● online
Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merenung sebelum bertindak menjadi urgent di tengah-tengah hidup yang serba kompleks. Bahkan orang tua zaman dahulu sering kali mengingatkan kita untuk senantiasa “berpikir panjang dulu sebelum bertindak”. Sebab ketika melakukan sesuatu hanya sekadar dipikirkan secara pendek, sering kali tindakan tersebut hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga semata, tanpa bermanfaat secara esensial.
Pada situasi yang lain, asal bertindak (baca: ugal-ugalan) sering kali hanya menghasilkan mudharat dibandingkan manfaat. Betapa banyak kebijakan, aturan, atau hal-hal semacamnya yang justru menimbulkan mudharat dibandingkan maslahat. Barangkali hal tersebut dicetuskan tidak berdasarkan perenungan yang panjang─atau merenung, tapi dengan pertimbangan yang salah.
Merenung juga sangat relevan untuk dilakukan seseorang tatkala ia mengalami kejumudan (baca: mumet). Jangan terlalu cepat mengambil tindakan, pikirkan terlebih dahulu. Banyak situasi yang kurang mendukung tatkala tindakan dilahirkan dalam keadaan kurang tepat. Seperti membuat keputusan ketika marah atau berjanji di saat sedang merasa senang. Padahal kedua situasi tersebut bisa sangat mungkin hanya bernilai baik pada saat itu saja, tetapi tidak pada waktu berikutnya.
Mencari Solusi dengan Merenung dan Refleksi
Ketika kita mengalami kepenatan, bahwa apa-apa yang telah kita lakukan terasa mentok, sehingga alih-alih merasa dewasa semakin gembira misalnya, tetapi nyatanya menjemukkan, jangan-jangan hal itu bukan karena kesalahan cara berlaku kita. Akan tetapi karena pola pikir kita saja yang sempit, sehingga pandangan kita mengenai usia dewasa itu seperti demikian. Kita lupa, seandainya melihat sejenak orang-orang yang ada di luaran sana, banyak yang jauh berada di bawah kita. Akan tetapi toh mereka tetap senang dan nyaman menjalaninya. Dari dua posisi tersebut kita dapat menyimpulkan dua hal; pertama, cara berpikir yang berbeda menghasilkan cara bersikap yang berbeda pula; kedua, refleksi atas diri sendiri dan memperluas perspektif memengaruhi dan meningkatkan pola pikir. Oleh karena itu, merenung dan refleksi sangat penting dalam membentuk pola pikir.
Proses perenungan dan refleksi dapat didefinisikan ke dalam berbagai konteks dan kebutuhan, termasuk di dalam pekerjaan. Pada perusahaan besar maupun kecil, pasti ia akan senantiasa dan harus memiliki sebuah program, atau paling tidak, sesuatu yang akan dikerjakan. Maka, menjadi sebuah keniscayaan jika dalam membuat program tersebut tidak melalui proses perencanaan. Pada berbagai kebutuhan sebuah program, biasanya mestilah ditentukan Key Performance Indikator (KPI) misalnya, atau analisis-analisis lainnya terlebih dahulu. Dalam hal ini, maka proses tersebut dapat disebut juga sebagai proses perenungan dan refleksi. Pada akhirnya, melalui proses tersebut, sebuah program akan memiliki tujuan dan ukuran yang lebih terarah dibandingkan tidak melakukan proses perenungan dan refleksi terlebih dahulu─betapa menyedihkannya banyak pekerja, baik atasan maupun bawahan, kerja hanya asal kerja: tidak diberikan hati.
Berubah untuk Menjadi Lebih Baik
Kesdaran untuk merenung sebelum bertindak sering kali diidentikkan dengan kecerdasan, dan kecerdasan selalu berdikotomi dengan kebodohan. Namun, kegiatan merenung bukanlah sesuatu yang eksklusif, ia milik semua orang yang menginginkannya. Pertanyaannya, seberapa orang yang merasa penting bahwa merenung sebelum bertindak itu adalah perlu? Oleh karena itu, orang yang tidak merenung sebelum bertindak─dan akhirnya menyesal─bukan berarti bodoh, tetapi memang tidak memiliki kesadaran bahwa perilaku, tindakan, atau keputusan yang tidak didasari dengan merenung bukanlah suatu kesalahan. Padahal sering kali merenung menjadi esensial untuk diterapkan dalam berbagai hal. Oleh karena itu, kesadaran untuk merenung adalah sesuatu hal yang mahal dan tidak semua orang bisa dan mau melakukannya.
Seandainya seseorang tidak mau sadar dan sudah merasa nyaman dengan pola pikirnya yang itu-itu saja, maka ia berada dalam kerugian. Islam pun memberikan sebuah pengajaran melalui hadist Nabi, bahwa manusia yang beruntung adalah manusia yang bisa lebih baik dari hari sebelumnya. Sebaliknya, manusia yang rugi adalah manusia yang tidak bisa berubah. Artinya manusia yang tidak ada perkembangan dari hari sebelumnya ke hari berikutnya. Adapun cara agar bisa berkembang dan menjadi lebih baik dari hari berikutnya adalah dengan merenung dan merefleksikan diri: mengambil jeda atau barangkali mundur selangkah untuk melesat lebih jauh dan tinggi lagi. Seseorang yang telah merasa dirinya mapan dan tidak mau berbenah atas pola pikirnya yang telah menjadi pakemnya, maka ia akan kehilangan masa depannya. Semoga kita semua diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kesadaran dan kemudahan untuk melakukan perenungan. Amin.
Penulis: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Abu Dzar adalah sahabat dekat Rasulullah dan termasuk salah satu orang terawal yang masuk Islam. Ketika ia masuk... selengkapnya
Musyawarah Kerja Divisi Dakwah dan Media LPD Al-Bahjah Cirebon Tahun Buku 2021 Media komunikasi dan informasi dewasa ini mengalami perkembangan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sabar dan syukur merupakan dua kata yang umum diucapkan, namun pada hakikatnya sangat sulit untuk dipraktikkan. Lisan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pendiri mazhab Syafi’i bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris As-Syafi’i. Lahir dalam keadaan yatim di Gaza pada... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sahabat sekalian, puasa merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Siapa pun yang meninggalkan puasa... selengkapnya
Bismillahirrahmaniirahim. Allhummah shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbini wasallim. Alhamdulillah, sejak tanggal 18 Oktober 2023 lalu hingga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika seorang wanita hadir dengan kemuliaan dan kesalehannya, ia membawa keberuntungan besar bagi orang-orang yang berada di... selengkapnya
Judul Buku : Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan dan Saat Macet Penulis : Buya Yahya Penerbit : Pustaka Al-Bahjah... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Memasuki bulan Maulid (Rabi’ul Awwal) tahun 1445 Hijriah ini, persiapan untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Masih dalam semangat memperingati 80 tahun Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Yayasan Al-Bahjah mengajak orang tua untuk menjadikan pendidikan... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 300 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Ukuran: 14 x 21 cm Tebal buku: 144 Halaman Sesungguhnya syariat Islam adalah syariat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000
Saat ini belum tersedia komentar.