Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Panggilan Tengah Malam

Panggilan Tengah Malam

Diposting pada 5 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 434 kali / Kategori:

TEMBOK kamar pondok yang lembap itu seperti satu-satunya yang nyata. Dinginnya meresap hingga ke tulang, menemani kesunyian yang pekat. Hanya cahaya layar handphone yang menyala, menjadi mercusuar kecil di tengah lautan keputusasaan yang diam-diam mulai menghanyutkanku. Lalu, dering itu memecah kesunyian. Nama “Bapak” berkedip-kedip, sebuah gambaran yang kutahu tak lagi secerah dulu.

“Apa kabar, Nak? Sehat?” Suaranya, serak dan berat, seperti datang dari ruang hampa. Itu adalah suara malaikat penjagaku. Tapi malam ini, terasa seperti gema dari kejauhan yang semakin memudar. Aku menegakkan punggung, berusaha mengekstrak sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa.

“Alhamdulillah, baik, Pak,” ucapku. Dua kata itu nyaris tertahan di kerongkongan, sementara air mata sudah menggenang di pelupuk mata, menguji ketegaran yang kupaksakan.

“Bapak kangen sama kamu.”

Bruuk. Seketika itu juga, benteng pertahananku roboh. Kalimat sederhana itu bagaimana sebuah palu godam yang menghancurkan kaca. Air mata itu akhirnya tumpah, mengalir deras di pipi, membasahi baju lama yang sudah usang. Tangisku tersedat-sedat, tak terbendung.

“Sama, Pak. Ari juga kangen Bapak,” kataku, berusaha menelan getir. “Bapak, apa kabar?”

Ada jeda singkat yang terasa panjang. Aku bisa mendengar tarikan napasnya yang berat di seberang sana.

“Bapak sakit, Nak. Bapak udah dua hari ngga masuk kerja.”

Dunia berhenti berputar. “Sakit.” Kata itu menggantung di udara, lalu jatuh menimpaku dengan berat yang tak tertahankan. Tubuhku lunglai, seolah tulang-tulangku dicabut satu per satu. Handphone nyaris terlepas dari genggamanku yang mendadak lemas. Badanku merosot, terduduk lemah di lantai dingin, bersandar pada tembok pondok yang tak mampu memberikan kehangatan.

Dengan sisa tenaga, kuangkat kembali telepon itu ke telinga. Suaraku bergetar, nyaris seperti bisikan. “Bapak sakit apa?”

“Punggung, Nak. Kata dokter, peredaran darahnya kurang lancar. Ini Bapak lagi dibekam.” Lalu, datanglah pertanyaan yang membuatku membeku. “Uang kamu masih, Nak?”

Denting. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku terdiam. Seribu bahasa berkecamuk di kepala, tapi tak satu pun kata yang mau keluar. Aku memandangi dompet tipis di atas meja. Kosong. Bahkan untuk sepotong roti besok pagi, aku harus memutar otak. Bagaimana mungkin aku menjawabnya?

“Nak?” suaranya memanggil, menarikku dari jurang kebingungan.

Dengan lidah yang terasa seperti kapas, aku memaksakan kebohongan itu keluar. “Masih, Pak. Alhamdulillah. Cukup kok untuk seminggu.”

Berdosakah aku, Tuhan? Tanya itu menghantam sanubari. Aku telah membohongi orang yang telah mengorbankan segalanya untukku. Aku merasa seperti pengkhianat terkutuk.

“Alhamdulillah,” jawab Bapak, dan di suaranya terdengar beban yang sedikit terangkat. “Maaf ya, Nak. Bapak lagi nnga bisa ngirimin kamu uang sekarang. Uangnya mau Bapak pakai untuk berobat.”

Rasa bersalah itu mencekik. Di satu sisi, aku butuh uang untuk bertahan hidup. Di sisi lain, pria di seberang telepon itu, pahlawanku, jelas lebih membutuhkannya.

“Iya, Pak, tidak apa-apa,” kataku, berusaha membuat suaraku terdengar meyakinkan. “Bapak sekarang fokus ke kesehatan Bapak dulu, ya. Bapak harus sehat. Ngga boleh sakit lagi.”

“Baik, Nak. Iya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, Pak.”

Klik.

Bunyi itu menandakan akhir percakapan, tapi awal dari sebuah pergulatan baru. Aku tetap terduduk di lantai, dalam kesunyian kamar yang kini terasa lebih dingin dan lebih sunyi dari sebelumnya. Telepon masih tergenggam di tanganku. Malam ini, aku tidak hanya kehilangan uang untuk makan. Malam ini, aku merasa kehilangan sedikit dari diriku sendiri sebuah kepolosan yang tergantikan oleh sebuah kebohongan yang terpaksa, demi senyuman seorang ayah yang berjarak ratusan kilometer. Dan di keheningan itu, aku menyadari, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Panggilan Tengah Malam

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Rapat Koordinasi (Bahu-Membahu dengan Potensi Diri untuk Nabi yang Dicintai)
8 Oktober 2021

Rapat Koordinasi (Bahu-Membahu dengan Segala Potensi Diri untuk Nabi yang Dicintai) PUSTAKA AL-BAHJAH-FLASH BACK-Sebuah kegiatan akbar yang sangat ditunggu-tunggu, yaitu... selengkapnya

Problem Moral dan Masa Depan Bangsa
19 Maret 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata.... selengkapnya

Umat Islam Wajib Mengenal Tahun Hijriah
25 Juni 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Merayakan tahun baru merupakan salah satu momen yang sangat dinanti oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan momen pergantian tahun... selengkapnya

Hati-Hati Ada Gaji Buta di Antara Kita
25 Maret 2021

Hati-Hati Ada Gaji Buta di antara Kita Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya

Psikologi di Balik Selalu Berpura-pura “Menjadi yang Tersakit”
11 Februari 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Secara tak sadar kita sering mendengar cerita atau curhatan seseorang yang tampak terus-menerus disakiti, merasa tidak pernah dipahami,... selengkapnya

Salah Kaprah Berbuka Puasa dengan yang Manis-Manis
18 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Berbuka puasa bukan hanya prosesi melepas dahaga dan haus, tapi juga merupakan salah satu ibadah yang memiliki... selengkapnya

Cara Mudah Shalat Saat Mudik Lebaran
17 April 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Shalat fardhu merupakan sebuah kewajiban seorang muslim yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, termasuk saat... selengkapnya

Dalam Sunyi, Ada Allah: Puisi-Puisi Syariif Ahmad
2 Agustus 2025

  Dalam Sunyi, Ada Allah Dalam sunyi yang tak bersuara, Saat malam memeluk doa, Aku temukan Engkau di sela napas... selengkapnya

Membaca Adalah Modal: Teknik Dasar Menulis Artikel Jurnalistik untuk Pemula
5 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Sering kita jumpai tulisan di media massa yang penulisnya tidak memiliki latar belakang bahasa atau jurnalistik. Mengapa bisa... selengkapnya

Bilal bin Rabah: Simbol Keteguhan Seseorang dalam Mencecap Lezatnya Iman
15 November 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehidupan Bilal tak ubahnya dengan budak lainnya. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari... selengkapnya

Panggilan Tengah Malam

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: