Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Beranda » Blog » Panggilan Tengah Malam

Panggilan Tengah Malam

Diposting pada 5 Oktober 2025 oleh Redaksi / Dilihat: 402 kali / Kategori:

TEMBOK kamar pondok yang lembap itu seperti satu-satunya yang nyata. Dinginnya meresap hingga ke tulang, menemani kesunyian yang pekat. Hanya cahaya layar handphone yang menyala, menjadi mercusuar kecil di tengah lautan keputusasaan yang diam-diam mulai menghanyutkanku. Lalu, dering itu memecah kesunyian. Nama “Bapak” berkedip-kedip, sebuah gambaran yang kutahu tak lagi secerah dulu.

“Apa kabar, Nak? Sehat?” Suaranya, serak dan berat, seperti datang dari ruang hampa. Itu adalah suara malaikat penjagaku. Tapi malam ini, terasa seperti gema dari kejauhan yang semakin memudar. Aku menegakkan punggung, berusaha mengekstrak sisa-sisa kekuatan yang masih tersisa.

“Alhamdulillah, baik, Pak,” ucapku. Dua kata itu nyaris tertahan di kerongkongan, sementara air mata sudah menggenang di pelupuk mata, menguji ketegaran yang kupaksakan.

“Bapak kangen sama kamu.”

Bruuk. Seketika itu juga, benteng pertahananku roboh. Kalimat sederhana itu bagaimana sebuah palu godam yang menghancurkan kaca. Air mata itu akhirnya tumpah, mengalir deras di pipi, membasahi baju lama yang sudah usang. Tangisku tersedat-sedat, tak terbendung.

“Sama, Pak. Ari juga kangen Bapak,” kataku, berusaha menelan getir. “Bapak, apa kabar?”

Ada jeda singkat yang terasa panjang. Aku bisa mendengar tarikan napasnya yang berat di seberang sana.

“Bapak sakit, Nak. Bapak udah dua hari ngga masuk kerja.”

Dunia berhenti berputar. “Sakit.” Kata itu menggantung di udara, lalu jatuh menimpaku dengan berat yang tak tertahankan. Tubuhku lunglai, seolah tulang-tulangku dicabut satu per satu. Handphone nyaris terlepas dari genggamanku yang mendadak lemas. Badanku merosot, terduduk lemah di lantai dingin, bersandar pada tembok pondok yang tak mampu memberikan kehangatan.

Dengan sisa tenaga, kuangkat kembali telepon itu ke telinga. Suaraku bergetar, nyaris seperti bisikan. “Bapak sakit apa?”

“Punggung, Nak. Kata dokter, peredaran darahnya kurang lancar. Ini Bapak lagi dibekam.” Lalu, datanglah pertanyaan yang membuatku membeku. “Uang kamu masih, Nak?”

Denting. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku terdiam. Seribu bahasa berkecamuk di kepala, tapi tak satu pun kata yang mau keluar. Aku memandangi dompet tipis di atas meja. Kosong. Bahkan untuk sepotong roti besok pagi, aku harus memutar otak. Bagaimana mungkin aku menjawabnya?

“Nak?” suaranya memanggil, menarikku dari jurang kebingungan.

Dengan lidah yang terasa seperti kapas, aku memaksakan kebohongan itu keluar. “Masih, Pak. Alhamdulillah. Cukup kok untuk seminggu.”

Berdosakah aku, Tuhan? Tanya itu menghantam sanubari. Aku telah membohongi orang yang telah mengorbankan segalanya untukku. Aku merasa seperti pengkhianat terkutuk.

“Alhamdulillah,” jawab Bapak, dan di suaranya terdengar beban yang sedikit terangkat. “Maaf ya, Nak. Bapak lagi nnga bisa ngirimin kamu uang sekarang. Uangnya mau Bapak pakai untuk berobat.”

Rasa bersalah itu mencekik. Di satu sisi, aku butuh uang untuk bertahan hidup. Di sisi lain, pria di seberang telepon itu, pahlawanku, jelas lebih membutuhkannya.

“Iya, Pak, tidak apa-apa,” kataku, berusaha membuat suaraku terdengar meyakinkan. “Bapak sekarang fokus ke kesehatan Bapak dulu, ya. Bapak harus sehat. Ngga boleh sakit lagi.”

“Baik, Nak. Iya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, Pak.”

Klik.

Bunyi itu menandakan akhir percakapan, tapi awal dari sebuah pergulatan baru. Aku tetap terduduk di lantai, dalam kesunyian kamar yang kini terasa lebih dingin dan lebih sunyi dari sebelumnya. Telepon masih tergenggam di tanganku. Malam ini, aku tidak hanya kehilangan uang untuk makan. Malam ini, aku merasa kehilangan sedikit dari diriku sendiri sebuah kepolosan yang tergantikan oleh sebuah kebohongan yang terpaksa, demi senyuman seorang ayah yang berjarak ratusan kilometer. Dan di keheningan itu, aku menyadari, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

Penulis: Nur Robi Ari Saputra

Penyunting: Idan Sahid

Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.

 

 

Bagikan ke

Panggilan Tengah Malam

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.
Menjaga Lingkungan dalam Perspektif Islam: Hifzh Al-Biah dan Hifzh Al-Nafs
10 Maret 2025

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banjir yang melanda berbagai wilayah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya menjaga lingkungan (hifzh... selengkapnya

Hikmah Merindukan Surga dan Takut Neraka
8 Juli 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang sudah mengikrarkan dirinya beriman secara otomatis akan mudah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Ia juga akan secara... selengkapnya

Infaq
12 April 2020

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Infaq Center Al-Bahjah ☺ Semoga Bapak/Ibu/Saudara/Saudari selalu dalam keadaan sehat walafiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT,... selengkapnya

Hati-Hati Ada Gaji Buta di Antara Kita
25 Maret 2021

Hati-Hati Ada Gaji Buta di antara Kita Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA... selengkapnya

5 Ciri Kalimat Efektif Beserta Contohnya
27 Desember 2023

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Seorang penulis hendaknya memperhatikan daya baca pembaca sasarannya. Dalam hal ini penulis harus menempatkan diri sebagai... selengkapnya

Mokel Puasa Ramadan sebagai Bentuk Sabotase Biologis
6 Maret 2026

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Saat Ramadan, ramai di media sosial unggahan konten yang menggunakan istilah mokel. Mokel adalah bahasa gaul yang berasal... selengkapnya

Untuk Anda Yang Ingin Merayakan Tahun Baru Masehi, Mari Simak Pesan Mulia Buya Yahya
15 Desember 2022

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Tidak lama lagi kita akan memasuki akhir tahun baru masehi. Pada malam tahun baru ini, seringkali... selengkapnya

Peduli Palestina, LAZ Al-Bahjah Salurkan Infak Kemanusiaan Tahap II Rp1,7 M Melalui BAZNAS RI
24 Februari 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Bahjah menyalurkan infak kemanusiaan untuk Palestina tahap II sebesar Rp1.746.285.736 melalui Badan Amil... selengkapnya

Surat Cinta Untukmu Ya Rasulallah
1 Maret 2023

Karya : Ummi Fairuz Ar- Rahbini   Lebih bagus dari mu ya Rasulullah Sungguh mata ini tak pernah melihatnya Lebih... selengkapnya

Kapan Waktu Menyembelih Hewan Kurban yang Paling Afdhol? Begini Penjelasan Buya Yahya
16 Juni 2024

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Pertanyaan yang sering muncul ketika menjelang Iduladha salah satunya mengenai kapan waktu paling afdhol (utama) untuk menyembelih... selengkapnya

Panggilan Tengah Malam

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: