Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Diposting pada 6 January 2026 oleh Redaksi / Dilihat: 64 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Memasuki awal tahun, banyak orang memulai lembaran baru dengan semangat “hijrah” yang menggelora. Tentu, sebagai sesama Muslim, kita merasa bersyukur sekaligus gembira melihat gelombang antusiasme beragama ini. Namun, sebagai orang yang pernah berlama-lama duduk di bangku kuliah jurusan Aqidah dan Filsafat, ada satu kegelisahan yang sering muncul di benak: apakah semangat yang meluap-luap itu sudah dibarengi dengan fondasi ilmu yang kokoh?

Kita sedang hidup pada era segalanya ingin serba cepat. Kita punya mi instan, transportasi instan, hingga informasi instan. Sayangnya, virus “serba instan” ini juga mulai merambah ke cara kita beragama. Banyak dari kita yang lebih suka mencari hukum agama melalui mesin pencari di internet atau potongan video durasi satu menit, daripada duduk bersimpuh di majelis ilmu. Kita sering kali merasa sudah cukup paham hanya dengan membaca satu-dua kutipan yang berseliweran di grup WhatsApp, tanpa tahu siapa yang mengatakannya dan dari kitab apa rujukan itu diambil.

Dalam tradisi akademik Islam, ilmu bukan sekadar tumpukan informasi. Ilmu adalah cahaya yang ditransmisikan dari hati ke hati melalui rantai sanad yang jelas. Di jurusan Aqidah yang digeluti dulu, diajarkan bahwa salah dalam memahami satu premis saja bisa berakibat fatal pada kesimpulan iman kita. Filsafat Islam pun mengajarkan ketelitian dalam berpikir. Maka, ketika agama hanya dipelajari dari algoritma media sosial yang cenderung mencari “yang viral” bukan “yang benar”, di situlah potensi penyimpangan mulai muncul.

Media sosial sering kali hanya menyajikan kulitnya saja. Ia menampilkan agama yang penuh dengan jargon, label, dan perdebatan kusir yang tak jarang justru melahirkan rasa permusuhan di antara sesama. Orang yang baru belajar agama kemarin sore, tiba-tiba merasa memiliki otoritas untuk menyalahkan ulama yang sudah puluhan tahun berkhidmat pada umat. Inilah yang sebut sebagai “arogansi intelektual” yang dibungkus dengan bungkus kesalehan.

Di bulan Rajab dan Sya’ban ini, yang merupakan bulan-bulan persiapan ruhani, seharusnya kita mulai merefleksikan kembali cara kita belajar. Beragama itu ada seninya, ada metodologinya, dan yang paling penting: ada gurunya. Tidak ada filsuf atau ulama besar dalam sejarah Islam yang tumbuh besar hanya dari membaca teks sendirian tanpa bimbingan seorang mursyid atau guru yang jelas silsilah ilmunya.

Secara akademik dan filosofis, sanad adalah jaminan orisinalitas. Dalam Islam, ilmu agama adalah amanah. Abdullah bin Mubarak pernah berkata bahwa sanad adalah bagian dari agama; jika tidak ada sanad, maka setiap orang akan berkata apa saja sesuai kemauannya sendiri. Tanpa sanad, agama akan kehilangan ruhnya dan hanya menjadi sekumpulan opini pribadi yang bisa dipelintir sesuai kepentingan politik, ekonomi, atau ego pribadi.

Di sinilah peran penting institusi dengan kehadiran guru-guru yang nyata, yang bisa kita lihat akhlaknya, yang bisa kita tanya langsung jika ada keraguan, adalah benteng terakhir agar kita tidak tersesat dalam rimba informasi digital. Guru bukan hanya pemberi data, tapi juga pemberi keberkahan (barokah) yang tidak akan kita temukan di layar ponsel pintar.

Tentu dapat kita pahami bahwa struktur bangunan ilmu Islam itu sangat sistematis. Kita mulai dari dasar, mengenal alat-alat berpikir (seperti logika/mantiq), baru kemudian masuk ke inti sari ajaran. Melompati proses ini demi mendapatkan hasil instan ibarat membangun rumah tanpa fondasi yang kuat; ia akan terlihat megah di luar, tapi mudah runtuh saat diterpa angin ujian.

Maka, melalui opini singkat ini, ingin mengajak rekan-rekan pembaca sekalian terutama para pencari kebenaran untuk merevisi resolusi spiritual kita. Jangan biarkan “hijrah” kita hanya berhenti pada perubahan penampilan atau penggunaan istilah-istilah baru. Mari kita naik kelas menjadi “pemburu ilmu” yang sabar. Mari kita sibukkan diri dengan mencari majelis-majelis ilmu yang teduh. Majelis yang tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tapi juga mengajarkan cara berakhlak kepada yang berbeda pendapat. Majelis yang tidak hanya memicu kemarahan, tapi membangkitkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Beragama dengan ilmu akan membuat kita menjadi manusia yang tenang (mutmainnah). Kita tidak akan mudah “sumbu pendek” saat mendengar perbedaan, karena kita paham luasnya khazanah pemikiran Islam. Kita juga tidak akan mudah tertipu oleh hoaks yang membawa-bawa nama agama, karena kita punya perangkat kritis untuk menyaringnya.

Akhirnya, mari kita sadari bahwa perjalanan menuju Allah adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai derajat ma’rifat. Mari kita nikmati setiap langkah belajarnya, mari kita hargai setiap tetes keringat saat duduk di majelis, dan mari kita muliakan setiap guru yang telah menyambungkan kita kepada cahaya Baginda Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan yang paling banyak dihafal, tapi yang paling banyak merubah karakter kita menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Penulis: Syariif Ahmad Ja’far Shoodiq

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Lakukan 4 Hal Ini untuk Menjaga Silaturahmi, Nomor 1 Bisa Dilakukan Tanpa Harus Bertemu
6 May 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal yang penting yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Melalui Nabi Muhammad... selengkapnya

Keindahan Metode Dakwah Rasulullah Saw yang Diikuti oleh Para Ulama
11 November 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mengutip kisah Nabi Muhammad Saw ketika berdakwah di kota Thaif, kala itu beliau memulainya dengan datang ke... selengkapnya

Cara Memakai Cincin Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad Saw
26 November 2024

Salah satu bentuk kesunahan yang dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah penggunaan cincin. Tidak hanya sebagai perhiasan dan alat... selengkapnya

Puisi-Puisi Nur Aliyatul Hasanah
18 September 2024

  Dzikrullah Luasnya bumi terhampar Indahnya langit terbentang Megahnya pegunungan kokoh ditinggikan Matahari pun dihangatkan   Apalagi yang perlu diragukan?... selengkapnya

Launching Buku: Oase Iman “Refleksi Problematika Umat”
1 October 2022

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Kemeriahan rangkaian maulid dan silaturahmi akbar Al-Bahjah 1444 H kian terasa menjelang hari puncak, besok Ahad,02... selengkapnya

Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah  Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah
10 January 2022

Peletakan Batu Pertama Gedung Media Center Al-Bahjah  Sebagai Simbol Kemajuan Dakwah Upaya untuk menyebarkan dakwah di tengah-tengah masyarakat tentunya memerlukan... selengkapnya

Shalawat itu ‘Murah-Meriah’, Mari Hadirkan Baginda Nabi ﷺ di Hati Kita
14 October 2021

PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Bulan Rabi’ul Awal selalu menjadi momentum spesial untuk kembali mengenang perjuangan Rasulullah, memperingati hari kelahiran manusia terbaik yang pernah... selengkapnya

Solusi Buya Yahya untuk Mengurangi Kasus Kekerasan dan Pelecehan pada Wanita
10 June 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pada era sekarang ini, banyak sekali kasus kekerasan dan pelecehan yang menimpa kaum wanita, dimulai dari pemerkosaan,... selengkapnya

Kisah Iduladha: Teladan Keluarga Nabi Ibrahim a.s.
17 June 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Saat Hari Raya Iduladha, kita pasti akan teringat tentang kisah keteladanan dari sebuah keluarga yang hidup dalam... selengkapnya

Dari Kuningan Menuju Yaman
17 November 2021

Dari Kuningan Menuju Yaman PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Ijaz Ahmad Jawahirulhaq, seorang santri STAIBA (Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Bahjah) angkatan pertama, berbagi... selengkapnya

Euforia Hijrah Instan dan Risikonya Tanpa Fondasi Ilmu yang Kokoh

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: