● online
- Fiqih Praktis Haji dan Umrah yang Mudah Dipahami....
- RAMADHANIAT....
- Fiqih Bepergian Solusi Shalat di Perjalanan....
- Kosakata (Almufrodat) Sehari-Hari....
- BUKU THAHARAH - BERSUCI - KARYA BUYA YAHYA....
- Oase Iman - Refleksi Problematika Umat....
- Fiqih Shalat Berjamaah....
- BUKU PENGANTAR BAHASA ARAB....
Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan

Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat yang tak terhingga kepada makhluk-Nya, baik nikmat yang telah diberikan, sedang dirasakan, atau yang akan datang. Tidak ada manusia yang sanggup menghitung nikmat yang Allah limpahkan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya sebagai orang yang beriman, kita harus pandai mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Namun di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberikan ujian kepada hamba-Nya, ujian tersebut tidak lain adalah sebagai tanda kasih dan sayang-Nya.
Saat ujian datang, rasa nikmat hilang dan mungkin sekali terasa menyakitkan. Riwayat menyebutkan bahwa ujian adalah segala sesuatu yang dirasakan tidak enak oleh orang beriman. Tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa nikmat benar-benar Allah cabut selamanya. Sebab ketika Allah mengambil sesuatu dari hamba-Nya, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
Ujian dan nikmat yang didapatkannya adalah jembatan untuk mendatangkan nikmat lainnya di dunia dan akhirat. Lalu bagaimanakah cara agar ujian dan nikmat mendatangkan nikmat lainnya, bahkan kenikmatan yang kekal atau kita sebut saja dengan keberlimpahan?
Ujian Adalah Seleksi Amal-Amal Terbaik Seorang Hamba
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
…الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢
“…yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)
Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa ayyukum ahsanu amala ialah siapa yang amalnya lebih baik atau paling baik, bukan paling banyak. Sementara itu dalam tafsir Ar-Razi disebutkan bahwa ahsanu amala yaitu amalan paling tulus dan paling benar. Tulus maksudnya ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar maksudnya sesuai dengan ajaran syariat.
Artinya yang menjadi prioritas utama adalah baik, tulus, dan benarnya amal, baru setelah itu banyaknya amal. Ini tidak serta merta mengartikan bahwa kita tidak perlu memperbanyak amal kalau tidak benar, cukup sedikit amal tapi dilakukan dengan benar. Tidaklah seperti itu. Sebaliknya, justru berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk memperbaiki dan memperbanyak amal kebaikan.
Hidup itu sendiri adalah ujian, apakah kita beramal dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan ini. Mereka yang lulus dengan amal-amal baik mendapatkan anugerah agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keridhaan-Nya.
Ujian Sebagai Surat Cinta dari-Nya
Jangan sampai salah paham, ujian adalah bahasa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ujian itu tanda Allah cinta kepada hamba-Nya. Yakinlah bahwa orang yang diuji tidak akan merugi. Sebab Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ تعالى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنَ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ). رواه الترمذي وابن ماجه(
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian, dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka: siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dari hadis ini kita mengerti bahwa hamba yang diuji tidak akan rugi karena besarnya kadar ujian Allah ganti dengan pahala yang harganya tidak ternilai dengan nilai dunia.
Ujian juga adalah jalan yang Allah berikan kepada hamba-Nya agar selalu dekat dengan-Nya. Agar hati seorang hamba tidak berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau berharap lebih besar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagai contoh dan teladan, Nabi Adam Alaihissalam ketika berada di surga, saat hatinya mulai terpikat oleh surga, Allah berikan ujian sampai dikeluarkan dari surga. Hingga akhirnya Nabi Adam kembali lebih banyak mengingat Allah. Nabi Ya’qub Alaihissalam tatkala sangat menyayangi anaknya yaitu Nabi Yusuf Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala pisahkan mereka dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya Nabi Ya’qub kembali lebih banyak mengingat Allah. Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam ketika hatinya penuh harap akan dukungan penduduk Makkah dan berharap mereka menolongnya, justru mereka menjadi orang-orang yang paling keras dalam menentang Nabi Muhammad sampai-sampai Nabi bersabda, “tidak ada satu pun Nabi yang diuji seperti aku”.
Ini tidak berarti para Nabi lalai dari mengingat Allah atau hilang kecintaan kepada Allah, karena para Nabi dijaga dari dosa dan lalai. Akan tetapi, Allah mengingatkan mereka agar tidak terlena akan nikmat yang diberikan dan agar semakin dekat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sama sekali tidak menyia-nyiakan kesabaran dan keteguhan mereka. Mereka mendapatkan keutamaan dan nikmat yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan demikian perlu kita pahami bahwa ujian Allah datang bukan untuk menghinakan hamba-Nya, melainkan sarana untuk meningkatkan derajat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka yang diuji dan bersabar pada hakikatnya adalah orang-orang mulia yang sedang mendapatkan cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ujian Sebagai Sarana Mengekalkan Nikmat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ١٥٧
“Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’ (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ciri orang-orang yang mendapat kabar gembira adalah sabar, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah mereka mengucapkan ‘innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn’. Dalam tafsir Ar-Razi, pengakuan seorang hamba dalam ucapan inna lillahi menandakan keridhaan sepenuhnya terhadap apa pun ujian dan cobaan yang menimpa mereka. Dan pengakuan dalam ucapan inna ilaihi raji’un menandakan penyerahan urusan kepada Allah ketika diuji dan keridhaan terhadap apa pun balasannya nanti, yaitu pahala yang besar di akhirat kelak.
Adapun kabar gembira yang dimaksud ialah orang yang sabar itu mendapatkan berkah, ampunan, rahmat, dan pujian dari Allah. Dijelaskan juga bahwa shalawatun min rabbihim yaitu pujian dan pengagungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Adapun rahmah yaitu pemberian nikmat-nikmat yang Allah berikan di dunia dan di akhirat. Nikmat Allah di dunia ini sebagai mukadimah nikmat di akhirat yang kekal.
Nikmat Adalah Ujian Syukur dan Kufur
Mungkin saja kita tidak mengira, nyatanya nikmat adalah ujian juga: apakah kita termasuk hamba yang mensyukurinya ataukah hamba yang kufur akan nikmat Allah? Keduanya membawa konsekuensi yang amat besar. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”
Mensyukuri nikmat Allah membawa hal besar, yaitu mendatangkan nikmat lainnya. Begitu juga kufur nikmat atau tidak mensyukuri nikmat menjadikan Allah murka.
Syukur akan nikmat setidaknya dapat dilakukan dengan cara
- mengucapan syukur dan terima kasih setulus hati;
- diiringi dengan perbuatan memanfaatkan nikmat dengan benar, yaitu menggunakan rahmat/nikmat tersebut untuk tujuan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak Ada Nikmat yang Benar-benar Allah Cabut dari Hamba-Nya
Dalam sebuah hadis, Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Syukur ketika mendapatkan nikmat menjadikan seorang mukmin semakin baik. Sabar ketika mendapatkan ujian juga menjadikannya semakin baik. Ini adalah keuntungan yang besar sekaligus senjata seorang mukmin. Syukur atas nikmat untuk mendatangkan nikmat lainnya dan sabar atas ujian untuk mendapatkan pahala dan derajat setinggi-tingginya. Ini berarti tidak ada nikmat yang benar-benar hilang bagi orang beriman. Ketika diuji lalu bersabar, Allah ganti dengan kebaikan. Ketika diberi nikmat lalu bersyukur, Allah beri lagi tambahan nikmat.
Buya Yahya menyebutkan dalam buku Oase Iman,
“Tidak ada nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dicabut secara sesungguhnya dari seorang hamba yang beriman. Jika karunia harus diambil oleh Sang Pemberi, sesuai janji-Nya, tentu Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi”.
Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang pandai bersyukur dan bersabar. Amin.
Referensi:
Tafsir Al-Qur’anul ‘Adzim karya Ibnu Katsir
Tafsir Mafatihul Ghaib karya Fakhruddin Ar-Razi
Buku Oase Iman karya Buya Yahya
Penulis: Iim Ainunnaim Muhammad
Penyunting: Idan Sahid
Tulisan website Pustaka Al-Bahjah merupakan platform bacaan yang ditulis oleh masyarakat umum sebagai media literasi. Submit tulisanmu dengan cara klik link ini.
Rahasia di Balik Kenikmatan dan Ujian: Kunci Keberlimpahan
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Setidaknya di akhir pekan bulan ini orang-orang mulai melaksanakan aktivitasnya kembali. Suasana dan euforia pascaliburan membekaskan kesan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Ibadah Qurban merupakan ibadah sunnah yang sangat dikukuhkan untuk dilaksanakan oleh setiap muslim. Ibadah Qurban... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Satu kebaikan yang dilakukan oleh seseorang berarti ia tengah meneladani satu akhlak Nabi. Sebab, kebaikan dengan segala... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Ketika mendengar kata ibadah, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang awam mungkin adalah suatu amalan... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon-Di sebagian masyarakat, terdapat anggapan bahwa menggunakan pakaian bekas sebagai kain lap dapat menyempitkan rezeki. Di antaranya menyebutnya... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Sebagian orang berpikir bahwa musibah yang terjadi merupakan sebuah azab yang diturunkan oleh Allah Suhanallahu wa Ta’ala,... selengkapnya
Jangan Takut Merusak Silaturahmi Berikut Tips Cerdas Mengingatkan Teman yang Bertindak di Luar Batas Oleh: Admin 2 Disadur dari ceramah... selengkapnya
AB Voice: Dakwah Melalui Musik PUSTAKA AL-BAHJAH-INSPIRASI- Alhamdulillah Pustaka Al-Bahjah, Rabu (29-09-2021) kedatangan tamu yang sangat spesial. Beliau adalah Kang... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon – Haru dan bahagia pecah diantara para santri dan pejuang pada sore hari Jumat 3 Sya’ban 1444... selengkapnya
Pustaka Al-Bahjah, Cirebon –Banyak amalan yang dapat dilakukan di bulan Ramadan, selain melakukan amalan-amalan yang biasa dilakukan di bulan-bulan lainnya,... selengkapnya
Terkadang seorang pelajar bahasa arab akan mendapati sedikit kesulitan dalam mempelajari qoidah ‘adad ma’dud karena pembahasan tersebut tidak terlalu detail… selengkapnya
Rp 29.000 Rp 37.700FIQIH PRAKTIS SHALAT BERJAMAAH KARYA BUYA YAHYA Buku ini membahas tentang pentingnya dan tata cara melaksanakan shalat berjamaah, yaitu shalat… selengkapnya
Rp 65.000Ilmu nahwu adalah termasuk bagian dari sekian macam bidang ilmu dalam bahasa arab. Tanpanya sebuah susunan kalam tidak akan difahamai… selengkapnya
Rp 72.000 Rp 93.600Buku Fiqih Shalat karya Buya Yahya ini berisi pedoman lengkap mengenai hukum fiqih dan tata cara dalam menjalankan ibadah shalat…. selengkapnya
Rp 59.000Buku Indahnya Memahami Perbedaan Para Ulama (IMPPU) Karya Buya Yahya menjelaskan perbedaan keyakinan aqidah dan perbedaan pelaksanaan amalan ibadah-ibadah dalam… selengkapnya
Rp 89.000Buku Buya Yahya yang berjudul Ramadhaniat secara rinci menjelaskan amalan-amalan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim di bulan Ramadan. Buku… selengkapnya
Rp 115.000Buku “Oase Iman” memberikan pemahaman yang mendalam namun ringan sebagai siraman hati bagi siapa pun yang membacanya. Berisi catatan buah… selengkapnya
Rp 87.000 Rp 93.000Buku Aqidah 50 karya Buya Yahya secara tuntas membahas pokok-pokok fundamental Aqidah Islam sebagaimana yang dibakukan oleh Ahlusunnah Waljama’ah. Buku… selengkapnya
Rp 49.000
Saat ini belum tersedia komentar.