● online
- KITAB MAULID AD DIBA'I
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Isra Mi'raj Sampai W
- Sam'iyyat - Beriman Kepada yang Gaib
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Kekhalifahan, Keluarga Na
- Kitab Bidayatul Wushul 1
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita
- Kitab Taqlid Wa Talfiq
Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap Muslim pasti mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu upaya untuk mendapatkannya adalah dengan berbuat baik kepada sesama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beriringan dengan itu, berbuat baik dalam Islam hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang). Kewajiban tersebut tidak hanya berlaku kepada orang lain, tetapi juga berlaku terhadap diri kita sendiri, seperti menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bahkan menjaga diri dari musibah dan malapetaka menjadi kewajiban bagi setiap Muslim.
Agar kita bisa istiqamah berbuat baik, maka kita perlu pembiasaan. Sebab sebuah kebiasaan dimulai karena dibiasakan. Orang yang terbiasa shalat berjamaah pada mulanya mendidik dirinya agar terbiasa shalat berjamaah. Karena itu, ketika kita melihat seseorang rindu berbuat baik, itu terjadi karena hatinya telah terbiasa berbuat baik.
Namun kita mesti hati-hati, walaupun kita telah terbiasa berbuat baik, setan tidak akan luput untuk menggugurkan usaha kita. Mereka selalu mencari cara agar setiap umat Baginda Nabi Muhammad Subhanahu wa Ta’ala luput dalam kebaikan. Bahkan dengan cara yang paling halus. Salah satunya mendidik hawa nafsu untuk membutakan perbuatan baik kita. Ketika setan tahu bahwa kita tidak bisa dihentikan dalam berbuat baik, maka setan akan berupaya untuk menjadikan perbuatan baik tersebut sia-sia. Kita akan dirayu agar berbuat baik sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, bukan karena tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satu cara agar perbuatan baik kita tidak sia-sia adalah dengan meminta petunjuk seorang guru atau ulama. Sebab melalui bimbingannya, perbuatan baik kita dapat lebih terarah dan terhindar dari bujuk rayu hawa nafsu. Sebuah contoh tentang orang kaya yang berbuat baik dengan mengumrahkan pegawainya. Pada kondisi tertentu, orang kaya tersebut merasa kebaikannya itu sudah tepat karena telah membuat pegawaianya senang. Padahal, beriringan dengan itu, bisa saja pegawai itu akan menjadi lebih bahagia jika mendapatkan uang senilai perjalanan umrah tersebut. Sebab dari uang tersebut dia bisa mengangsur cicilan rumah, membayar uang sekolah anak, membayar utang, membayar biaya rumah sakit, menikah, atau digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih dibutuhkan.
Melalui contoh di atas , kita juga bisa mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa saat berbuat baik, seseorang harus melihat seberapa luasnya manfaat yang diberikan kebaikan tersebut kepada orang lain. Jika uang umrah bisa membantu meringankan biaya hidup karyawannya bahkan meringankan impitan ekonominya, maka memberikan uang lebih utama daripada mengumrahkan sang karyawan. Oleh karena itu, berbuat baik harus dengan petunjuk dari seorang guru atau ulama agar amal baik kita dapat lebih terarah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh guru kita Buya Yahya,
Orang cerdas di saat ingin berbuat baik (akan melakukan amal baik) yang muta’addiyah, amal baik yang pahalanya bisa berkembang dan bukan (amal baik yang) sekadar qasirah atau terbatas.
Jika kita memiliki uang untuk umrah, maka pahala umrah tersebut hanya untuk diri kita sendiri. Akan tetapi, jika uang umrah itu kita gunakan untuk menyekolahkan anak yatim, membantu fakir miskin, membangun mushala, masjid, dan pondok pesantren, atau membiayai kebutuhan pendidikan santri hingga menjadi ulama, maka pahalanya akan terus berkembang sehingga menjadi amal jariyah. Bisa saja seorang santri yang kita biayai pendidikannya akan menjadi ulama besar sehingga kita menjadi mulia karena dirinya.
Karena itu, kita harus memerhatikan cara kita di saat ingin berbuat baik. Sebab, bisa saja hawa nafsu membujuk kita untuk berbuat baik ke pondok pesantren sehingga kita melupakan saudara, keponakan, bibi, bahkan orang tua kita yang lebih membutuhkan. Godaan hawa nafsu itu sangat halus sehingga seseorang mudah tergoda dengan kebaikan yang dia perbuat. Terkadang ada sebagian hamba Allah yang senang berbuat baik ke pondok pesantren tetapi lupa dengan orang tuanya, saudaranya, bahkan tetangganya sehingga amal baiknya menjadi musibah untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bimbingan dan pendidikan dari seorang guru atau ulama sangat diperlukan agar kita tidak salah melangkah saat ingin berbuat baik. Harapannya di saat kita berbuat baik, kita bisa mendapatkan pahala di akhirat dan bukan sekadar balasan di dunia.
Penulis: Fahmi Sidik Marunduri
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia
“Kelak, mereka yang menjaga jalinan hubungan dengan Nabi Saw akan menyusul masuk surga bersama Nabi Saw,” Prof. Dr. Al-Habib Abdullah... selengkapnya
Mimpi Bertemu Nabi (Sebuah Kebanggaan yang Tak Bisa Diungkapkan) Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, baik nikmat yang telah diberikan, sedang dirasakan,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada zaman ini, kita sering kali menyaksikan orang berbuat kejahatan demi meraup keuntungan pribadi. Mereka bisa melakukan perbuatan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Khusyuk adalah ruh dari shalat. Ia bukan sekadar posisi tubuh atau ekspresi wajah, tetapi keadaan hati yang fokus,... selengkapnya
Asa Para Ketua Divisi Media Atas Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah Peristiwa bersejarah yang sangat indah dan tidak... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ada pemandangan langka pada acara Maulid dan Silaturahmi Akbar Al-Bahjah Buyut Minggu (27/11/2022). Sayyid Husein Haidar... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pulau Kalimantan menjadi tujuan safari dakwah Buya Yahya selanjutnya setelah sebelumnya Buya melakukan safari dakwah di... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, umat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa... selengkapnya
Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSMaulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+140 Menelusuri jejak kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw melalui… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Buku Fiqih Thaharah (Bersuci) karya Buya Yahya ini disusun berdasarkan berbagai kitab-kitab yang terpercaya dengan tetap memperhatikan sumber utamanya, yakni… selengkapnya
Rp 60.000Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000
Saat ini belum tersedia komentar.