● online
- Kitab Bidayatul Wushul 1....
- BUKU THAHARAH - BERSUCI - KARYA BUYA YAHYA....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita....
- BUKU PENGANTAR BAHASA ARAB....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- Kitab Taqlid Wa Talfiq....
- FIQIH SHOLAT KARYA BUYA YAHYA....
Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami, dan selalu menjadi pihak yang paling menderita. Saat bercerita seseorang suka menempatkan diri dalam posisi korban setelah terjadi permasalahan entah itu dengan teman, pasangan, rekan kerja maupun tetangga. Situasi ini dikenal dengan istilah playing victim.
Playing victim adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berpura-pura atau sengaja menempatkan dirinya sebagai korban. Padahal, sebenarnya dia mungkin ikut bersalah, atau bahkan pelaku dari masalah. Secara psikologis, playing victim ialah kondisi ketika seseorang secara sadar atau tidak sadar menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab, memanipulasi orang lain, dan menarik simpati.
Ditinjau dari cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna (etimologi), istilah playing victim berasal dari bahasa Inggris. Kata “playing” memiliki makna bermain. Sedangkan kata “victim” memiliki makna korban. Jika kedua kata digabungkan, maka mempunyai makna “bermain korban”. Dalam konteks psikologi dan perilaku, secara harfiah playing victim berarti “berpura-pura menjadi korban” atau “berperan sebagai korban”. Dalam penggunaan sehari-hari, playing victim tidak hanya berarti berpura-pura jadi korban, tetapi juga memiliki konotasi manipulatif, yaitu menggunakan posisi “korban” sebagai alat untuk menghindari kesalahan atau memengaruhi simpati orang lain.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belum memiliki padanan baku tunggal untuk playing victim. Namun, ada beberapa idiom, istilah atau frasa yang sering digunakan sebagai terjemahan yang kontekstual. Pertama, berpura-pura menjadi korban; frasa yang paling mendekati makna harfiah. Kedua, memainkan peran sebagai korban; frasa netral atau bisa dipakai dalam konteks ilmiah. Ketiga, sikap mental korban; frasa atau istilah psikologis. Keempat, mentalitas korban atau mental korban; frasa yang biasa digunakan untuk menggambarkan pola pikir seseorang yang selalu merasa disakiti atau dianiaya, meski belum tentu kebenarannya. Kelima, drama korban; frasa yang digunakan secara informal untuk menyindir orang yang memanfaatkan narasi korban demi mendapatkan simpati.
Seseorang yang playing victim biasanya memiliki ciri khas, seperti suka menyalahkan orang lain atas masalahnya, sulit menerima kritik, dan sering menarik simpati dari lingkungan sekitar. Mereka seolah-olah tidak pernah salah dan dunia terlalu kejam pada mereka. Perilaku seperti ini berasal dari pengalaman traumatis, pola asuh yang otoriter, atau bahkan strategi pribadi untuk menghindari tanggung jawab.
Psikolog klinis asal Indonesia, Anastasia Nadya Caestara, menyatakan bahwa perilaku playing victim sering kali muncul karena individu tidak dibiasakan bertanggung jawab sejak kecil. Dalam wawancara yang dikutip dari jurnal Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, ia menjelaskan bahwa individu yang memiliki ego cenderung membentuk narasi diri sebagai korban agar tetap diterima secara sosial dan terhindar dari rasa malu atau gagal.
Persoalan ini juga mendapat sorotan dari Dr. Guy Winch, penulis buku Emotional First Aid. Ia mengatakan, “Menjadi korban adalah pengalaman, tapi memainkan korban adalah pilihan.” Dalam konteks ini, playing victim merupakan bentuk manipulasi emosional yang bertujuan memperoleh simpati atau kekuasaan emosional atas orang lain.
Sebetulnya, contoh nyata playing victim banyak terjadi dalam hubungan interpersonal atau antarpribadi. Misalnya, seorang pasangan yang bersikap kasar, tetapi ketika ditegur justru menangis dan berkata, “Aku begini karena kamu nggak pernah perhatian.” Alih-alih mengakui kesalahan, ia menggunakan posisi korban untuk menghindari tanggung jawab dan membuat lawannya merasa bersalah.
Dalam skala lebih besar, playing victim juga banyak ditemukan di dunia politik atau selebritas. Misalnya, seorang politikus yang dikritik karena kebijakannya biasanya berkata, “Saya diserang terus, padahal niat saya baik.” Atau publik figur yang terlibat skandal kemudian tampil di depan publik dengan tangisan dan pernyataan “Saya hanya manusia biasa”. Keduanya, jika dilakukan secara sadar dan terus-menerus, ini adalah bentuk manipulasi citra yang berbahaya.
Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa individu yang memiliki victim mentality (mentalitas korban) sering kali merasa lebih berhak atas empati dan mendapat perlakuan khusus. Mereka juga lebih cenderung memutarbalikkan situasi agar terlihat benar di mata orang lain, bahkan ketika mereka yang memicu konflik.
Sosiolog Indonesia, Imam B. Prasodjo, dalam beberapa kesempatan mengkritisi budaya “selalu merasa dizalimi” dalam masyarakat. Menurutnya, kebiasaan merasa jadi korban tanpa refleksi akan menghambat pembangunan karakter dan budaya tanggung jawab. “Kalau semuanya merasa dizalimi, siapa yang mau membenahi keadaan?”
Oleh karenanya, sebagai masyarakat kita perlu lebih cermat membedakan antara korban yang sungguh-sungguh perlu dukungan, dengan mereka yang menjadikan status korban sebagai cara untuk menghindari introspeksi. Lalu, jika kita menyadari diri sendiri sering merasa sebagai korban, cobalah untuk lebih jujur. Apakah saya benar-benar disakiti, atau saya hanya tidak mau disalahkan?
Adapun dampak dari pola ini cukup serius. Selain merusak hubungan pribadi dan profesional, mentalitas playing victim juga melemahkan kemampuan individu untuk menghadapi kenyataan. Jangka panjangnya, ini bisa berujung pada learned helplessness, yaitu kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu mengubah nasibnya meskipun sebenarnya bisa. Jika tidak diatasi, playing victim bisa mengakar sebagai identitas sosial yang menghambat pertumbuhan pribadi.
Penulis: Andrian Saba (Pemustaka Cirebon)
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Tahukah kamu bahwa setiap aktivitas sehari-hari bisa menjadi ladang pahala, termasuk memasak? Allah Swt memberikan banyak kesempatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Dalam kehidupan bertetangga dengan non-muslim, tentu kita tidak dapat tenghindar dari hal-hal yang berhubungan dengan kepedulian... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada tanggal 06 Muharram 1446 H/12 Juli 2024, podcast “Satu Hati” akan menggelar episode istimewa yang bertajuk... selengkapnya
Ramadan telah mengajarkan kita ketenangan hati, ketulusan jiwa dan kesabaran dalam berproses untuk mencapai kejayaan. Oleh karenanya, Ramadan bukan hanya... selengkapnya
Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Hati merupakan bagian sensitif dari diri manusia. Melaluinya kita bisa merasakan ketenangan, keindahan, dan kegembiraan hidup. Begitu juga... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon- Kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu ikhtiar untuk mendapatkan ilmu. Namun bagaimana jika antara guru dengan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Delapan puluh tahun lalu, bangsa ini mengucapkan kata paling sakral dalam sejarahnya: merdeka. Kata itu lahir dari rahim... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam bulan Ramadhan. Namun ketika shalat... selengkapnya
Asmaraloka Malam ini aku tuangkan puisi rinduku dalam sepucuk surat Kutitipkan ia kepada angin malam agar senantiasa mengecup... selengkapnya
Buku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Buku Pengantar Bahasa Arab Para ahli bahasa menyebutkan bahwa maharoh/kemampuan berbahasa ada empat, yaitu (istima’, kalam, qiroah, dan kitabah). Keempatnya… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 38.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 149.000
Saat ini belum tersedia komentar.