● online
Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita merasa bersyukur sekaligus gembira melihat gelombang antusiasme beragama ini. Namun, sebagai orang yang pernah berlama-lama duduk di bangku kuliah jurusan Aqidah dan Filsafat, ada satu kegelisahan yang sering muncul di benak: apakah semangat yang meluap-luap itu sudah dibarengi dengan fondasi ilmu yang kokoh?
Kita sedang hidup pada era segalanya ingin serba cepat. Kita punya mi instan, transportasi instan, hingga informasi instan. Sayangnya, virus “serba instan” ini juga mulai merambah ke cara kita beragama. Banyak dari kita yang lebih suka mencari hukum agama melalui mesin pencari di internet atau potongan video durasi satu menit, daripada duduk bersimpuh di majelis ilmu. Kita sering kali merasa sudah cukup paham hanya dengan membaca satu-dua kutipan yang berseliweran di grup WhatsApp, tanpa tahu siapa yang mengatakannya dan dari kitab apa rujukan itu diambil.
Dalam tradisi akademik Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi. Ilmu adalah cahaya yang ditransmisikan dari hati ke hati melalui rantai sanad yang jelas. Di jurusan Aqidah yang digeluti dulu, diajarkan bahwa salah dalam memahami satu premis saja bisa berakibat fatal pada kesimpulan iman kita. Filsafat Islam pun mengajarkan ketelitian dalam berpikir. Maka, ketika agama hanya dipelajari dari algoritma media sosial yang cenderung mencari “yang viral” bukan “yang benar”, di situlah potensi penyimpangan mulai muncul.
Media sosial sering kali hanya menyajikan kulitnya saja. Ia menampilkan agama yang penuh dengan jargon, label, dan perdebatan kusir yang tak jarang justru melahirkan rasa permusuhan di antara sesama. Orang yang baru belajar agama kemarin sore, tiba-tiba merasa memiliki otoritas untuk menyalahkan ulama yang sudah puluhan tahun berkhidmat pada umat. Inilah yang sebut sebagai “arogansi intelektual” yang dibungkus dengan bungkus kesalehan.
Di bulan Rajab dan Sya’ban ini, yang merupakan bulan-bulan persiapan ruhani, seharusnya kita mulai merefleksikan kembali cara kita belajar. Beragama itu ada seninya, ada metodologinya, dan yang paling penting: ada gurunya. Tidak ada filsuf atau ulama besar dalam sejarah Islam yang tumbuh besar hanya dari membaca teks sendirian tanpa bimbingan seorang mursyid atau guru yang jelas silsilah ilmunya.
Secara akademik dan filosofis, sanad adalah jaminan orisinalitas. Dalam Islam, ilmu agama adalah amanah. Abdullah bin Mubarak pernah berkata bahwa sanad adalah bagian dari agama; jika tidak ada sanad, maka setiap orang akan berkata apa saja sesuai kemauannya sendiri. Tanpa sanad, agama akan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi sekumpulan opini pribadi yang bisa dipelintir sesuai kepentingan politik, ekonomi, atau ego pribadi.
Di sinilah peran penting institusi dengan kehadiran guru-guru yang nyata, yang bisa kita lihat akhlaknya, yang bisa kita tanya langsung jika ada keraguan, adalah benteng terakhir agar kita tidak tersesat dalam rimba informasi digital. Guru bukan hanya pemberi data, tapi juga pemberi keberkahan (barokah) yang tidak akan kita temukan di layar ponsel pintar.
Tentu dapat kita pahami bahwa struktur bangunan ilmu Islam itu sangat sistematis. Kita mulai dari dasar, mengenal alat-alat berpikir (seperti logika/mantiq), baru kemudian masuk ke inti sari ajaran. Melompati proses ini demi mendapatkan hasil instan ibarat membangun rumah tanpa fondasi yang kuat; ia akan terlihat megah di luar, tapi mudah runtuh saat diterpa angin ujian.
Maka, melalui opini singkat ini, ingin mengajak rekan-rekan pembaca sekalian terutama para pencari kebenaran untuk merevisi resolusi spiritual kita. Jangan biarkan “hijrah” kita hanya berhenti pada perubahan penampilan atau penggunaan istilah-istilah baru. Mari kita naik kelas menjadi “pemburu ilmu” yang sabar. Mari kita sibukkan diri dengan mencari majelis-majelis ilmu yang teduh. Majelis yang tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tapi juga mengajarkan cara berakhlak kepada yang berbeda pendapat. Majelis yang tidak hanya memicu kemarahan, tapi membangkitkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Beragama dengan ilmu akan membuat kita menjadi manusia yang tenang (mutmainnah). Kita tidak akan mudah “sumbu pendek” saat mendengar perbedaan, karena kita paham luasnya khazanah pemikiran Islam. Kita juga tidak akan mudah tertipu oleh hoaks yang membawa-bawa nama agama, karena kita punya perangkat kritis untuk menyaringnya.
Akhirnya, mari kita sadari bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai derajat ma’rifat. Mari kita nikmati setiap langkah belajarnya, mari kita hargai setiap tetes keringat saat duduk di majelis, dan mari kita muliakan setiap guru yang telah menyambungkan kita kepada cahaya Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan yang paling banyak dihafal, tapi yang paling banyak merubah karakter kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sebelumnya, kita telah membahas kisah Nabi Zakariya dan bagaimana rumus agar doa terkabul, jika Anda belum... selengkapnya
Sowan Berjalan dengan lutut, berbaris rapi seperti kereta doa, di halaman rumah yang teduh oleh cahaya dan waktu. Kain sarung... selengkapnya
Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah Upaya untuk menyebarkan dakwah di tengah-tengah masyarakat tentunya memerlukan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Silaturahmi merupakan salah satu amaliyah yang semakin sulit bahkan mulai ditinggalkan pada era high tech seperti sekarang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahajah, Cirebon – Tahukan sahabat bahwa saat ini banyak sekali orang yang saling mencintai di dunia namun ternyata bermusuhan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Akhir-akhir ini marak terjadi kasus perundungan, baik di lingkungan Sekolah Dasar hingga ke perguruan tinggi. Data resmi dari... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Thaharah dalam bahasa Arab berarti “suci”, yakni menghilangkan najis yang terdapat pada badan, pakaian, dan tempat. Thaharah (baca:... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan anugerah kemerdekaan kepada negeri dan bangsa ini sehingga saat... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Saat hari raya kurban tiba, banyak terjadi salah kaprah diantara tukang sembelih kurban yang menjadikan daging... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Khusyuk adalah ruh dari shalat. Ia bukan sekadar posisi tubuh atau ekspresi wajah, tetapi keadaan hati yang fokus,... selengkapnya
Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Maulid Ad Diba’ merupakan salah satu kitab maulid yang dibaca dalam rangka meneladani sîrah Rasulullah saw sekaligus bershalawat kepadanya. Salah… selengkapnya
Rp 25.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBuku “Sam’iyyat” karya Buya Yahya penting untuk kita memiliki sebagai buku pegangan dalam memiliki keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang… selengkapnya
Rp 59.000 Rp 69.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600
Saat ini belum tersedia komentar.