fbpx
Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

CS Pustaka
● online
CS Pustaka
● online
Halo, perkenalkan saya CS Pustaka
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka Setiap Hari pukul 08.00 s.d. pukul 16.00 Hari Besar Islam Tutup
Beranda » Blog » Problem Moral dan Masa Depan Bangsa

Problem Moral dan Masa Depan Bangsa

Diposting pada 19 Maret 2024 oleh Redaksi / Dilihat: 146 kali / Kategori:

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata. Ada anak memenjarakan ibunya; anak mengusir orang tuanya; anak sekolah tawuran; remaja terlibat seks bebas dan narkoba; serta masih banyak yang lainnya.

Moral anak bangsa di era sekarang seakan hancur berantakan. Mana kesantunan yang pernah kita punya? Mana tata krama yang kita junjung tinggi? Mana unggah-ungguh kita kepada orang yang lebih tua dan kepada sesama yang ditanamkan oleh guru-guru dan orang tua kita?

Apakah problem-problem ini memang harus menyertai setiap perkembangan zaman? Pada satu sisi, perkembangan zaman menawarkan berbagai kemudahan bebarengan seperti kehadiran teknologi canggih. Namun di sisi lain, moralitas anak bangsa justru tergerus terbawa arus.

Jawabannya, bisa jadi “iya”. Kita terlena dan dininabobokan oleh gegap gempita zaman. Kita tak memperhitungkan ekses yang menyertai. Celakanya, kita tak mampu menyikapi secara bijak. Ditambah lagi, kita abai memperhatikannya.

Sebagai contoh, kita harus mengakui bahwa teknologi kerap membuat penggunanya lupa daratan. Banyak orang terbuai, terpesona, hedonisme menyeruak, tanpa bisa kita lakukan reserve sama sekali. Dari sinilah, sebenarnya awal pintu masuk degradasi moral.

Moral yang seharusnya menjadi benteng dalam berbangsa, terkubur pada hingar bingarnya globalisasi. Moral tercederai sekaligus teracak-acak tanpa bisa kita berbuat banyak. Kita seakan menjadi tak banyak mempersoalkannya, sepenting apakah moral itu?

 

Mari Peduli  

Krisis moral yang melanda negeri ini, bila ditelusuri paling sering penyebabnya adalah: Pertama, kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak. Keluarga adalah lingkungan pertama seorang anak yang intens berkomunikasi dan berinteraksi.

Di keluargalah nilai moral seharusnya ditanamkan. Orang tua menanamkan nilai-nilai agama pada anak, memberikan contoh yang baik, memberikan kasih sayang, menjadi figur yang baik dalam pengasuhan anak, serta menjalin komunikasi yang baik. Seandainya peran itu dimainkan, anak bisa tumbuh dengan baik, secara fisik maupun psikis. Pun kejadian yang tak diinginkan bisa diminimalkan atau bahkan tidak akan terjadi.

Sebaliknya, bila peran itu tak berjalan, sangat dimungkinkan akan lahir penyimpangan akibat pergaulan di luar yang tak terkendali. Sehingga anak malah terjerumus ke dalam pergaulan dan lingkungan yang menyimpang.

Kedua, penyalahgunaan gadget. Saat ini, hampir semua anak memiliki gadget. Dengan gadget di tangan, anak serasa punya dunianya sendiri. Saat gadget digunakan untuk melihat konten negatif sampai lupa waktu, di situlah gadget bak menjelma “monster”. Padahal, mestinya gadget digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, menginspirasi, sekaligus memotivasi agar lebih produktif.

Ketiga, pengaruh media sosial. Hampir semua anak Indonesia mengenal media sosial. Sering kali kita dengar berita mengenai penyimpangan remaja terhadap media sosial yang mengakibatkan rusaknya nilai moral, seperti: pemerkosaan, penipuan, dan tindakan negatif lainnya. Inilah dahsyatnya pengaruh media sosial yang bisa membunuh karakter baik anak bila tak mampu mengendalikan diri.

Keempat, ketidakpedulian terhadap lingkungan. Mungkin karena tuntutan hidup, banyak orang seakan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Sikap egois dan individual membuat orang asyik sendiri. Nah, bila kita peduli, itu bisa menjadi kontrol sosial yang efektif dalam mencegah kejahatan sosial dan mencegah menurunnya nilai moral.

 

Moral Penentu Masa Depan Bangsa

WHO (World Health Organization) mengidentifikasi bahwa remaja adalah masa transisi. Masa remaja dianggap sebagai masa kritikal di dalam fase kehidupan yang ditandai dengan pertumbuhan dan perubahan yang pesat.  Fase remaja sebagai storm dan stress, fase di mana remaja berusaha keras untuk menjadi pribadi yang mandiri yang penuh dengan gejolak emosi bahkan kadang frustasi.

Sayangnya, dalam proses pencarian jati diri, banyak remaja justru tersangkut perilaku menyimpang, seperti: kekerasan, obat-obatan, seks bebas, problem psikologis, dan lainnya. Ini juga tak lepas dari sikap yang cenderung lebih permisif. Orang terkadang sudah tak malu-malu lagi melanggar norma dan etik. Diterabasnya konsensus yang ada. Padahal moral adalah penjaga. Dan bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mengedepankan nilai moral.

Sulit dibayangkan, apa yang terjadi dengan masa depan bangsa. Bangsa bisa terancam dalam keruntuhan. Imam Mawardi dalam kitab “Adabud Dunya wad-Din” pernah memperingatkan bahwa suatu bangsa akan hancur manakala akhlak/moral anak bangsa hancur. Di sinilah, masa depan suatu bangsa dipertaruhkan; apakah bermoral atau tidak? Semakin bermoral, artinya semakin baik pula nasib bangsa. Pun sebaliknya.

 

Peran Banyak Pihak

Harus ada upaya serius dari banyak pihak yang punya kepedulian terhadap moral bangsa. Pertama, lembaga pendidikan kudu sadar bahwa pendidikan bukan memperkaya wawasan melalui ilmu pengetahuan (sains) belaka. Tapi lebih penting lagi, bagaimana membentuk karakter anak.  Bila perlu memasukkan pendidikan moral secara spesifik dalam kurikulum. Karakter anak harus dibangun agar kelak senantiasa menjunjung tinggi moral di atas segalanya.

Guru punya peran vital di sini. Tiap sikap, perbuatan, dan perkataan akan menjadi contoh yang digugu (dipercaya atau dipatuhi) dan ditiru (diteladani atau diikuti). Tak semata sebagai pendidik, namun juga pemberi dan pemantik inspirasi. Bisa memberikan pencerahan sehingga mampu melahirkan anak yang bermoral, serta siap menghadapi tantangan zaman.

Dalam konteks ini, rasanya pesantren bisa menjadi role model dalam menanamkan akhlak/moral kepada anak. Dan ini bisa ditularkan dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal lainnya.

Kedua, keluarga. Ia punya kontribusi besar dalam menyemai kebaikan. Sementara itu, anak adalah harapan. Akankah harapan itu akan kita telantarkan? Maka, tanamkan nilai moral dalam keseharian melalui perkataan dan perbuatan nyata kepada anak sejak dini.

Ketiga, lingkungan sosial. Banyaknya penyimpangan moral di zaman modern sekarang ini akibat lingkungan yang tidak sehat. Sementara itu, seakan ada pembiaran dari orang tua ketika anak di luar rumah.

Oleh karena itu, semestinya ada pengawasan dan komunikasi keluarga yang memastikan bahwa anak bersosialisasi di lingkungan yang sehat. Begitu pun masyarakat peduli dan mengingatkan ketika muncul indikasi-indikasi penyimpangan moral. Sehingga, sikap saling peduli ini akan melahirkan generasi yang bermoral.

Penulis: Herry Munhanif

 

Jelajahi dunia ilmu dengan membaca buku-buku Penerbit Pustaka Al-Bahjah!

Dapatkan akses eksklusif ke beragam pengetahuan yang menginspirasi dari Penerbit Pustaka Al-Bahjah. Koleksi buku-buku karya Buya Yahya dan perdalam pengetahuan agama Anda. Dapatkan buku-buku terbaik kami dengan mengunjungi link Penerbit Pustaka Al-Bahjah sekarang juga!

Klik link: https://pustakaalbahjah.com/katalog

Tags: , ,

Bagikan ke

Problem Moral dan Masa Depan Bangsa

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Problem Moral dan Masa Depan Bangsa

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: