat anaknya salah dalam beragama dan akhirnya salah juga memilih guru yang benar. Kondisi tersebut membuat generasi ini menjadi seperti asing dengan agamanya sendiri, jauh dari Tuhan dan ragu dengan keyakinannya. Barangkali memang sudah menjadi sebuah fakta bahwa hal tersebut dampak dari ketidakbijakan menghadapi perkembangan teknologi seperti gawai.

Sebagai pembanding, saya ambil contoh generasi sebelumnya yaitu generasi Y/Milenial yang terlahir pada rentang waktu 1981-1996. Tahun itu gawai yang dianggap tercanggih adalah Nokia, Motorolla, Ericsson, dan Siemens. Itupun hanya orang-orang tertentu yang benar-benar mampu dan mempunyai banyak uang saja yang dapat memilikinya. Artinya, sangat sedikit sekali orang yang mempunyai gawai. Para remaja kala itu masih banyak bermain permainan tradisional bersama, shalat ke masjid bersama, mengaji bersama, dan banyak kegiatan lainnya yang dilakukan secara bersama, terutama dalam aktivitas peribadahan.

Pada zaman itu, masih banyak seorang anak belajar mengaji Al-Qur’an yang dimulai dengan pembacaan Iqro oleh orang tuanya langsung secara talaqqi. Jika salah melafalkan huruf, orang tuanya akan menghukumnya dan memberi peringatan agar tidak mengulangi kesalahan. Anak mempunyai rasa tanggung jawab agar tidak salah kembali, memiliki jiwa kedisiplinan yang kuat karena takut akan hukuman ibunya lalu dia pun bekerja keras lebih giat belajar mengaji.

Contoh lainnya, saat menjelang shalat berjamaah Magrib, para remaja berbondong-bondong pergi ke masjid/mushala/surau/tajug. Kebersamaan, kekeluargaan, dan kebahagiaan masih sangat bisa dirasakan walaupun tanpa gawai. Bahkan kesenangannya membekas melebihi daripada bermain gawai. Sudah sangat terasa, bahwa seorang teman yang menggunakan gawai kala itu cenderung memiliki rasa simpati dan empati yang kurang terhadap teman lainnya. Rasa peka terhadap sekitar juga menurun, serta jiwa sosial yang lambat laun hilang karena faktor gawai. Maka menjadi tidak heran jika saat ini kondisi tersebut─kecenderungan dampak dari penggunaan gawai─pun turut dirasakan.

Selain itu, tatkala memasuki bulan Ramadan seperti sekarang, suasananya sungguh berbeda. Dahulu, Ramadan adalah bulan penuh keceriaan. Sebab di dalamnya banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Salah satunya aktivitas setelah shalat Subuh, anak-anak diwajibkan mencatat kajian Subuh/kultum (kuliah tujuh menit) melalui sebuah buku yang diberikan oleh sekolah. Bagi siswa yang tidak mencatat dan mendapatkan tanda tangan Kyai/Ustadz maka akan mendapat sanksi dari sekolah. Dengan penuh kekhusyukan dan tertib anak-anak mendengarkan ceramah dari ustadz pengisi. Meski terkesan sebagai tugas belaka, hal tersebut ampuh membuat seseorang menjadi tahu akan ilmu agama.

Mari kita refleksikan kondisi ini. Di tengah umat Islam sebagai umat terbesar di dunia, akankah kembali ke masa di mana Nabi Muhammad Salallahu ‘Alahi Wasalam berdakwah dianggap asing? Terdapat sebuah hadis Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wasalam tentang kondisi umat Islam di akhir zaman yang diibaratkan seperti buih di lautan. Artinya, berjumlah banyak namun tidak memiliki kualitas dan kekuatan, sehingga lawan/musuh tidak segan untuk menyerang dari sudut mana pun. Tentu pekerjaan rumah ini adalah tugas bersama. Langkah awal yang perlu dilakukan dari diri sendiri adalah mengenalkan ilmu agama kepada keluarga kita sendiri (orang tua, suami/istri, anak/menantu, cucu, dan lainnya). Selanjutnya, orang-orang yang berada di sekitar kita (tetangga, teman, rekan kerja, dan lainnya).

Tayangan yang ada saat ini di media TV khususnya lebih diperbanyak muatan agamanya. Jangan menayangkan hiburan belaka tanpa dibalut dengan pendidikan agama yang hanya akan semakin menjerumuskan generasi ini jauh dengan agama. Selain itu, perlu adanya peran pemerintah selaku pemangku kebijakan. Aturan yang terikat pun perlu dibuat oleh pemerintah dalam hal ini Presiden sebagai pemegang otoritas tertinggi di negara ini. Seperti mengaji setelah Magrib yang dapat dimasukkan ke dalam aturan pembiasaan siswa di bawah naungan Kementerian Pendidikan. Aturan pembatasan umur remaja yang boleh menggunakan gawai, dan aturan-aturan lainnya yang dapat mengatasi degradasi keasingan generasi saat ini pada agama. Semoga kita semua diberikan kekuatan dalam menghadapi segala ujian, serta dimudahkan dalam menjalankan segala kebaikan. Amin.

 

Penulis: Ivan Arief Rachman, S.Pd.

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Islam yang Asing

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”
11 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami,... selengkapnya

Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa?
27 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah)... selengkapnya

Menyoal Cadar: Antara Syariat dan Budaya
26 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Isu mengenai cadar selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan, terlebih bagi anak-anak muda yang baru mengetahui... selengkapnya

Bulan Suro Adalah Bulan Keramat, Benarkah?
18 Juli 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pada sebagian masyarakat indonesia, terdapat sebuah keyakinan bahwa bulan Suro atau Muharram adalah bulan keramat. Pada... selengkapnya

Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)
23 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merenung sebelum bertindak menjadi urgent di tengah-tengah hidup yang serba kompleks. Bahkan orang tua zaman dahulu sering kali... selengkapnya

Jangan Dulu Mudik Sebelum Tahu Ini: Shalat Bisa Dilakukan di Atas Kendaraan
24 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Terdapat tradisi masyarakat ketika menjelang Hari Raya Idulfitri, yaitu mudik. Tradisi mudik yang ada di Indonesia terbilang... selengkapnya

Liburan Telah Selesai, Begini Cara Memulai Aktivitas dengan Semangat Baru
25 April 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya

Mengukur Derajat Sabar dan Syukur, Mana yang Lebih Luhur?
30 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya

Mengupas 3 Tujuan Puasa: Elemen Penting dari Esensi Krusial Ibadah Puasa
5 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ramadan mestinya bukan hanya sekadar tradisi tahunan, bukan pula sebagai ajang kumpul buka puasa bersama semata, melainkan... selengkapnya

Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?
26 Mei 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian... selengkapnya

Islam yang Asing

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: