Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Diposting pada 27 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 218 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap Muslim pasti mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu upaya untuk mendapatkannya adalah dengan berbuat baik kepada sesama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beriringan dengan itu, berbuat baik dalam Islam hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang). Kewajiban tersebut tidak hanya berlaku kepada orang lain, tetapi juga berlaku terhadap diri kita sendiri, seperti menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bahkan menjaga diri dari musibah dan malapetaka menjadi kewajiban bagi setiap Muslim.

Agar kita bisa istiqamah berbuat baik, maka kita perlu pembiasaan. Sebab sebuah kebiasaan dimulai karena dibiasakan. Orang yang terbiasa shalat berjamaah pada mulanya mendidik dirinya agar terbiasa shalat berjamaah. Karena itu, ketika kita melihat seseorang rindu berbuat baik, itu terjadi karena hatinya telah terbiasa berbuat baik.

Namun kita mesti hati-hati, walaupun kita telah terbiasa berbuat baik, setan tidak akan luput untuk menggugurkan usaha kita. Mereka selalu mencari cara agar setiap umat Baginda Nabi Muhammad Subhanahu wa Ta’ala luput dalam kebaikan. Bahkan dengan cara yang paling halus. Salah satunya mendidik hawa nafsu untuk membutakan perbuatan baik kita. Ketika setan tahu bahwa kita tidak bisa dihentikan dalam berbuat baik, maka setan akan berupaya untuk menjadikan perbuatan baik tersebut sia-sia. Kita akan dirayu agar berbuat baik sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, bukan karena tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu cara agar perbuatan baik kita tidak sia-sia adalah dengan meminta petunjuk seorang guru atau ulama. Sebab melalui bimbingannya, perbuatan baik kita dapat lebih terarah dan terhindar dari bujuk rayu hawa nafsu. Sebuah contoh tentang orang kaya yang berbuat baik dengan mengumrahkan pegawainya. Pada kondisi tertentu, orang kaya tersebut merasa kebaikannya itu sudah tepat karena telah membuat pegawaianya senang. Padahal, beriringan dengan itu, bisa saja pegawai itu akan menjadi lebih bahagia jika mendapatkan uang senilai perjalanan umrah tersebut. Sebab dari uang tersebut dia bisa mengangsur cicilan rumah, membayar uang sekolah anak, membayar utang, membayar biaya rumah sakit, menikah, atau digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih dibutuhkan.

Melalui contoh di atas , kita juga bisa mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa saat berbuat baik, seseorang harus melihat seberapa luasnya manfaat yang diberikan kebaikan tersebut kepada orang lain. Jika uang umrah bisa membantu meringankan biaya hidup karyawannya bahkan meringankan impitan ekonominya, maka memberikan uang lebih utama daripada mengumrahkan sang karyawan. Oleh karena itu, berbuat baik harus dengan petunjuk dari seorang guru atau ulama agar amal baik kita dapat lebih terarah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh guru kita Buya Yahya,

Orang cerdas di saat ingin berbuat baik (akan melakukan amal baik) yang muta’addiyah, amal baik yang pahalanya bisa berkembang dan bukan (amal baik yang) sekadar qasirah atau terbatas.

Jika kita memiliki uang untuk umrah, maka pahala umrah tersebut hanya untuk diri kita sendiri. Akan tetapi, jika uang umrah itu kita gunakan untuk menyekolahkan anak yatim, membantu fakir miskin, membangun mushala, masjid, dan pondok pesantren, atau membiayai kebutuhan pendidikan santri hingga menjadi ulama, maka pahalanya akan terus berkembang sehingga menjadi amal jariyah. Bisa saja seorang santri yang kita biayai pendidikannya akan menjadi ulama besar sehingga kita menjadi mulia karena dirinya.

Karena itu, kita harus memerhatikan cara kita di saat ingin berbuat baik. Sebab, bisa saja hawa nafsu membujuk kita untuk berbuat baik ke pondok pesantren sehingga kita melupakan saudara, keponakan, bibi, bahkan orang tua kita yang lebih membutuhkan. Godaan hawa nafsu itu sangat halus sehingga seseorang mudah tergoda dengan kebaikan yang dia perbuat. Terkadang ada sebagian hamba Allah yang senang berbuat baik ke pondok pesantren tetapi lupa dengan orang tuanya, saudaranya, bahkan tetangganya sehingga amal baiknya menjadi musibah untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bimbingan dan pendidikan dari seorang guru atau ulama sangat diperlukan agar kita tidak salah melangkah saat ingin berbuat baik. Harapannya di saat kita berbuat baik, kita bisa mendapatkan pahala di akhirat dan bukan sekadar balasan di dunia.

 

Penulis: Fahmi Sidik Marunduri

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Bagaimanakah Perayaan Halloween Dalam Pandangan Islam?
11 November 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya

(Cerpen) Menara Masjid
27 September 2025

DI SEBUAH sekolah menengah Islam terpadu yang berdiri di pinggiran kota, terdapat sebuah masjid yang bermenara menjulang anggun. Menara itu... selengkapnya

Dahsyatnya Keberkahan dalam Pengabdian
9 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah sekian lama bekerja di sebuah instansi, saya memutuskan resign, kemudian mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa lembaga... selengkapnya

Hukum Shalat Jumat Ketika Bertepatan dengan Hari Raya I Oleh Buya Yahya
19 Maret 2026

Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan shalat Jumat... selengkapnya

Tidak Ada Zaman yang Lebih Mudah: Tantangan Setiap Generasi Itu Nyata
15 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya

Bijak Berbelanja di Tengah Maraknya Kredit Barang
24 April 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya

Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok
28 Agustus 2021

Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok PUSTAKA AL-BAHJAH-SERBA-SERBI SANTRI-Tandzif atau dalam bahasa Indonesia berarti bersih-bersih merupakan kegiatan yang rutin... selengkapnya

Resensi Buku Silsilah Fiqih Praktis Cerdas Memahami Darah Wanita karya Buya Yahya
10 Februari 2025

Identitas Buku Judul: Silsilah Fiqih Praktis-Cerdas Memahami Darah Wanita Penulis: Buya Yahya Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Halaman: 177 Buku Silsilah Fiqih... selengkapnya

Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal? Buya Yahya Menjawab
22 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Perbedaan sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia. Ia juga bukan merupakan sesuatu yang buruk dan mesti dijelek-jelekkan.... selengkapnya

Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana Umat Islam Menyikapinya?
8 Oktober 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Beberapa hari yang lalu telah terjadi musibah besar yaitu kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur... selengkapnya

Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: