● online
Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setiap Muslim pasti mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan salah satu upaya untuk mendapatkannya adalah dengan berbuat baik kepada sesama karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beriringan dengan itu, berbuat baik dalam Islam hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap orang). Kewajiban tersebut tidak hanya berlaku kepada orang lain, tetapi juga berlaku terhadap diri kita sendiri, seperti menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bahkan menjaga diri dari musibah dan malapetaka menjadi kewajiban bagi setiap Muslim.
Agar kita bisa istiqamah berbuat baik, maka kita perlu pembiasaan. Sebab sebuah kebiasaan dimulai karena dibiasakan. Orang yang terbiasa shalat berjamaah pada mulanya mendidik dirinya agar terbiasa shalat berjamaah. Karena itu, ketika kita melihat seseorang rindu berbuat baik, itu terjadi karena hatinya telah terbiasa berbuat baik.
Namun kita mesti hati-hati, walaupun kita telah terbiasa berbuat baik, setan tidak akan luput untuk menggugurkan usaha kita. Mereka selalu mencari cara agar setiap umat Baginda Nabi Muhammad Subhanahu wa Ta’ala luput dalam kebaikan. Bahkan dengan cara yang paling halus. Salah satunya mendidik hawa nafsu untuk membutakan perbuatan baik kita. Ketika setan tahu bahwa kita tidak bisa dihentikan dalam berbuat baik, maka setan akan berupaya untuk menjadikan perbuatan baik tersebut sia-sia. Kita akan dirayu agar berbuat baik sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, bukan karena tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satu cara agar perbuatan baik kita tidak sia-sia adalah dengan meminta petunjuk seorang guru atau ulama. Sebab melalui bimbingannya, perbuatan baik kita dapat lebih terarah dan terhindar dari bujuk rayu hawa nafsu. Sebuah contoh tentang orang kaya yang berbuat baik dengan mengumrahkan pegawainya. Pada kondisi tertentu, orang kaya tersebut merasa kebaikannya itu sudah tepat karena telah membuat pegawaianya senang. Padahal, beriringan dengan itu, bisa saja pegawai itu akan menjadi lebih bahagia jika mendapatkan uang senilai perjalanan umrah tersebut. Sebab dari uang tersebut dia bisa mengangsur cicilan rumah, membayar uang sekolah anak, membayar utang, membayar biaya rumah sakit, menikah, atau digunakan untuk hal-hal yang jauh lebih dibutuhkan.
Melalui contoh di atas , kita juga bisa mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa saat berbuat baik, seseorang harus melihat seberapa luasnya manfaat yang diberikan kebaikan tersebut kepada orang lain. Jika uang umrah bisa membantu meringankan biaya hidup karyawannya bahkan meringankan impitan ekonominya, maka memberikan uang lebih utama daripada mengumrahkan sang karyawan. Oleh karena itu, berbuat baik harus dengan petunjuk dari seorang guru atau ulama agar amal baik kita dapat lebih terarah dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh guru kita Buya Yahya,
Orang cerdas di saat ingin berbuat baik (akan melakukan amal baik) yang muta’addiyah, amal baik yang pahalanya bisa berkembang dan bukan (amal baik yang) sekadar qasirah atau terbatas.
Jika kita memiliki uang untuk umrah, maka pahala umrah tersebut hanya untuk diri kita sendiri. Akan tetapi, jika uang umrah itu kita gunakan untuk menyekolahkan anak yatim, membantu fakir miskin, membangun mushala, masjid, dan pondok pesantren, atau membiayai kebutuhan pendidikan santri hingga menjadi ulama, maka pahalanya akan terus berkembang sehingga menjadi amal jariyah. Bisa saja seorang santri yang kita biayai pendidikannya akan menjadi ulama besar sehingga kita menjadi mulia karena dirinya.
Karena itu, kita harus memerhatikan cara kita di saat ingin berbuat baik. Sebab, bisa saja hawa nafsu membujuk kita untuk berbuat baik ke pondok pesantren sehingga kita melupakan saudara, keponakan, bibi, bahkan orang tua kita yang lebih membutuhkan. Godaan hawa nafsu itu sangat halus sehingga seseorang mudah tergoda dengan kebaikan yang dia perbuat. Terkadang ada sebagian hamba Allah yang senang berbuat baik ke pondok pesantren tetapi lupa dengan orang tuanya, saudaranya, bahkan tetangganya sehingga amal baiknya menjadi musibah untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bimbingan dan pendidikan dari seorang guru atau ulama sangat diperlukan agar kita tidak salah melangkah saat ingin berbuat baik. Harapannya di saat kita berbuat baik, kita bisa mendapatkan pahala di akhirat dan bukan sekadar balasan di dunia.
Penulis: Fahmi Sidik Marunduri
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Hati-Hati, Amal Baik Bisa Sia-Sia
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita perayaan Hallowen di Arab Saudi yang notabene merupakan negara Islam.... selengkapnya
DI SEBUAH sekolah menengah Islam terpadu yang berdiri di pinggiran kota, terdapat sebuah masjid yang bermenara menjulang anggun. Menara itu... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Setelah sekian lama bekerja di sebuah instansi, saya memutuskan resign, kemudian mencoba peruntungan dengan melamar di beberapa lembaga... selengkapnya
Pada tahun-tahun tertentu, kita menemukan hari raya bertepatan dengan hari Jumat. Bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan apakah melaksanakan shalat Jumat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada setiap masa terdapat orang dengan karakter dan sifat khasnya masing-masing. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, mulai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di era modern seperti sekarang, praktik jual beli dengan sistem kredit sudah menjadi hal yang sangat umum. Seperti... selengkapnya
Tandzif, Bukti Cinta Santri Al-Bahjah kepada Pondok PUSTAKA AL-BAHJAH-SERBA-SERBI SANTRI-Tandzif atau dalam bahasa Indonesia berarti bersih-bersih merupakan kegiatan yang rutin... selengkapnya
Identitas Buku Judul: Silsilah Fiqih Praktis-Cerdas Memahami Darah Wanita Penulis: Buya Yahya Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Halaman: 177 Buku Silsilah Fiqih... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Perbedaan sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia. Ia juga bukan merupakan sesuatu yang buruk dan mesti dijelek-jelekkan.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Beberapa hari yang lalu telah terjadi musibah besar yaitu kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur... selengkapnya
Buku “Dzikir Harian” yang ditulis oleh Buya Yahya adalah dzikir-dzikir yang dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir-dzikir yang dihadirkan merupakan… selengkapnya
Rp 25.000 Rp 27.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 256 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku “Hadist Jibril” karya Buya Yahya ini berisi penjabaran ringkas dari satu hadist Nabi Muhammad Saw yang masyhur dengan sebutan… selengkapnya
Rp 56.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.