Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Diposting pada 11 Februari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 293 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami, dan selalu menjadi pihak yang paling menderita. Saat bercerita seseorang suka menempatkan diri dalam posisi korban setelah terjadi permasalahan entah itu dengan teman, pasangan, rekan kerja maupun tetangga. Situasi ini dikenal dengan istilah playing victim.

Playing victim adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura atau sengaja menempatkan dirinya sebagai korban. Padahal, sebenarnya dia mungkin ikut bersalah, atau bahkan pelaku dari masalah. Secara psikologis, playing victim ialah kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, memanipulasi orang lain, dan menarik simpati.

Ditinjau dari cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna (etimologi), istilah playing victim berasal dari bahasa Inggris. Kata “playing” memiliki makna bermain. Sedangkan kata “victim” memiliki makna korban. Jika kedua kata digabungkan, maka mempunyai makna “bermain korban”. Dalam konteks psikologi dan perilaku, secara harfiah playing victim berarti “berpura-pura menjadi korban” atau “berperan sebagai korban”. Dalam penggunaan sehari-hari, playing victim tidak hanya berarti berpura-pura jadi korban, tetapi juga memiliki konotasi manipulatif, yaitu menggunakan posisi “korban” sebagai alat untuk menghindari kesalahan atau memengaruhi simpati orang lain.

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belum memiliki padanan baku tunggal untuk playing victim. Namun, ada beberapa idiom, istilah atau frasa yang sering digunakan sebagai terjemahan yang kontekstual. Pertama, berpura-pura menjadi korban; frasa yang paling mendekati makna harfiah. Kedua, memainkan peran sebagai korban; frasa netral atau bisa dipakai dalam konteks ilmiah. Ketiga, sikap mental korban; frasa atau istilah psikologis. Keempat, mentalitas korban atau mental korban; frasa yang biasa digunakan untuk menggambarkan pola pikir seseorang yang selalu merasa disakiti atau dianiaya, meski belum tentu kebenarannya. Kelima, drama korban; frasa yang digunakan secara informal untuk menyindir orang yang memanfaatkan narasi korban demi mendapatkan simpati.

Seseorang yang playing victim biasanya memiliki ciri khas, seperti suka menyalahkan orang lain atas masalahnya, sulit menerima kritik, dan sering menarik simpati dari lingkungan sekitar. Mereka seolah-olah tidak pernah salah dan dunia terlalu kejam pada mereka. Perilaku seperti ini berasal dari pengalaman traumatis, pola asuh yang otoriter, atau bahkan strategi pribadi untuk menghindari tanggung jawab.

Psikolog klinis asal Indonesia, Anastasia Nadya Caestara, menyatakan bahwa perilaku playing victim sering kali muncul karena individu tidak dibiasakan bertanggung jawab sejak kecil. Dalam wawancara yang dikutip dari jurnal Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, ia menjelaskan bahwa individu yang memiliki ego cenderung membentuk narasi diri sebagai korban agar tetap diterima secara sosial dan terhindar dari rasa malu atau gagal.

Persoalan ini juga mendapat sorotan dari Dr. Guy Winch, penulis buku Emotional First Aid. Ia mengatakan, “Menjadi korban adalah pengalaman, tapi memainkan korban adalah pilihan.” Dalam konteks ini, playing victim merupakan bentuk manipulasi emosional yang bertujuan memperoleh simpati atau kekuasaan emosional atas orang lain.

Sebetulnya, contoh nyata playing victim banyak terjadi dalam hubungan interpersonal atau antarpribadi. Misalnya, seorang pasangan yang bersikap kasar, tetapi ketika ditegur justru menangis dan berkata, “Aku begini karena kamu nggak pernah perhatian.” Alih-alih mengakui kesalahan, ia menggunakan posisi korban untuk menghindari tanggung jawab dan membuat lawannya merasa bersalah.

Dalam skala lebih besar, playing victim juga banyak ditemukan di dunia politik atau selebritas. Misalnya, seorang politikus yang dikritik karena kebijakannya biasanya berkata, “Saya diserang terus, padahal niat saya baik.” Atau publik figur yang terlibat skandal kemudian tampil di depan publik dengan tangisan dan pernyataan “Saya hanya manusia biasa”. Keduanya, jika dilakukan secara sadar dan terus-menerus, ini adalah bentuk manipulasi citra yang berbahaya.

Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa individu yang memiliki victim mentality (mentalitas korban) sering kali merasa lebih berhak atas empati dan mendapat perlakuan khusus. Mereka juga lebih cenderung memutarbalikkan situasi agar terlihat benar di mata orang lain, bahkan ketika mereka yang memicu konflik.

Sosiolog Indonesia, Imam B. Prasodjo, dalam beberapa kesempatan mengkritisi budaya “selalu merasa dizalimi” dalam masyarakat. Menurutnya, kebiasaan merasa jadi korban tanpa refleksi akan menghambat pembangunan karakter dan budaya tanggung jawab. “Kalau semuanya merasa dizalimi, siapa yang mau membenahi keadaan?”

Oleh karenanya, sebagai masyarakat kita perlu lebih cermat membedakan antara korban yang sungguh-sungguh perlu dukungan, dengan mereka yang menjadikan status korban sebagai cara untuk menghindari introspeksi. Lalu, jika kita menyadari diri sendiri sering merasa sebagai korban, cobalah untuk lebih jujur. Apakah saya benar-benar disakiti, atau saya hanya tidak mau disalahkan?

Adapun dampak dari pola ini cukup serius. Selain merusak hubungan pribadi dan profesional, mentalitas playing victim juga melemahkan kemampuan individu untuk menghadapi kenyataan. Jangka panjangnya, ini bisa berujung pada learned helplessness, yaitu kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu mengubah nasibnya meskipun sebenarnya bisa. Jika tidak diatasi, playing victim bisa mengakar sebagai identitas sosial yang menghambat pertumbuhan pribadi.

 

Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Menyulam Pahala dalam Setiap Masakan
22 Mei 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tahukah kamu bahwa setiap aktivitas sehari-hari bisa menjadi ladang pahala, termasuk memasak? Allah Swt memberikan banyak kesempatan... selengkapnya

Tetangga Non-Muslim Meninggal Dunia, Apakah Boleh Merawat dan Mendoakan?
31 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam kehidupan bertetangga dengan non-muslim, tentu kita tidak dapat tenghindar dari hal-hal yang berhubungan dengan kepedulian... selengkapnya

Mengapa Anda Harus Menyambut Bulan Kelahiran Manusia Pilihan?
3 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada tanggal 06 Muharram 1446 H/12 Juli 2024, podcast “Satu Hati” akan menggelar episode istimewa yang bertajuk... selengkapnya

Khutbah Idulfitri 1445 H
9 April 2024

Ramadan telah mengajarkan kita ketenangan hati, ketulusan jiwa dan kesabaran dalam berproses untuk mencapai kejayaan. Oleh karenanya, Ramadan bukan hanya... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah
18 September 2024

  Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan   Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya

Ketika Hati Sudah Kotor, yang Dicari dari Orang Lain Hanyalah Keburukannya
29 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati merupakan bagian sensitif dari diri manusia. Melaluinya kita bisa merasakan ketenangan, keindahan, dan kegembiraan hidup. Begitu juga... selengkapnya

Awas! Hijab Antara Murid Dengan Guru, Penyebab Sulitnya Mendapatkan Ilmu
14 Mei 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu ikhtiar untuk mendapatkan ilmu. Namun bagaimana jika antara guru dengan... selengkapnya

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka dan Idealisasinya Menurut Para Ulama
16 Agustus 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini mengucapkan kata paling sakral dalam sejarahnya: merdeka. Kata itu lahir dari rahim... selengkapnya

Shalat Tarawih Namun Tidak Ba’diyah Isya? Anda Merugi!
9 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya

Puisi-Puisi Mochammad Lutfi Azis
11 Agustus 2024

  Asmaraloka   Malam ini aku tuangkan puisi rinduku dalam sepucuk surat Kutitipkan ia kepada angin malam agar senantiasa mengecup... selengkapnya

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: