● online
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami
- BUKU THAHARAH - BERSUCI - KARYA BUYA YAHYA
- KITAB MAULID AD DIBA'I
- Kisah Nabi Muhammad Saw "Dari Lahir Sampai Diutus
- English Practice "Practice Makes Perfect" Intermed
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita
- English Practice "Practice Makes Perfect" Low Begi
- DZIKIR HARIAN MAJELIS AL-BAHJAH
Problem Moral dan Masa Depan Bangsa

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Wajah moral anak bangsa belakangan ini tampaknya kian bopeng. Banyak pemberitaan yang membuat kita menitikkan air mata. Ada anak memenjarakan ibunya; anak mengusir orang tuanya; anak sekolah tawuran; remaja terlibat seks bebas dan narkoba; serta masih banyak yang lainnya.
Moral anak bangsa di era sekarang seakan hancur berantakan. Mana kesantunan yang pernah kita punya? Mana tata krama yang kita junjung tinggi? Mana unggah-ungguh kita kepada orang yang lebih tua dan kepada sesama yang ditanamkan oleh guru-guru dan orang tua kita?
Apakah problem-problem ini memang harus menyertai setiap perkembangan zaman? Pada satu sisi, perkembangan zaman menawarkan berbagai kemudahan bebarengan seperti kehadiran teknologi canggih. Namun di sisi lain, moralitas anak bangsa justru tergerus terbawa arus.
Jawabannya, bisa jadi “iya”. Kita terlena dan dininabobokan oleh gegap gempita zaman. Kita tak memperhitungkan ekses yang menyertai. Celakanya, kita tak mampu menyikapi secara bijak. Ditambah lagi, kita abai memperhatikannya.
Sebagai contoh, kita harus mengakui bahwa teknologi kerap membuat penggunanya lupa daratan. Banyak orang terbuai, terpesona, hedonisme menyeruak, tanpa bisa kita lakukan reserve sama sekali. Dari sinilah, sebenarnya awal pintu masuk degradasi moral.
Moral yang seharusnya menjadi benteng dalam berbangsa, terkubur pada hingar bingarnya globalisasi. Moral tercederai sekaligus teracak-acak tanpa bisa kita berbuat banyak. Kita seakan menjadi tak banyak mempersoalkannya, sepenting apakah moral itu?
Mari Peduli
Krisis moral yang melanda negeri ini, bila ditelusuri paling sering penyebabnya adalah: Pertama, kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak. Keluarga adalah lingkungan pertama seorang anak yang intens berkomunikasi dan berinteraksi.
Di keluargalah nilai moral seharusnya ditanamkan. Orang tua menanamkan nilai-nilai agama pada anak, memberikan contoh yang baik, memberikan kasih sayang, menjadi figur yang baik dalam pengasuhan anak, serta menjalin komunikasi yang baik. Seandainya peran itu dimainkan, anak bisa tumbuh dengan baik, secara fisik maupun psikis. Pun kejadian yang tak diinginkan bisa diminimalkan atau bahkan tidak akan terjadi.
Sebaliknya, bila peran itu tak berjalan, sangat dimungkinkan akan lahir penyimpangan akibat pergaulan di luar yang tak terkendali. Sehingga anak malah terjerumus ke dalam pergaulan dan lingkungan yang menyimpang.
Kedua, penyalahgunaan gadget. Saat ini, hampir semua anak memiliki gadget. Dengan gadget di tangan, anak serasa punya dunianya sendiri. Saat gadget digunakan untuk melihat konten negatif sampai lupa waktu, di situlah gadget bak menjelma “monster”. Padahal, mestinya gadget digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, menginspirasi, sekaligus memotivasi agar lebih produktif.
Ketiga, pengaruh media sosial. Hampir semua anak Indonesia mengenal media sosial. Sering kali kita dengar berita mengenai penyimpangan remaja terhadap media sosial yang mengakibatkan rusaknya nilai moral, seperti: pemerkosaan, penipuan, dan tindakan negatif lainnya. Inilah dahsyatnya pengaruh media sosial yang bisa membunuh karakter baik anak bila tak mampu mengendalikan diri.
Keempat, ketidakpedulian terhadap lingkungan. Mungkin karena tuntutan hidup, banyak orang seakan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Sikap egois dan individual membuat orang asyik sendiri. Nah, bila kita peduli, itu bisa menjadi kontrol sosial yang efektif dalam mencegah kejahatan sosial dan mencegah menurunnya nilai moral.
Moral Penentu Masa Depan Bangsa
WHO (World Health Organization) mengidentifikasi bahwa remaja adalah masa transisi. Masa remaja dianggap sebagai masa kritikal di dalam fase kehidupan yang ditandai dengan pertumbuhan dan perubahan yang pesat. Fase remaja sebagai storm dan stress, fase di mana remaja berusaha keras untuk menjadi pribadi yang mandiri yang penuh dengan gejolak emosi bahkan kadang frustasi.
Sayangnya, dalam proses pencarian jati diri, banyak remaja justru tersangkut perilaku menyimpang, seperti: kekerasan, obat-obatan, seks bebas, problem psikologis, dan lainnya. Ini juga tak lepas dari sikap yang cenderung lebih permisif. Orang terkadang sudah tak malu-malu lagi melanggar norma dan etik. Diterabasnya konsensus yang ada. Padahal moral adalah penjaga. Dan bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang mengedepankan nilai moral.
Sulit dibayangkan, apa yang terjadi dengan masa depan bangsa. Bangsa bisa terancam dalam keruntuhan. Imam Mawardi dalam kitab “Adabud Dunya wad-Din” pernah memperingatkan bahwa suatu bangsa akan hancur manakala akhlak/moral anak bangsa hancur. Di sinilah, masa depan suatu bangsa dipertaruhkan; apakah bermoral atau tidak? Semakin bermoral, artinya semakin baik pula nasib bangsa. Pun sebaliknya.
Peran Banyak Pihak
Harus ada upaya serius dari banyak pihak yang punya kepedulian terhadap moral bangsa. Pertama, lembaga pendidikan kudu sadar bahwa pendidikan bukan memperkaya wawasan melalui ilmu pengetahuan (sains) belaka. Tapi lebih penting lagi, bagaimana membentuk karakter anak. Bila perlu memasukkan pendidikan moral secara spesifik dalam kurikulum. Karakter anak harus dibangun agar kelak senantiasa menjunjung tinggi moral di atas segalanya.
Guru punya peran vital di sini. Tiap sikap, perbuatan, dan perkataan akan menjadi contoh yang digugu (dipercaya atau dipatuhi) dan ditiru (diteladani atau diikuti). Tak semata sebagai pendidik, namun juga pemberi dan pemantik inspirasi. Bisa memberikan pencerahan sehingga mampu melahirkan anak yang bermoral, serta siap menghadapi tantangan zaman.
Dalam konteks ini, rasanya pesantren bisa menjadi role model dalam menanamkan akhlak/moral kepada anak. Dan ini bisa ditularkan dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal lainnya.
Kedua, keluarga. Ia punya kontribusi besar dalam menyemai kebaikan. Sementara itu, anak adalah harapan. Akankah harapan itu akan kita telantarkan? Maka, tanamkan nilai moral dalam keseharian melalui perkataan dan perbuatan nyata kepada anak sejak dini.
Ketiga, lingkungan sosial. Banyaknya penyimpangan moral di zaman modern sekarang ini akibat lingkungan yang tidak sehat. Sementara itu, seakan ada pembiaran dari orang tua ketika anak di luar rumah.
Oleh karena itu, semestinya ada pengawasan dan komunikasi keluarga yang memastikan bahwa anak bersosialisasi di lingkungan yang sehat. Begitu pun masyarakat peduli dan mengingatkan ketika muncul indikasi-indikasi penyimpangan moral. Sehingga, sikap saling peduli ini akan melahirkan generasi yang bermoral.
Penulis: Herry Munhanif
Jelajahi dunia ilmu dengan membaca buku-buku Penerbit Pustaka Al-Bahjah!
Dapatkan akses eksklusif ke beragam pengetahuan yang menginspirasi dari Penerbit Pustaka Al-Bahjah. Koleksi buku-buku karya Buya Yahya dan perdalam pengetahuan agama Anda. Dapatkan buku-buku terbaik kami dengan mengunjungi link Penerbit Pustaka Al-Bahjah sekarang juga!
Klik link: https://pustakaalbahjah.com/katalog
Tags: bangsa, masa depan, moral
Problem Moral dan Masa Depan Bangsa
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 15 dan surat Al-Hijr ayat 27 diterangkan, bahwa jin merupakan makhluk yang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pernikahan sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang dalam hidup. Mengandung makna bahwa pernikahan dilakukan dari mulai akad sampai... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Apakah ada penulis yang mampu menyelesaikan tulisannya hanya dalam sekali duduk? Jika ada, bagaimana ia melakukannya? Apakah J.... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Pagi ini Sabtu, 23 Syawal 1444H/13 Mei 2023 Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) Al-Bahjah kembali menebar “jaring-jaring”... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Penulis hebat tidak pernah terlepas dari kemampuan penulisan paragraf yang baik, sehingga pengetahuan paragraf yang baik... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Beberapa hari yang lalu telah terjadi musibah besar yaitu kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Pada era digitalisasi informasi seperti sekarang ini, secara sadar atau tidak pernah mengalami bullying atau yang lebih kita... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Praktik penjualan kulit hewan kurban saat hari raya Idul Adha adalah fenomena yang sering kita temui... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Agama Islam merupakan ajaran yang menjunjung tinggi kedudukan nilai keadilan, kemanusiaan, kemulian, dan kesetaraan. Sejak datangnya Islam... selengkapnya
Buku Fiqih Bepergian karya Buya Yahya menghadirkan masalah umum yang sering dihadapi oleh kaum muslim dalam menjaga kualitas dan waktu… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 43.000Buku ini berisikan terjemahan kosa kata bahasa arab beserta latihan-latihannya yang semoga bisa memudahkan para pelajar atau pecinta bahasa arab… selengkapnya
Rp 40.000 Rp 52.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Tebal buku: viii+102 Kehidupan keras yang dilalui Nabi Muhammad Saw di masa kecil telah… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Moch. Idam Kholid Ukuran: 10,5 x 16,5 cm Tebal buku: 200 Bahasa Inggris adalah bahasa internasional… selengkapnya
*Harga Hubungi CS
Saat ini belum tersedia komentar.