Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Diposting pada 6 Januari 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 167 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita merasa bersyukur sekaligus gembira melihat gelombang antusiasme beragama ini. Namun, sebagai orang yang pernah berlama-lama duduk di bangku kuliah jurusan Aqidah dan Filsafat, ada satu kegelisahan yang sering muncul di benak: apakah semangat yang meluap-luap itu sudah dibarengi dengan fondasi ilmu yang kokoh?

Kita sedang hidup pada era segalanya ingin serba cepat. Kita punya mi instan, transportasi instan, hingga informasi instan. Sayangnya, virus “serba instan” ini juga mulai merambah ke cara kita beragama. Banyak dari kita yang lebih suka mencari hukum agama melalui mesin pencari di internet atau potongan video durasi satu menit, daripada duduk bersimpuh di majelis ilmu. Kita sering kali merasa sudah cukup paham hanya dengan membaca satu-dua kutipan yang berseliweran di grup WhatsApp, tanpa tahu siapa yang mengatakannya dan dari kitab apa rujukan itu diambil.

Dalam tradisi akademik Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi. Ilmu adalah cahaya yang ditransmisikan dari hati ke hati melalui rantai sanad yang jelas. Di jurusan Aqidah yang digeluti dulu, diajarkan bahwa salah dalam memahami satu premis saja bisa berakibat fatal pada kesimpulan iman kita. Filsafat Islam pun mengajarkan ketelitian dalam berpikir. Maka, ketika agama hanya dipelajari dari algoritma media sosial yang cenderung mencari “yang viral” bukan “yang benar”, di situlah potensi penyimpangan mulai muncul.

Media sosial sering kali hanya menyajikan kulitnya saja. Ia menampilkan agama yang penuh dengan jargon, label, dan perdebatan kusir yang tak jarang justru melahirkan rasa permusuhan di antara sesama. Orang yang baru belajar agama kemarin sore, tiba-tiba merasa memiliki otoritas untuk menyalahkan ulama yang sudah puluhan tahun berkhidmat pada umat. Inilah yang sebut sebagai “arogansi intelektual” yang dibungkus dengan bungkus kesalehan.

Di bulan Rajab dan Sya’ban ini, yang merupakan bulan-bulan persiapan ruhani, seharusnya kita mulai merefleksikan kembali cara kita belajar. Beragama itu ada seninya, ada metodologinya, dan yang paling penting: ada gurunya. Tidak ada filsuf atau ulama besar dalam sejarah Islam yang tumbuh besar hanya dari membaca teks sendirian tanpa bimbingan seorang mursyid atau guru yang jelas silsilah ilmunya.

Secara akademik dan filosofis, sanad adalah jaminan orisinalitas. Dalam Islam, ilmu agama adalah amanah. Abdullah bin Mubarak pernah berkata bahwa sanad adalah bagian dari agama; jika tidak ada sanad, maka setiap orang akan berkata apa saja sesuai kemauannya sendiri. Tanpa sanad, agama akan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi sekumpulan opini pribadi yang bisa dipelintir sesuai kepentingan politik, ekonomi, atau ego pribadi.

Di sinilah peran penting institusi dengan kehadiran guru-guru yang nyata, yang bisa kita lihat akhlaknya, yang bisa kita tanya langsung jika ada keraguan, adalah benteng terakhir agar kita tidak tersesat dalam rimba informasi digital. Guru bukan hanya pemberi data, tapi juga pemberi keberkahan (barokah) yang tidak akan kita temukan di layar ponsel pintar.

Tentu dapat kita pahami bahwa struktur bangunan ilmu Islam itu sangat sistematis. Kita mulai dari dasar, mengenal alat-alat berpikir (seperti logika/mantiq), baru kemudian masuk ke inti sari ajaran. Melompati proses ini demi mendapatkan hasil instan ibarat membangun rumah tanpa fondasi yang kuat; ia akan terlihat megah di luar, tapi mudah runtuh saat diterpa angin ujian.

Maka, melalui opini singkat ini, ingin mengajak rekan-rekan pembaca sekalian terutama para pencari kebenaran untuk merevisi resolusi spiritual kita. Jangan biarkan “hijrah” kita hanya berhenti pada perubahan penampilan atau penggunaan istilah-istilah baru. Mari kita naik kelas menjadi “pemburu ilmu” yang sabar. Mari kita sibukkan diri dengan mencari majelis-majelis ilmu yang teduh. Majelis yang tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tapi juga mengajarkan cara berakhlak kepada yang berbeda pendapat. Majelis yang tidak hanya memicu kemarahan, tapi membangkitkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Beragama dengan ilmu akan membuat kita menjadi manusia yang tenang (mutmainnah). Kita tidak akan mudah “sumbu pendek” saat mendengar perbedaan, karena kita paham luasnya khazanah pemikiran Islam. Kita juga tidak akan mudah tertipu oleh hoaks yang membawa-bawa nama agama, karena kita punya perangkat kritis untuk menyaringnya.

Akhirnya, mari kita sadari bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai derajat ma’rifat. Mari kita nikmati setiap langkah belajarnya, mari kita hargai setiap tetes keringat saat duduk di majelis, dan mari kita muliakan setiap guru yang telah menyambungkan kita kepada cahaya Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan yang paling banyak dihafal, tapi yang paling banyak merubah karakter kita menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Kunci dari Tenangnya Jiwa Adalah Yakin Bahwa Takdir Allah Selalu Baik
20 April 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Takdir adalah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah Subhanu wa Ta’ala. Ketentuan ini tidak ada yang bisa mengubahnya,... selengkapnya

Doa Tak Kunjung Terkabul, Harus Bagaimana?
30 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Sebelumnya, kita telah membahas kisah Nabi Zakariya dan bagaimana rumus agar doa terkabul, jika Anda belum... selengkapnya

Tantangan Muslimah Masa Kini Menjaga Iffah di Era Digital
17 Juli 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Era digital menghadirkan berbagai kemudahan. Namun juga memunculkan tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai Islam, khususnya bagi para Muslimah.... selengkapnya

Cara Menjadi Muslimah Mulia dengan Ilmu dan Akhlak
1 Oktober 2024

“Perempuan tidak perlu menuntut ilmu terlalu tinggi. Kalau ujung-ujungnya hanya mengurusi sumur, dapur, dan kasur.” Anggapan seperti itu harus diluruskan.... selengkapnya

Bahaya Pornografi Terhadap Otak Menurut Buya Yahya
30 Agustus 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam era digital seperti saat ini, akses terhadap konten pornografi semakin mudah, dan hal ini menjadi perhatian... selengkapnya

Penerbit Pustaka Al-Bahjah Serahkan Dana Peduli Palestina Melalui Program “Palestina Memanggil”
18 November 2023

Bismillahirrahmaniirahim. Allhummah shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbini wasallim. Alhamdulillah, sejak tanggal 18 Oktober 2023 lalu hingga... selengkapnya

Pentingnya Merenung Sebelum Bertindak (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)
22 Desember 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Keberhasilan seseorang dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, atau mencapai tujuan tergantung tindakan atau keputusannya sendiri. Namun, banyak orang... selengkapnya

Mukernas ke-3 Al-Bahjah, Buya Yahya: Evaluasi untuk Mencipta Inovasi
17 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Setiap organisasi selalu membutuhkan regenerasi demi keberlanjutan jalannya roda keorganisasian. Itulah yang juga dilakukan oleh Lembaga... selengkapnya

Pesan Mulia Buya Yahya Untuk “Wanita Karir”
4 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Fenomena wanita karir akhir-akhir ini menjadi hal yang lumrah terjadi di masyarakat. Wanita karir sendiri diistilahkan... selengkapnya

Kisah Nabi Zakariya dan Rumus Terkabulnya Doa
25 September 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Buya Yahya saat menjelaskan tafsir surah Maryam ayat satu sampai dengan ayat tujuh menyampaikan rumus terkabulnya... selengkapnya

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: