● online
- INDAHNYA MEMAHAMI PERBEDAAN PARA ULAMA KARYA BUYA ....
- English Practice "Practice Makes Perfect" Beginner....
- Kitab Bidayatul Wushul 1....
- BUKU FIQIH HAID - Cerdas Memahami Darah Wanita....
- FIQIH SHOLAT KARYA BUYA YAHYA....
- المعين المبين....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- Maqoshid Syariah....
Bilal bin Rabah: Simbol Keteguhan Seseorang dalam Mencecap Lezatnya Iman

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Kehidupan Bilal tak ubahnya dengan budak lainnya. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari itu, tidak pula menaruh harapan pada hari esok. Sementara berita-berita mengenai Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam saat itu akhirnya lebih sering tersiar ke telinganya. Juga ketika mendengar obrolan majikannya yang bernama Umayah bin Khalaf bersama tamu-tamunya.
Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat Nur Ilahi dan mendengar imbauannya dalam lubuk hatinya yang suci murni. Maka ia mendatangi Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Namun tidak lama kemudian, rahasia keislaman Bilal terungkap juga. Umayah bin Khalaf tertampar kenyataaan pahit itu, seakan menghina dan menjatuhkan kehormatan dirinya sebagai tuannya.
Pada suatu ketika, di tengah hari yang bulat; waktu padang pasir berganti rupa menjadi neraka jahannam, mereka membawa Bilal ke luar dalam keadaan telanjang, lalu melemparkannya ke pasir yang sedang menyala kuning, kemudian beberapa orang laki-laki mengangkat batu besar panas laksana bara, dan menjatuhkannya ke dada Bilal.
Siksaan kejam dan biadab ini mereka ulangi setiap hari, hingga karena keteguhan Bilal, lunak pulalah hati para algojo yang menaruh kasihan kepadanya. Mereka berjanji dan bersedia melepaskannya asal saja ia mau menyebut nama Tuhan secara baik-baik. Bilal menolak mengucapkannya, dan sebagai gantinya diulang-ulanglah senandungnya yang abadi, “Ahad…! Ahad…!”. Namun para algojo menolaknya balik, “Sebutlah Lata dan Uzza!” Akan tetapi jawaban Bilal tida berubah sedikit pun, “Ahad…! Ahad…!”.
Tinggallah Bilal dalam deraan panas dan tindihan batu, hingga ketika hari petang mereka tegakkan badannya dan ikatkan tali pada lehernya, lalu mereka suruh anak-anak untuk mengaraknya keliling bukit-bukit dan jalan-jalan Kota Makkah. Sementara Bilal tiada lekang kedua bibirnya melagukan senandung sucinya, “Ahad…! Ahad…!”
Bila malam telah tiba, orang-orang itu akan menawarkan kepadanya, “Esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap tuhan-tuhan kami, sebutlah: tuhanku Lata dan Uzza. Nanti kami lepaskan dan biarkan kamu sesuka hatimu! Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Namun pastilah Bilal akan menggelengkan kepalanya dan hanya menyebut, “Ahad…! Ahad…!” Karena tak dapat menahan gusar dan amarah murkanya, Umayah meninju sambil berseru, “Hai budak celaka! Demi tuhan sebutlah Lata dan Uzza. Celakalah kau, akan kujadikan kau sebagai contoh bagi bangsa budak yang tidak patuh terhadap majikan-majikannya!” Dengan keyakinan seorang mukmin dan kebesaran seorang suci, Bilal tetap menyahut, “Ahad…! Ahad…!”
Waktu pagi hampir berlalu, waktu Dzuhur dekat menjelang, dan Bilal pun dibawa orang ke padang pasir untuk ke sekian kalinya. Akan tetapi Bilal tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah. Sementara mereka menyiksanya lagi dan lagi. Tiba-tiba datanglah Abu Bakr Ash Shiddiq, serunya, “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhannya adalah Allah?!” Kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf, “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan ia!”
Dijualnya Bilal kepada Abu Bakr yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampil mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka. Ketika as-Shiddiq mengapit Bilal membawanya ke alam bebas, berkatalah Umaya, “Bawalah ia! Demi Lata dan Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah ia akan kulepas juga!” Maka jawabnya kepada Umayah, “Demi Allah, seandainya kalian tak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!”
Kemudian pergilah Abu Bakr bersama sahabatnya itu kepada Rasulullah dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya, maka saat itu pun tak ubah bagai hari raya besar juga. Setelah Rasulullah bersama kaum muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliau pun mensyariatkan adzan untuk melakukan shalat. Dan Rasulullah memilih Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan pertama kalinya dan menjadi muadzin andalan Rasulullah.
Tahun demi tahun Bilal bin Rabah menikmati perjuangan bersama Rasulullah melalui peperangan, pembebasan Kota Makkah, dan penghancuran berhala-berhala di Ka’bah. Ia tetap menjadi muadzin, menjaga serta menyemarakkan syi’ar agama besar ini, yang telah membebaskan dari kegelapan kepada cahaya, dari perbudakan kepada kemerdekaan. Kedudukan agama Islam semakin tinggi, demikian pula halnya kaum muslimin, taraf dan derajat mereka ikut naik, dan Bilal semakin lama semakin dekat di hati Rasulullah yang menyatakannya sebagai “seorang laki-laki penduduk surga”.
Itulah Sayyidina Bilal bin Rabah. Beliau telah mampu merasakan kelezatan iman sesungguhnya. Jika seseorang sudah mendapatkan kelezatan iman, tak sebanding dengan kenikmatan di dunia. Bahkan siksaan seperti yang dialami oleh Bilal terasa nikmat hingga beliau disiksa tapi bibirnya masih mengucapkan Ahad… Ahad…
Penulis: Muhammad Tis Asuh Shobirin
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Bilal bin Rabah: Simbol Keteguhan Seseorang dalam Mencecap Lezatnya Iman
Mengutamakan Kepatuhan di atas Penghormatan Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon) PUSTAKA AL-BAHJAH-ARTIKEL-Adakalanya orang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Orang yang merindukan bulan Ramadan akan mengenang setiap hiruk-pikuk yang ada di dalamnya. Seperti berburu takjil, sahur,... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Mandi pada hari Jum’at memiliki kedudukan yang berbeda dengan mandi di hari-hari yang lain, jika dilihat dari... selengkapnya
Oleh: Imam Abdullah, B.Sc. MA. Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Imam Nawawi menyebutkan dalam Kitab Al-Adzkar, “Ketahuilah sesungguhnya disunnahkan menghidupkan 2 malam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan dengan indah. Ada kalanya kita merasa tersakiti, dikecewakan, bahkan terluka oleh orang-orang... selengkapnya
Tuhanku, Adakah Rencana Lain? Tuhanku, adakah ini kisah yang Kau tulis di langit? Saat langkah lain melesat, aku diam... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu melaksanakannya. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah)... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Siapa yang tidak mengenal kucing? Hewan yang satu ini terkenal menggemaskan dan menjadi salah satu hewan favorit... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Seseorang diibaratkan sebagai rumah yang harus memiliki pondasi dalam hidupnya. Jika rumah tidak memiliki pondasi atau pondasi... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Istilah Rebo Wekasan sudah familiar pada sebagian kalangan masyarakat. Rebo Wekasan ialah istilah untuk hari Rabu... selengkapnya
Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Penerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Achmad Hisyam Al Habsyie Tebal buku: viii+252 Di tengah penolakan kaum Quraisy, Allah mengangkat Nabi Muhammad… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Buya Yahya Tebal buku: xiii+124 Dakwah mempunyai makna mengajak diri dan orang lain kepada kebaikan, menjauhkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSPenerbit: Pustaka Al-Bahjah Penulis: Maulid Johansyah, M.Pd. Tebal buku: xi+138 Buku saku Kosa Kata (Almufrodat) Sehari-Hari ini merupakan pelengkap untuk… selengkapnya
Rp 23.000 Rp 29.900Buku Fiqih Jenazah karya Buya Yahya adalah sebuah karya yang membahas secara komprehensif tentang tata cara dan hukum-hukum yang berkaitan… selengkapnya
Rp 58.000Buku Fiqih Praktis Haid karya Buya Yahya memuat tiga bahasan utama, yaitu identifikasi dan ketentuan haid, nifas, dan istihadhoh yang… selengkapnya
Rp 95.000 Rp 149.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000
Saat ini belum tersedia komentar.