● online
Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Mendaki gunung merupakan aktivitas luar ruangan yang belakangan ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Pada gunung-gunung tertentu, proses pendakian memakan waktu yang sangat lama, sehingga tak jarang para pendaki melakukan perjalanan sampai sore bahkan hingga larut malam. Namun sebagai umat Muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menunaikan shalat lima waktu di mana pun kita berada jika tidak ada udzur. Sementara itu, sebelum melaksanakan shalat kita harus dalam keaadaan suci dari hadas dengan cara berwudhu atau mandi seperti keterangan dalam kitab Iqna karya Imam Syirbini:
وفي موجبه أوجه: احدها الحدث وجوبا موسوعا، ثانيها: القيام إلى الصلاة و نحوها
“Salah satu yang mewajibkan wudhu bagi setiap orang di antaranya: pertama, untuk menghilangkan hadas; kedua, menunaikan shalat wajib, baik shalat fardhu maupun sunah.”
Saat mendaki, seseorang yang akan melaksanakan shalat namun tidak menemukan sumber mata air. Lantas bagaimana seorang pendaki Muslim menunaikan shalat lima waktunya? Sedangkan persediaan air hanya untuk kebutuhan memasak dan lainnya. Maka solusinya adalah dengan bertayamum sebagai pengganti dari wudhu. Kebolehan bertayamum sebagai pengganti wudhu ini disebutkan dalam kitab Iqna, di antaranya karena kesulitan menemukan air.
الأول: وجود العذر وهو العجز عن استعمال الماءبسفر
“Boleh bertayamum sebab tidak menemukan air saat bepergian.”
Namun, Imam Syirbini menjelaskan lebih rinci tentang bepergian seperti apa yang memperbolehkan bertayamum untuk menggantikan wudhu.
وللمسافر أربعة احوال:
الحال الأول: ايتيقن عدم الماء، فيتيمم حينءذ بلا طلب، إذا لافاءد فيه سواء اكان مسافر أم لا، وفقده في السفر جرى على الغالب
“Bagi seorang musafir boleh bertayamum dalam empat keadaan. Keadaan pertama yaitu jika ia yakin tidak adanya air, maka ia boleh bertayamum seketika itu tanpa mencari air karena jika mencari air tidak ada faedahnya. Hal ini berlaku baik dalam keadaan bermusafir atau tidak. Dan tidak adanya air dalam keadaan berpergian berlaku pada umumnya.”
Maksud dari pernyataan di atas yaitu seorang musafir boleh bertayamum jika sudah yakin tidak ada air di sekitarnya. Dalam hal ini, seorang pendaki yang sudah jelas dia mendaki gunung yang memang tidak ada mata air, maka boleh langsung bertayamum seketika itu tanpa harus mencari air terlebih dahulu, karena mencari air tidak ada gunanya.
Penulis: Mustofa Ali Maksum
Penyunting: Assyifa
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Bolehkah Bertayamum saat Mendaki Gunung?
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Akhir-akhir ini kita seringkali mendapatkan pemberitaan tentang kasus pelecehan seksual yang yang umumnya menimpa kaum perempuan.... selengkapnya
Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Era digital menuntun setiap orang untuk mengakses pelbagai informasi yang mudah dijangkau, tanpa terkecuali dan tanpa memerlukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan berumah tangga, hubungan suami dan istri bukanlah hubungan saling menuntut atau saling membebani, tetapi hubungan saling... selengkapnya
Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah Upaya untuk menyebarkan dakwah di tengah-tengah masyarakat tentunya memerlukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada beberapa kajian keagamaan yang sering bersileweran di media sosial, banyak di antaranya memberikan informasi mengenai kejadian-kejadian mengerikan... selengkapnya
Jadikanlah Iduladha saat ini adalah untuk memulai dengan sungguh-sungguh berjuang dan berkorban dengan apa pun yang kita miliki untuk meruntuhkan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya
PADA suatu hari, Hutan Alamara tidak lagi memantulkan ketenangan yang dulu menjadi jiwanya. Sungai yang pernah berkilau bagai kaca kini... selengkapnya
Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku “Silsilah Fiqih Praktis Qurban” karya Buya Yahya merupakan sebuah panduan praktis yang memberikan pemahaman mengenai hukum dan tata cara… selengkapnya
Rp 57.000
Saat ini belum tersedia komentar.