Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Perihal Toleransi dan Permohonan Doa Lintas Agama

Perihal Toleransi dan Permohonan Doa Lintas Agama

Diposting pada 26 November 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 380 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, diskusi mengenai batas toleransi dalam hubungan antaragama terus menjadi perhatian akademik, teologis, dan sosial. Pertanyaan mengenai sejauh mana seorang Muslim dapat menerima ucapan selamat, berinteraksi secara sosial, dan berbagi ruang kehidupan dengan non-Muslim merupakan isu yang kerap hadir dalam forum keagamaan dan kajian ilmiah. Dalam sebuah majelis ilmu, seorang jamaah mengemukakan pertanyaan kepada Buya Yahya: bagaimana sikap yang seharusnya diambil seorang Muslim ketika ia menerima ucapan selamat dari teman non-Muslim atau diminta untuk memohon doa kepada mereka? Pertanyaan ini menyingkap ketegangan halus antara adab sosial, kesantunan budaya, dan prinsip aqidah.

Buya Yahya, merespons pertanyaan tersebut dengan pemahaman yang menekankan keseimbangan antara etika hubungan sosial dan integritas teologis. Ia memulai dengan menyatakan bahwa menerima ucapan selamat dari non-Muslim bukan hanya diperbolehkan, tetapi juga merupakan bagian dari tuntunan etika sosial (mu‘amalah) yang dijunjung dalam Islam. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang memuji sifat kerendahan hati dan keadilan dalam pergaulan antarmanusia. Allah berfirman:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8).

Ayat ini menjadi dasar normatif bahwa kebaikan antarsesama manusia merupakan prinsip universal yang harus dipelihara. Namun, ketika jamaah bertanya tentang meminta doa kepada non-Muslim, Buya menegaskan bahwa wilayah tersebut memiliki implikasi teologis yang berbeda. Dalam Islam, doa adalah ibadah, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Ad-dua’a’ mukhkhul ibadah” yang artinya “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Tirmidzi).

Meminta seseorang untuk mendoakan berarti juga mengakui struktur spiritual yang menjadi landasan doa itu sendiri. Dengan demikian, meminta doa kepada non-Muslim secara implisit meminta seseorang untuk memanjatkan pengharapan kepada Tuhan menurut agama yang diyakininya, yang tidak sesuai dengan konsep ketuhanan dalam aqidah Islam. Dari perspektif teologi Islam, tindakan ini melibatkan pengakuan simbolik yang melampaui batas etika sosial dan masuk ke wilayah ibadah yang sifatnya eksklusif.

Refleksi mengenai batas ibadah ini membawa Buya Yahya pada kritik terhadap praktik “doa bersama” antaragama. Ia menilai bahwa upaya memaksa simbol-simbol sinkretis, yaitu seluruh peserta lintas agama harus mengamini doa agama lain, sesungguhnya mengaburkan identitas teologis masing-masing pemeluk agama. Dalam perspektif akademik, kritik semacam ini berhubungan dengan perdebatan mengenai religious boundary maintenance, yakni upaya menjaga batas-batas sakral dalam tradisi keagamaan.

Kerja sama antaragama bisa dan harus dilakukan dalam bidang sosial, budaya, dan kemanusiaan. Namun ketika memasuki ranah ibadah, setiap agama memiliki struktur yang harus dihormati. Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an:

Lakum dinukum waliya din” yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. Al-Kafirun [109]: 6).

Ayat ini tidak menegasikan toleransi, justru memberikan fondasi bahwa toleransi yang sehat adalah yang menghormati perbedaan, bukan menyatukan keyakinan secara artifisial. Hal itu pula yang dikemukakan oleh Buya Yahya. Beliau juga merujuk pada praktik tradisional dalam upacara kenegaraan, yaitu ketika doa tidak dilakukan secara sinkretik, tetapi diberikan ruang agar setiap pemeluk agama berdoa menurut keyakinannya masing-masing. Praktik ini menggambarkan bentuk toleransi yang lebih jujur secara teologis karena tidak memaksa adanya penyatuan ritual. Dalam perspektif reflektif, hal ini menunjukkan bahwa toleransi sejati bukanlah hilangnya batas, melainkan pengakuan atas batasan itu sendiri.

Menariknya, Buya Yahya tidak berhenti pada ranah teologis. Ia memperluas penjelasan ke aspek etika sosial yang lebih konkret. Dalam salah satu ilustrasinya, ia menggambarkan situasi ketika seorang Muslim diminta menjaga rumah tetangga non-Muslim. Tindakan ini, menurutnya, bukan hanya dibolehkan tetapi wajib dalam etika kemasyarakatan. Bahkan jika terjadi kerugian akibat kelalaian menjaga rumah tersebut, seseorang dapat berdosa secara moral meskipun tidak dituntut secara hukum. Refleksi ini mengingatkan kita bahwa dalam Islam, dimensi sosial tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dimensi moral. Prinsip birr (kebaikan) dan ‘adl (keadilan) melampaui sekat agama dan menjadi bagian dari kewajiban kemanusiaan.

Dalam ranah kehidupan sehari-hari, seorang Muslim dapat berkolaborasi dengan non-Muslim dalam beragam bidang: bertani, membangun usaha, bermitra dalam dunia pendidikan, dan sebagainya. Kerja sama ini tidak menimbulkan persoalan teologis selama tidak memasuki wilayah ibadah. Di sinilah refleksi mendalam mengenai struktur syariat menjadi penting: Islam membagi wilayah aktivitas manusia ke dalam domain yang berbeda muamalah (interaksi sosial), aqidah (keyakinan), dan ibadah  (ritual ibadah). Ketiganya memiliki bentuk keterikatan dan fleksibilitas yang berbeda. Ranah muamalah lebih longgar dan responsif terhadap konteks sosial, sedangkan ranah ibadah lebih ketat karena berhubungan langsung dengan penghambaan kepada Allah.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya juga menyinggung batasan doa bagi non-Muslim. Doa untuk kebaikan, kesehatan, atau hidayah bagi tetangga non-Muslim diperbolehkan dan bahkan dianjurkan sebagai bentuk kasih sayang universal. Namun, memohonkan ampunan bagi non-Muslim yang telah meninggal tidak diperbolehkan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. At-Taubah [9]: 113. Dalam literatur tafsir, ayat ini dipahami sebagai penetapan batas teologis mengenai siapa yang dapat dimohonkan ampunannya oleh seorang Muslim. Sekalipun demikian, doa untuk kebaikan selama mereka hidup tetap berada dalam ruang welas asih yang dianjurkan.

Jika ditarik ke ranah reflektif, penjelasan Buya Yahya tersebut mengajarkan sebuah prinsip penting: toleransi sejati membutuhkan kedewasaan spiritual. Ia bukan tindakan spontan, melainkan kesadaran utuh mengenai posisi diri sebagai bagian dari komunitas manusia sekaligus hamba Tuhan yang memiliki komitmen aqidah. Kedewasaan semacam ini menolak dua ekstrem: intoleransi yang menutup ruang kemanusiaan, dan sinkretisme yang mengaburkan batas keyakinan. Dalam ruang refleksi ini, ajaran Nabi Muhammad Salalahu ‘Alaihi Wasallam terasa sangat relevan:

“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini tidak hanya berlaku bagi sesama Muslim, tetapi bagi seluruh manusia, sebagaimana ditafsirkan dalam banyak literatur akhlak. Pada akhirnya, diskusi mengenai ucapan selamat, permintaan doa, dan kerja sama antaragama bukan hanya diskusi hukum (fiqih), tetapi juga diskusi mengenai identitas, kemanusiaan, dan spiritualitas. Penjelasan Buya Yahya menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat bersikap hangat, santun, dan penuh penghormatan kepada non-Muslim tanpa harus mengorbankan integritas aqidah. Toleransi dan ketaatan bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dua dimensi yang dapat berjalan harmonis jika dipahami dengan kedewasaan.

 

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Perihal Toleransi dan Permohonan Doa Lintas Agama

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Dua Tahun Tidak Bersua, Akhirnya Kembali Satu Hati di Al-Bahjah dalam Maulid Nabi Muhammad Saw
16 Agustus 2022

Pustaka Al-Bahjah Cirebon – Nabi Muhammad Saw adalah manusia agung dan mulia, sehingga setiap hal yang berkaitan dan berkenaan dengan... selengkapnya

Tafsir Surat Al-Kautsar Ayat 1-2: Perspektif Ulama Klasik hingga Kontemporer
15 Juni 2024

Pendahuluan Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan istimewa dalam Islam, di mana terdapat dua ibadah utama yang... selengkapnya

Kasih Sayang kepada Pembantu, Mulia Dengannya
23 September 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Satu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang berarti ia tengah meneladani satu akhlak Nabi. Sebab, kebaikan dengan segala... selengkapnya

Wanita Wajib Memperhatikan Auratnya
29 Oktober 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Satu helai rambut saja, bagi wanita itu adalah aurat bagi. Begitu yang disampaikan Umi Fairuz Arrahbini dalam channel... selengkapnya

Tren War Takjil dengan Nonis: Gambaran Keharmonisan di Bulan Ramadan
24 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Di tengah gemerlap bulan Ramadan, saat suasana kota terasa penuh kehangatan dan kebersamaan, pemandangan yang lazim terlihat... selengkapnya

Hukum Berwudhu dalam Keadaan Masih Memakai Kosmetik
5 Januari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan modern, penggunaan kosmetik seperti handbody, pelembap wajah, lipstik, bedak, hingga produk-produk berlabel waterproof sudah menjadi bagian... selengkapnya

Khutbah Hari Raya Iduladha 1444 H
27 Juni 2023

  Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Hari Raya Iduladha adalah hari kegembiraan bagi umat Baginda Nabi Muhammad Saw dan sebentar lagi... selengkapnya

Salah Kaprah Berbuka Puasa dengan yang Manis-Manis
18 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berbuka puasa bukan hanya prosesi melepas dahaga dan haus, tapi juga merupakan salah satu ibadah yang memiliki... selengkapnya

Inovasi Pembelajaran di Sekolah Menggunakan Pendekatan Science-Technology-Religion-Engineering-Arts-Mathematics (STREAM)
5 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Perkembangan zaman yang semakin canggih menuntut masyarakat untuk dapat beradaptasi dengan cepat. Kondisi ini ditandai dengan semakin... selengkapnya

Marhaban Ya Ramadhan: Ramadhan yang Dirindukan
3 April 2022

Tak terasa kita sudah berada di hadapan bulan agung dan mulia. Bulan yang dirindukan kedatangannya oleh para kekasih Allah Swt,... selengkapnya

Perihal Toleransi dan Permohonan Doa Lintas Agama

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: